“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”
Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.
“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”
Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.
“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”
“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”
“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”
Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 27 - Energi Kayu di Hutan Bambu
Hari itu berlalu cukup damai di Puncak Awan Pengembara. Kabut pagi perlahan menghilang ketika matahari mulai naik di atas lautan awan pegunungan Forgotten Blade, sementara para murid luar kembali sibuk menjalani pekerjaan mereka seperti biasa.
Bai Fengxuan menghabiskan sebagian besar waktunya di kandang timur bersama Xu Liang dan beberapa kakak senior lain. Ia membantu mengganti jerami kandang penetasan, membawa ember pakan, dan beberapa kali harus mengejar ayam spiritual kecil yang baru menetas dan berlarian keluar dari pagar bambu.
Xu Liang masih terus membicarakan rumor baru mengenai “hantu air” sepanjang pagi.
“Aku serius,” katanya sambil membawa keranjang jerami di pundaknya. “Kemarin malam murid penjaga danau mendengar suara cipratan air sangat keras.”
Han Gu yang sedang duduk di atas pagar kandang langsung mendecakkan lidah malas.
“Mungkin cuma ikan.”
Xu Liang langsung menggeleng keras. “Ikan biasa mana mungkin memakan tanaman air spiritual sampai habis?”
Bai Fengxuan yang sedang menuang pakan langsung pura-pura batuk untuk menyembunyikan ekspresinya. Untungnya tidak ada yang benar-benar mencurigainya.
Bagaimanapun, rumor aneh memang sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari Puncak Awan Pengembara akhir-akhir ini. Setelah “hantu ayam” dan “roh api penunggang babi,” kemunculan “hantu air” justru terdengar masuk akal bagi sebagian murid luar.
Menjelang sore suasana kandang mulai lebih tenang. Matahari perlahan turun ke balik pegunungan dan cahaya jingga senja menyinari pagar kayu serta kandang-kandang ayam spiritual yang berjajar di lereng gunung.
Bai Fengxuan membantu membereskan area penetasan terakhir sebelum akhirnya berjalan perlahan menuju peti telur spiritual di sudut kandang. Tatapannya bergerak ke kiri dan kanan.
Xu Liang sedang sibuk membantu Zhao Lei membersihkan gudang pakan.
Dan suasana kandang mulai cukup sepi.
Bai Fengxuan segera bergerak cepat.
Satu butir telur masuk ke dalam jubah hitamnya.
Lalu yang kedua.
Ketiga.
Keempat.
Hangat telur spiritual itu terasa samar di balik kain jubahnya dan jantung Bai Fengxuan mulai berdetak sedikit lebih cepat seperti biasa setiap kali ia melakukan sesuatu yang jelas-jelas salah.
Namun tepat ketika ia hendak menutup kembali peti kayu sebuah tangan besar tiba-tiba muncul dari belakangnya.
Tak.
Bai Fengxuan langsung membeku.
Han Gu berdiri di belakangnya sambil menyipitkan mata.
“…Adik Bai.”
Wajah Bai Fengxuan perlahan berubah kaku.
“Kakak Han… ternyata kau di sini.”
Han Gu melipat tangan di dada sambil mendengus pelan. “Aku sudah merasa aneh sejak tadi. Ternyata kau benar-benar kembali mencuri telur.”
Bai Fengxuan buru-buru merendahkan suaranya.
“Pelan sedikit!” Namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah aneh.
Karena tepat di depan matanya, Han Gu justru membuka jubahnya sendiri lalu mulai mengambil telur dari peti yang sama.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Mata Bai Fengxuan langsung membesar.
“Kakak…”
Han Gu memasukkan telur terakhir dengan wajah tenang seperti seorang ahli strategi perang yang sedang menjalankan tugas penting.
“Apa?”
“Kakak sangat serakah.”
Han Gu langsung mendengus kecil.
“Adik Bai.” Tatapannya terlihat sangat serius sekarang. “Kalau sudah mencuri, lakukan dengan sepenuh hati.”
Bai Fengxuan benar-benar mulai merasa moral kakak seniornya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Beberapa saat kemudian keduanya tetap berjalan pulang bersama sambil pura-pura mengobrol biasa seperti dua murid luar polos yang baru selesai bekerja.
Kabut sore mulai turun di antara lereng gunung ketika mereka tiba di gubuk kayu Bai Fengxuan. Cahaya matahari terakhir memantul samar di jendela kecil sementara udara malam perlahan menjadi lebih dingin.
Begitu pintu ditutup rapat dari dalam Han Gu langsung menjatuhkan telur-telur spiritual itu ke atas meja kayu dengan wajah penuh kemenangan.
“Hasil panen hari ini lumayan.”
Bai Fengxuan hanya bisa memijat pelipisnya sendiri sebelum mulai menyiapkan tungku batu.
Tak lama kemudian Kayu Api Scarlet kembali menyala di dalam tungku dengan cahaya merah gelap yang memenuhi ruangan kecil itu. Wajan hitam tua perlahan diletakkan di atas api dan seperti biasa, dengungan samar mulai terdengar dari permukaan logamnya.
Wuuunng…
Han Gu yang duduk di dekat meja langsung menatap wajannya dengan penuh rasa penasaran.
“Semakin lama aku semakin yakin benda itu bukan wajan biasa.”
Bai Fengxuan sendiri sebenarnya berpikir sama. Namun sejauh ini ia masih belum benar-benar memahami asal-usul benda berat misterius yang ia temukan di sungai itu.
Tak lama kemudian minyak mulai mendesis di atas permukaan wajan hitam.
Bai Fengxuan memecahkan telur satu per satu dengan gerakan yang sekarang jauh lebih terampil dibanding sebelumnya. Kuning telur spiritual berwarna emas pucat langsung menyebar di atas permukaan panas bersama aroma qi spiritual lembut yang perlahan memenuhi seluruh ruangan.
Ia menambahkan sedikit garam, daun herbal cincang, dan beberapa potong kecil daging sisa pesta semalam.
Suara desisan minyak memenuhi gubuk dan aroma harum segera menyebar ke udara. Han Gu bahkan belum mulai makan dan wajahnya sudah terlihat seperti orang yang baru melihat surga.
“Dao memasakmu semakin mengerikan…”
Bai Fengxuan hanya tertawa kecil sambil terus membalik telur dengan tenang. Entah sejak kapan, memasak mulai terasa alami baginya. Gerakan tangannya semakin stabil, pengaturan panas api semakin tepat, dan qi spiritual dari bahan makanan terasa lebih mudah ia rasakan dibanding sebelumnya.
Tanpa ia sadari, penguasaannya terhadap wajan hitam itu benar-benar berkembang sedikit demi sedikit. Tak lama kemudian telur goreng spiritual akhirnya matang sempurna.
Kuning telurnya tampak lembut dan mengilap, sementara aroma qi spiritual memenuhi seluruh gubuk kecil itu dengan hawa hangat yang membuat perut langsung lapar hanya dengan mencium baunya.
Han Gu menjadi orang pertama yang menggigitnya. Dan seperti biasa matanya langsung membesar.
Beberapa detik ia bahkan berhenti bergerak seperti kehilangan kemampuan berbicara.
“Langit…” gumamnya pelan sambil memegangi mangkuk nasinya. “Aku benar-benar tidak bisa kembali makan makanan dapur biasa lagi.”
Bai Fengxuan ikut tertawa kecil sebelum mulai makan perlahan.
Malam di luar terasa dingin dan sunyi sementara di dalam gubuk, cahaya merah Kayu Api Scarlet menyala hangat menerangi dua murid luar yang diam-diam menikmati hasil “kerja keras” mereka.
Setelah makan selesai dan suasana mulai lebih tenang, Han Gu tiba-tiba bersandar di dekat dinding kayu sambil menghela napas panjang.
“Ngomong-ngomong…” katanya pelan. “Ada rumor baru lagi hari ini.”
Bai Fengxuan langsung mengangkat kepalanya.
“Rumor hantu air?”
Han Gu menggeleng perlahan.
“Bukan.”
Tatapannya perlahan berubah lebih serius dibanding biasanya. “Ini tentang hutan bambu di lembah gunung.”
Bai Fengxuan sedikit mengernyit.
Hutan bambu di lereng bawah Forgotten Blade memang terkenal cukup aneh. Tempat itu selalu dipenuhi kabut tipis dan sebagian murid luar sering menghindarinya saat malam karena suasananya terlalu sunyi.
Han Gu melanjutkan dengan suara lebih pelan. “Ada murid luar yang pergi ke sana beberapa hari lalu untuk mengambil bambu spiritual.”
“Lalu apa yang terjadi?”
Han Gu terdiam sesaat sebelum menjawab. “Awalnya tidak ada apa-apa. Tapi setelah kembali dari sana… tubuhnya mulai sakit.”
Suasana di dalam gubuk perlahan menjadi lebih sunyi. Api kecil di tungku bergerak pelan sementara suara angin malam terdengar samar dari luar papan kayu.
“Katanya kulitnya mulai mengeras seperti kayu.” Han Gu menyipitkan mata. “Dan beberapa hari kemudian tubuhnya retak.”
Bai Fengxuan langsung merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
“Retak?”
Han Gu mengangguk perlahan.
“Dari celah retakan itu… tumbuh tanaman kecil.”
Beberapa detik gubuk langsung benar-benar sunyi. Bahkan Bai Fengxuan yang biasanya cukup tenang ikut merasa merinding mendengar cerita itu.
“Ahli alkimia di Puncak Sungai Hijau sudah memeriksanya,” lanjut Han Gu. “Tapi mereka tidak tahu penyebab sebenarnya. Mereka hanya bilang itu pasti fenomena spiritual.”
Bai Fengxuan perlahan menatap api tungku di depannya. Tubuh mengeras seperti kayu. Lalu tanaman tumbuh dari retakan kulit.
Fenomena seperti itu terdengar terlalu mengerikan bahkan untuk dunia kultivasi.
“Apa sebenarnya itu?” tanyanya pelan.
Han Gu menyilangkan tangan di dada sambil berpikir sejenak.
“Menurutku…” suaranya menjadi lebih rendah sekarang, “di dalam hutan bambu itu pasti ada energi spiritual elemen kayu yang sangat masif.”
Jantung Bai Fengxuan langsung berdetak sedikit lebih cepat.
Energi spiritual elemen kayu?
Benaknya langsung teringat isi buku Tata Cara Duduk dan Bernapas untuk Pemula yang ia baca semalam.
Untuk membuka meridian baru ia membutuhkan energi spiritual yang selaras dengan akar spiritualnya. Dan akar spiritual miliknya adalah elemen kayu.
Tatapannya perlahan berubah dalam.
Han Gu yang melihat ekspresinya langsung mengernyit curiga.
“…Adik Bai.”
“Hmm?”
“Kau jangan bilang sedang memikirkan sesuatu yang berbahaya.”
Bai Fengxuan langsung tersadar lalu buru-buru menggeleng.
“Tentu tidak.”
Namun jauh di dalam pikirannya sebuah ide yang sangat berbahaya memang mulai muncul perlahan.
Hutan bambu misterius dan energi spiritual elemen kayu yang masif.
Tempat yang paling memungkinkn untuk membuka meridiannya berikutnya.
Untuk pertama kalinya sejak membaca buku kultivasi itu, Bai Fengxuan akhirnya merasa mungkin… ia benar-benar menemukan arah berikutnya di jalan kultivasinya.
…
ok Lanjut bagi hasiL Panen....dan unduj afik Bai sukses dgn teknik pedang tak terlihat yg akan menjadi senjata andaLan untuk jarak yg sangat dekat dgn Lawan....