Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Arga melangkah menyusuri lorong SMA Nusa Bangsa dengan bahu yang tampak kaku. Gemuruh di dadanya belum juga reda sejak kemarin sore. Kata-kata Nala yang menjodoh-jodohkannya dengan Tania masih terngiang, berputar-putar seperti kaset rusak yang menyakitkan telinga. Baginya, ucapan itu bukan sekadar candaan remaja biasa. Itu adalah sebuah penegasan bahwa delapan tahun penantiannya tidak membuahkan hasil apa pun di mata gadis itu.
Suasana kelas XI-A pagi itu sudah mulai riuh. Arga meletakkan tas hitamnya di atas meja tanpa suara. Ia sengaja tidak menoleh ke arah bangku Nala, meskipun ia tahu gadis itu sudah duduk di sana sambil berbincang dengan Rara.
"Pagi, Arga," sapa Nala dengan nada ceria seperti biasanya.
Arga hanya bergumam pendek tanpa menatap lawan bicaranya. Ia segera menyibukkan diri dengan membuka buku paket sejarah, seolah-olah ada ujian mendadak yang harus ia hadapi detik itu juga.
"Tadi aku lihat Tania di depan gerbang. Dia tanya kamu sudah datang atau belum," lanjut Nala seraya menyenggol pelan lengan Arga.
Arga menarik lengannya menjauh. Ia merasakan denyut nyeri di dadanya yang jauh lebih menyakitkan daripada luka di pergelangan tangannya yang mulai membaik. Cowok itu akhirnya menoleh, namun tatapannya sedingin es di puncak gunung.
"Bisa tolong jangan bahas itu lagi?" tanya Arga dengan suara rendah yang berat.
Nala tertegun. Ia mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan nada bicara Arga yang tidak bersahabat. Biasanya, Arga hanya akan diam atau mengalihkan pembicaraan dengan canggung, bukan menatapnya dengan kemarahan yang tertahan seperti ini.
"Lho, aku kan cuma kasih tahu. Lagi pula kalian berdua cocok, kok," ujar Nala, mencoba mencairkan suasana meskipun ia mulai merasa tidak nyaman.
Arga menutup bukunya dengan dentuman yang cukup keras sehingga membuat Dimas yang baru saja tiba di ambang pintu tersentak. Arga berdiri dari kursinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan melewati Nala begitu saja, meninggalkan aroma parfum maskulin yang samar dan kebingungan yang membekas di wajah gadis itu.
Dimas menghampiri bangku Arga yang kosong, lalu menatap Nala dengan dahi berkerut.
"Dia kenapa lagi?" tanya Dimas heran.
Nala mengangkat bahu dengan raut wajah bingung. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun. Baginya, menjodohkan teman yang terlihat serasi adalah hal yang lumrah dilakukan di masa SMA.
"Aku cuma bahas Tania, lalu dia marah," jawab Nala pendek.
Dimas menghela napas panjang. Ia sudah sering memperingatkan Arga agar tidak terlalu larut dalam perasaan yang tidak tersampaikan, namun ia juga tahu betapa keras kepalanya sahabatnya itu. Ia menepuk bahu Nala dengan pelan.
"Kadang ada orang yang tidak suka dijadikan bahan lelucon, Nala. Terutama soal hati," ujar Dimas sebelum ia pergi mengejar Arga ke arah kantin.
Hari-hari berikutnya menjadi masa yang sangat canggung bagi mereka berdua. Arga benar-benar membangun tembok tinggi di sekelilingnya. Jika biasanya ia akan membantu Nala membawakan buku ke perpustakaan atau sekadar mendengarkan cerita gadis itu tentang tugas matematika yang sulit, kini Arga menjadi sosok yang asing.
Di kelas, Arga selalu datang paling awal dan pulang paling akhir hanya untuk menghindari interaksi. Saat jam istirahat, ia lebih banyak menghabiskan waktu di pojok perpustakaan yang sepi atau di rooftop gedung olahraga, tempat yang jarang dikunjungi siswa lain.
"Arga, bisa tolong jelaskan nomor empat?" tanya Nala suatu siang, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan di antara mereka.
"Tanya saja pada Satria. Dia lebih jago urusan ini," sahut Arga tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
Nala menggigit bibir bawahnya. Ia merasa tertolak. Ada rasa sesak yang aneh saat melihat punggung Arga yang selalu menjauh darinya. Ia merindukan Arga yang dulu, Arga yang meskipun pendiam, selalu memberikan rasa aman yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Rara yang sedari tadi memperhatikan dari bangku belakang akhirnya mendekat setelah Arga keluar kelas untuk mengikuti latihan basket.
"Kamu sadar tidak sih kalau sikapmu kemarin itu keterlaluan?" tanya Rara tanpa basa-basi.
Nala mendongak, menatap sahabatnya dengan tatapan tidak mengerti.
"Keterlaluan bagaimana? Aku cuma mau dia bahagia dengan Tania. Tania itu baik, cantik, dan jelas-jelas suka sama dia," bela Nala.
Rara menggelengkan kepala, merasa gemas dengan ketidakpekaan Nala yang luar biasa. Ia sering melihat bagaimana tatapan Arga mengikuti setiap gerak-gerik Nala. Ia melihat bagaimana Arga selalu berada di garda terdepan saat Nala dalam kesulitan, meskipun tanpa banyak bicara.
"Tidak semua orang ingin bahagia dengan pilihan orang lain, Nala. Terkadang, orang hanya ingin bahagia dengan orang yang sudah lama ada di sampingnya, namun orang itu terlalu buta untuk melihatnya," ujar Rara dengan nada penuh teka-teki.
Nala terdiam. Ia memutar-mutar bolpoin di tangannya, merenungkan kata-kata Rara. Di kejauhan, melalui jendela kelas, ia bisa melihat Arga sedang berlari di lapangan basket. Satria tampak mendekati Arga dan membisikkan sesuatu yang membuat Arga mengepalkan tinjunya.
Ketegangan itu terasa nyata, bahkan dari jarak sejauh ini. Nala menyadari bahwa ada sesuatu yang besar yang ia lewatkan. Sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan tajam dan sikap dingin Arga selama beberapa hari terakhir ini. Namun, egonya masih terlalu tinggi untuk mengakui bahwa mungkin, hanya mungkin, dialah penyebab dari semua perubahan ini.
Sore itu, hujan turun dengan deras mengguyur sekolah. Arga berdiri di lobi, menunggu hujan sedikit mereda. Di sana juga ada Tania yang tampak menggigil kedinginan.
"Arga, kamu tidak bawa payung?" tanya Tania dengan suara lembut yang penuh perhatian.
Arga menoleh sebentar, lalu menggeleng. "Tidak," jawabnya singkat.
Tania menyodorkan payung lipat berwarna merah muda dari dalam tasnya. "Pakai ini saja. Rumahku dekat, aku bisa dijemput kakakku sebentar lagi," tawarnya dengan senyum tulus.
Arga menatap payung itu cukup lama. Di sudut lobi yang lain, ia melihat Nala sedang berdiri bersama Satria. Satria tampak sedang menawarkan jaketnya pada Nala, dan Nala menerimanya dengan senyum lebar. Pemandangan itu seperti menyiramkan bensin ke dalam api yang sudah menyala di dada Arga.
"Terima kasih, Tania," ujar Arga dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Ia mengambil payung itu dan mulai melangkah menembus hujan. Ia tidak peduli lagi jika sikapnya akan menyakiti seseorang atau justru memberikan harapan palsu. Arga hanya ingin lari. Lari dari kenyataan bahwa delapan tahun tetaplah angka yang tidak berarti jika orang yang dimaksud telah memilih untuk melupakan segala janji di masa lalu.
Nala memperhatikan kepergian Arga dari kejauhan. Ada perasaan tidak rela yang menyeruak saat melihat Arga menerima bantuan dari Tania. Ia tidak mengerti mengapa hatinya mendadak terasa perih, seperti ada sembilu yang menyayat pelan. Arga benar-benar telah berubah menjadi orang asing, dan Nala tidak tahu bagaimana cara memanggilnya kembali.