NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Anak Genius
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: DafToon

Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎

Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.

Dulu dipuji, kini dihina.

Dulu didekati, kini dijauhi.

Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Hari Tersisa

Pagi hari berikutnya, Xiao Ba bangun sebelum matahari muncul dari balik cakrawala.

Ia duduk di mulut gua yang sudah menjadi tempat istirahatnya selama beberapa hari terakhir, menatap langit yang masih gelap dengan bintang-bintang yang perlahan memudar satu per satu seiring cahaya fajar yang mulai merayap naik dari arah timur. Di bawah sana, Laut Selatan terlihat hitam dan tenang seperti kain sutra yang dibentangkan dari satu ujung cakrawala ke ujung lainnya.

Kalimat Penatua Utama Keluarga Yun dari kemarin masih berputar di benaknya.

"Seharusnya tidak menghabiskan hidupnya di Kota Beira."

Bukan kalimat yang mengancam. Bukan kalimat yang memperingatkan. Melainkan kalimat yang terasa seperti sesuatu yang diucapkan oleh seseorang yang sudah cukup tua dan cukup banyak melihat dunia untuk mengenali sesuatu yang berada di luar tempatnya berada.

Xiao Ba tidak terlalu memikirkan apakah Penatua Utama itu akan benar-benar menghentikan rencananya terhadap dirinya atau tidak. Orang-orang yang sudah seumur hidupnya bergerak di dalam lingkaran kekuasaan tidak berubah pikiran hanya karena satu momen yang mengejutkan mereka.

Yang lebih menarik baginya adalah pertanyaan yang muncul setelah kalimat itu.

Ke mana setelah Kota Beira?

Selama ini, pikirannya sudah cukup penuh dengan urusan-urusan yang harus diselesaikan di sini. Penatua Kedua dan Penatua Kelima yang berkhianat. Kerajaan Ying yang merampas akar spiritualnya. Klan Cakar Hitam yang menjadi perantara pengkhianatan itu. Keluarga Yun yang memilih memijak keluarganya saat keluarganya sedang terpuruk.

Semua itu ada di sini. Di Kota Beira. Di Kerajaan Ying.

Namun di lautan kesadarannya, ribuan bintang menyimpan pengetahuan tentang dunia yang jauh lebih luas dari semua yang pernah ia lihat. Dunia Tengah dengan kekuatan-kekuatannya yang melampaui apa yang bisa dibayangkan oleh siapa pun di Benua Yancun. Dunia Langit yang bahkan konsep kekuatannya saja sudah berbeda dari apa yang berlaku di dunia bawah ini.

Dan di suatu tempat di sana, sebuah pertanyaan yang belum terjawab menunggu.

Di mana ayahnya. Di mana ibunya.

Anak yang digendong oleh sang Kaisar Langit dalam ingatan yang ia baca dari bintang lautan kesadarannya, anak perempuan kecil yang dipakaikan kalung warisan Kaisar sebelum sang Kaisar pergi mengalihkan perhatian para pengejarnya, anak itu adalah ibunya.

Entah bagaimana, melalui perjalanan waktu yang ribuan tahun panjangnya, keturunan dari anak perempuan itu akhirnya lahir di dunia bawah ini sebagai seorang pemuda empat belas tahun bernama Xiao Ba.

Dan jika ibunya memiliki kalung itu, berarti ibunya adalah bagian dari garis keturunan itu.

Yang berarti pertanyaan tentang di mana ibunya bukan sekadar pertanyaan seorang anak yang merindukan orang tuanya.

Melainkan pertanyaan tentang sebuah warisan yang jauh lebih besar dari sekadar kalung dan manik.

Xiao Ba menutup matanya sejenak, membiarkan angin fajar menyentuh wajahnya.

"Satu hal pada waktunya," gumamnya pelan.

Ia membuka matanya kembali ketika matahari akhirnya muncul di cakrawala, lingkarannya yang oranye terang mewarnai seluruh permukaan Laut Selatan dengan cahaya keemasan yang bergetar.

Dua puluh hari tersisa.

Pertama, selesaikan apa yang harus diselesaikan di sini.

Ia bangkit, meregangkan tubuhnya, dan memulai hari barunya.

Pagi itu, ia menghabiskan waktu di kawasan antara tebing empat dan tebing lima, menyisir celah-celah yang belum pernah ia masuki dengan tuntas. Indra spiritualnya memandu setiap langkahnya, menunjukkan di mana Kristal Roh Laut tersembunyi di balik formasi batu, di dalam retakan yang terlalu sempit untuk terlihat oleh mata biasa, di bawah genangan air yang permukaannya tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun.

Menjelang tengah hari, ia mendengar suara yang membuatnya berhenti.

Bukan suara pertarungan. Bukan suara binatang buas.

Melainkan suara seseorang yang berbicara sendiri dengan nada yang rendah dan kelelahan, suara seseorang yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih baik-baik saja meski tubuhnya berkata sebaliknya.

Ia bergerak ke arah suara itu.

Di sebuah ceruk kecil di sisi tebing empat yang terlindung dari angin, Fu Jingmi duduk bersandar pada dinding batu karang dengan satu tangan menekan sisi kirinya. Di antara jari-jarinya yang terkepal erat, terlihat warna merah yang sudah merembes melalui kain jubahnya.

Luka.

Cukup dalam dari penampilannya.

Fu Jingmi mendengar langkah kaki yang mendekat dan langsung mengubah posisinya. Tangan kanannya bergerak ke gagang pedang dengan gerakan yang cepat meski jelas menyakitkan.

Lalu ia melihat siapa yang datang dan sedikit menurunkan pertahanannya.

"Tuan Muda Xiao Ba."

"Fu Jingmi." Xiao Ba memasuki ceruk itu, berjongkok di depan wanita itu, mengamati kondisinya dengan mata yang langsung membaca tingkat keparahan luka itu. "Binatang buas?"

Fu Jingmi menggeleng tipis.

"Kultivator."

Jawaban singkat yang mengandung lebih banyak dari yang dikatakan.

"Keluarga Wang?"

Sedikit jeda. Lalu anggukan.

Xiao Ba tidak berkomentar lebih lanjut. Ia mengeluarkan sebuah pil dari dalam jubahnya, pil penyembuh kelas satu yang sudah ia siapkan dari persediaan keluarga sebelum masuk ke dalam kawasan ini, dan meletakkannya di depan Fu Jingmi.

"Ini akan membantu."

Fu Jingmi menatap pil itu sejenak, lalu menatap Xiao Ba dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Kenapa?"

"Kenapa apa?"

"Kenapa kamu membantu? Kemarin, hari ini." Fu Jingmi mengambil pil itu, namun matanya tidak melepaskan tatapannya dari Xiao Ba. "Kami dari Keluarga Fu. Kamu dari Keluarga Xiao. Tidak ada kewajiban antara kita."

Xiao Ba berdiri kembali, memandang ke arah celah tebing yang memperlihatkan sepotong Laut Selatan dari kejauhan.

"Tidak ada kewajiban," akuinya. "Tapi tidak ada juga alasan untuk tidak membantu seseorang yang tidak sedang mencoba menyakitimu."

Fu Jingmi diam.

Ia memasukkan pil itu ke dalam mulutnya, menutup matanya sejenak, membiarkan efek penyembuhan bekerja. Beberapa detik kemudian, sedikit warna kembali ke wajahnya yang tadi terlihat lebih pucat dari biasanya.

"Adikku ada di kawasan tebing tiga," katanya tanpa membuka matanya. "Seharusnya ia sudah selesai mengumpulkan bagiannya dari sana hari ini."

Xiao Ba tidak merespons. Ia sudah tahu keberadaan Fu Haocun sejak pagi. Pergerakannya terbaca oleh indra spiritualnya meski dari jarak yang cukup jauh.

"Wang Chunying tidak sendirian sekarang," lanjut Fu Jingmi, kini membuka matanya. "Setelah kejadian dengan kamu beberapa hari lalu, ia bergabung dengan beberapa junior dari Keluarga Quon. Mereka bergerak sebagai kelompok."

Informasi yang berguna.

"Terima kasih," kata Xiao Ba.

"Aku hanya membayar utang informasi," jawab Fu Jingmi dengan nada datar. Namun ada sesuatu di matanya yang tidak sejalan dengan nada suaranya itu.

Xiao Ba meninggalkan ceruk itu, melanjutkan perjalanannya.

Menjelang sore, ia memutuskan untuk melatih Gerakan Kedua Pukulan Naga di kawasan terbuka antara tebing enam dan tujuh, area yang sudah cukup sepi dari kultivator lain setelah kejadian dengan petarung-petarung Keluarga Yun beberapa hari lalu.

Gerakan Kedua berbeda dari Gerakan Pertama dalam hal bahwa energi yang dilepaskan bisa dipecah menjadi beberapa proyektil sekaligus. Selama beberapa hari latihan, ia sudah bisa memecahnya menjadi dua tanpa kehilangan kekuatan yang berarti. Namun teknik penuh dari Gerakan Kedua memungkinkan pemecahan hingga delapan proyektil bersamaan.

Ia mengambil posisi, mengalirkan Qi dari dantiannya melalui meridian-meridian yang kini jauh lebih lebar dan lebih kuat dari sebelum ia memasuki kawasan tebing ini, membiarkan energi emas mengisi kepalan tangannya.

Ia memecahnya.

Empat.

BOOM. BOOM. BOOM. BOOM.

Empat ledakan terjadi hampir bersamaan di empat titik berbeda di hadapannya, masing-masing menghantam permukaan batu karang yang ia jadikan sasaran dan meninggalkan kawah-kawah kecil yang dalam.

Ia menatap hasilnya.

Empat dari delapan.

Kemajuan yang cukup.

Namun dari kualitas masing-masing ledakan, ia bisa merasakan bahwa kekuatan di setiap proyektil sudah berkurang menjadi sekitar tujuh puluh persen dari kekuatan yang seharusnya. Artinya, pengendalian energinya belum cukup presisi untuk mempertahankan kekuatan penuh di semua proyektil sekaligus.

"Masih perlu latihan," gumamnya.

Ia mengulang.

Dan mengulang lagi.

Dan lagi.

Sampai sore berganti malam dan kawasan antara tebing enam dan tujuh itu sudah penuh dengan kawah-kawah kecil baru yang tidak ada sebelumnya.

Sementara itu, di kediaman Keluarga Xiao yang berdiri di atas Bukit Karang, suasana tidak setenang biasanya.

Xiao Sun berdiri di kamar kerja utama kediaman itu, menatap seseorang yang baru saja tiba dari perjalanan panjang. Seseorang yang wajahnya menunjukkan bahwa berita yang ia bawa bukan berita yang menyenangkan.

"Katakan lagi," ucap Xiao Sun pelan.

Orang itu, salah satu dari jaringan informan yang Xiao Sun pertahankan diam-diam selama bertahun-tahun, mengulang apa yang baru saja ia sampaikan.

"Kerajaan Ying sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar dari yang kita kira, Patriark. Bukan hanya tentang Akar Spiritual Tuan Muda. Ada informasi yang kami terima bahwa istana sedang mencari cara untuk menghapus Keluarga Xiao secara permanen dari Kota Beira dalam waktu dekat."

Keheningan panjang.

"Alasannya?"

"Kami belum bisa mengonfirmasi alasan pastinya, Patriark. Namun dari pola pergerakan yang kami amati, sepertinya ada pihak-pihak di dalam istana yang merasa bahwa membiarkan Keluarga Xiao tetap ada setelah kejadian dengan Akar Spiritual Tuan Muda adalah risiko yang tidak perlu."

Risiko yang tidak perlu.

Xiao Sun memahami kalimat itu dengan jelas.

Seseorang di dalam istana Kerajaan Ying khawatir bahwa Keluarga Xiao tidak akan diam selamanya atas apa yang dilakukan Raja Ying Lao terhadap cucunya. Dan daripada menunggu potensi pembalasan itu menjadi kenyataan, lebih mudah untuk menghilangkan kemungkinan itu sama sekali.

Menghilangkan Keluarga Xiao.

Xiao Sun menutup matanya sejenak.

Di dalam kawasan Tebing Tujuh Roh, cucunya sedang menjalani hari-harinya tanpa mengetahui bahwa ancaman yang sedang berkembang di luar kawasan itu jauh lebih besar dari empat petarung Keluarga Yun atau seorang Penatua Utama yang akhirnya memilih untuk pergi.

Ia mempertimbangkan untuk memerintahkan seseorang masuk ke dalam kawasan dan memberitahu Xiao Ba.

Namun ia tahu bahwa gerbang kawasan tidak bisa dibuka dari luar selama pertarungan berlangsung, kecuali dalam kondisi darurat yang diputuskan oleh Penguasa Kota. Dan mengumumkan darurat berarti mengekspos informasi tentang ancaman itu kepada pihak-pihak yang mungkin memiliki kepentingan berbeda.

Ia harus menunggu.

Dua puluh hari tersisa.

Di dalam kawasan Tebing Tujuh Roh, di dalam guanya yang menghadap ke laut, Xiao Ba duduk bersila menjalankan Teknik Kultivasi Kaisar Langit untuk malam itu.

sebelum sepenuhnya tenggelam dalam aliran kultivasi, pikirannya terus kembali ke kalimat yang sudah berputar di benaknya sejak pagi.

"Seharusnya tidak menghabiskan hidupnya di Kota Beira."

Ia tidak membutuhkan seorang Penatua Utama dari keluarga yang mencoba membunuhnya untuk memberitahukan sesuatu yang sudah ia rasakan sendiri.

Kota Beira adalah titik awal.

Bukan titik akhir.

Dan dua puluh hari ke depan bukan hanya tentang mengumpulkan Kristal Roh Laut atau melatih teknik tingkat langit.

Melainkan tentang menyelesaikan semua yang perlu diselesaikan di titik awal ini dengan cukup bersih dan cukup tuntas, sehingga ketika waktunya tiba untuk melangkah lebih jauh, tidak ada yang tersisa yang bisa menarik langkahnya kembali.

Ia memejamkan matanya.

Energi dari laut dan batu karang mengalir masuk.

Dan di dalam lautan kesadarannya yang penuh dengan ribuan bintang, satu bintang yang belum pernah ia sentuh berkilat dengan cahaya yang sedikit berbeda dari yang lain, seolah memberinya nya kekuatan kedalam inti jiwa Xiao ba.

Angin terus berhembus kedalam jiwa. Kenikmatan arus kekuatan yang sangat besar mulai mengisi meridian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1
sibaweh abduh
nice thor
Dafa Faiha Roshiq: Terima kasih bossku
total 1 replies
Jerry K-el
bagus ceritanya mengalir,tdk bertele-tele.
pertahankan👌
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Dafa Faiha Roshiq: done yahhh
total 1 replies
Dafa Faiha Roshiq
teman aku butuh penilaian mu
Dafa Faiha Roshiq
Gimana masih ada yang kurang tidak bro
Dafa Faiha Roshiq
gesss harap dibaca dengan hikmat dan kalo ada kesalahan tulis tolong kasih tau ya🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!