NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17: Sepotong Manis dan Pelanggan Pertama

Aroma mentega yang meleleh, gurihnya panggangan gandum, dan pekatnya bubuk kopi beradu manis memenuhi setiap sudut dapur Thalassa Coffee. Jam digital di dinding baru saja menunjukkan pukul 03.30 pagi, namun kesibukan di dalam sana sudah seperti tengah hari.

Savya memimpin di dekat meja marmer dengan celemek yang sudah ternoda tepung di beberapa bagian. Tangannya bergerak telaten, mengoleskan lapisan krim terakhir di atas permukaan sebuah kue utuh. Di sebelahnya, Mika dengan ritme gerakannya yang tenang dan agak lambat, memotong slice demi slice cake dengan sangat rapi agar tidak merusak teksturnya.

"Mbak... yang rasa... matcha crepes... sudah selesai aku potong," gumam Mika lembut, suaranya terdengar jernih di antara desis oven yang perlahan mati.

"Terima kasih ya, Mika. Tolong langsung tata di etalase kaca depan, ya," sahut Savya lembut seraya menyeka pelan keringat di pelipisnya dengan punggung tangan.

Sila, die sejak dini hari bertugas menyiapkan kotak kemasan dan piring-piring kecil, melongokkan kepalanya ke arah nampan khusus di dekat Savya. Matanya berbinar takjub melihat satu varian kue yang paling menonjol di antara yang lain. Sebuah kue berlapis warna kuning cerah dengan hiasan kelopak bunga matahari tiruan yang cantik, serta taburan biji kopi di atasnya.

"Wah, Mbak... Coffee & Sunflower Cake ini cantik banget! Warnanya cerah, tapi ada sentuhan kopinya. Benar-benar menggambarkan Mbak Savya banget," puji Sila heboh, seketika mengusir rasa kantuk yang sempat menggelayuti mereka.

Mika yang sedang membawa nampan berisi potongan kue ikut berhenti sejenak, menatap kue kuning itu lalu mengangguk pelan dengan senyum simpulnya yang lambat. "Iya... kue ini... rasanya hangat... seperti Mbak Bos."

Savya hanya tertawa kecil mendengar pujian kedua karyawannya. Rasa lelah setelah terjaga sejak tengah malam perlahan menguap, digantikan rasa puas saat melihat etalase kaca di dekat meja bar kini tampak begitu cantik, penuh warna oleh jajaran slice cake baru mereka.

Beberapa jam kemudian, matahari pagi mulai naik dan jam operasional kedai resmi dimulai. Farel melangkah ke depan untuk membalik papan penanda di pintu kaca menjadi OPEN. Di balik meja bar, Arka yang sudah mengenakan seragam rapinya tampak sibuk memanaskan mesin espresso. Sisa-sisa ketegangan dan kabut emosi soal Katya kemarin sengaja mereka kubur dalam-dalam; hari ini adalah lembaran baru untuk Thalassa.

Baru sekitar sepuluh menit pintu dibuka, denting lonceng di atas pintu kaca berbunyi nyaring.

Seluruh anak kedai secara spontan menoleh ke arah pintu, mengira itu adalah pelanggan kantoran yang ingin memesan kopi cepat sebelum berangkat kerja. Namun, langkah kaki yang tegap dan teratur itu seketika membuat atmosfer ruangan berubah. Sosok pria bertubuh tinggi dengan setelan formal beludru gelap melangkah masuk. Aura ketenangan mutlak yang sarat akan wibawa langsung memenuhi ruangan.

Itu Valerius.

Melihat sosok tersebut, Arka langsung condong ke arah Farel di balik meja bar, berbisik heboh dengan mata yang membelalak. "Mas Farel, Mas Farel! Lihat, Mas! Itu si Mas Penolong ganteng yang kemarin aku ceritain! Gila, auranya kalau jalan kayak CEO di drama Korea, ya?"

Farel yang sedang memegang lap langsung menghentikan gerakannya. Matanya menyipit, menatap lekat pria tegap yang melangkah maju itu sebelum menyahut ketus dengan suara berbisik, "Oh, jadi itu orangnya? Ganteng sih, tapi mukanya datar banget kayak tembok ruko baru dicat."

"Ssst! Jaga mulutmu, Wahai Senior! Itu perisai gaib Mbak Bos kita," timpal Arka jail, menyenggol lengan Farel sampai pria itu mendengkus pelan.

Di sebelah mereka, Sila menahan tawa dramatis, sementara Mika hanya berkedip beberapa kali, memperhatikan pria itu dengan tatapan herannya yang lambat.

Savya yang baru saja keluar dari dapur bersih-bersih tangan, mendadak membeku di tempatnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Kehadiran pria ini di pagi buta seperti ini terasa seperti sebuah kebetulan yang luar biasa.

Valerius berjalan mendekati meja bar. Langkahnya sempat terjeda satu detik saat matanya menangkap pemandangan baru di dalam kedai—sebuah etalase kaca yang kini dipenuhi oleh deretan potongan kue yang cantik. Setelah itu, pandangan matanya beralih, menatap lurus ke arah Savya yang kini melangkah ragu mendekatinya.

Mengabaikan bisikan-bisikan tertahan dan tatapan jail Sila dan Arka di belakangnya, Savya mengulas senyum paling tulus yang ia miliki pagi ini. "Selamat pagi, Valerius. Kamu... datang sepagi ini?"

Valerius mengangguk pelan, suaranya terdengar berat dan menenangkan saat menyahut, "Selamat pagi, Savya. Kebetulan ada urusan di dekat sini."

Netra kelam Valerius kemudian bergulir pelan, menyapu orang-orang yang berdiri di balik meja bar. Tatapannya melewati Arka yang langsung memberi anggukan hormat yang dibuat-buat, lalu beralih pada Sila, Farel, dan terakhir Mika. Pria itu menyadari sesuatu.

"Kedai kamu... sepertinya bertambah ramai," ucap Valerius datar, namun ada nada selidik yang halus di dalamnya. "Kemarin saya hanya melihat pria itu di supermarket. Tapi hari ini, sepertinya ada dua orang baru di sini."

Arka langsung menyela dengan wajah konyolnya, "Wah, ingatan Mas Penolong tajam juga ya! Kenalin Mas, yang matanya melotot kepo ini namanya Sila, sesepuh di sini. Terus yang di sebelahnya, yang gerakannya agak slow motion mirip kungfu panda, namanya Mika. Karyawan baru baru, sama kayak saya!"

Sila langsung menginjak kaki Arka di balik meja bar, membuat pria itu meringis tanpa suara, sementara Mika hanya tersenyum polos dan membungkuk sedikit dengan temponya yang lambat. "Selamat... pagi... Pak."

Savya berdeham pelan, mencoba mengendalikan rona tipis yang mulai menjalar di pipinya akibat tingkah anak-anak kedai. Ia menatap Valerius kembali, teringat akan utang budi kejadian kemarin yang belum sempat ia balas dengan layak.

"Vale... karena kamu adalah pelanggan pertama kami hari ini, dan kebetulan... kami baru saja merilis menu cake baru buatan kami sendiri..." Savya menjeda kalimatnya, meremas pelan ujung celemeknya dengan gugup. "Apa... kamu bersedia mencicipinya dan memberikan penilaian untukku? Anggap saja ini bentuk terima kasih kecil dariku untuk yang kemarin."

Valerius terdiam sejenak, menatap lekat manik mata Savya yang dipenuhi harap. Sudut bibirnya seolah terangkat sehalus benang, hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama.

"Tentu. Saya tidak keberatan," jawab Valerius tenang. Pria itu kemudian berbalik dan melangkah menuju meja sudut pojok dekat bar—tempat favoritnya yang dulu selalu sunyi.

Savya bernapas lega. Dengan cekatan, ia menyiapkan pesanan khusus untuk sang tamu pertama. Secangkir kopi hitam hangat tanpa gula kesukaan Valerius, bersanding dengan sepotong Coffee & Sunflower Cake berwarna kuning cerah di atas piring kecil. Kontras antara hitamnya kopi yang pekat dan indahnya kue bunga matahari itu terlihat begitu estetis saat Savya mengantarkannya sendiri ke meja sudut.

"Silakan dinikmati, Vale. Aku harap rasanya cocok dengan kopimu," bisik Savya hangat sebelum melangkah mundur beberapa senti, memberikan ruang.

Di balik meja bar, empat pasang mata (Sila, Farel, Arka, dan Mika) mendadak kompak condong ke depan, menahan napas berjamaah. Mereka semua menatap lurus ke meja sudut, menanti dengan sangat tidak sabar bagaimana reaksi pria sedingin es balok itu saat mencicipi sepotong manis yang pertama kali dipotong dari etalase Thalassa.

Valerius meraih garpu kecilnya, memotong bagian ujung kue kuning tersebut dengan gerakan yang elegan, lalu menyuapkannya perlahan ke dalam mulut. Di bawah tatapan penuh antisipasi dari seluruh isi kedai, pria itu mengunyahnya dengan tenang, membiarkan perpaduan rasa kopi dan manisnya krim itu meleleh di lidahnya.

Keheningan di meja sudut itu terasa mencekam bagi Savya. Ia menanti dengan jemari yang saling bertautan cemas, sementara di balik meja bar, Arka sudah menahan napas sampai wajahnya memerah.

Setelah beberapa detik yang terasa lambat, Valerius perlahan meletakkan kembali garpu kecilnya ke atas piring. Ia tidak langsung berbicara. Netra kelamnya menatap potongan kue kuning berbentuk bunga matahari itu sejenak, sebelum akhirnya mendongak, mengunci pandangannya tepat pada manik mata Savya yang tampak tegang.

"Bagaimana, Vale?" tanya Savya akhirnya, suaranya pelan dan sedikit bergetar.

Valerius meraih cangkir kopi hitamnya, menyesapnya satu kali untuk menetralkan rasa, lalu kembali menatap Savya dengan ekspresi datarnya yang tak terbaca.

"Jujur, ini terlalu manis untuk selera kopi saya," ucap Valerius tenang, membuat Sila di kejauhan langsung menepuk jidatnya pelan, mengira bos mereka gagal total.

Namun, sebelum Savya sempat merasa kecewa, Valerius melanjutkan kalimatnya dengan nada suara yang melembut, "Tapi... entah kenapa, rasanya pas. Rasa pahit kopinya terikat dengan baik di dalam krimnya. Saya suka."

Satu kalimat terakhir itu sukses membuat rona merah yang sejak tadi ditahan Savya langsung menjalar hebat ke kedua pipinya. Di balik bar, Arka spontan membekap mulutnya sendiri agar tidak memekik heboh, sementara Sila langsung tersenyum lebar sambil menyenggol lengan Farel yang hanya bisa mendengkus pasrah melihat pertahanan Mbak Bos mereka runtuh dalam sekali ketukan.

Savya buru-buru menunduk, mencoba menyembunyikan senyumnya yang mendadak merekah. "Terima kasih, Vale. Penilaianmu... sangat berarti buatku."

Valerius hanya mengangguk tipis, kembali menikmati kombinasi secangkir kopi hitam dan sepotong manis yang kini resmi menghangatkan meja sudutnya yang dulu selalu dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!