NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Lain Sang Anak Kota

Malam di penginapan kayu selalu membawa keheningan yang berbeda. Setelah seharian penuh tawa dan peluh di ladang, suasana penginapan kini hanya diisi oleh suara jangkrik yang bersahut-sahutan dan desau angin yang mempermainkan pucuk-pucuk pohon di kejauhan.

Arunika baru saja selesai membersihkan diri dan hendak beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air hangat sebelum tidur. Namun, langkah kakinya terhenti saat melewati ruang tamu utama.

Di sana, di bawah cahaya lampu gantung yang temaram, ia melihat Kakek dan Nenek sedang duduk di kursi kayu panjang. Di hadapan mereka, Senja duduk dengan sikap yang sangat sopan. Arunika menepi di balik pilar kayu, tanpa sengaja mendengar percakapan mereka.

"Nek, Kek, kenapa wajahnya kelihatan murung begitu?" tanya Senja dengan nada suara yang lembut dan penuh perhatian.

Kakek menghela napas panjang, jemarinya yang keriput mengetuk-ngetuk meja kayu. "Bukan apa-apa, Nak. Kakek cuma kepikiran, bulan ini penginapan kita rasanya sepi sekali. Biasanya jam segini sudah ada tamu yang memesan kamar untuk akhir pekan, tapi sekarang catatan pesanan masih kosong. Kakek khawatir kalau terus begini, biaya operasional dan perawatan penginapan ini bakal sulit tertutupi."

Nenek mengangguk pelan, menyetujui ucapan Kakek. "Iya, Nak. Sepertinya orang-orang lebih suka penginapan modern yang banyak fotonya di internet itu. Kita yang di dalam sini seperti terlupakan."

Arunika bisa melihat Senja terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan empati yang dalam. Ia kemudian memperbaiki posisi duduknya, menatap Kakek dan Nenek dengan sungguh-sungguh.

"Kek, Nek... kalau Kakek dan Nenek izinkan, boleh saya bantu?" tawar Senja dengan sopan.

"Saya punya sedikit pengalaman di bidang manajemen dan pemasaran digital dari kota. Saya melihat penginapan ini punya nilai yang sangat mahal karena ketenangannya. Sayang kalau sistemnya masih manual. Jika Kakek percaya, saya ingin membantu merapikan administrasi dan mempromosikan tempat ini agar orang-orang di luar sana tahu keindahan penginapan Kakek."

Kakek menatap Senja dengan binar harapan yang perlahan muncul. "Kamu serius, Nak? Kamu kan di sini untuk istirahat, Kakek tidak mau membebani kamu dengan urusan bisnis penginapan ini."

"Sama sekali tidak membebani, Kek. Justru saya merasa sangat senang kalau bisa berguna untuk Kakek dan Nenek yang sudah menganggap saya seperti keluarga sendiri," jawab Senja tulus.

Melihat pemandangan itu, Arunika tidak bisa menahan senyumnya. Ia merasa dadanya menghangat melihat transformasi Senja yang begitu nyata. Ia pun memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya dan menghampiri mereka.

"Nah, kalau Senja sudah turun tangan, Kakek nggak perlu khawatir lagi," ucap Arunika sambil berjalan mendekat dengan senyum yang terukir manis di wajahnya.

Kakek dan Nenek menoleh, lalu tersenyum melihat cucu mereka bergabung. Senja pun bangkit berdiri sebentar menyambut kedatangan Arunika sebelum akhirnya mereka semua duduk melingkar.

Setelah berbincang sebentar mengenai rencana ke depan, Kakek dan Nenek memutuskan untuk masuk ke kamar karena hari sudah makin larut, meninggalkan Arunika dan Senja di ruang tamu yang kini terasa lebih sunyi namun nyaman.

Arunika memperhatikan Senja yang mulai membuka laptopnya di atas meja tamu. "Kamu serius mau ngerjain itu sekarang, Senja?" tanya Arunika pelan.

"Aku nggak bisa tenang kalau tahu Kakek lagi kepikiran, Ika," jawab Senja lembut. "Aku mau rapihin data tamu bulan lalu dulu buat perbandingan. Sistem Kakek selama ini banyak yang terlewat, jadi aku ingin memastikan semuanya tercatat dengan benar."

Arunika bangkit berdiri sebentar dan kembali membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkannya di samping laptop Senja. Pria itu tampak sangat berbeda saat bekerja; kacamata bertengger di hidungnya, dahi yang sedikit berkerut fokus pada layar, dan jari-jari yang menari cepat di atas keyboard.

"Terima kasih ya, Ika," ucap Senja tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan berkas kusam milik Kakek.

"Sama-sama. Aku cuma nggak nyangka sisi bisnis kamu bakal keluar di saat-saat seperti ini ," goda Arunika sambil duduk di kursi seberangnya, memperhatikan betapa cekatannya Senja menyusun strategi.

Senja terkekeh, lalu sedikit menyandarkan punggungnya untuk menatap Arunika. "Selama ini aku hidup di dunia yang serba angka dan kompetisi. Tapi baru kali ini, aku ngerasa angka-angka ini punya arti yang lebih dalam. Aku pengen banget ngelihat penginapan ini ramai lagi, biar senyum Kakek sama Nenek nggak hilang karena kepikiran biaya perawatan bangunan ini."

Arunika terpaku sejenak. Nada suara Senja begitu tulus, sangat kontras dengan bayangan masa lalu yang dulu sempat membuatnya trauma.

"Kamu beneran peduli ya sama tempat ini?" tanya Arunika lirih.

Senja mengangguk mantap. "Aku peduli sama tempat ini, dan aku peduli sama kenyamanan kamu di sini. Penginapan ini punya jiwa, Ika. Orang-orang di kota butuh tempat seperti ini untuk menyembuhkan lelah mereka. Masalahnya hanya pada komunikasi dan pemasaran. Kalau aku bisa bantu memperbaiki itu, aku akan lakukan."

Arunika merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Dukungan dan kerja keras Senja malam ini memberikan warna baru bagi hari-harinya di penginapan. "Terima kasih banyak, Senja. Aku senang melihat kamu begitu bersemangat membantu Kakek dan Nenek."

Malam makin larut, namun obrolan mereka justru makin mengalir. Senja menjelaskan banyak hal tentang cara membuat penginapan ini dikenal luas melalui dunia digital, sementara Arunika mendengarkan dengan antusias.

Sisi pekerja keras Senja malam ini memberikan kesan yang mendalam bagi Arunika. Pria ini bukan lagi sekadar tamu, melainkan seseorang yang ingin menjadi bagian dari masa depan tempat ini.

"Ika," panggil Senja tiba-tiba, menatap Arunika dengan sorot mata yang penuh keyakinan di bawah temaram lampu minyak.

"Ya?"

"Aku janji, penginapan ini bakal maju lagi. Aku akan pastikan semua kerja keras Kakek dan Nenek selama ini tidak sia-sia," ucap Senja dengan nada yang sangat rendah namun penuh ketegasan.

Arunika mengangguk pelan, merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. "Aku percaya sama kamu, Senja. Terima kasih sudah mau peduli."

Saat akhirnya Arunika berpamitan untuk tidur, ia menoleh sekali lagi ke arah ruang tamu. Senja sudah kembali berkutat dengan laptopnya, ditemani cangkir teh yang masih mengepulkan uap tipis.

Arunika berjalan menuju kamarnya dengan hati yang terasa jauh lebih ringan. Ia menyadari bahwa di balik kemewahan dan masa lalu Senja yang rumit, ada hati yang tulus ingin memperbaiki keadaan dan memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Arunika merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar dengan perasaan damai.

Bayangan Senja yang sedang serius bekerja di ruang tamu terus terbayang.

Itu adalah salah satu sisi Senja yang paling berkesan baginya, karena kesungguhannya untuk membantu sesama. Malam itu, Arunika tertidur dengan sebuah keyakinan bahwa masa-masa sulit penginapan ini akan segera berakhir di bawah tangan terampil pria yang kini ia panggil Senja dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!