Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.
Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang di Antara Dua Hati
Keheningan menyelimuti ruang tengah yang luas itu. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar, seolah menghitung waktu yang tersisa di antara keduanya. Heesung berdiri di ambang pintu, jaketnya belum dilepas, aroma parfum lembut—parfum yang sangat dikenalnya, parfum masa lalu—masih melekat kuat di bajunya. Hyeri tak perlu bertanya pun sudah tahu dengan siapa saja ia habiskan waktunya hari ini.
Heesung menunduk, tak berani menatap mata wanita yang menjadi istrinya di atas kertas itu. Rasa bersalah menjalar di setiap urat nadinya. Ia tahu ia telah melakukan hal yang salah, telah melanggar batas tak tertulis dalam perjanjian mereka, tapi di hadapan Sooah, akal sehatnya seolah lenyap begitu saja.
“Kau menungguku?” tanya Heesung pelan, suaranya serak. Ia melangkah masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya.
Hyeri mengangguk pelan, tangannya meremas pinggiran cangkir teh yang sudah mulai dingin. “Manajermu menelepon. Katanya kau menghilang seharian, tak bisa dihubungi. Aku… hanya memastikan kau pulang dengan selamat.”
Kalimat itu terdengar sederhana, namun ada rasa sakit yang tersembunyi di baliknya. Heesung bisa merasakannya. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di ujung sofa, menjaga jarak seolah tak layak berada terlalu dekat dengan Hyeri.
“Aku bertemu Sooah,” akui Heesung tiba-tiba, tak ingin lagi menyembunyikan apa pun. Rasanya lebih adil jika ia mengatakannya langsung daripada Hyeri mendengar dari orang lain atau berita. “Dia mengirim pesan, meminta bertemu… dan aku pergi.”
Hyeri menarik napas panjang, menahan rasa perih yang kembali menyerang dadanya. Ia menoleh, menatap profil wajah pria itu—wajah yang selama ini ia kagumi, wajah yang kini penuh keraguan dan konflik batin.
“Apa kau menyesalinya?” tanya Hyeri lirih. “Atau… justru merasa lega akhirnya bisa bertemu dengannya lagi?”
Heesung diam sejenak, mencari kata-kata yang tepat. “Aku tidak tahu, Hyeri. Saat bersamanya, rasanya aku kembali menjadi diriku yang dulu—sebelum semua kemewahan, sebelum ketenaran, sebelum beban menjadi idola ini membebaniku. Dia mengerti aku… dia tahu segalanya tentangku. Tapi saat aku di sini, bersamamu… rasanya damai. Aman. Kau selalu ada, diam-diam mendukungku, meski aku seringkali bersikap buruk padamu.”
Pria itu berbalik, menatap Hyeri dengan pandangan yang menyedihkan. “Aku pengecut, ya? Terjebak di antara masa lalu yang indah dan kenyataan yang ada di depan mata. Aku takut melepaskan Sooah, tapi aku juga takut kehilanganmu.”
Hyeri tersenyum pahit, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya meluncur satu butir di pipi. “Kau takut kehilangan aku, Heesung? Atau kau hanya takut kehilangan kenyamanan dan ketenangan yang aku berikan? Ingat, kita menikah karena kontrak. Aku ada di sini karena ada kesepakatan. Aku bukan milikmu, dan kau juga bukan milikku. Setidaknya… seharusnya begitu.”
Kalimat itu menusuk tepat ke ulu hati Heesung. Ia sadar, perjanjian itu hanyalah topeng, tapi perasaan yang tumbuh di antara mereka perlahan menjadi nyata, meski sulit diakui.
“Dia bilang dia tak akan pergi lagi,” ucap Heesung pelan, mengulangi perkataan Sooah seolah itu beban berat yang harus dibagikan. “Dia bilang dia akan berjuang sampai aku kembali padanya. Dia tahu soal pernikahan kontrak kita, Hyeri. Dia tahu semuanya.”
Hyeri terkejut sedikit, namun tak sepenuhnya kaget. Ia tahu Jung Sooah bukan wanita biasa; wanita itu cerdas, teguh, dan tahu persis apa yang diinginkannya.
“Jadi dia menantangku?” tanya Hyeri dengan suara yang mulai tegas, menghapus air matanya dengan kasar. “Baiklah. Kalau begitu, aku tak akan mundur duluan, Heesung. Aku masuk ke dalam perjanjian ini dengan mata terbuka, dan aku akan menyelesaikannya sampai akhir. Selama kertas itu masih menyatakan aku istrimu, selama kontrak itu belum berakhir, aku tetaplah Nyonya Han. Dan dia… hanyalah bagian dari masa lalumu.”
Keberanian yang tiba-tiba muncul dari Hyeri membuat Heesung tertegun. Di balik sosok wanita yang lembut dan tenang ini, ternyata ada kekuatan yang luar biasa. Kekuatan yang perlahan mulai membuatnya melihat Hyeri bukan lagi sekadar pasangan kontrak, tapi sosok wanita yang berharga.
Malam itu berlalu dalam perasaan yang kian rumit. Heesung masuk ke kamarnya dengan pikiran yang berantakan, sementara Hyeri berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi membiarkan bayang-bayang masa lalu itu menguasai segalanya.
Keesokan harinya, badai mulai meledak.
Sebuah foto beredar luas di media sosial dan berita hiburan—foto Heesung dan Jung Sooah duduk berhadapan di kafe, wajah mereka terlihat sangat dekat, tatapan mereka penuh makna dan kehangatan. Berita-berita bermunculan dengan judul-judul sensasional: "Idola Heesung dan Misteri Wanita Lain", "Pernikahan Heesung Hyeri di Ujung Tanduk?", "Cinta Lama Bersemi Kembali?"
Agensi panik. Manajer Heesung mendatangi mereka berdua dengan wajah pucat pasi di kediaman mereka.
“Ini gawat!” seru manajer sambil meletakkan berita cetak di atas meja. “Kita sudah berusaha mati-matian menjaga citra pernikahan kalian sebagai pernikahan bahagia dan murni demi menutupi skandal, tapi sekarang? Foto ini bisa menghancurkan segalanya! Kariermu, Heesung, reputasi agensi, semuanya!”
Heesung menunduk diam, merasa bersalah sekali lagi. Ia tahu ini akibat kecerobohannya sendiri.
Hyeri mengambil kertas berita itu, menatap foto itu dengan tenang, lalu menatap manajer di depannya. “Tenang saja. Ada cara untuk memadamkan ini.”
“Cara apa? Foto ini bukti nyata!” seru manajer frustrasi.
“Kita tampil bersama. Publikasi kemesraan kita lebih gencar dari sebelumnya,” jawab Hyeri tegas. Ia menoleh ke arah Heesung, menatap mata pria itu lekat-lekat. “Heesung dan aku akan menghadiri acara penghargaan musik besar lusa. Kita akan tampil sebagai pasangan paling bahagia dan serasi. Kita akan buktikan bahwa foto itu hanyalah kesalahpahaman, atau sekadar pertemuan lama teman biasa. Publik akan percaya apa yang kita tunjukkan.”
Heesung mengangkat wajahnya, terkejut mendengar rencana itu. Ia mengira Hyeri akan marah, akan menolak membantu, atau bahkan memutuskan kontrak di tengah jalan. Tapi wanita ini justru maju ke depan, memegang kendali keadaan demi menyelamatkan semuanya—termasuk dirinya.
“Kau mau melakukan itu?” tanya Heesung pelan, tak percaya.
Hyeri tersenyum tipis, namun matanya menatap tajam, seolah mengirim pesan rahasia: Ini kesempatanmu, Heesung. Pilih sekarang, siapa yang akan kau dukung.
“Aku melakukannya demi perjanjian kita,” jawab Hyeri, sengaja menekankan kata terakhir itu agar Heesung paham batasnya. “Dan kau harus berperan dengan baik, Heesung. Seolah-olah aku satu-satunya wanita di matamu. Tidak ada lagi Sooah, tidak ada lagi masa lalu, setidaknya di depan umum. Kau mengerti?”
Di sudut ruangan, ponsel Heesung bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari Sooah:
“Mereka mulai menyerang kita, ya? Tidak apa-apa. Aku sudah siap untuk diumumkan sebagai wanita di hatimu. Kapan kau akan beritahu dunia yang sebenarnya?”
Heesung merasakan tekanan berat di dadanya. Di satu sisi ada Hyeri, yang berjuang menutupi kesalahannya dan menjaga kestabilan karier serta nama baiknya. Di sisi lain ada Sooah, yang mendesaknya untuk mengakui cinta mereka dan melepaskan ikatan palsu ini.
Acara penghargaan musik itu kini menjadi pertarungan besar. Di sana, di depan ribuan penonton dan jutaan mata di seluruh negeri, Heesung harus memilih: memegang erat tangan Hyeri dan melanjutkan peran suami setia, atau membiarkan tangan itu lepas dan mengakui bahwa hatinya masih tertinggal di masa lalu.
Dan Hyeri sadar sepenuhnya: malam itu bukan sekadar acara publik. Itu akan menjadi malam penentuan nasib pernikahan kontrak mereka, dan mungkin juga nasib hatinya sendiri.