Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Samudra Beku dan Gerbang Ujung Dunia
Archive Zero
Bab 27 — Samudra Beku dan Gerbang Ujung Dunia
Semakin jauh mereka melaju ke utara, semakin drastis perubahan alam yang mereka temui. Hutan-hutan hijau dan padang rumput subur perlahan hilang, digantikan oleh tanah berbatu yang gundul dan keras, lalu berubah menjadi hamparan salju putih bersih yang membentang tak berujung sejauh mata memandang. Angin berhembus semakin kencang dan tajam, membawa butiran es kecil yang berkilauan di bawah sinar matahari, menciptakan pemandangan indah namun mematikan.
Namun, berkat perlindungan energi hangat yang terus dipancarkan oleh Ren, serta pengaturan suhu yang cermat dari Anya, perjalanan mereka tetap nyaman dan aman. Kereta mereka meluncur mulus di atas permukaan salju yang keras, ditarik oleh tunggangan energi yang justru tampak semakin kuat dan bersemangat di tengah udara dingin yang murni ini.
Elara duduk di sebelah Kai, di kereta kedua, matanya tak lepas dari pemandangan luar biasa di sekeliling mereka. Ia memegang gulungan peta kuno itu erat-erat, sesekali membandingkan tanda-tanda alam yang ada di depan mata dengan gambar yang tertulis di atas kertas tua itu.
"Kita sudah melintasi batas wilayah yang pernah dijelajahi manusia mana pun," ucap Elara pelan, suaranya sedikit tertiup angin namun jelas terdengar. "Menurut catatan ini, di depan sana, di mana langit dan bumi tampak menyatu dalam warna putih keabu-abuan, itulah Samudra Beku. Lautan luas yang airnya membeku keras sejak ribuan tahun lalu, tempat di mana elemen es berkuasa mutlak tanpa gangguan elemen lain."
Kai mengangguk, matanya berkilauan antusias di balik kacamatanya yang kini dilapisi lapisan pelindung tipis agar tidak tertutup embun. Ia mengamati alat pengukur di tangannya yang bergerak sangat cepat, menunjukkan tingkat kepadatan energi yang luar biasa tinggi di udara.
"Energi di sini murni sekali... hampir sama murninya dengan yang ada di dalam Jantung Dunia," seru Kai kagum. "Tapi ini murni elemen air dan es. Tidak ada campuran, tidak ada kekacauan. Sungguh menakjubkan bagaimana alam bisa menciptakan wilayah yang begitu khusus ini."
Sore itu, setelah berhari-hari melaju tanpa istirahat, mereka akhirnya sampai di tepian dataran tinggi yang curam. Di depan mereka, terbentanglah pemandangan yang membuat napas mereka tertahan karena takjub.
Di bawah sana, sejauh mata memandang, ada lautan es raksasa yang permukaannya tidak rata, penuh dengan gunung-gunung es raksasa yang menjulang tajam seperti menara kristal, serta celah-celah besar yang memancarkan uap dingin ke atas. Langit di atas samudra itu tidak lagi biru cerah, melainkan berwarna ungu muda dan perak, dengan cahaya aurora yang menari-nari indah melintasi angkasa, memancarkan sinar hijau dan biru yang lembut namun megah.
Dan di kejauhan, tepat di titik pertemuan antara langit dan es, tampaklah sebuah bangunan yang tidak wajar berada di sana. Sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari material bening berkilau, tampak seperti terbuat dari berlian raksasa atau kristal murni, berdiri kokoh sendirian di tengah hamparan luas itu. Gerbang itu memiliki dua tiang besar dan atap melengkung, namun tidak ada dinding yang mengelilinginya, seolah gerbang itu berdiri sendiri sebagai pintu masuk ke tempat yang tak terbayangkan.
"Itu dia..." bisik Elara bergetar, menunjuk bangunan itu di kejauhan. "Gerbang Ujung Dunia. Pintu satu-satunya menuju Jejak Pencipta."
Anya maju ke depan, berdiri di samping Ren di kemudi kereta. Ia menatap gerbang itu lekat-lekat, merasakan panggilan yang jauh lebih kuat dan lebih dalam dari apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya. Di dalam dirinya, kekuatan elemen es berdenyut hebat, merespons keberadaan tempat suci itu dengan penuh kegembiraan dan rasa hormat.
"Tempat ini... hidup," ucap Anya pelan. "Bukan seperti makhluk hidup biasa, tapi seperti hati nurani dari seluruh elemen air di dunia. Dia memanggil kita, Ren. Dia tahu kita datang."
Ren mengangguk, tangannya menggenggam kendali dengan mantap. "Kalau begitu, kita tidak boleh membiarkannya menunggu. Bersiaplah, kawan-kawan. Penyeberangan ini mungkin akan menjadi bagian tersulit dari seluruh perjalanan kita, tapi aku yakin... kita akan sampai di sana."
Dengan satu isyarat tangan, Ren memberi aba-aba. Tunggangan energi mereka bergerak maju, melompat turun dari tebing curam itu, lalu mendarat dengan lembut di atas permukaan es yang keras dan licin. Kereta meluncur kencang ke depan, menembus angin kencang dan kabut tipis, bergerak menuju gerbang agung yang semakin lama semakin tampak besar dan megah seiring mereka mendekat.
Semakin dekat ke tengah samudra, semakin banyak rintangan yang mereka temui. Celah-celah raksasa yang memisahkan hamparan es, gundukan-gundukan tajam yang menghalangi jalan, hingga badai salju yang tiba-tiba datang menyelimuti pandangan. Namun, dengan keahlian Ren mengendalikan arah, ketajaman indra Anya membaca pergerakan energi, dan kecerdikan Kai mencari jalur teraman, mereka berhasil melewati semuanya dengan selamat.
Akhirnya, setelah berjam-jam melaju di tengah keindahan dan bahaya Samudra Beku, mereka tiba tepat di depan Gerbang Ujung Dunia itu.
Berdiri di dekatnya, mereka sadar betapa kecilnya ukuran diri mereka dibandingkan bangunan itu. Gerbang itu tingginya ratusan meter, permukaannya bening dan berkilau, memantulkan aurora langit dengan indah. Di kedua tiangnya, terukir tulisan-tulisan kuno yang sama persis dengan yang ada di gulungan milik Elara, bersinar lembut dengan cahaya biru es.
Namun, di tengah gerbang itu, ruang yang seharusnya menjadi jalan masuk tertutup rapat oleh dinding cahaya putih yang padat dan berputar perlahan. Di depan dinding penghalang itu, berdiri dua sosok tinggi tegap, diam dan tak bergerak seperti patung, namun memancarkan kekuatan yang menggetarkan hati.
Sosok-sosok itu terbentuk sepenuhnya dari es murni, namun bentuknya sempurna dan halus. Mereka mengenakan baju zirah yang diukir indah, memegang tombak panjang yang ujungnya tajam dan berkilau, dan wajah mereka tenang namun penuh kewibawaan. Mata mereka bersinar terang berwarna biru muda, menatap lurus ke arah rombongan Ren.
"Penjaga Gerbang Es..." bisik Elara mengenali sosok itu dari catatan sejarah. "Mereka adalah ciptaan langsung Sang Pencipta, ditugaskan menjaga pintu ini sejak awal waktu. Tidak ada yang bisa lewat tanpa izin mereka."
Ren turun dari kereta, diikuti Anya, Kai, dan Elara. Mereka berdiri berhadapan dengan kedua sosok es itu dengan hormat namun tegas.
Salah satu Penjaga itu melangkah maju satu langkah. Suaranya terdengar seperti bunyi gletser yang pecah, jernih, dalam, dan bergema memenuhi udara dingin itu.
"BERHENTI DI SINI, PARA PENGEMBARA. KALIAN BERADA DI BATAS TERJAUH DUNIA FISIK. DI BALIK GERBANG INI TERLETAK WILAYAH YANG MELAMPAUI PEMAHAMAN BIASA. HANYA MEREKA YANG MEMENUHI SYARAT MURNI YANG BOLEH MELANGKAH LEBIH JAUH."
Penjaga itu menatap mereka satu per satu, dan saat matanya menatap Anya, cahaya di matanya berkedip sedikit, seolah mengenali sesuatu yang sangat akrab.
"KAMI MERASAKAN DALAM DIRIMU, WANITA MUDA, ESENSI MURNI ELEMEN AIR DAN ES. KAU ADALAH PEWARIS SEJATI DARI KEKUATAN YANG MENJAGA WILAYAH INI. NAMUN, ITU SAJA BELUM CUKUP. KAMI HARUS MEMASTIKAN: APA TUJUAN KALIAN DATANG KE SINI?"
Ren melangkah maju, suaranya lantang dan jelas, tak sedikit pun gemetar di hadapan makhluk agung itu.
"Kami datang bukan untuk menguasai, bukan untuk mengambil, dan bukan untuk menaklukkan," jawab Ren dengan tegas. "Kami adalah penjaga keseimbangan dunia. Kami telah berjuang melawan kekacauan, kami telah mengembalikan kedamaian, dan kami telah menjaga warisan yang dipercayakan kepada kami. Kami datang karena kami dipanggil. Kami datang untuk mencari tahu asal-usul kekuatan yang kami emban, untuk memahami makna sejati dari tugas kami, dan untuk bertemu dengan pencipta kami, demi membawa kebenaran kembali ke dunia kami."
Penjaga itu diam sejenak. Angin berhenti berhembus seketika, dan keheningan mutlak menyelimuti seluruh samudra. Cahaya dari mata kedua Penjaga itu bersinar semakin terang, menyelimuti keempat sahabat itu dari ujung kaki hingga kepala, memeriksa setiap inci jiwa dan hati mereka.
Mereka melihat keberanian Ren, kelembutan dan kekuatan Anya, rasa ingin tahu yang bijak milik Kai, serta pengetahuan dan pengabdian Elara. Mereka melihat sejarah panjang perjalanan mereka, pengorbanan mereka, dan kesetiaan mereka pada keseimbangan.
Akhirnya, cahaya itu mereda. Penjaga itu mengangguk perlahan.
"KALIAN MEMENUHI SYARAT. HATI KALIAN MURNI, TUJUAN KALIAN MULIA, DAN KEKUATAN KALIAN SEIMBANG. SUDAH LAMA KAMI MENUNGGU KEDATANGAN WARISAN SEJATI ITU. KALIAN ADALAH YANG PERTAMA DALAM RIBUAN TAHUN YANG BERHAK MELANGKAH MELEWATI GERBANG INI."
Penjaga itu mengangkat tombaknya tinggi-tinggi, lalu menancapkannya ke permukaan es. Seketika itu juga, dinding cahaya putih di tengah gerbang itu berubah warna menjadi keemasan, lalu perlahan membelah diri menjadi dua bagian, membuka jalan masuk ke dalam cahaya yang begitu terang hingga sulit dilihat mata biasa.
"MASukiLAH," suara Penjaga itu bergema sebagai izin terakhir. "NAMUN, INGATLAH: APA YANG AKAN KALIAN TEMUKAN DI BALIK SINI ADALAH KEBENARAN MUTLAK. IA AKAN MENGUBAH CARA PANDANG KALIAN TERHADAP SEGALANYA. SIAPKAN HATI DAN PIKIRAN KALIAN, KARENA DARI SINI, TIDAK ADA JALAN KEMBALI MENJADI DIRI KALIAN YANG DULU."
Ren menoleh ke arah sahabat-sahabatnya. Di mata mereka, terlihat kesiapan, rasa hormat, dan sedikit rasa takjub yang wajar. Mereka saling mengangguk satu sama lain, menyatukan tekad mereka sekali lagi.
"Terima kasih," ucap Ren tulus pada kedua sosok penjaga itu.
Mereka pun berjalan maju, melewati di antara tiang-tiang raksasa itu, dan melangkah masuk ke dalam cahaya keemasan yang menyelimuti segalanya. Di belakang mereka, gerbang itu perlahan tertutup kembali, dan Samudra Beku kembali menjadi sunyi dan tenang, seolah tak ada yang pernah lewat di sana.
Namun, di balik gerbang itu, pandangan mereka berubah sepenuhnya. Tidak ada lagi es, tidak ada lagi angin, tidak ada lagi rasa dingin. Yang ada hanyalah hamparan luas tanah berwarna perak dan emas, langit yang bersinar dengan cahaya lembut yang tak diketahui sumbernya, dan di kejauhan... sebuah menara cahaya yang menjulang tak berujung, tempat di mana segala sesuatu bermula.
Jejak Pencipta akhirnya ada di depan mata. Dan jawaban atas segala pertanyaan yang menghantui manusia sejak awal waktu... kini tinggal selangkah lagi untuk mereka raih.
Bersambung...
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"