NovelToon NovelToon
Aksara Cinta Sang Penulis

Aksara Cinta Sang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Baru saja Jati hendak melangkah keluar kamar, ponsel di saku jasnya berdering nyaring.

Ia merogoh benda pipih itu dan melihat nama yang tertera di layar: Nenek.

Alis Jati seketika bertaut. Ia tahu persis dari mana wanita tua itu mendapatkan kabar, pastilah dari sisa-sisa kaki tangan keluarga Adiguna yang mencoba mencari pembelaan.

Jati tidak ingin pembicaraan ini mengganggu ketenangan Gayuh, namun ia juga tidak ingin menyembunyikan apa pun lagi.

Ia menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponselnya ke telinga, sengaja tidak menjauh dari ranjang agar Gayuh bisa mendengar keterbukaannya.

"Halo, Nenek," sapa Jati dingin.

"Jati! Apa-apaan ini?!" suara melengking di seberang telepon langsung menyembur tanpa salam.

"Kenapa kamu tidak memberitahukan kepada Nenek kalau kamu mau menikah dengan wanita yang tidak tahu asal-usulnya? Dan Nenek dengar, dia hanya seorang penulis? Jati, penulis tidak punya apa-apa! Mereka tidak punya masa depan dan tidak selevel dengan keluarga kita!" ejek Nenek dengan nada merendahkan yang amat kentara.

Gayuh yang duduk di ranjang bisa mendengar samar-samar suara barusan.

Jemarinya seketika meremas selimut, hatinya mencelos mendengar profesi dan harga dirinya diinjak-injak begitu saja.

Namun, belum sempat Gayuh tenggelam dalam rasa sedihnya, suara bentakan tajam dari Nenek kembali terdengar.

"Nenek hanya setuju jika kamu menikah dengan Tryas! Hanya keluarga Adiguna yang pantas bersanding dengan Aditama!"

Rahang Jati mengeras. Sorot matanya mendadak berkilat tajam dan dingin, memancarkan aura mengintimidasi yang sangat kuat.

"Cukup, Nenek," potong Jati dengan suara baritonnya yang berat, menahan amarah agar tidak meledak di depan Gayuh.

"Jangan pernah merendahkan wanita yang saya cintai. Nenek mau tahu siapa Tryas yang agungkan itu sebenarnya?"

Jati kemudian mengambil napas dalam-dalam dan akhirnya menjelaskan semuanya tanpa ada satu pun yang ditutupi.

Dengan kalimat yang runtut, tegas, dan dingin, Jati membeberkan fakta menjijikkan tentang Tryas.

"Tryas yang Nenek banggakan itu adalah wanita egois yang membuang perjodohan kita karena mengira saya hanya tukang ojek online miskin.

Dia menyuruh Gayuh untuk menggantikannya menemui saya. Dan yang lebih menjijikkan lagi..."

Suara Jati merendah, namun sarat akan ancaman berbahaya. "...saat Tryas tahu saya adalah CEO J-Corp, dia menjadi gila harta dan mencoba membunuh Gayuh di rumah sakit. Saat ini, Tryas sudah ditahan di sel khusus atas kasus percobaan pembunuhan berencana, dan saya sendiri yang akan memastikan dia membusuk di sana."

Hening. Suasana di seberang telepon mendadak senyap bagai kuburan.

Nenek Jati tampaknya sangat syok dan kehabisan kata-kata mendengar kenyataan bahwa cucu menantu impiannya ternyata adalah seorang kriminal berdarah dingin.

"Sementara Gayuh..." Jati menoleh ke arah Gayuh, tatapan matanya seketika berubah menjadi begitu lembut dan penuh pemujaan. "...dia adalah wanita tulus yang menemani saya dari bawah, yang menerima saya saat mengira saya tidak punya apa-apa, dan dia bahkan hampir kehilangan nyawanya demi melindungi saya. Jadi, tidak ada wanita lain yang lebih terhormat dan pantas menjadi Nyonya Aditama selain Gayuh."

Mendengar penjelasan panjang lebar dan kebenaran yang begitu menampar dari cucunya, suara Nenek di seberang sana bergetar hebat, dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus malu.

"Benarkah, semua itu, Jati? Tryas melakukan hal sekeji itu?" tanya Nenek dengan nada suara yang melemah, kehilangan seluruh keangkuhannya.

"Iya, Nek. Semua bukti CCTV dan senjata tajam sudah di tangan polisi. Jadi, saya tidak butuh persetujuan siapa pun lagi. Pernikahan ini akan tetap berjalan besok pagi," tegas Jati mutlak.

Jati langsung memutuskan panggilan sepihak sebelum Neneknya sempat merespons.

Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku, lalu berjalan mendekati Gayuh.

Ia berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Gayuh yang gemetar, lalu mengecupnya perlahan.

"Jangan didengar, Sayang. Di mataku, kamu adalah segalanya, dan tidak akan ada yang bisa mengubah itu."

Gayuh menundukkan kepalanya, menyembunyikan genangan air mata yang kembali mendesak keluar dari pelupuk matanya.

Kata-kata dari nenek Jati barusan bagai belati yang mengiris kembali rasa percaya dirinya yang baru saja tumbuh.

Status sosial mereka bagai langit dan bumi yang dipaksa bersatu.

"Nenek kamu benar, Jati..." bisik Gayuh dengan suara yang bergetar menahan tangis.

Ia mencoba menarik pelan tangannya dari genggaman Jati, namun pria itu menahannya dengan erat.

"Aku tidak punya apa-apa. Aku hanya penulis... Aku tidak punya latar belakang keluarga yang terpandang seperti Tryas untuk menunjang posisimu."

"Sudah, jangan diteruskan, Gayuh," potong Jati dengan cepat.

Suara baritonnya tidak lagi terdengar dingin seperti saat berbicara di telepon tadi, melainkan dipenuhi dengan kelembutan yang teramat dalam dan rasa tidak tega melihat wanitanya kembali merasa rendah diri.

Jati menangkup kedua pipi Gayuh, memaksa wanita itu untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam manik matanya yang memancarkan kesungguhan mutlak.

"Aku tidak peduli dengan semuanya. Aku tidak peduli kamu seorang penulis, atau apa pun latar belakangmu," tegas Jati dengan tatapan yang mengunci pandangan Gayuh.

"Dunia bisnisku sudah penuh dengan orang-orang yang mendekat karena harta dan takhta, Gayuh. Aku tidak butuh istri yang membawa tumpukan saham atau nama besar keluarga. Aku hanya butuh kamu—wanita yang dengan tulus menangis karena takut aku kelaparan saat mengira aku hanya seorang driver ojol."

Jati mengusap air mata yang jatuh di pipi Gayuh menggunakan ibu jarinya dengan sangat perlahan, seolah sedang menghapus seluruh kesedihan dari masa lalu wanita itu.

"Bagiku, jemarimu yang menari di atas keyboard untuk menuliskan cerita jauh lebih terhormat dan berharga daripada tangan-tangan licik keluarga Adiguna. Jadi, jangan pernah katakan kamu tidak punya apa-apa lagi, hmm? Mulai besok, kamu punya aku, dan seluruh duniaku adalah milikmu," bisik Jati, menutup kalimatnya dengan sebuah kecupan hangat di hidung Gayuh yang membuat wanita itu akhirnya luluh dan kembali menyunggingkan senyuman tipisnya.

Tangisan Gayuh yang sempat tertahan kini pecah sepenuhnya.

Perasaan bersalah, haru, dan lelah yang bercampur menjadi satu membuat dadanya terasa begitu sesak.

Bahunya naik turun dengan hebat saat ia menangis sesenggukan, menumpahkan segala beban emosi yang selama ini dipendamnya sendiri.

Melihat wanitanya menangis sejadi-jadinya hingga napasnya tersengal-sengal, hati Jati bagai disayat sembilu.

Ia tidak bisa melihat Gayuh menderita seperti ini lagi.

Aura lembutnya seketika menghilang saat ia menoleh ke arah tim Wedding Organizer dan Pak Gunawan yang masih berdiri mematung di sudut ruangan.

"Keluar," perintah Jati dengan suara bariton yang rendah namun sarat akan penekanan dingin yang tak terbantahkan.

Para staf WO dan Pak Gunawan langsung tersentak.

Tanpa berani bersuara atau membuang waktu sedetik pun, mereka segera merapikan kembali peralatan mereka dan melangkah mundur dengan tergesa-gesa.

Pintu kamar besar itu ditutup dengan sangat pelan, meninggalkan keheningan total di dalam ruangan.

Begitu pintu tertutup, Jati langsung naik ke atas ranjang.

Ia menarik tubuh mungil Gayuh ke dalam pelukan hangatnya, mendekapnya begitu erat seolah ingin menyerap seluruh kesedihan yang dirasakan wanita itu ke dalam dirinya sendiri.

"Ssshh... menangislah, Sayang. Tumpahkan semuanya," bisik Jati lembut, sambil terus mengusap punggung Gayuh dengan gerakan memutar yang menenangkan.

"Tapi setelah ini, tidak boleh ada air mata kesedihan lagi, hmm? Aku di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak harga dirimu lagi."

Gayuh menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jati, meremas kemeja pria itu erat-erat.

Di tengah tangisannya yang berangsur-angsur mereda, ia bisa merasakan detak jantung Jati yang berdegup konstan—sebuah detak jantung yang kini menjadi satu-satunya tempat bersandar paling aman bagi hidupnya.

1
Dew666
😍😍😍😍
Rahmawati
wow maharnya fantastis bgt👏👏👏
Rahmawati
hahaha, pagi pagi udah nongol aja si jati
Rahmawati
tryas km akan nyesel nanti😂
Rahmawati
lah kok malah jadi nyaman😂
Rahmawati
baru mulai baca
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Vie
aaaa..... ini disini juga aku mau jati... ini udah mangap dari tadi loh... 🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
nah itu kau tahu sendiri kan.... makanya selamat tersiksa ya tryas.... 🤪🤪🤪🤪
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍👍👍
Vie
iiihhhh jadi baper deh.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Vie
kamu dasar cucu durhakim.... bilang neneknya sakit.... eh ternyata lagi santai di ln..... dasar cucu durhakim... 🤭🤭🤭🤭
Vie
demi bos jadi ikutan nyamar.... 🤣🤣🤣🤣 demi apa coba hal itu dilakukan.... demi cinta... 🤭🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
lanjut kak..... 👍👍👍👍 seru banget..
Vie: makasih kak.... aku selalu stay walau jarang komen, tapi tetap lanjut baca... lanjut sampai ceritanya tamat ya kak.. 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!