NovelToon NovelToon
Langit Pasar Subuh

Langit Pasar Subuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:20.2k
Nilai: 5
Nama Author: Attalla Faza

Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.


Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.

" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya

" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.

Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"

" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "

Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.

Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seporsi Kegagalan

Suara pintu kamar yang dibanting keras itu masih bergaung di telinga Mas Tri, seolah menjadi penutup babak pertengkaran yang setiap hari rasanya makin panjang dan makin menyakitkan. Ia masih berdiri diam di tengah ruang tamu yang kini berubah menjadi ladang puing.

Pecahan kaca televisi berserakan di lantai, bercampur dengan sisa vas bunga yang tadi dihempaskan Haura. Di sudut lain, tumpukan barang yang tersisa setelah dibawa kabur oleh kedua kakaknya, terlihat berantakan di atas meja makan. Seolah menjadi saksi bisu awal mula ledakan emosi sore ini.

Kakinya melangkah gontai menuju sofa kulit yang tadi diduduki istrinya dengan penuh keluh kesah. Ia jatuhkan tubuhnya ke sana, punggungnya bersandar lunglai, kedua tangan ia gunakan untuk mengusap wajah yang terasa penuh debu, keringat, dan kelelahan batin yang tak bertepi. Hening kembali menyelimuti rumah besar itu, terdengar suara isak tangis samar yang tertahan dari balik pintu kamar utama.

Matanya menelusuri sekeliling ruangan. Semuanya lengkap. Sofa empuk, karpet mahal, hiasan dinding yang dibeli dari luar kota, hingga peralatan elektronik canggih yang dulu ia anggap sebagai bukti kesuksesannya. Ia punya jabatan Supervisor Lapangan di pabrik besar, posisi yang membuat banyak orang segan dan menghormatinya.

Gajinya besar, cukup untuk memenuhi segala kebutuhan hidup mewah ini. Istrinya Haura, adalah wanita yang dianggap mapan, berpendidikan, punya karir cemerlang, dan di mata orang luar terlihat sangat religius dan berkelas. Sebentar lagi, ia akan menjadi ayah. Kehadiran anak ini dulu ia bayangkan sebagai pelengkap segalanya, sebagai penyempurna kebahagiaan yang ia cari saat memutuskan berpoligami dan menceraikan Dinara.

Namun kenyataannya, semua kemewahan dan gelar itu terasa hampa belaka.

Aku punya jabatan yang tinggi, aku punya istri yang mapan, sebentar lagi aku punya anak, tapi kenapa aku tidak bahagia?

Pertanyaan itu kembali berputar di kepalanya, lebih keras, lebih tajam, menusuk setiap sudut nuraninya yang mulai retak.

Mas Tri menundukkan kepalanya, siku bertumpu pada lutut, jari-jarinya menyisir rambutnya yang mulai agak tipis di bagian depan. Di dalam keheningan itu, bayangan Dinara kembali muncul, seolah perempuan itu berdiri tepat di hadapannya. Bukan bayangan yang penuh amarah atau dendam, melainkan bayangan wajah yang tenang, sabar, dan penuh ketulusan. Wajah yang dulu selalu ada di sana, di rumah kecil sederhana yang dulu mereka tinggali bertahun-tahun.

Ia ingat betul, dulu saat ia belum punya apa-apa. Saat ia masih bekerja serabutan, saat ia pulang dengan badan kotor dan gaji yang pas-pasan. Dinara tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menuntut ini dan itu. Tidak pernah membandingkan dirinya dengan orang lain.

Setiap kali ia pulang, tak peduli seberapa lelah atau buruk keadaan Dinara saat itu, wanita itu selalu menyambutnya dengan senyum yang sama hangatnya, selalu menyiapkan teh manis yang manisnya pas, selalu mengelus punggungnya dan berkata, "Syukuri saja ya, Mas. Nanti juga ada jalannya rezeki kita."

Dulu ia pikir ketenangan itu membosankan. Dulu ia pikir Dinara terlalu sederhana, terlalu biasa, dan tidak punya ambisi. Dulu ia terbuai oleh kata-kata manis Haura yang menjanjikan dunia, yang memuji-muji segala kelebihannya, yang membuatnya merasa menjadi laki-laki paling hebat di dunia.

Haura datang membawa konsep "surga baru", membawa gaya hidup yang lebih berkelas, membawa pemahaman agama yang katanya lebih benar, dan membuatnya percaya bahwa apa yang ia miliki bersama Dinara adalah kekurangan yang harus diperbaiki.

Tapi sekarang? Di sini, di tengah kemewahan yang ia dambakan itu, ia justru merasa seperti dipenjara.

Setiap hari yang ia lewati di rumah ini penuh dengan kecurigaan, tuntutan, dan pertengkaran. Haura tidak pernah puas. Selalu ada saja yang kurang. Selalu ada saja hal yang dibanding-bandingkan. Ia menuntut perhatian, menuntut materi, menuntut kesetiaan mutlak, dan yang paling melelahkan: menuntut agar ia menghapus Dinara sepenuhnya dari ingatan, padahal Dinara adalah bagian terbesar dari sejarah hidupnya, bagian yang paling tulus memberinya dukungan saat ia jatuh bangun.

Mas Tri menghela napas panjang, rasanya dadanya sesak sekali, seolah ada batu besar yang menindihnya. Ia ingat ucapan Haura tadi—kata-kata yang keluar saat amarahnya memuncak. Tentang Selaya Resto, tentang rencana menghancurkan Kembang Desa, tentang niat jahat Haura yang ternyata bukan sekadar persaingan bisnis, tapi dendam pribadi.

" Apa benar ia akan membuat karir Dinara tamat?"

Ia menggelengkan kepalanya pelan, rasa malu mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Ia merasa sangat rendah. Ia laki-laki yang gagal. Gagal menjadi suami yang baik untuk Dinara, yang ia tinggalkan dalam kesusahan dan ia biarkan dipermalukan di pengadilan hingga tak mendapat hak harta sedikit pun. Dan gagal menjadi suami yang baik untuk Haura, karena ia sadar, ia tak pernah bisa memberikan cinta utuh yang diinginkan wanita itu, sebab hatinya ternyata tak sanggup beralih sepenuhnya.

Ia jadi teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat ia sengaja makan di Resto Kembang Desa hanya untuk melihat mantan istrinya. Dinara berubah jadi lebih berkelas, tapi juga dingin padanya. Satu-satunya yang tak pernah ia sesali saat ini adalah membiayainya kuliah meski saat itu ia harus tinggal mengontrak dan hidup penuh kekurangan.

Benarkah Dinara bahagia sekarang? Benarkah perempuan itu sudah melupakannya? Sudah tidak lagi sakit hati karenanya? Entah kenapa, saat membayangkan Dinara hidup tenang, bangkit, dan sukses dengan usahanya sendiri, ada rasa lega yang menyelinap di hati Mas Tri. Tapi di sisi lain, ada rasa sakit yang tajam. Perempuan yang dulu ia injak-injak harga dirinya itu, ternyata yang justru bangkit dan berdiri tegak. Sementara dia, yang dulu merasa menang besar, kini justru terpuruk dalam kekosongan.

Ia melirik ke arah pintu kamar utama. Isak tangis Haura mulai mereda, berganti dengan keheningan yang dingin. Ia tahu ia harus masuk, ia harus menenangkan istrinya, demi janji suami istri yang ia ucapkan, demi bayi yang ada di dalam kandungan itu. Tapi kakinya terasa berat sekali untuk melangkah ke sana. Rasanya masuk ke kamar itu sama saja dengan masuk ke dalam kandang singa yang siap mencabiknya kapan saja.

Mas Tri merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel genggam yang sudah mulai panas karena lama berada di sana. Layarnya menyala, menampilkan deretan nama kontak. Jari jarinya bergerak tanpa sadar, berhenti tepat di satu nama yang sudah lama ia simpan dalam daftar tersembunyi, nama yang berani ia hubungi hanya diam-diam saat Haura tidak ada di dekatnya.

'Dinara'

Ia tidak berani menyimpannya dengan nama asli, dulu ia ubah menjadi nama lain, tapi di dalam hatinya, nama itu tetap jelas terbaca. Ia ingin sekali menelepon. Ia ingin sekali bertanya kabar. Ia ingin sekali meminta maaf atas segala kejahatan yang pernah ia lakukan. Ia ingin sekali bilang, bahwa ia sadar sekarang, bahwa ia menyesal, bahwa apa yang ia miliki sekarang ternyata tidak ada harganya dibandingkan satu detik kebersamaan mereka yang dulu.

Tapi ia tahu jika ia tidak berhak. Ia tahu Dinara pasti sudah membencinya. Ia tahu Dinara pasti sudah melupakan masa lalu itu dan membangun tembok tinggi agar tidak tersakiti lagi olehnya.

Dinara sudah bukan miliknya lagi. Dinara sudah bukan tanggung jawabnya. Dinara sudah menjadi orang asing yang lebih berharga hidupnya daripada dirinya sendiri.

Mas Tri mematikan layar ponselnya lagi, menyelipkannya kembali ke saku. Ia menunduk dalam, kedua tangannya meremas rambutnya sendiri.

"Maafkan aku, Ra..." bisiknya pelan, hampir tak terdengar, terbungkus suara rintihan kecil dari dalam kamar. "Maafkan aku yang bodoh. Maafkan aku yang buta. Aku pikir aku mengejar surga... ternyata aku malah membuang surga yang sudah ada di depan mata."

Di luar jendela, langit sudah benar-benar gelap. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kuning samar, menerangi bangunan Selaya Resto yang berdiri gagah di seberang sana, bangunan yang menjadi simbol ambisi, kekuasaan, dan sumber segala masalah baru ini. Di kejauhan, arah ke Kembang Desa, masih terlihat samar cahaya lampu restoran itu yang mungkin masih ramai pelanggan. Di sana, Dinara sedang berjuang, sedang bekerja keras membangun hidupnya dari nol, dengan senyum tulus dan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Sementara di sini, di balik tembok rumah mewah ini, Mas Tri duduk sendirian di tengah kekacauan. Ia punya segalanya menurut ukuran dunia, tapi kosong melompong menurut ukuran hati. Ia sadar sekarang, kemenangannya di masa lalu hanyalah kekalahan terbesar dalam hidupnya. Dan ia harus hidup dengan penyesalan ini, setiap hari, setiap detik, bersama wanita yang ia pilih sendiri namun tak pernah bisa membuatnya bahagia, sampai kapan pun.

Perlahan, Mas Tri bangkit dari sofa. Ia mengambil sapu dan serokan yang ada di balik lemari penyimpanan, berjalan pelan menuju tumpukan pecahan kaca di lantai. Ia mulai menyapu pelan, setiap kali sapu menyentuh lantai, bunyi gesekannya terdengar menyedihkan di ruangan sepi itu.

Ia harus membersihkan ini. Ia harus masuk ke kamar itu. Ia harus berpura-pura semuanya baik-baik saja. Ia harus menjalani peran sebagai suami yang bahagia, meski hatinya menangis berdarah. Karena inilah pilihan yang ia ambil, dan inilah harga yang harus ia bayar mahal-mahal.

Dan di sudut hati yang paling dalam, tersimpan satu kenyataan pahit yang tak akan pernah ia sampaikan pada siapa pun: Bahwa di antara semua kemewahan ini, hal yang paling ia rindukan, hal yang paling ia inginkan kembali, hanyalah secangkir teh manis hangat buatan Dinara, dan sebuah rumah yang damai tanpa kebohongan.

1
gina altira
ya umi Dasyim pasti hancur duluan..
ɴᴏᴠɪ
yes Dinara punya bodyguard, dijamin umi dasyim gak bisa nyentuh Dinara
Ma Em
Hancurkan mental Haura dulu Thor setelah itu baru Tri , biar pelakor Haura sadar bahwa dia yg salah sdh merebut dan menyakiti Dinara .
Esti Trianawati
Haura yg angkuh kayanya yg bakalan hancur mentalnya...dinara mentalnya sudah mulai kuat setelah badai yg diciptakan jin dasim .
Farida Dewi
dus jempol bwt ms langit,,Haura butuh ambulance Ng bwt bawa km k IGD ,,shock kn k🤭
Farida Dewi
ciee ada yg malu malu eek kebo 🤭🤣
Farida Dewi
gercep bingitt sih ms langit,,,Ng deketin anakny dulu mlhn deketin biangnya dl,,alias buapaknyaa
ihhh gemezzz deh SM ms langit 🤭
nurul @zna
Mas Langit..... TOP BGT 👍🏻👍🏻👍🏻
my beee🐝
kak atta lagi dong
Aylan
cieee aku juga GK pernah di bawain martabak🤭 kalo pengen beli sendiri😄
ɴᴏᴠɪ
astaga semoga si mas Amad gak muntaber beneran ya 🤣🤣🤣
ɴᴏᴠɪ
kasian mas Tri buang berlian demi batu kali 😄😄
Hatnah Batulicin
jgn lama lama ya Thor..aku selalu nunggu up nya 🥰🥰🥰
ɴᴏᴠɪ
dukung kakak nya mas Tri biar kapok si Haura 🤣🤣 karma berjalan
ɴᴏᴠɪ
curiga mas Langit udh mulai ada rasa sama mba Dinara 🤭🤭
ɴᴏᴠɪ
gitu dnk suka sama Dinara yg strong ,jangan lemah lagi ya .
ɴᴏᴠɪ
Malaikat mah pasti lebih menang dari jin dasyim Din, tenang aja
agnesty ferdiana
cie mas langit jalur ordal🤣
Loly Askhara
ceritane mas langit ngapel sekalian ngobrol sama pak Djarot, aah mas langit pinteran jah 🤭🤭
nurul @zna
Mas Langit mulai PDKT sama camer biar langsung goool... 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!