NovelToon NovelToon
Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: TheDee

Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin

Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.

Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.

Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.

Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.

Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

BAB 4: BUKTI YANG TERSEMBUNYI

Tiga hari setelah makan malam keluarga, Liana masih memikirkan satu hal: foto yang dipegang Arka malam itu.

Foto keluarga Saraswati sebelum semuanya hancur. Ayah, ibu, dan Liana kecil yang tersenyum di halaman rumah lama mereka.

Kenapa Arka menyimpannya? Apa dia tahu sesuatu yang Liana tidak tahu selama lima tahun ini?

Pagi itu Liana memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Ia turun ke perpustakaan rumah Wijaya lebih awal, sebelum Arka bangun. Ruangan itu besar, dipenuhi rak buku dari lantai sampai langit-langit, dengan bau khas kayu tua.

Kebetulan hari itu giliran Liana membersihkan ruang kerja Arka.

Ia membuka satu per satu laci meja kerja Arka yang tidak terkunci. Tidak ada foto itu.

Sampai tangannya berhenti di sebuah buku tebal bersampul kulit coklat. Di dalamnya, terselip amplop coklat kecil.

Liana menarik napas pelan saat membuka amplop itu.

Isinya: salinan dokumen pengadilan lima tahun lalu. Kasus penggelapan yang menjerat ayahnya.

Tapi ada yang aneh.

Di halaman terakhir, ada stempel merah besar: “BATAL DEMI HUKUM” dengan tanggal dua bulan setelah vonis dijatuhkan.

Liana terkejut. “Batal?” gumamnya pelan.

Kalau begitu, ayahnya tidak bersalah. Tapi kenapa tidak ada yang tahu?

Belum sempat ia membaca lebih lanjut, suara langkah kaki terdengar dari pintu.

“Apa yang kau cari?”

Liana menoleh. Arka berdiri di ambang pintu dengan kemeja hitam dan wajah datar seperti biasa. Tapi matanya menatap amplop di tangan Liana dengan tajam.

Liana tidak menyembunyikannya. “Ini. Kenapa kau punya dokumen ini? Dan kenapa kau tidak bilang kalau kasus ayahku sudah dibatalkan?”

Arka melangkah masuk, menutup pintu pelan.

“Karena aku baru menemukannya dua minggu lalu,” jawabnya singkat. “Sebelum kau datang.”

Liana mengerutkan dahi. “Lalu kenapa tetap melanjutkan kontrak ini?”

Arka menatapnya lama sebelum menjawab.

“Karena aku ingin tahu… apa kau akan tetap tinggal kalau tahu kebenarannya.”

Kalimat itu membuat dada Liana sesak.

Jadi semua ini ujian juga untuknya?

“Arka, kalau ayahku tidak bersalah, berarti ada orang yang menjebaknya,” ucap Liana pelan tapi tegas. Suaranya bergetar bukan karena takut, tapi karena marah yang tertahan lima tahun.

“Dan orang itu ada di keluarga Wijaya.”

Arka mengangguk pelan. “Aku tahu.”

Liana terdiam.

“Kau tahu? Sejak kapan?”

“Sejak aku melihat file asli yang disembunyikan Tante Clara,” jawab Arka. “Dia yang mengatur semuanya. Membayar saksi, memalsukan transfer, membuat perusahaan ayahmu terlihat bersalah.”

Nama itu membuat darah Liana mendidih. Ibu Clara Wijaya. Wanita yang menyindirnya di makan malam kemarin.

“Tapi kenapa kau tidak melaporkannya?” tanya Liana.

“Karena aku butuh bukti yang tidak bisa dibantah,” jawab Arka. “Dan karena aku butuh kau.”

Liana mengangkat alis. “Butuh aku?”

“Ya. Sebagai istriku di luar, dan sekutu di dalam,” kata Arka. “Keluarga tidak akan curiga kalau kita dekat. Mereka pikir ini hanya pernikahan bisnis. Tapi di balik itu, kita bisa mencari sisa bukti yang hilang.”

Liana menatapnya bingung. Rasanya seperti semua yang ia rencanakan selama lima tahun tiba-tiba berubah arah.

“Kenapa kau membantu ayahku? Bukannya keluarga Wijaya yang diuntungkan dari kehancuran kami?”

Arka menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, topeng dinginnya retak sedikit.

“Karena ayahku… sebelum meninggal, dia bilang padaku satu hal. ‘Jangan jadi seperti aku, Arka. Jangan biarkan ambisi mengubur kebenaran.’”

Liana terdiam.

Jadi Arka juga punya alasan pribadi.

“Kalau ketahuan, kita berdua yang hancur,” lanjut Arka. “Kau kehilangan kesempatan balas dendam. Aku kehilangan seluruh perusahaan dan nama keluarga.”

Liana menatap dokumen di tangannya, lalu menatap Arka.

“Kalau begitu, apa rencananya?”

Arka menunjuk ke dokumen itu. “Kita cari tahu siapa yang memegang bukti asli pengalihan dana. Saksi terakhir yang menghilang lima tahun lalu namanya Rudi Santoso. Dia sopir ayahmu waktu itu.”

“Rudi?” Liana mengulang nama itu. Ia ingat. Rudi adalah orang yang paling dekat dengan ayahnya. Setelah kejadian itu, Rudi hilang tanpa jejak.

“Dia mungkin masih hidup,” kata Arka. “Aku sudah kirim orang untuk mencarinya di Surabaya.”

Liana mengangguk pelan.

“Baik. Tapi ada satu syarat.”

“Apa?”

“Kalau kau berbohong padaku sekali lagi, kontrak ini selesai,” ucap Liana. Matanya tidak berkedip. “Aku tidak akan jadi pion siapa pun lagi, Arka.”

Arka menatapnya lama, lalu mengangguk.

“Kesepakatan. Tidak ada lagi kebohongan di antara kita.”

Untuk pertama kalinya sejak kontrak itu ditandatangani, mereka berdua berdiri di sisi yang sama. Bukan sebagai suami istri pura-pura. Tapi sebagai dua orang yang punya satu musuh yang sama.

Di luar, matahari mulai naik. Cahayanya masuk lewat jendela kaca, menyinari debu yang beterbangan di udara.

Liana melipat dokumen itu hati-hati, lalu menyimpannya kembali ke dalam amplop.

“Jadi sekarang kita sekutu,” katanya pelan.

Arka tersenyum tipis. “Ya. Sekutu.”

Tapi ia tidak menambahkan satu hal.

Di laci bawah mejanya, ada satu foto lagi. Foto Liana kecil yang ia ambil diam-diam dari album lama keluarga Saraswati.

Ia tidak tahu kenapa ia menyimpannya.

Mungkin karena ada sesuatu di mata gadis itu yang membuatnya merasa… bersalah.

Di luar ruangan, Santi berdiri di balik pintu. Ia mendengar semuanya.

Di tangannya, ponsel masih menyala merah. Sedang merekam.

Seseorang harus tahu apa yang terjadi di dalam sini.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!