Pada malam hari Aletta tengah berjalan santai menikmati udara malam yang begitu dingin sambil mau makan buah jeruk. Ya Aletta sangat menyukai jeruk mereka seperti sahabat sejati sebab jika Aletta kemana-mana dirinya selalu membawa jeruk. "Tinggal 5 butir dan bijinya ada 7 makan aja deh semuanya." Ucapnya semangat. Aletta langsung memasukkan 5 butir jeruk ke dalam mulutnya saat sedang asyik maunya tiba-tiba Aletta mengalami sesak nafas dan langsung terjatuh.
Uhukkkk....uhukkkk.
"Sesak banget dada gue."
"Sialan ya kali gue metong karena keselek 7 biji jeruk yang bener saja lelucon macam ini." Ucapnya kesal.
Kesadaran Aletta mulai menghilang dan Aletta berdoa kepada Tuhan untuk meminta kehidupan yang kedua.
"Tuhan jika akhir hidupku aku minta ke pada mu kehidupan untuk kedua kalinya aku ingin memperbaiki semuanya dan aku ingin minta maaf sama Mommy, Daddy dan para Abang lucknut." Ucapnya lirih tersenyum lebar di akhir kesadarannya dan sisa hembusan nafas terakhirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Putri Arabella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Lucknut
"Kamu tau aku sudah tidak tahan dan aku sangat tersiksa karena selalu menahannya." Ucap Matthew yang mengangkat tubuh orang itu ke atas pangkuannya.
Orang itu membelai dada bidang Matthew, walaupun Matthew sudah tidak muda lagi bahkan sudah berumur tapi tubuh Matthew tetep gagah dan kuat.
"Apa yang kamu inginkan?" Tanya orang itu sambil menggambar abstrak di dada Matthew menggunakan jari telunjuknya.
Hal itu membuat Matthew berdesis. "Tentu saja menguasai seluruh harta Wilson." Ucap Matthew. Matthew yang sudah tidak tahan langsung mencium bibir orang itu melumatnya tak sabaran seperti tidak ada hari esok.
"Kita harus secepatnya menguasai harta Wilson opah." Ucap Melissa.
"Ya kamu benar Melissa, opah ingin menjadi orang terkaya dengan harta yang berlimpah." Ucap Matthew.
Melissa? Yups orang itu adalah Melissa cucu kandung Matthew sendiri. Bukan hanya sekali atau dua kali mereka melakukan hubungan terlarang itu bisa terhitung sudah berkali-kali. Di samping itu Matthew sangat menginginkan harta Wilson jatuh ke tangannya.
Bagaimana bisa? Tentu saja setelah meninggalnya istri tercintanya Matthew menjadi kehilangan arah. Matthew adalah sosok opah yang sangat menyayangi semua cucu²nya tanpa membedakan sedikitpun tapi setelah insiden istri tercintanya meninggal karena minum teh yang di buat Aretta Matthew jadi berubah 180°.
Awalnya Matthew tidak percaya kalau itu perbuatan Aretta tapi Rachel dan Melissa menghasut Matthew dan akhirnya Matthew percaya. Sejak saat itu hidup Matthew menjadi murung Melissa yang memang mempunyai otak licik sedari kecil memanfaatkan keadaan ini, ia selalu datang ke kamar Matthew tiap malam untuk menemani Matthew.
Bukan, bukan menemani dalam menghiburnya agar tidak sedih lagi tapi Melissa menemani malam panas sampai pagi. Memang awalnya Matthew tidak mau tapi Melissa selalu terus²an menggodanya dan mereka akhirnya melakukan hubungan suami istri untuk pertama kalinya pada malam itu, bahkan hingga sekarang mereka masih melakukannya.
"Mau bermain?" Ucap Matthew lembut.
"Ya itu sudah menjadi rutinitas kita bukan? Tapi apa opah merasa dengan perbuatan opah yang seperti ini telah mengkhianati istri opah?" Tanya Melissa penasaran.
"Sejujurnya Ita tapi opah juga membutuhkan pelampiasan nafsu." Ucap Matthew terkekeh.
Melissa melotot tak percaya, lalu tersenyum smirk. "Baiklah aku turuti kemauan opah." Ucapnya santai.
Mereka ber dua melakukan kegiatan panasnya di dalam kamar Melissa walaupun di sana ada Rachel yang sedang tidur tapi ia tidak merasa terganggu dengan kegiatan sepupu dan opahnya. Tentu saja tidak terganggu karena Melissa menyuntikkan obat tidur dosis tinggi pada Rachel.
...----------------...
Indonesia,,,
"Woy ketua kelas pak botak masuk kaga?" Teriak Aretta yang bertanya kepada Agung sang ketua kelas di kelas Aretta yaitu kelas 11 IPA 1.
"Woy gak usah teriak-teriak woy gue gak budek." Sewot Agung. Pengeng kuping dia tuh denger teriakannya Aretta, mending kalo cakep tuh teriakannya lah ini udah kek kaleng rombeng.
Aretta mencebikkan bibirnya. "Apa kali lah kau ini Agung aku tuh hanya tanya kenapa kau memarahiku kek gitu hiks." Sedih Aretta, lebih tepatnya pura-pura sedih.
Mereka semua memutar bola matanya malas menatap Aretta penuh dengan drama yang ia buat.
"Woy Aretta lo gak pantes masang muka sedih soalnya muka lo kek pantat bebek yang goyang-goyang nyolot anjir." Julid Rosa dengan wajah yang sangat menyebalkan di mata Aretta.
Mendengar perkataan Rosa semua murid di kelas Aretta tertawa ngakak bahkan sampai ada yang menggebuk² meja saking gak bisa menahan tawanya, ada yang guling-guling di lantai sambil tertawa ngakak.
"Hahahahahahaha."
Sedangkan Aretta mendelik horor menatap Rosa penuh permusuhan. Enak saja wajahnya cantik pari purna gini di miripin sama pantat bebek yang goyang-goyang, ck tentu saja dirinya tidak terima liat saja dirinya akan membalas Rosa yang lebih kejam lagi pikir Aretta.
"Heh kodok Bangkong sekate² banget lo kalo ngomong anjir gue cantik gini di samain sama pantat bebek yang goyang-goyang muka lo tuh kek pantat kambing." Sewot Aretta.
Rosa yang di katain mukanya mirip pantat kambing tentu saja tidak terima, ia berjalan mendekati Aretta lalu menggeplak kepala Aretta.
Plak
"Heh manusia jadi-jadian wajah gue cantik ya dan gak ada mirip-miripnya sama pantat kambing yang lo maksud itu." Ketus Rosa menatap Aretta tidak suka.
Aretta melototkan matanya ia tidak terima kepalanya di geplak seperti itu. Si Rosa benar-benar ngajak war ini pikir Aretta.
Plak
Aretta menggeplak kepala Rosa anggap saja ini balasan untuk Roda yang sudah berani menggeplak kepalanya.
"Heh bocah kambing maksud lo apa hah geplak² papa gue? Lo kira pala gue apaan? Papan tinju? Eh ko papan tinju sih?" Ucap Aretta yang bingung tapi ia tidak memperdulikan itu. "Gak sopan banget lo maen geplak² aja huh dasar sahabat lucknut lo fuck you." Emosi Aretta mengangkat ke dua tangannya lalu mengarahkan jari tengahnya di depan wajah Rosa, tentu saja itu membuat Rosa kesal.
Plak
Plak
Plak
Rosa yang tidak terima karena kepalanya di geplak Aretta akhirnya ia membalas geplakkan Aretta berkali-kali ia juga kesal karena Aretta mengacungkan ke dua jari tengahnya. Aretta yang mendapatkan tiga geplakkan melotot horor. Anjir lah si Rosa ini beneran ngajak ribut.
"Wah lo beneran ngajak ribut ye ayo gue jabanin." Sewot Aretta menggulung ke dua lengan bajunya.
"Ayo kita ribut." Rosa langsung menantang Aretta lalu menggulung lengan bajunya sampai atas.
Siswa siswi yang ada di kelas Aretta menjadi was² begitupun dengan siswa siswi yang ada di luar menonton drama Aretta dna Rosa dari awal, tentu saja Alex, Sherina, Audrey dan Ghista ikut melihat drama itu.
Alex melihat tingkah Aretta hanya menggeleng²kan kepalanya ia sudah hafal dengan tabiat adiknya itu. Tapi tidak dengan Sherina, Audrey dan Ghista yang menatap Aretta dengan tatapan sendu. Mereka seperti melihat sahabatnya yaitu Aletta di diri Aretta, mengingat Aletta mereka ber tiga jadi sedih.
Alex yang mengetahui suasana hati mereka ber tiga yang tiba-tiba mendung hanya bisa menghela nafas panjang sebenarnya ia juga kasihan kepada sahabat adiknya tapi ia tidak bisa memberitahu siapa Aretta sebenarnya karena itu bukan ranahnya.
"Ayo kita ribut." Ajak Rosa menantang Aretta.
"Ayo." Aretta yang menerima tantangan Rosa.
Tiba-tiba Vira berdiri di tengah-tengah mereka ber dua. "Oke gue jadi wasitnya ya dan ketika hitungan ke 3 kalian bisa mulai war nya paham?" Tanya Vira tegas seperti ala² wasit.
"Emang mereka mau main basket lo jadi wasitnya segala." Ucap salah satu siswa di dalam kelas Aretta.
"Suka-suka gue dong." Jawab Vira cuek.