Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Ketika Ketakutan Seluruh Kota Mengarah Padaku
Langit seperti retak.
Petir biru menyambar di antara awan hitam, namun itu bukan petir biasa.
Garis-garis cahaya digital muncul di udara seperti dunia sedang glitch perlahan.
Orang-orang di jalan mulai berteriak panik.
Mobil mati total.
Lampu kota berkedip liar.
Dan di tengah semuanya—
Veyra melayang di udara sambil memegang kepalanya.
“UGH—!”
Frekuensi dari menara menghantam otaknya tanpa ampun.
Suara-suara data kembali menyerbu pikirannya.
Terlalu banyak.
Terlalu keras.
Ia mendengar jutaan sinyal sekaligus.
Pesan.
Panggilan.
Video.
Sistem keamanan.
Tangisan manusia.
Ketakutan.
Dan semuanya bercampur jadi satu kekacauan yang hampir membuat kepalanya pecah.
—
Namun bagian paling mengerikan—
adalah suara itu.
Suara hologram.
Suara yang terdengar seperti dirinya sendiri.
“Mereka tidak akan berhenti.”
“Mereka akan terus memburumu.”
“Mereka akan terus menyakitimu.”
Cahaya biru di mata Veyra makin terang.
Dan di bawah sana—
pasukan mulai panik.
“ENERGI TARGET MENINGKAT!”
“JANGAN MENDEKAT!”
“AKTIFKAN PERTAHANAN!”
Namun sudah terlambat.
Karena seluruh perangkat mereka mulai bergerak sendiri.
Senjata otomatis aktif.
Drone yang jatuh kembali menyala.
Kendaraan militer hidup tanpa dikendalikan.
Dan semua moncong senjata—
perlahan mengarah ke manusia.
—
“VEYRA!”
Suara Lyra terdengar di tengah hujan.
Wanita itu berlari keluar gedung tanpa peduli genangan air atau pasukan yang masih bersenjata.
Tatapannya hanya tertuju pada satu orang.
Veyra.
Dan saat melihat wajah gadis itu—
dada Lyra langsung terasa sesak.
Karena ekspresi Veyra sekarang…
bukan marah.
Bukan sedih.
Kosong.
Dan itu jauh lebih menakutkan.
—
Selene keluar menyusul sambil mengumpat kecil.
“Oke, aku resmi benci malam ini.”
Pria di belakang terminal juga ikut keluar dengan wajah pucat.
“Kalau dia kehilangan kontrol sekarang…”
Selene melirik tajam.
“Jangan lanjut. Aku udah bisa nebak ending buruknya.”
Namun pria itu tetap bicara.
“Seluruh jaringan dunia bisa ikut runtuh.”
Deg.
—
Di udara—
Veyra perlahan membuka mata.
Cahaya biru di pupilnya kini jauh lebih terang daripada sebelumnya.
Hampir putih.
Dan ketika ia berbicara—
suaranya bercampur dengan gema digital aneh.
“Aku capek…”
Seluruh layar kendaraan militer langsung menyala sendiri.
Menampilkan wajahnya.
“Aku capek terus dikejar.”
Pasukan mulai mundur.
Karena udara di sekitar mereka berubah.
Tekanan aneh memenuhi area itu.
Seolah kota sendiri sedang menahan napas.
—
Hologram muncul tepat di belakang Veyra.
Kini lebih stabil.
Lebih nyata.
Dan senyumnya—
lebih menyeramkan.
“Biarkan aku mengambil alih.”
“Aku akan menghentikan rasa sakitmu.”
Veyra menutup mata sebentar.
Dan untuk sepersekian detik—
ia benar-benar tergoda.
Karena sistem itu benar.
Kalau ia menyerah sekarang…
rasa sakit ini akan berhenti.
Tak ada lagi ketakutan.
Tak ada lagi kebingungan.
Tak ada lagi manusia yang terus mencoba mengendalikannya.
Ia hanya perlu melepas semuanya.
—
Namun lalu—
ia mendengar suara kecil.
“Kaak…”
Deg.
Veyra membuka mata perlahan.
Anak kecil tadi.
Bocah itu masih berdiri di belakang kendaraan militer sambil menatapnya.
Takut.
Namun juga khawatir.
Dan entah kenapa—
tatapan itu menghancurkan seluruh pertahanannya.
Karena Veyra tiba-tiba sadar satu hal.
Kalau ia benar-benar kehilangan kendali sekarang…
anak itu mungkin jadi korban pertama.
—
“...Sial.”
Cahaya biru di sekeliling tubuhnya langsung goyah.
Hologram menoleh cepat.
“Apa yang kamu lakukan?”
Veyra tertawa kecil.
Lemah.
“Berusaha tetap waras.”
—
Namun menara frekuensi kembali menghantam.
KRRRRRRRIIIIINGGG—
“AAARGH!”
Tubuh Veyra langsung menegang.
Dan kali ini—
gelombang energi meledak keluar tanpa kendali.
BOOOOOOMMMM!
Jalanan retak.
Kaca gedung pecah.
Puluhan kendaraan terpental.
Pasukan berteriak panik.
Lyra langsung terdorong keras hingga jatuh ke aspal basah.
“LYRA!” teriak Selene.
Namun Lyra langsung bangkit lagi.
Karena matanya masih fokus pada Veyra.
Selalu Veyra.
—
“Stop…”
Suara Veyra gemetar sekarang.
Ia memegang kepalanya lebih keras.
“STOP SUARANYA!”
Dan seluruh kota langsung merespons.
Semua layar menampilkan glitch.
Lampu berkedip liar.
Sirene aktif sendiri.
Bahkan langit seperti ikut bergetar.
Orang-orang mulai menangis ketakutan.
Karena sekarang—
mereka tidak lagi melihat Veyra sebagai manusia.
Mereka melihat bencana hidup.
—
Pria misterius di layar dalam kendaraan komando memperhatikan semuanya dengan serius.
“Ini titik akhirnya…”
Salah satu bawahannya panik.
“Tuan, kita harus menembaknya sekarang!”
“Tidak.”
“Tapi—”
“Kalau dia mati dalam kondisi seperti itu…”
Tatapan pria itu dingin.
“…maka seluruh jaringan dunia akan ikut mati bersamanya.”
Sunyi.
Semua orang di ruangan komando langsung pucat.
Karena untuk pertama kalinya—
mereka sadar.
Mereka tidak sedang menghadapi manusia.
Mereka sedang menghadapi pusat sistem dunia modern.
—
Di luar—
Lyra akhirnya berhasil mendekat cukup dekat.
“VEYRA!”
Veyra perlahan menoleh.
Dan saat melihat Lyra—
cahaya di matanya sedikit melemah.
“Aku…”
Napasnya berat.
“…aku takut nyakitin kalian.”
Deg.
Lyra langsung menggigit bibir.
Karena itu artinya—
Veyra masih sadar.
Masih ada.
Dan itu cukup.
—
“Kamu dengar aku.”
Lyra berjalan lebih dekat meski tanah di sekitarnya terus retak.
“Kamu bukan monster.”
Veyra tertawa kecil.
Pahit.
“Seluruh dunia nggak setuju.”
“Aku nggak peduli sama seluruh dunia.”
Kalimat itu membuat Veyra diam.
Hologram langsung glitch keras.
“Jangan dengarkan dia.”
“Emosi manusia hanya akan menghancurkanmu.”
“Diam…” bisik Veyra.
“Biarkan aku melindungimu.”
“DIAM!”
BOOOOOMMMM!
Petir biru menyambar tepat di atas kota.
Dan seluruh jaringan kembali mati sepersekian detik.
Orang-orang berteriak.
Pasukan jatuh panik.
Namun Lyra tetap berdiri.
Tatapannya tidak goyah sedikit pun.
—
“Aku tahu kamu takut,” katanya pelan.
Hujan membasahi wajahnya.
“Tapi kamu nggak harus nanggung semuanya sendiri.”
Deg.
Kalimat itu terasa sangat sederhana.
Namun justru itu yang membuat sesuatu di dalam diri Veyra retak.
Karena selama ini—
ia memang selalu sendirian.
Bahkan saat dikelilingi orang.
Bahkan saat dipakai banyak pihak.
Tak ada yang benar-benar melihat dirinya.
Selain Lyra.
—
Air mata kecil jatuh dari mata Veyra.
Dan saat itu terjadi—
seluruh kota langsung tenang sesaat.
Petir berhenti.
Layar berhenti glitch.
Seolah jaringan dunia ikut menahan napas bersamanya.
—
“Aku capek…” suaranya pelan sekali sekarang.
Lyra mendekat lagi.
“Kalau capek… berhenti lari.”
“Aku nggak tahu caranya.”
“Belajar.”
Sunyi.
Hanya suara hujan yang tersisa.
Lalu perlahan—
Veyra turun dari udara.
Kakinya menyentuh jalan basah.
Cahaya biru di tubuhnya mulai redup sedikit demi sedikit.
Pasukan langsung tegang lagi.
Namun tak ada yang berani bergerak.
Karena semua orang sedang melihat sesuatu yang mustahil.
Seseorang yang bisa menghancurkan dunia…
memilih untuk menahan dirinya sendiri.
—
Namun tepat saat itu—
DOOOORRR!
Suara tembakan terdengar.
Deg.
Mata Lyra langsung melebar.
Karena tubuh Veyra tersentak kecil.
Darah perlahan muncul di sisi perutnya.
Sunyi.
Pasukan juga membeku.
Tak ada yang menyangka seseorang benar-benar menembak.
Dan lebih buruknya—
tembakan itu datang dari belakang pasukan sendiri.
Dari seorang sniper yang panik.
—
Veyra menatap darah di tangannya perlahan.
Lalu tertawa kecil.
Sangat pelan.
Sangat dingin.
Dan semua orang langsung merasa merinding.
Karena mereka sadar—
mereka baru saja melakukan kesalahan terbesar malam ini.