Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 : SATU GARIS DI DINDING ES, BERARTI KEMAJUAN
Hua Ling memasak dengan cara yang membuat orang tidak sabar menunggu tanpa tahu persis alasannya.
Tidak ada bumbu yang istimewa selain unggas hutan yang dibakar di atas api dengan potongan rempah yang dia temukan sendiri di sepanjang jalur hutan tadi, beberapa akar yang dicuci bersih di aliran kecil dekat kaki gunung, dan telur-telur yang dipanggang di atas batu panas. Tapi hasilnya adalah sesuatu yang membuat semua orang diam selama beberapa menit pertama makan, karena mulut mereka sedang sibuk dengan hal yang lebih penting.
Haifeng menelan suapan keduanya dan menatap Hua Ling dengan ekspresi yang sangat jujur. “Ini lebih enak dari semua yang pernah Kakakku masak dalam hidupnya.”
Hua Ling hampir tersedak menahan tawa.
Sementara Qinghan, yang duduk di sebelah kiri Haifeng dengan piring daun di pangkuannya, tidak mengangkat mata dari makanannya. “Aku tidak pernah masak.”
“Itulah masalahnya.”
Qinghan memilih untuk tidak melanjutkan percakapan itu, tapi ada ketegangan kecil di rahangnya yang mengatakan bahwa kalimat adiknya tidak sepenuhnya lewat begitu saja.
Tianbao sendiri sudah menghabiskan porsinya lebih cepat dari siapa pun dan kini sedang mengunyah tulang unggas dengan filosofi bahwa tidak ada yang boleh dibuang. Sambil mengunyah, dia bercerita tentang betapa menyeramkannya harimau tadi dari sudut pandangnya yang berada di dasar jurang, menambahkan beberapa detail yang kemungkinan besar tidak akurat tapi sangat menghibur, termasuk klaim bahwa harimau itu sempat berbicara kepadanya dalam bahasa yang tidak dia mengerti.
“Harimau itu tidak bicara,” kata Qinghan begitu datar.
“Mungkin mengaum juga termasuk berbicara?” Tianbao mengangkat alis.
Hua Yuan terkekeh dari balik cangkir minuman herbalnya. Sementara cucunya, Hua Ling menyembunyikan senyumannya di balik lengan baju. Bahkan Qinghan akhirnya melepaskan satu hembusan napas singkat yang pada orang lain akan disebut tertawa, tapi pada Wei Qinghan lebih menyerupai kebocoran kecil dari sesuatu yang dijaga sangat rapat.
Tianbao akhirnya menatap Haifeng dengan ekspresi orang yang baru menemukan harta karun. “Kau dengar itu? Kakakmu baru saja tertawa.”
“Aku tidak tertawa,” kata Qinghan.
“Aku dengar sendiri, Nona Wei.”
“Kau salah dengar.”
Setelah acara makan selesai dan masing-masing mulai mengerjakan urusannya sendiri, Tianbao merebahkan diri di rerumputan dengan topi menutupi wajah, Hua Ling membantu kakeknya menyortir ramuan-ramuan yang terkumpul, dan Qinghan duduk dengan punggung bersandar di batu besar sambil memejamkan mata.
Lalu Haifeng pergi sedikit lebih jauh dari kelompok, ke area terbuka dengan tanah rata yang cukup lapang, dan mengeluarkan Pedang Samudera dari sarungnya.
Bilah itu berkilat di bawah terik matahari siang dengan cara yang selalu membuatnya berhenti sejenak. Biru gelap, beriak sendiri, seperti ada sesuatu di dalamnya yang hidup tapi tidak mau terlalu mudah diajak bicara. Haifeng menggenggam gagangnya, mengambil napas, dan mulai bergerak.
Ayunan ke kiri. Tusukan lurus ke depan. Putaran pergelangan ke atas. Langkah silang ke belakang.
Dia mengulangi rangkaian gerakan itu beberapa kali, mencoba menemukan ritme yang terasa benar, tapi setiap kali ada satu gerakan yang terasa janggal dan membuatnya harus mengulang dari awal. Pedang itu terlalu berat untuk digerakkan dengan presisi tanpa qi, dan tanpa qi gerakan apa pun yang dia buat hanya akan terlihat seperti seseorang yang berjuang melawan angin.
“Tunjukkan teknik terbaikmu.”
Haifeng hampir menjatuhkan pedangnya karena kaget setelah kakaknya itu berdiri dua langkah di belakangnya, lengan terlipat, dengan ekspresi santai yang tidak biasa di wajahnya. Entah sejak kapan dia ada di sana.
Lantas Haifeng mengumpulkan martabatnya yang tersisa dan mulai menggerakkan pedang dengan lebih serius. Atau setidaknya dengan ekspresi yang lebih serius. Setelah beberapa saat, gerakannya mulai terlihat seperti kombinasi antara teknik seni pedang yang pernah dibacanya di gulungan dan improvisasi yang dia buat sendiri di tempat, dengan hasil yang objektif bisa disebut kreatif kalau mau berbaik hati, atau mengkhawatirkan kalau mau jujur.
Kaki kirinya bahkan tersangkut langkahnya sendiri di gerakan ketujuh dan dia harus menyeimbangkan diri dengan susah payah.
“Lawan aku,” kata Qinghan.
“Kak, kau serius?”
Qinghan sudah menarik pedangnya. “Aku hanya menangkis. Tidak melawan. Tapi kau harus bisa menyudutkanku setidaknya setengah detik. Satu kali saja.”
Haifeng menatap kakaknya, sembari mengin betapa pedasnya perbedaan antara tingkat nol dan tingkat delapan. “Itu mustahil secara fisik.”
“Secara fisik, mungkin.” Qinghan mengangkat pedangnya. “Mulai saja.”
Haifeng tumbang untuk pertama kalinya dalam waktu kurang dari tiga detik.
Lalu lagi. Lalu lagi. Qinghan tidak menyerang, hanya menangkis dan bergerak, tapi setiap tangkisan menyalurkan cukup tenaga untuk membuat Haifeng kehilangan keseimbangannya dan berakhir di tanah. Setelah tumbang yang kesepuluh, Haifeng mulai memperhatikan pola gerakannya. Setelah yang kedua puluh, dia mulai mencoba mengubah pendekatannya. Setelah yang ketiga puluh, dia sudah tidak ingat lagi berapa kali, tubuhnya hanya tahu bahwa bangkit adalah hal berikutnya yang harus dilakukan meskipun lututnya sudah tidak mau sepenuhnya diajak berdiri tegap.
Sampai Panglima Qinghan menatapnya dari jarak dua langkah dengan ekspresi yang datar. “Hanya ini kemampuanmu?” tanyanya. “Aku sudah berharap lebih dari seorang pewaris Wei Changsong.”
Sesuatu di kalimat itu memantik sesuatu yang berbeda dari kelelahan.
Haifeng menatap tanah di depan kakinya. Angin bergerak dari arah laut, dan di dalam angin itu ada sesuatu, sebentar sekali dan tipis, seperti kilasan dari mimpi yang terlalu cepat dilupakan. Ombak yang bergerak. Permukaan air yang tenang. Dan wanita itu berdiri di sana dengan rambut panjang yang tidak tertiup angin, wajahnya tidak jelas, tapi keberadaannya terasa seperti sesuatu yang sangat besar sedang menunggu untuk diakui.
Alhasil Haifeng mengangkat Pedang Samudera itu lagi.
Dan kini yang muncul di depannya bukan kakaknya secara langsung, melainkan dinding es setinggi dua meter yang sudah berdiri tanpa dia sadari kapan Qinghan membuatnya. Permukaan es itu jernih dan tidak ramah, mencerminkan wajahnya sendiri kembali kepadanya.
Sampai Haifeng bergerak dengan satu gerakan lurus, horizontal, dari kiri ke kanan, dengan seluruh berat tubuh yang masih bisa dikumpulkannya di balik gerakan itu.
Suara yang muncul bukan suara es yang bertahan.
Garis itu membelah dinding es dengan presisi, dan dinding itu runtuh dengan suara yang terdengar sampai ke tempat Tianbao berbaring.
Qinghan pun hanya berdiri di balik dinding yang sudah tidak ada itu, pedangnya kembali ke sarung, dengan senyuman miring yang sangat jarang muncul di wajahnya.
Sedangkan Haifeng terduduk di tanah dengan napas yang tidak teratur.
Sesuatu terasa aneh di bawah lututnya. Dia menekan telapak tangannya ke tanah dan tanahnya basah, bukan karena air, melainkan basah dengan cara yang tidak ada penjelasan masuk akalnya karena langit di atas mereka tidak mendung sama sekali.
Haifeng mengerutkan dahinya. Menatap Pedang Samudera di tangannya.
Di sepanjang bilah itu, sangat samar, ada riak air yang bergerak dari pangkal ke ujung dan kembali lagi, berulang, seperti ombak kecil yang tidak pernah berhenti.
“Kak,” katanya lirih, “pedang ini...”
“Aku tahu,” kata Qinghan. “Mulailah untuk mempercayai pedang itu, Haifeng. Kau adalah majikannya sekarang, bukan sebaliknya.”
Haifeng menatap riak air di bilah itu. Tangan kanannya mengencangkan cengkeraman pada gagang yang mulai terasa lebih familiar dari hari-hari sebelumnya. Sementara mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu, tapi kata-kata tidak langsung keluar.
“HAIFENG!”
Teriakan Tianbao nan cempreng berasal dari arah atas, keras dan tidak mengandung humor sama sekali untuk pertama kalinya hari ini.
Mereka semua mendongak. Tianbao berdiri di batu yang lebih tinggi, tangannya menuding ke arah barat pulau, ke arah hutan yang lebih lebat di kaki gunung yang belum mereka jelajahi.
“Ada asap di sana,” teriak Tianbao.
Qinghan sudah bergerak bahkan sebelum kalimat itu selesai, matanya mengedarkan pandangan ke arah yang ditunjuk Tianbao.
“Kita harus bergerak,” katanya kepada semua orang. “Naik dulu. Aku perlu memastikan dari ketinggian.”