Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Seseorang Mulai Menyerang
Seseorang Mulai Menyerang
Setelah makan malam itu, hubungan Mona dan Wira berubah semakin jelas. Mungkin mereka belum benar-benar mengucapkan kata pacaran. Namun cara mereka saling memandang… cara Wira memperlakukan Mona… dan cara Mona mulai nyaman berada di dekat pria itu— semuanya sudah berbicara terlalu banyak.
Dan masalahnya… Orang-orang mulai menyadarinya juga.
Pagi itu Mona masuk kantor dengan perasaan aneh. Semalam ia bahkan sulit tidur karena terus mengingat genggaman tangan Wira di rooftop.
Dan lebih parahnya lagi— ia masih bisa merasakan hangat tangan pria itu.
“Mbak Mona senyum lagi tuh.”
“Eh iya!”
Mona langsung panik.
“Saya nggak senyum!”
“Bohong.”
“Parah banget.”
Mona buru-buru duduk di meja kerjanya sambil menutup wajah dengan map. Namun sebelum ia sempat membela diri lebih jauh—
Lift khusus direktur terbuka. Dan seperti biasa… suasana kantor langsung berubah.
Wira keluar dengan langkah tenang. Setelan hitam rapi. Tatapan dingin. Aura CEO yang langsung membuat semua orang kembali sibuk pura-pura bekerja.
Namun begitu melewati meja Mona— pria itu berhenti.
“Masuk lima menit lagi.”
“I-Iya, Pak.” Nada gugup Mona langsung terdengar jelas.
Dan itu justru membuat beberapa staf diam-diam tersenyum geli.
Begitu masuk ke ruang CEO, Mona langsung berdiri kikuk di depan meja kerja Wira. Sementara pria itu terlihat santai membuka beberapa dokumen.
“Kenapa tegang begitu?”
“Siapa yang tegang?”
“Kamu.”
Mona langsung salah tingkah.
“Biasa aja kok.”
“Bohong.”
Satu kata itu langsung membuat Mona ingin kabur. Wira sekarang terlalu pandai membaca dirinya.
“Ada jadwal apa hari ini?” tanya pria itu akhirnya.
Mona buru-buru membuka tablet agar bisa kembali fokus.
“Jam sepuluh meeting dengan investor. Jam satu makan siang dengan tim legal. Malam ada gala perusahaan.”
Wira mengangguk kecil.
“Untuk gala malam nanti…”
Mona langsung menatap curiga.
“Kenapa?”
“Kamu ikut denganku.”
“Nah kan.”
“Apa?”
“Bapak nggak pernah kasih saya hidup tenang.”
Wira justru terlihat menahan senyum.
“Kamu sekretarisku.”
“Itu alasan paling bohong sedunia.”
“Aku suka memakainya.”
Mona langsung mendelik kesal. Namun diam-diam… hatinya hangat. Karena sekarang Wira bahkan tidak terlalu berusaha menyembunyikan niatnya lagi.
Siang harinya, Mona pergi ke pantry untuk mengambil kopi. Namun baru beberapa langkah— suara bisikan samar terdengar dari dekat ruang arsip.
“Dia serius ya sama Pak Wira?”
“Entahlah. Tapi beda banget perlakuannya.”
“Aku sih nggak yakin hubungan kayak gitu bakal lama.”
Langkah Mona langsung melambat.
“Akhirnya cuma jadi hiburan CEO doang paling.”
Tawa kecil terdengar. Dan untuk beberapa detik… dada Mona terasa sesak.
Ia tahu rumor pasti ada. Ia tahu hubungan mereka memang tidak biasa. Tapi mendengarnya langsung tetap terasa menyakitkan.
Mona menunduk pelan lalu berjalan pergi sebelum mereka sadar dirinya ada di sana. Namun suasana hatinya langsung berubah.
***
Sore menjelang malam, persiapan gala perusahaan dimulai. Mona berdiri di depan cermin ruang ganti kantor dengan gugup. Gaun sederhana berwarna hitam yang dipilihkan stylist perusahaan terlihat terlalu elegan untuk dirinya.
“Cantik banget, Mbak.”
Mona tersenyum kecil canggung.
“Semoga saya nggak jatuh nanti.”
“Kalau jatuh juga pasti Pak Wira nangkep.”
Mona langsung memegang dahinya pasrah. Kenapa semua orang sekarang suka sekali menggoda dirinya?
Sementara di ruang kerja CEO— Wira sedang membaca laporan ketika pintu diketuk.
“Masuk.”
Salah satu asistennya masuk dengan wajah ragu.
“Pak…”
“Ada apa?”
“Asal Bapak tahu… rumor tentang Mbak Mona makin ramai.”
Ekspresi Wira langsung datar.
“Lalu?”
“Beberapa orang mulai bicara macam-macam.”
Tatapan Wira perlahan berubah dingin.
“Ada yang mengganggunya?”
Asisten itu terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan, “…Ada beberapa komentar yang kurang enak.”
Ruangan langsung terasa lebih dingin. Wira menutup map di tangannya perlahan.
“Aku tidak suka orang mengusik dia.” Nada suaranya rendah.
Namun cukup membuat asistennya langsung tegang.
***
Malam harinya, ballroom hotel tempat gala berlangsung dipenuhi tamu penting. Pebisnis, Investor, Media.
Lampu mewah memenuhi ruangan besar itu dan Mona langsung merasa kembali masuk ke dunia yang bukan miliknya.
“Tenang.” Suara Wira terdengar pelan di sampingnya.
Pria itu berdiri sangat dekat. Terlalu dekat untuk ukuran hubungan bos dan sekretaris.
“Saya kelihatan gugup ya?”
“Sangat.”
Mona menghela napas kecil.
“Saya nggak cocok di tempat beginian.”
Wira menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan, “Kamu cocok di mana pun.”
Deg
Sekali lagi. Selalu begitu. Mona benar-benar tidak tahu bagaimana cara bertahan dari pria ini.
Acara berlangsung lancar. Namun beberapa tatapan mulai membuat Mona tidak nyaman.
Beberapa wanita memandangnya dengan rasa penasaran. Beberapa pria tampak membicarakannya pelan. Dan Mona mulai sadar— kehadirannya di sisi Wira benar-benar menarik perhatian.
“Pak Wira.”
Seorang pria paruh baya menghampiri sambil tersenyum formal.
“Sudah lama tidak bertemu.”
Wira mengangguk kecil.
“Pak Surya.”
Pria itu lalu melirik Mona.
“Dan ini?”
Belum sempat Mona menjawab— “Orang penting saya.”
Deg
Mona langsung menoleh cepat. Sementara Pak Surya terlihat sedikit terkejut sebelum tertawa kecil.
“Begitu rupanya.”
Wajah Mona sudah panas total sekarang dan Wira terlihat santai seolah baru mengatakan sesuatu yang biasa.
Namun di tengah acara— seseorang tiba-tiba berdiri di dekat kelompok tamu sambil berbicara cukup keras.
“Kadang saya heran juga.”
Suasana sekitar sedikit hening. Pria muda berpakaian mahal itu tersenyum miring sambil memegang gelas wine.
“Kenapa sekarang perusahaan besar suka mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan.”
Mona langsung merasa tidak nyaman. Karena tatapan pria itu perlahan mengarah padanya. Wira langsung menyipitkan mata tipis.
“Kevin.” Nada suaranya berubah dingin.
Pria bernama Kevin itu tertawa kecil.
“Apa? Saya cuma bicara umum.”
Namun semua orang di sekitar tahu— ucapan itu ditujukan pada Mona.
“Hubungan atasan dan bawahan memang menarik,” lanjut Kevin santai. “Apalagi kalau salah satunya naik terlalu cepat.”
Deg
Wajah Mona langsung pucat. Beberapa tamu mulai saling melirik canggung. Dan sebelum suasana makin buruk— Wira melangkah maju perlahan.
Tatapannya benar-benar dingin sekarang.
“Apa kamu selesai?”
Kevin tersenyum tipis.
“Kalau tersinggung berarti merasa.”
Bruk
Suara gelas diletakkan keras di meja membuat seluruh ruangan langsung sunyi.
Wira berdiri tepat di depan Kevin sekarang. Aura pria itu berubah total.
Berbahaya!
“Dengar baik-baik,” ucap Wira rendah. “Aku masih cukup sopan malam ini.”
Kevin mulai kehilangan senyumnya sedikit.
“Tapi kalau kamu sekali lagi bicara sembarangan tentang Mona…” lanjut Wira pelan. “Aku pastikan kamu menyesal datang ke acara ini.”
Hening!
Tidak ada yang berani bicara. Karena semua orang tahu— Wira Aditama benar-benar marah sekarang. Dan Mona yang berdiri beberapa langkah di belakangnya hanya bisa membeku.
Karena untuk pertama kalinya… ada seseorang yang berdiri di depannya seperti itu. Melindunginya tanpa ragu sedikit pun.