"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Suara denting sendok yang beradu dengan piring seketika terhenti.
Fauzan tidak bisa lagi menahan gejolak amarah dan ego mudanya yang membubung tinggi.
Ia menggebrak meja makan dengan kasar, lalu berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang.
Matanya memerah, menatap Luna dengan pandangan penuh penghinaan.
"Pa! Kenapa wanita ini di sini?! Aku sudah membuangnya!" teriak Fauzan dengan wajah penuh emosi
"Dia itu pengantin gagal! Buat apa Papa bawa dia ke rumah kita?!"
Mendengar makian kasar dari putranya, raut wajah Mahendra tetap tenang bagai permukaan telaga yang dalam.
Tidak ada riak kepanikan di wajah Pria paruh baya itu dengan gerakan yang sangat elegan dan penuh wibawa mengambil kain serbet di atas meja untuk membersihkan mulutnya, lalu melipatnya kembali dengan rapi.
Mila yang duduk di samping Fauzan langsung memanfaatkan situasi.
Ia ikut menegakkan tubuhnya, memamerkan senyum sinis dengan bibir merah menyalanya.
"Iya, Pa. Fauzan sudah memilihku untuk menjadi istrinya. Jadi untuk apa wanita ini datang ke sini lagi? Mau mengemis cinta pada suamiku?" sahut Mila dengan nada sok berkuasa, mengira dirinya sudah berada di atas angin.
Mahendra perlahan mendongak dengan sepasang matanya yang tajam menatap Fauzan dan Mila bergantian.
Tekanan aura dominan yang dipancarkannya seketika membuat atmosfer ruangan terasa mencekam dan dingin, hingga membuat nyali Mila mendadak ciut.
"Sudah bicaranya?" tanya Mahendra, suaranya berat, rendah, namun begitu mengintimidasi.
"Sekarang dengarkan Papa bicara."
Mahendra menorehkan pandangannya pada Luna yang duduk di sampingnya, lalu beralih menatap Emma, Fauzan, dan Mila satu per satu.
"Perkenalkan, wanita yang di samping Papa ini adalah istri Papa. Dan kami sudah sah menikah kemarin, di saat kamu memilih wanita menor itu menjadi istrimu," ucap Mahendra dengan nada tenang tanpa keraguan sedikit pun.
Luna yang sejak tadi menahan ketegangannya, seketika harus bersusah payah menahan tawanya saat mendengar kata 'menor' keluar dari mulut suaminya yang terkenal kaku dan dingin itu.
Ia melirik Mila yang wajahnya langsung berubah pucat berparut merah padam karena dihina secara terang-terangan oleh sang Don Juan.
"Papa sudah gila!!" pekik Fauzan.
Ia merasakan harga dirinya sebagai anak laki-laki seperti diinjak-injak ke dasar bumi.
"Aku membuang sampah, dan Papa justru memungut sampah itu?!"
PLAKK!!
Suara tamparan yang begitu keras dan nyaring seketika memutus kalimat kasar Fauzan.
Hanya dalam satu kedipan mata, Mahendra sudah berdiri dan melayangkan pukulannya ke wajah Fauzan hingga kepala pemuda itu terenggut ke samping.
Sudut bibir Fauzan langsung robek dan mengeluarkan darah segar.
Pengawal dan para pelayan yang menyaksikan kejadian itu langsung membeku di tempat.
"Hormati dia, karena sekarang dia adalah ibu kamu!" bentak Mahendra dengan suara baritonnya menggelegar penuh amarah yang mutlak, membuat seluruh ruangan bergetar.
Sorot matanya laksana elang yang siap mencabik mangsanya.
"Jaga mulutmu sebelum aku mencoret namamu dari seluruh aset Dirgantara!"
Fauzan memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut nyeri.
Ia menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya sekaligus ketakutan yang luar biasa.
"Mas!! Apa-apaan ini?!" Emma akhirnya ikut berdiri dari kursinya dengan wajah histeris.
Ia menunjuk Luna dengan kuku-kukunya yang panjang.
"Wanita ini ingin harta kita saja! Dia sengaja mendekati Mas Mahendra karena gagal menikah dengan Fauzan! Mas jangan mau ditipu oleh jalang kecil ini!" teriak Emma membela keponakannya.
Luna yang melihat situasi kian memanas dan tidak terkendali langsung berdiri dari kursi makannya.
Jantungnya berdegup kencang, tidak nyaman menjadi pusat keributan dan tuduhan keji dari keluarga suaminya.
"Mas, lebih baik aku pulang saja," ucap Luna dengan suara yang sedikit bergetar, menatap Mahendra dengan pandangan memohon.
Ia merasa napasnya sesak berada di antara orang-orang yang menatapnya penuh kebencian itu.
"Sayang, duduk," titah Mahendra, suaranya melembut namun tetap mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
"Tapi, Mas..."
"Duduk, Sayang. Aku harus memberikan pelajaran kepada keluargaku," potong Mahendra cepat, menatap Luna dengan sorot mata yang menenangkan, seolah meyakinkan istrinya bahwa semua berada di bawah kendalinya.
Luna menelan salivanya, lalu perlahan kembali mendudukkan dirinya di kursi.
Setelah menyuruh Luna duduk, Mahendra membalikkan badannya menghadap Fauzan, Mila, dan Emma.
Ketegangan langsung merayap naik saat pria paruh baya itu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu meletakkannya kembali di atas meja makan dengan gerakan yang teramat tenang.
Detik berikutnya, Mahendra mengeluarkan ancaman finansial yang mutlak.
"Mulai detik ini, seluruh fasilitas yang kamu nikmati, Fauzan. Papa bekukan," ucap Mahendra.
"Semua kartu kredit atas namamu, mobil mewah yang kamu pakai, hingga jabatanmu sebagai Direktur Operasional di Dirgantara Group, resmi dicabut hari ini. Kamu tidak punya hak sepeser pun atas uangku mulai detik ini, sebagai hukuman atas kelancanganmu pada ibumu."
Mendengar keputusan mutlak dari sang kepala keluarga, suasana ruang makan seketika gempar.
Emma langsung histeris. Ia melangkah maju dan menunjuk-nunjuk wajah Luna dengan telunjuknya yang bergetar.
"Mas Mahendra! Kamu sudah gila! Kamu pasti sudah dipelet oleh wanita jalang ini! Bagaimana bisa kamu menendang anak kandungmu sendiri demi perempuan ingusan yang baru kemarin sore masuk ke rumah ini?!" tuduh Emma.
Sementara itu, di samping Fauzan, Mila mulai panik setengah mati.
Wajahnya yang semula menor dan angkuh kini mendadak pucat pasi.
Tubuhnya bergetar hebat saat menyadari mimpi menjadi nyonya kaya raya dan menikmati seluruh aset Dirgantara Group terancam sirna bahkan sebelum dimulai.
Ia menatap Fauzan dengan pandangan menuntut, berharap suaminya itu bisa melawan, namun Fauzan sendiri hanya bisa mematung menahan amarah dan syok yang luar biasa.
"Papa akan menyesali ini!" teriak Fauzan dengan napas memburu, menatap tajam ke arah Mahendra dan Luna bergantian.
Tanpa membuang waktu lagi, Fauzan, Emma, dan Mila melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan penuh amarah.
Suara langkah kaki mereka yang menghentak kasar dan makian yang samar perlahan menjauh, menyisakan keheningan yang pekat di ruangan tersebut.
Luna menghela napas panjang, menatap punggung suaminya dengan perasaan bersalah yang berkecamuk di dalam dada.
"Mas, jangan seperti ini. Mereka keluarga kamu..." bisik Luna lirih, menyentuh lengan kekar Mahendra dengan ragu.
Ia tidak ingin menjadi penyebab perpecahan antara ayah dan anak.
Mahendra tidak langsung menjawab. Ia mendudukkan kembali tubuh tegapnya di samping Luna.
Guratan amarah di wajah matangnya menguap seketika, digantikan oleh ketenangan mutlak seorang Don Juan yang penuh pengalaman.
Ia mengusap jemari Luna dengan lembut, lalu menorehkan pandangannya ke arah koridor dapur.
"Bibi, ambilkan makanan penutup," ucap Mahendra dengan nada santai, memutus kekhawatiran istrinya.
Pelayan paruh baya itu dengan cekatan langsung menyajikan semangkuk puding buah segar di hadapan mereka.
Seolah tidak terjadi keributan besar beberapa menit lalu, Mahendra kembali menikmati sarapannya dengan tenang, membuktikan bahwa tidak ada satu pun badai di dunia ini yang bisa menggoyahkan posisinya sebagai penguasa mutlak di keluarga Dirgantara.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi