"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"
Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.
Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.
Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Arlan melangkah masuk dengan kaki yang terasa berat. Aroma roti panggang dan tawa kecil Dion yang biasanya menenangkan, kini justru terdengar seperti denting jam yang menghitung mundur kehancuran mereka. Di meja makan, Maya tampak begitu tenang, namun Arlan tahu di balik ketenangan itu ada luka yang sewaktu-waktu bisa meruntuhkan segalanya.
"Maya, bisa bicara sebentar?" suara Arlan tertahan.
Maya mendongak, menyadari wajah pucat Arlan. Ia memberikan isyarat pada Bi Minah untuk membawa Dion ke taman depan. Begitu suasana sepi, Arlan menjelaskan situasi yang baru saja ia dengar.
"Psikiater independen?" Maya mengulang kalimat itu dengan nada getir. Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap Arlan lurus-lurus. "Jadi, Sarah ingin membuktikan bahwa aku adalah tawananmu? Bahwa senyumku selama ini hanyalah paksaan karena kau memegang kendali atas hidupku?"
"Mereka akan mencari celah sekecil apa pun, Maya. Jika kau menunjukkan sedikit saja ketidakstabilan atau mengakui bahwa kau ditekan untuk tinggal di sini... Dion akan diambil hari ini juga." Arlan mendekat, suaranya nyaris berbisik. "Aku tahu aku tidak berhak memintanya lagi. Tapi kali ini, bukan hanya sandiwara di depan dinas sosial. Kau akan berhadapan dengan ahli yang bisa membaca setiap keraguan di matamu."
Maya berdiri, melipat serbetnya dengan rapi. "Kau takut aku akan mengatakan yang sebenarnya, Mas? Bahwa aku memang depresi karena perlakuanmu? Bahwa aku merasa seperti pelayan yang baru saja naik kasta menjadi pajangan?"
"Aku takut kehilangan Dion, Maya! Dan aku takut... melihatmu hancur jika anak itu harus kembali ke tangan Sarah," seru Arlan frustrasi.
Tepat pukul sebelas, Dr. Sanjaya, psikiater yang ditunjuk pengadilan, tiba. Pria itu tidak banyak bicara, sorot matanya tajam dan menyelidik. Ia meminta waktu pribadi dengan Maya di ruang kerja ,ruangan yang sama yang menjadi saksi hancurnya kepercayaan Maya pada Arlan.
Arlan menunggu di luar dengan gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu yang tertutup rapat. Setiap detik terasa seperti satu tahun. Di dalam, Dr. Sanjaya menatap Maya yang duduk tegak dengan jemari yang tertaut tenang di atas pangkuan.
"Nyonya Maya, saya di sini bukan untuk menghakimi pernikahan Anda," ujar Dr. Sanjaya lembut namun mengintimidasi. "Saya mendengar laporan bahwa Anda tinggal di sini karena adanya ancaman atau tekanan psikologis dari suami Anda terkait kasus masa lalu. Apakah itu benar?"
Maya terdiam cukup lama. Bayangan gudang yang gelap, suara Arlan yang membentaknya, dan amplop cokelat itu melintas bergantian di benaknya. Ia bisa saja mengakhiri semuanya sekarang. Satu kalimat jujur tentang betapa hancurnya perasaannya akan meruntuhkan Arlan selamanya.
Suami saya..." Maya menjeda, suaranya terdengar stabil. "Suami saya adalah pria yang keras. Kami melewati satu tahun yang sangat sulit karena kesalahpahaman yang besar. Namun, jika Anda bertanya apakah saya ditekan untuk berada di sini..."
Maya menoleh ke arah jendela, di mana ia bisa melihat Dion sedang tertawa mengejar kupu-kupu di taman.
"Saya di sini karena saya memilih untuk ada di sini. Dion adalah pusat gravitasi saya. Jika ada yang menekan saya, itu adalah rasa kasih sayang saya sendiri pada anak itu, bukan paksaan dari Tuan Arlan. Kami sedang berusaha memperbaiki apa yang rusak, dan bukankah setiap pernikahan berhak mendapatkan kesempatan itu?"
Satu jam kemudian, Dr. Sanjaya keluar. Ia menjabat tangan Arlan dengan formal. "Laporan saya akan menyatakan bahwa Nyonya Maya memiliki kesadaran penuh dan stabilitas mental yang cukup. Tidak ditemukan adanya indikasi coercive control atau tekanan yang membahayakan kesejahteraan anak."
Begitu dokter itu pergi, Arlan hampir jatuh terduduk di sofa karena lega. Ia menatap Maya yang masih berdiri di ambang pintu ruang kerja dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kenapa, Maya? Kenapa kau menyelamatkanku lagi?" tanya Arlan lirih.
Maya berjalan melewati Arlan, berhenti sejenak tepat di samping telinganya. "Aku tidak menyelamatkanmu, Arlan. Aku menyelamatkan Dion. Jangan pernah salah mengartikannya. Dan satu hal lagi..." Maya menatap mata Arlan dengan dingin. "Dokter itu benar tentang satu hal. Aku memang merasa ditekan. Ditekan oleh kenyataan bahwa aku mencintai seorang anak yang dikelilingi oleh orang-orang dewasa yang penuh kebohongan. Termasuk kau."
Maya melangkah pergi, meninggalkan Arlan yang menyadari bahwa meskipun ia memenangkan pertempuran hukum hari ini, ia tetaplah tawanan dari kebencian istrinya yang tak kunjung padam. Namun, di tengah keputusasaan itu, Arlan bersumpah ,jika Maya memberikan "panggung" ini untuknya, maka ia akan menggunakan sisa hidupnya untuk mengubah panggung sandiwara itu menjadi kenyataan yang layak untuk dimaafkan.
Beberapa bulan berlalu. Status hak asuh Dion akhirnya jatuh sepenuhnya ke tangan Arlan setelah serangkaian persidangan yang melelahkan. Sarah divonis hukuman penjara yang berat, dan nama Maya dibersihkan melalui pernyataan resmi yang dirilis oleh firma hukum keluarga Dirgantara. Secara hukum, perang telah usai. Namun, di dalam rumah itu, dinding es di antara Arlan dan Maya justru semakin menebal.
Suatu malam, Arlan mendapati Maya sedang duduk di perpustakaan, menatap keluar jendela ke arah taman yang gelap. Di tangannya ada sebuah paspor dan tiket pesawat satu arah.
"Kau akan pergi?" suara Arlan terdengar hancur, nyaris seperti bisikan yang hilang ditelan angin malam.
Maya menoleh perlahan. "Hak asuh sudah inkrah, Mas. Dion sudah aman. Tugas sandiwaraku sudah selesai."
"Aku sudah menyiapkan segalanya, Maya. Rumah di pinggir kota, saham atas namamu, bahkan aku akan mundur dari jabatan CEO jika itu bisa membuatmu tinggal," ujar Arlan, melangkah mendekat dengan putus asa.
Maya berdiri, menatap Arlan dengan sorot mata yang tak lagi mengandung amarah, melainkan kelelahan yang luar biasa. "Kau masih tidak mengerti. Aku tidak butuh hartamu. Aku hanya butuh harga diri yang kau curi dariku. Selama aku di sini, aku akan selalu menjadi 'Maya yang malang' dan kau akan selalu menjadi 'Arlan sang penindas'. Kita terjebak dalam peran itu."
Aku mencintaimu, Maya! Aku tahu aku salah, aku tahu aku monster, tapi beri aku waktu..."
"Waktu tidak akan mengubah rekaman CCTV itu, Mas. Waktu tidak akan menghapus rasa dingin di gudang itu," potong Maya lembut. "Jika kau benar-benar mencintaiku, lepaskan aku. Biarkan aku menemukan diriku sendiri lagi, di tempat di mana tidak ada seorang pun mengenalku sebagai istrimu."
Matahari baru saja menampakkan semburat merahnya saat Maya melangkah keluar dari rumah megah itu dengan koper kecilnya. Tidak ada perpisahan dramatis ,ia sengaja berangkat saat Dion masih terlelap, tak sanggup melihat air mata bocah itu yang mungkin akan meruntuhkan keteguhannya. Arlan hanya bisa berdiri di balik jendela lantai dua, menatap taksi yang membawa istrinya menjauh dengan hati yang remuk redam.
Namun, ketenangan pagi itu pecah berkeping-keping saat ponsel Arlan berdering satu jam kemudian.
"Tuan Arlan... ini dari Kepolisian Resor Bandara. Mobil taksi yang ditumpangi Nyonya Maya terlibat kecelakaan beruntun di jalan tol. Ambulans sedang membawanya ke Rumah Sakit Medika."
Dunia Arlan seolah berhenti berputar. Tanpa alas kaki, ia berlari menuju mobilnya, memacu kendaraan dengan kecepatan gila-gilaan. Pikirannya kalut.Tuhan, jangan sekarang. Jangan biarkan dia pergi dengan cara seperti ini.
Di rumah sakit, Arlan menemukan Maya dalam kondisi yang mengerikan. Wanita itu terbaring di ruang resusitasi dengan perban melingkari kepalanya yang bersimbah darah. Dokter menyatakan Maya mengalami cedera kepala berat (Traumatic Brain Injury) akibat benturan keras di sisi mobil.
"Nyonya Maya dalam kondisi koma," ujar dokter dengan wajah serius. "Kami harus menunggu 1x24 jam untuk melihat apakah ada pendarahan dalam yang meluas. Saat ini, hanya mesin yang membantunya bertahan."
Arlan jatuh terduduk di kursi tunggu plastik yang dingin. Rasa bersalah yang selama ini menghimpitnya kini terasa ribuan kali lebih tajam. Ia teringat kalimat terakhir Maya semalam tentang "menemukan diri sendiri". Apakah ini cara semesta menghentikannya? Dengan cara yang begitu kejam?
Dion tidak berhenti menangis sejak ia tahu Mamanya tidak pulang. Akhirnya, Arlan memutuskan membawa Dion ke rumah sakit. Bocah itu berdiri mematung di samping ranjang besar yang dikelilingi kabel-kabel rumit.
"Mama... Mama bobo lama banget?" bisik Dion pelan. Tangan kecilnya meraih jari manis Maya yang pucat. "Dion janji nggak nakal lagi. Dion bakal habisin sayurnya. Tapi Mama bangun ya..."
Arlan yang berdiri di belakang Dion tak kuasa menahan isakan. Ia berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Maya yang satunya lagi. Tangan yang selama berbulan-bulan ini selalu ditarik paksa setiap kali ia mencoba menyentuhnya.
"Maya... dengarkan Dion. Dengarkan aku," bisik Arlan parau. "Kau bilang kau ingin bebas, kan? Bangunlah. Aku bersumpah, aku akan membiarkanmu pergi ke mana pun kau mau. Aku tidak akan menahanmu lagi. Aku akan mengurus paspormu, tiketmu, segalanya... asalkan kau membuka matamu."
Tujuh hari telah berlalu, namun belum ada tanda-tanda kesadaran dari Maya. Arlan hampir tidak pernah meninggalkan kamar perawatan itu. Ia mengurus pekerjaan kantor dari laptop di sudut ruangan, hanya agar ia bisa mendengar detak jantung Maya dari mesin monitor.
Setiap malam, Arlan akan membacakan buku cerita yang biasa Maya bacakan untuk Dion. Ia bercerita tentang taman, tentang rumah pinggir kota yang Maya impikan, dan tentang betapa ia menyesali setiap detik keangkuhannya di masa lalu.
"Aku tahu kau membenciku, Maya," gumam Arlan di keheningan malam, sambil mencium punggung tangan Maya yang dingin. "Tapi tolong, jangan hukum Dion dengan kepergianmu. Hukum aku saja. Bangunlah, dan kau boleh memaki namaku sepuasmu."
Tiba-tiba, di tengah kesunyian malam yang mencekam, jemari Maya yang berada dalam genggaman Arlan bergerak sedikit. Sangat halus, nyaris tak terasa. Arlan tersentak, ia menahan napas, menatap monitor jantung yang mulai menunjukkan grafik yang berubah cepat.
"Maya? Maya, kau dengar aku?"
Kelopak mata Maya bergetar. Perlahan, sangat perlahan, mata itu terbuka sedikit, menatap langit-langit putih rumah sakit dengan pandangan kosong dan bingung. Arlan segera menekan tombol darurat, jantungnya berdegup kencang antara harapan dan ketakutan akan apa yang akan terjadi selanjutnya saat Maya menyadari bahwa pria pertama yang ia lihat saat bangun adalah pria yang telah menghancurkan hidupnya.