Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19--Transaksi Tomat
"Ayo, Wak. Jangan bengong terus, nanti malah kesiangan sampai hotelnya," tegur Aris sambil menepuk bak pick up tua itu.
Suara tepukan tangan Aris menggema pelan di pagi Desa Sukacita yang masih diselimuti hawa dingin. Kabut tipis menggantung rendah di atas sawah, sementara sinar matahari baru mulai muncul malu-malu dari balik perbukitan. Udara pagi membawa aroma tanah basah dan daun segar yang memenuhi halaman rumah Aris.
Wak Darmo mengerjap, ia buru-buru mengambil keranjang bambu. Meski masih bingung dengan kecepatan tumbuh tanaman Aris malah lebih tepat seperti dia baru saja berhalusinasi, ia memilih untuk tutup mulut.
Di usia yang sudah melewati kepala lima, Wak Darmo merasa dirinya sudah melihat banyak hal aneh di dunia pertanian. Musim gagal panen, serangan hama, bahkan tanah yang tiba-tiba subur setelah tersambar petir pernah ia lihat. Tapi tanaman Aris? Itu sudah melewati batas logika manusia normal.
Duit jutaan yang kemarin diterimanya sudah cukup jadi bukti kalau mengikuti Aris adalah jalan menuju makmur.
Dia bagi hasil 80;20 yang sudah lumayan banget! Malah dia merasa terlalu berlebihan. Untuk transaksi nilai puluhan juta itu dia udah dapat jutaan cuma modal nolongin bawa mobil sama bawa barang-barang berat seharian.
Kalau dipikir-pikir, penghasilan itu bahkan lebih besar dari hasil dia kerja biasa. Satu angkutan dapat 2 juta itu fantatis! Berkali-kali dia bilang kalau wak darmo itu gak papa kalau tidak dibayar, namun aris dengan hati elegan bilang kalau itu ucapan terima kasih dan karena sudah kenalan lama, sungguh anak yang berhati mulia.
"Sari, kamu bagian catat timbangan ya. Jangan sampai ada yang kelewat satu gram pun," perintah Aris.
Sari mengangguk mantap, ia segera mengambil buku catatan kecil. Mereka mulai bekerja. Aris memotong batang sawi dengan satu gerakan bersih, sementara Wak Darmo menatanya di bak mobil.
Pisau tajam di tangan Aris bergerak cepat dan presisi. Setiap batang sawi yang dipotong langsung mengeluarkan aroma segar yang khas, seperti campuran embun pagi dan rumput muda. Cairan bening di batang sawi bahkan terlihat lebih jernih dari sayuran biasa, menandakan kualitasnya yang tidak normal.
Bak pickup itu penuh sesak. Sawi-sawi itu terlihat begitu segar, hijau royo-royo, dan padat. Aris menghitung sisa lahan yang masih kosong. Dengan botol Cairan Dewa Level 3 semalam, ia sebenarnya bisa menanam lebih banyak, tapi ia tahu soal
Hukum Penawaran dan Permintaan.
Dia memang putus kuliah, tapi dia bukan orang tolol yang buta ekonomi. Simpelnya semakin banyak dia banjiri pasar sekaligus maka harga jual bakal anjlok, mending dia main sedikit sedikit. Dia harus jaga eksklusivitas.
Aris paham betul bahwa barang langka selalu punya nilai lebih tinggi. Kalau semua hotel langsung dibanjiri sayuran super miliknya, orang-orang akan terbiasa dan harga perlahan turun. Tapi kalau stoknya dibatasi? Maka para pembeli bakal berebut dan rela bayar mahal demi mendapatkan kualitas terbai
"Ris, ini sudah penuh. Tiga ratus kilo lebih dikit," ucap Wak Darmo sambil menyeka keringat. Lebih tepat kalau dibilang dipaksa muat, bagi wak Darmo ini pertama kali dia mendapatkan barang seberat sampai 300 kg begini.
"Langsung berangkat?"
"Langsung, Wak. Sari, kamu ikut ya. Biar tahu gimana cara negosiasi di hotel bintang lima," ajak Aris. Sari langsung sumringah dan buru-buru ganti daster dengan kemeja yang lebih rapi.
Ia entah kenapa ingin tampil lebih comel di depan teman masa ciliknya.
### Di Loading Dock Hotel
Chef Junaedi sudah menunggu di area penerimaan barang dengan wajah gelisah. Begitu pickup butut Wak Darmo masuk, ia langsung berlari kecil menghampiri.
"Mana barangnya, Ris? Kamu bilang ada tambahan?" tanya Junaedi tanpa basa-basi.
Aris turun dari mobil bagaikan pebisnis muda padahal dia cuma pakai kaos oblong biasa, membuka terpal penutup bak.
Seketika, aroma segar sayuran yang baru dipetik menyeruak di area parkir yang panas itu. Junaedi terdiam, ia mengambil satu batang sawi, menekannya sedikit untuk mengecek tingkat kerenyahannya.
“Ini kak Junaedi! Mantap kan?”
*KREK!*
Bunyi patahannya terdengar begitu renyah. "Gila... ini kualitasnya malah naik dari yang kemarin? Bagaimana bisa?"
Aris tersenyum tipis. "Rahasia pabrik.”
Ucapnya, lalu dia melanjutkan. “itu Eksperimen nutrisi baru, Chef. Saya bawa 300 kilo hari ini. Gimana? Masih sanggup nampung?"
Junaedi tertawa pendek, matanya berbinar melihat aset di depannya. Ini emas, pelanggan sini sudah pada tertarik dengan rasa sawi baru miliknya, beberapa minta nambah dan nambah. Omzet hotel juga ikut naik, mana mungkin dia melepaskan penawaran begitu saja.
"Sanggup? Hotel ini punya tiga cabang lagi yang butuh pasokan kayak gini. Saya ambil semua, tapi harganya tetap 75 ribu ya? Jangan naik dulu!"
"Aman, Chef. Langsung timbang saja," jawab Aris santai.
Sambil menunggu staf gudang menimbang, Aris mengecek layar sistemnya secara diam-diam.
[**DING! ASSET UPDATE!**]
[**Penjualan Terkonfirmasi: 300 kg x Rp75.000 \= Rp22.500.000.**]
[**Total Saldo Tunai: Rp122.500.000.**]
Aris merasakan sensasi dingin di punggungnya. Informasi dadakan ini—bahwa dia sekarang punya uang tunai seratus juta lebih—membuat otaknya mulai berputar mencari investasi baru.
"Gue butuh gudang penyimpanan dingin (Cold Storage). Kalau cuma ngandelin panen harian, tenaga Wak Darmo bisa rontok. Gue harus mulai bangun infrastruktur di desa," pikir Aris.
Cold storage bahasa gampangnya itu semacam gudang penyimpanan. Jadi setelah mencangkul hasil berkebun dia bisa menyimpan di sana, sayuran akan aman. Ibarat sebuah kulkas untuk makanan.
Saat proses pembayaran tunai dilakukan, Junaedi menarik Aris ke samping.
"Ris, dengerin. Minggu depan ada acara jamuan gubernur di sini. Saya butuh sesuatu yang lebih 'wah' dari sekadar sawi. Kamu punya benih lain? Semangka atau mungkin melon?"
Aris teringat daftar di Toko Benih Ajaib yang harganya selangit itu. Semangka transparan seharga 100 ribu per biji. Anjing emang mahal gak ngotak
"Ada, Chef. Tapi harganya... mungkin bakal bikin bagian keuangan Chef pusing tujuh keliling," goda Aris.
Junaedi menepuk bahu Aris keras. "Asal kualitasnya kayak gini, harga nomor dua. Siapkan saja. Saya tunggu kabar darimu dua hari lagi."
Aris masuk kembali ke pickup dengan tas berisi uang tunai tambahan. Sari dan Wak Darmo menatapnya seperti menatap sosok setengah dewa.
"Ris... kita beneran bawa pulang dua puluh juta?" bisik Sari tak percaya.
"Iya, Sari. Dan itu baru dari sawi. Sekarang, kita mampir ke toko bangunan dulu. Aku mau beli material buat benerin rumah dan bangun gudang permanen di lahan," ujar Aris tenang.
Aris tahu, bisnis taninya sudah resmi naik kelas. Dari petani gurem, menjadi penyedia bahan pangan kelas atas.