NovelToon NovelToon
Nona Mafia Yang Menyamar

Nona Mafia Yang Menyamar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.

sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.

namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?

novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Identitas Pengintip

Sejak pertarungan otak dengan Renata, Alessandra semakin yakin bahwa pemuda misterius itu bukan sekadar pengintip biasa. Dia selalu ada di sekitar dari di koridor, di perpustakaan, di parkiran. Tidak pernah berbicara. Tidak pernah mendekat. Hanya mengamati. Mencatat.

Dan itu sudah cukup untuk membuat Alessandra kesal.

Bukan karena dia mengawasiku. Tapi karena aku belum tahu siapa dia.

Itu kelemahan. Dan Valeria Alessandra tidak suka kelemahan.

Hari kelima, saat jam pulang sekolah.

Alessandra memilih jalan memutar. Tidak langsung ke parkiran mengambil motornya, tapi berjalan ke belakang gedung olahraga area yang jarang dikunjungi siswa karena labirin pipa-pipa besar dan ruang penyimpanan peralatan.

Dia sudah merencanakan ini.

Sepanjang hari, dia memperhatikan pola pemuda itu. Pria itu selalu mengikuti dari jarak aman, tidak pernah terlalu dekat, tidak pernah terlalu jauh. Tapi saat Alessandra berjalan ke area sepi, dia tahu pengintip itu akan mengikuti.

Dan dia benar.

Di balik pipa besar, di mana cahaya matahari nyaris tidak mencapai tanah, Alessandra berhenti.

"Kau bisa keluar sekarang," ucapnya tanpa menoleh. "Sudah lima hari kau mengikutiku. Aku penasaran seperti apa wajahmu."

Hening.

Alessandra merapikan kacamatanya.

"Sembunyi tidak akan membuatmu selamat. Lagipula, aku sudah bosan bermain petak umpet."

Suara langkah kaki dari balik tumpukan pipa.

Pemuda itu keluar dari bayangan.

Rambut hitam panjang hampir menutupi mata kirinya. Tinggi sekitar 175 cm yang lebih tinggi lima sentimeter di atas Alessandra. Tubuhnya ramping tapi tegap, dengan bahu lebar yang menandakan latihan beladiri rutin. Wajahnya... tampan. Rahang tegas, hidung mancung, bibir tipis yang sekarang mengerucut dalam senyum miring.

Tapi yang paling mencolok adalah matanya. Hitam pekat, dalam, dan dingin. Mata seorang pembunuh.

"Kamu lebih pintar dari yang kukira," ucapnya. Suaranya pelan, sedikit serak. "Dan lebih berbahaya."

"Cukup basa-basi." Alessandra berbalik menghadapnya. "Siapa kau? Mengapa kau mengawasiku?"

Pemuda itu menyandarkan punggung ke pipa. Tangannya masuk ke saku jaket, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil sebuah buku yang selalu dia bawa.

"Aku pengintai. Tugasku mengawasi Valeria Allegra." Dia membuka buku itu, membaca beberapa baris. "Tapi berdasarkan pengamatanku selama lima hari... kau bukan Valeria Allegra."

Alessandra tidak bereaksi. Wajahnya tetap datar.

"Valeria Allegra yang asli tidak mungkin bisa mengendarai Ducati V4. Tidak mungkin bisa menampar Raka dengan refleks super cepat. Tidak mungkin bisa mengalahkan Fiona dan Renata dalam adu kepintaran. Dan yang paling penting..." Pemuda itu menutup bukunya. "Valeria Allegra tidak memiliki aura seperti itu."

"Aura?"

"Aura kematian. Aura seorang pembunuh." Matanya menatap Alessandra dengan tajam. "Kau telah membunuh. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tapi puluhan. Mungkin ratusan. Aura itu melekat padamu seperti baju kedua."

Alessandra tersenyum kecil sebuah senyum dingin yang tidak pernah dia tunjukkan di sekolah.

"Kau pandai mengamati. Tapi kau lupa satu hal."

"Apa?"

"Orang yang terlalu pandai mengamati sering kali lupa bahwa dia juga sedang diamati."

Pemuda itu terdiam.

"Selama lima hari kau mengikutiku, aku juga mengikutimu," lanjut Alessandra. "Kau tidur di kos-kosan daerah timur Acelia. Sepeda motor kau parkir di belakang gedung, bukan di parkiran resmi. Dan setiap malam, kau melapor pada seseorang melalui panggilan suara pendek. Aku tidak tahu siapa penerimanya tapi aku tahu kau bukan sekadar pengintai biasa."

Pemuda itu tersenyum. Bukan senyum kaget atau takut. Tapi senyum lega seperti orang yang akhirnya bertemu lawan seimbang.

"Kau benar. Aku bukan sekadar pengintai. Aku dikirim untuk membunuh Valeria Allegra."

Udara di sekitar mereka mendingin drastis.

Alessandra tidak bergerak. Matanya menyipit.

"Siapa yang mengirimmu?"

"Informasi tidak gratis."

"Aku akan membuatmu bicara. Dengan atau tanpa izinmu."

Pemuda itu melepas jaketnya. Di bawah jaket, dia mengenakan kaus hitam lengan panjang yang menempel di tubuhnya. Dari balik kain itu, Alessandra bisa melihat cahaya samar dan bintang-bintang di tubuhnya mulai menyala.

Bintang tingkat lima, pikir Alessandra. Cukup tinggi untuk usianya mungkin 19 atau 20 tahun.

"Aku Aldric," ucap pemuda itu. "Bintang tingkat lima, elemen air. Dan kau?"

"Tidak perlu tahu."

"Awas, kau akan mati tanpa tahu nama pembunuhmu."

Aldric menghunus sebilah belati dari balik pinggang sebuah pisau pendek dengan bilah berkilat, tampak tajam. Tapi Alessandra tahu, senjata itu bukan yang paling berbahaya. Yang paling berbahaya adalah bintang-bintang di tubuhnya.

"Sebelum kita mulai," ucap Alessandra, "aku ingin tahu satu hal."

"Apa?"

"Apa motifmu? Mengapa Valeria Allegra harus mati? Dia hanya gadis SMA biasa yang tidak punya kekuatan."

Aldric terdiam sejenak. "Perintah. Aku hanya menjalankan perintah."

"Perintah dari siapa?"

"Seseorang yang tidak ingin diganggu. Cukup."

Dia melesat.

Aldric bergerak cepat khas pemilik bintang tingkat lima. Air mengalir di sekujur tubuhnya, membuat gerakannya licin dan sulit diprediksi. Belatinya menusuk ke arah leher Alessandra dalam hitungan detik.

Tapi Alessandra lebih cepat.

Dia memiringkan tubuh, menghindari tusukan dengan jarak nyaris tak lebih dari satu sentimeter. Belati itu hanya menggores udara.

Apa?! Aldric membelalak.

Dia tidak melihat Alessandra bergerak. Tidak mendengar langkahnya. Hanya... tiba-tiba dia sudah di sisi lain.

"Kau... kau pemilik bintang?"

Alessandra tidak menjawab. Dia merapikan kacamatanya.

"Hanya karena aku memakai kacamata penekan, bukan berarti aku tidak memiliki kekuatan."

Kacamata rimless dengan rantai emas itu tiba-tiba berkilat. Sinar samar hampir tidak terlihat memancar dari balik lensa.

Dan di dalam tubuh Alessandra, sepuluh bintangnya berlomba-lomba ingin keluar.

Tapi dia tidak akan menggunakan semuanya. Tidak perlu. Lawan hanya tingkat lima.

Cukup satu elemen saja.

Kegelapan merayap dari bayangannya sendiri.

Aldric merasakannya. Udara di sekitar mereka menjadi lebih berat. Gelap. Seperti ada sesuatu yang hidup di bawah tanah, di antara celah-celah pipa, di balik dinding.

"Ini... ini bukan elemen biasa..." gumamnya.

Dia melesat lagi. Kali ini lebih cepat menggunakan air untuk meluncur di tanah basah. Belatinya berkilat tiga kali dalam satu detik: ke kiri, ke kanan, ke tengah.

Alessandra menghindari semuanya.

Tanpa bergerak? Tidak. Dia bergerak. Tapi terlalu cepat untuk mata Aldric.

Setiap kali belati itu hampir mengenai sasaran, Alessandra sudah berada setengah meter ke samping. Seperti hantu. Seperti bayangan yang tidak bisa ditangkap.

"KAU—"

"Aku bosan," potong Alessandra dingin. "Kau menyerang lima kali. Sekarang giliranku."

Kegelapan di sekitarnya bergolak.

Dari bayangan Alessandra sendiri, puluhan lendir hitam seperti ular meletus ke segala arah. Mereka tidak menyerang Aldric langsung, tapi mengepungnya. Membentuk lingkaran. Memotong semua jalur mundur.

Aldric mengaktifkan elemen airnya. Air mengalir di sekelilingnya, membentuk perisai pelindung.

"Air bisa memadamkan api. Tapi tidak melawan kegelapan."

Alessandra mengangkat tangan kanannya.

Satu tendril kegelapan menyambar perisai air Aldric.

Crrrkkk...

Air itu tidak melawan. Tidak memadamkan. Justru... diminum. Kegelapan itu menyerap air seperti spons, mengeringkan perisai Aldric dalam hitungan detik.

"Apa—"

Sebelum Aldric selesai bicara, tendril lain melilit pergelangan tangannya. Kuat. Tidak bisa dilepaskan.

"Satu." Alessandra menghitung dingin.

Tendril kedua melilit kaki kirinya.

"Dua."

Tendril ketiga melilit pinggangnya.

"Tiga. Kau kalah."

Aldric menggeram. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya. Lima bintang di tubuhnya bersinar terang dan cahaya biru air membanjiri ruangan sempit itu.

Dia berhasil melepaskan satu tendril.

Tapi Alessandra sudah di depannya.

Wajah mereka berjarak hanya 20 sentimeter. Mata coklat terang bertemu mata hitam pekat.

"Aku ingin tahu siapa yang mengirimmu. Tapi aku sadar... kau hanya pion. Orang yang mengirimmu tidak akan mudah ditemukan hanya dengan menyiksamu."

Aldric mengepalkan tangannya yang masih bebas. "Kau—"

"Aku tidak akan membunuhmu." Alessandra mundur selangkah. Kegelapan di sekitarnya mulai meredup. Tendril-tendril itu melepas cengkeramannya.

Aldric jatuh berlutut, terengah-engah.

"Kau... kau membiarkanku hidup?"

"Kau berguna. Kembali pada majikanmu. Katakan padanya bahwa Valeria Allegra sudah mati. Yang kau temui adalah seseorang yang sangat berbahaya. Jika dia mengirim pembunuh lain... mereka tidak akan pulang hidup-hidup."

Aldric menatap Alessandra dengan campuran takut dan kagum. "Siapa... siapa kau sebenarnya?"

"Nama asliku tidak penting. Tapi kau bisa memanggilku... Ale. Atau Vale. Terserah."

Dia berbalik.

"Sebelum kau pergi, satu pesan."

"Apa?"

"Jangan coba-coba mengawasiku lagi. Lain kali, aku tidak akan sebaik ini."

Alessandra berjalan meninggalkan Aldric yang masih berlutut di antara pipa-pipa besar. Langkahnya tegap, tidak terburu-buru.

Kacamatanya dia rapikan.

Aldric. Bintang lima, elemen air. Dikirim seseorang untuk membunuh Allegra. Berarti... keluarga beladiri pembenci ibu Allegra sudah tahu tentang keberadaannya? Atau ada aktor lain?

Dia menghela napas.

Pekerjaan rumah baru.

Aldric masih terdiam lama setelah Alessandra pergi.

Dia melihat lengan dan kakinya dari bekas lilitan kegelapan masih meninggalkan pola hitam samar di kulitnya. Seperti terbakar, tapi dingin.

Dia bisa membunuhku kapan saja, pikirnya. Tapi dia memilih tidak.

Kenapa?

Dia berdiri, merapikan bajunya yang kusut.

Buku catatan kecilnya jatuh di tanah. Dia memungutnya, membuka halaman terakhir.

Di sana, dengan tulisan tangan rapi terpampang:

Valeria Allegra — target eliminasi. Tingkat bahaya: rendah. Manusia biasa, tidak memiliki bintang.

Aldric menghela napas panjang, lalu mencoret kalimat itu.

Di bawahnya, dia menulis ulang:

Target ??? — bukan Allegra. Tingkat bahaya: tidak terukur. Pemilik kegelapan murni, tingkat bintang tidak diketahui. JANGAN DIDEKATI.

Dia menutup buku itu.

Kembali pada majikan? Atau... kabur?

Dia tidak tahu.

Yang dia tahu, untuk pertama kalinya dalam kariernya sebagai pembunuh bayaran... dia takut.

Bukan pada kematian.

Tapi pada kegelapan yang hampir melahap jiwanya. Namun sebelum dia sadar, dia tiba-tiba meleleh seperti air dan menghilang.

1
azka aldric Pratama
kenapa gk nyari belangnya si anak pungut aja ...dr pada kelamaan berdebat 🙄🙄🙄
azka aldric Pratama
ini mc cewenya seorang kultivator / apa Thor 🤔🤔🤔
Elda Elda
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
shinobu
aku suka sekali ceritanya min😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!