NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH DELAPAN

Aditya bersandar, menarik napas panjang. Sementara Rakha menatap layar hitam laptop yang baru tertutup-wajahnya tetap tenang, tapi di balik tatapan itu, ada sesuatu yang mulai bergerak. Bukan sekadar rasa penasaran seorang pengacara, melainkan naluri seorang pria yang mulai menganggap kasus ini lebih dari sekadar perkara hukum.

"hari ini," katanya pelan, "gue mau semua jejak transaksi digital, percakapan, dan CCTV dari hotel tempat video itu diambil. Gue mau tahu siapa yang setup Maharani, siapa yang rekam, dan siapa yang publish."

"Got it," jawab Aditya sambil berdiri. "I'll talk to the cyber team."

Rakha menatap refleksi dirinya di kaca - dingin, terkontrol, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tak ingin ia akui.

Di dasar pikirannya, suara itu bergaung lagi: "Ingat dendammu, Rakha. Jangan jatuh..."

Suasana ruang rapat utama Wiratama Law & Associates terasa hening, Rakha duduk di kursi ujung meja, jasnya sudah dilepas, kemejanya tergulung hingga siku. Di sebelahnya, Aditya duduk bersandar santai - tapi matanya awas.

Pintu diketuk dua kali, lalu terbuka.

Tim forensik digital masuk membawa laptop dan map hitam. "Selamat pagi, Pak Rakha, Pak Aditya," sapa mereka hormat.

Rakha menatap sekilas. "Langsung saja ke intinya."

Pria dari forensik digital bernama Rehan itu mengangguk, lalu menyambungkan laptopnya ke layar besar di dinding. Tampak serangkaian log data, metadata file video, dan jejak digital dari akun yang menyebarkannya.

"Kami sudah menganalisis ulang semua file video yang beredar," katanya pelan tapi jelas. "Dan berdasarkan hasil forensic trace, video tersebut pertama kali diunggah menggunakan akun anonim yang terhubung ke alamat IP milik... Risyad Alfarizi."

Rehan menukar tampilan layar, menampilkan grafik garis waktu digital. " Lanjut Pak. Ini log dari tanggal dua puluh tujuh September. File pertama kali diunggah dari jaringan Wi-Fi pribadi atas nama Fadillah. Setelah itu dikirim ke tiga akun dummy yang berbeda-semuanya dibuat dengan alamat email disposable. Polanya jelas, tujuannya: distribution with plausible deniability."

Aditya mencondongkan tubuh. "Damn, that's cold. He's smart enough to cover his trail, tapi nggak cukup pintar buat nutup semua lubang."

Rakha menatap layar tajam, matanya gelap. "Motifnya?"

Rehan menekan beberapa tombol, menampilkan deretan pesan di layar. "Kami juga menemukan pesan-pesan dari Risyad ke Maharani, beberapa minggu sebelum video itu bocor. Nada-nadanya... protektif berlebihan, bahkan cenderung mengancam. Dia selalu bilang: 'Kalau kamu ninggalin aku, karier kamu selesai.'"

Suasana ruangan menegang. Hanya bunyi lembut dari pendingin udara yang terdengar.

Rehan melanjutkan dengan nada hati-hati, "Dari kronologi chat dan voice note, kelihatan Risyad mulai kehilangan kendali sejak Maharani bilang mau putus. Dia merasa diabaikan, dan itu memicu obsesi. Bahkan ada bukti dia stalking lokasi syuting, dan mengakses akun pribadi Maharani lewat salah satu manajer produksinya."

Rakha mendengus pelan, menunduk sebentar.

"Typical narcissistic abuser," gumamnya. "Posesif, controlling, dan begitu kehilangan kontrol, dia hancurin yang nggak bisa dia punya lagi."

Aditya menimpali pelan, nada suaranya kini lebih serius. "Dan dia tahu betul cara mainnya. Gimanapun, dia public figure juga. Dia manfaatin nama besarnya buat ngedorong narasi bahwa Maharani itu selingkuh atau main api."

Rehan menekan tombol terakhir, menampilkan folder "Recovered Media Evidence."

"Ini yang terakhir, Pak. Voice note dari Risyad, belum sempat dia hapus dari draft chat. Kami decrypt tadi malam."

Ia memutar salah satu klip.

Suara Risyad terdengar berat dan dingin dari speaker:

"Jangan berani kabur, Ran. Semua yang sekarang kamu nikmati, aku yang kasih jalan. Pergi? Silakan coba. Nanti aku tunjukkan ke semua orang foto, video, pesan-semua bukti yang buatmu terlihat seperti apa sebenarnya. Kamu tidak akan punya tempat lagi di mata publik."

Ruangan langsung hening. Aditya memejamkan mata sebentar, lalu menatap Rakha. "That's the smoking gun."

Rakha menegakkan punggung, wajahnya keras. "Baik. Kita punya cukup bukti buat tuntut balik-rekaman, metadata, kronologi, bahkan ancaman verbal."

"Dan motif personal yang jelas," tambah Rehan. "Obsesi dan keinginan menghancurkan reputasi Maharani setelah ditolak."

Rakha bangkit dari kursinya, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap SCBD. Tangannya mengepal di sisi tubuh.

"Dia pikir bisa pakai ketakutan seseorang buat nyelamatin egonya. Oke." Suaranya pelan, tapi nadanya tajam. "Mulai malam ini, kita serang balik. Dengan data, bukan emosi."

Aditya memandang punggung Rakha. "You sure you're ready for the storm, bro? Risyad punya koneksi besar di media, lo tau itu."

Rakha berbalik perlahan, tatapannya menusuk.

"Biarkan dia punya media. Gue punya fakta."

Aditya langsung bersiul pelan. "Well, there it is."

***

Di ruang kerja Rakha, suasana sore terasa tenang. Cahaya matahari menembus lembut melalui dinding kaca besar, menimpa permukaan meja kayu gelap yang rapi dan beraroma samar kayu mahoni. Maharani duduk di sofa kulit di pojok ruangan, tenggelam dalam buku hukum klasik yang bahkan tak pernah terpikir olehnya untuk disentuh sebelumnya. Entah mengapa, berada di ruangan ini membuatnya merasa aman-dan anehnya, nyaman.

Beberapa jam lalu, Siska sempat datang membawa beberapa keperluan pribadi dan camilan ringan, lalu buru-buru pamit lagi karena jadwal Maharani yang masih kacau akibat skandal itu. Semua agenda ditunda, beberapa proyek dibekukan. Dunia seolah berhenti untuknya, tapi di ruang ini... waktu justru terasa berjalan pelan.

Setelah mandi dan berganti pakaian yang lebih santai-sweater abu muda dan celana linen putih-Maharani kembali ke ruang kerja Rakha. Ia ingin mencari buku lain untuk dibaca. Namun langkahnya terhenti ketika pandangannya jatuh pada deretan lemari kaca tinggi di sisi ruangan.

Di balik kaca bening itu, terpajang deretan penghargaan yang tertata rapi:

The Best Young Litigator - Oxford International Moot Court, 2006

Top Graduating Student - University of Oxford, Faculty of Law, 2007

The Best Corporate Attorney - Asia Legal Awards, 2015

The Most Influential Legal Figure - Indonesia Law Summit, 2023

Maharani terdiam.

Ia tahu Rakha adalah pengacara besar, tapi tidak pernah membayangkan bahwa pria itu sedisiplin dan sehebat ini. Setiap penghargaan seolah menjadi potongan kisah dari perjalanan panjang yang membentuknya-seorang pria yang menaklukkan dunia dengan kecerdasan dan ketenangan.

Matanya kemudian beralih pada deretan bingkai foto di rak paling kanan.

Ada foto Rakha yang sedang berjabat tangan dengan menteri, hakim, bahkan seorang kepala negara. Di semua foto itu, wajahnya selalu sama: tenang, berwibawa, tanpa senyum berlebihan. Khas Rakha.

Namun satu bingkai kecil di sudut rak menarik perhatiannya.

Foto lama, warnanya mulai pudar.

Rakha muda berdiri di antara dua orang-Aditya, sahabatnya yang masih tampak jenaka seperti sekarang, dan seorang wanita berambut pirang sebahu, mengenakan gaun putih sederhana.

Wajah Rakha dalam foto itu berbeda-lebih muda, lebih hangat, dan... ada sesuatu di matanya. Kerentanan yang tidak pernah Maharani lihat selama ini.

Tulisan di bawah foto itu terbaca samar:

University of Oxford - Faculty of Law, Class of 2006.

Maharani menatap foto itu lama. Ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan-seolah ia sedang mengintip sisi lain dari hidup Rakha yang tak pernah diceritakan. Pria yang di hadapannya selama ini tampak begitu kuat, ternyata pernah punya masa di mana ia tersenyum lepas dan tampak begitu... hidup.

Maharani masih terpaku di depan lemari kaca itu ketika suara pintu otomatis terdengar lembut dari belakang. Ia sedikit tersentak, lalu menoleh.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!