NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibeli Oleh Musuh

Bab 26 – Dibeli Oleh Musuh

Hujan turun semakin deras, membasahi halaman mansion hingga tanah berubah licin dan gelap.

Kata-kata Darius masih menggantung di udara seperti racun yang perlahan menyebar.

Musuh terbesar keluarga Lorenzo.

Alya berdiri membeku dalam pelukan Kael. Napasnya kacau, otaknya menolak keras memahami kenyataan yang baru saja didengarnya.

Dijual saat masih bayi?

Dibeli oleh orang asing?

Hidupnya… diperdagangkan seperti barang?

“Bohong…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.

Di bawah todongan senjata, Mira menangis tersedu-sedu.

“Alya, dengarkan Ibu! Jangan percaya omongannya!” serunya panik.

Darius tertawa keras memecah suara hujan.

“Kenapa? Karena kali ini aku sedang berkata jujur?”

Kael memeluk bahu Alya semakin erat, menahan gadis itu agar tidak roboh. Tatapannya berubah sedingin es.

“Mulutmu terlalu banyak bergerak.”

“Aku sangat menikmati melihat wajah kalian hancur lebur begini.”

Ayah Kael melangkah maju selangkah. Jas mahalnya basah kuyup, namun auranya tetap memancarkan wibawa yang menekan.

“Darius. Lepaskan Mira sekarang juga, dan aku janji akan memberimu kematian yang cepat dan tidak menyakitkan.”

Darius memiringkan kepalanya sinis.

“Lihat nih, siapa yang masih merasa paling berkuasa.”

Ia menekan laras pistolnya semakin keras ke pelipis Mira.

“Masalahnya, malam ini kartu asinya ada di tanganku.”

Alya akhirnya tersadar dari keterpakuannya dan berteriak,

“JANGAN SAKITI IBUKU!”

Darius menoleh padanya sambil menyeringai.

“Nah, akhirnya putri kecil ini mau bicara juga.”

Kael mengangkat pistolnya siap menembak.

“Aku akan hitung sampai tiga.”

Darius tertawa mengejek.

“Kau mewarisi kebiasaan buruk itu rupanya dari ayahmu.”

Kael tak berkedip sedikit pun.

“Satu.”

Para penjaga di belakangnya serentak mengangkat senjata mereka.

“Dua.”

Darius menajamkan pandangannya.

“Kalau kau berani menembak, wanita ini mati bersamaku!”

“Tiga.”

DORRR!!!

Suara tembakan meledak keras.

Namun peluru itu bukan datang dari arah Kael.

Sumber suara itu berasal dari sisi kanan halaman.

Semua kepala serentak menoleh ke sana.

Terlihat Serena berdiri tegak di atas balkon samping mansion, dengan pistol yang masih mengeluarkan asap tipis di tangannya.

Peluru itu tepat menembus bahu Darius!

Pria itu berteriak kesakitan dan pistolnya terlepas dari genggaman tangannya, jatuh ke genangan air.

“SEKARANG!” teriak Serena dari atas.

Kael bergerak secepat kilat.

Ia berlari menerjang hujan dan badai, menendang tubuh Darius dengan keras hingga pria itu terpelanting jatuh ke dalam lumpur. Para penjaga lainnya langsung menyerbu dan mengamankan Mira dengan cepat.

“IBU!!!” jerit Alya histeris.

Ia ingin berlari menyusul, namun Kael berbalik cepat dan menangkap pinggangnya tepat di tengah jalan.

“Pelan-pelan!”

“AKU MAU KE SANA! LEPAS!”

“Kau terpeleset nanti.”

“AKU NGGAK PEDULI!”

“Aku peduli.”

Tanpa menunggu bantahan, Kael langsung mengangkat tubuh Alya mendekapnya erat, membawanya menyeberangi genangan air dan lumpur itu.

“Aku bisa jalan sendiri kok!” protes Alya.

“Kau gemetar hebat.”

“Itu bukan alasan untuk menggendong orang seenaknya!”

“Terlalu terlambat.”

Dari atas balkon, Serena berteriak kesal.

“BISAKAH KALIAN KURANG MENJIJIKKAN SEDIKIT SAJA KAN? SITUASI LAGI GENTING BEGINI!”

Tak ada yang menggubris omelannya.

Sesampainya di tempat Mira, Kael perlahan menurunkan Alya.

“Ibu!”

Alya langsung memeluk wanita itu sekuat tenaga. Mira menangis bahagia sambil memegang wajah putrinya berkali-kali, memastikan gadis itu baik-baik saja.

“Kau tidak apa-apa kan, Nak? Mereka menyakiti kau?”

“Aku baik-baik saja Bu… Ibu bagaimana?”

“Ibu lebih baik sekarang karena sudah melihatmu.”

Alya menangis untuk pertama kalinya malam itu, tapi kali ini tangisannya adalah tangisan lega. Semua beban di dadanya seakan runtuh seketika saat ibunya memeluknya balik.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.

Di belakang mereka terdengar suara bentakan dan pukulan keras.

Kael menyeret kerah baju Darius yang sudah berlutut di lumpur. Wajah pria itu penuh darah, bahunya mengucur merah pekat.

“Ulangi apa yang kau katakan tadi!” desis Kael murka.

Darius masih tertawa terbahak-bahak meski terluka.

“Kau marah sekali ya?”

BRAAK!

Kael menghantam wajahnya dengan keras hingga kepala pria itu terlempar ke samping.

“Aku bilang, ulangi!”

Ayah Kael mendekat dengan langkah berat dan tegas.

“Bawa dia ke ruang bawah tanah. Interogasi di sana.”

“Tidak,” potong Kael dingin.

Semua orang menoleh kaget.

Kael menatap Darius seperti melihat seekor binatang buas yang siap dibunuh.

“Aku mau dia jawab di sini, sekarang juga.”

Mira memucat melihat kegarangan itu.

“Kael… jangan… jangan lakukan hal bodoh…”

Alya berdiri dan memegang lengan kekasihnya itu.

“Berhenti dulu, Kael. Tenang.”

Tatapan tajam Kael langsung melunak seketika hanya saat menatap Alya.

“Dia berbohong.”

“Kalau begitu buktikan omonganmu itu tanpa harus membunuhnya sekarang.”

Darius batuk darah lalu tertawa lagi.

“Lihat itu… putri kecil bisa menjinakkan monster dengan mudah sekali ya.”

BUGGH!

Kael menendang perut pria itu sekuat tenaga.

“Bicara lagi, kubuat kau menelan gigi-gigimu sendiri!”

Alya memejamkan matanya. “Kael…”

Kael menghela napas panjang, berusaha mengendalikan amarahnya. Akhirnya ia mundur selangkah. Hanya untuk Alya.

Ayah Kael melihat interaksi itu dan mengeraskan rahangnya kesal.

“Memalukan.”

Kael menoleh dingin ke arah ayahnya.

“Diam kau sebelum aku mulai menghitung ke arahmu juga.”

 

Mereka akhirnya membawa semua orang masuk ke dalam aula utama mansion.

Suara hujan masih terdengar gemuruh di luar. Penjaga berjaga ketat di setiap sudut ruangan. Darius diikat kuat ke kursi besi di tengah ruangan.

Mira duduk di sofa besar sambil diselimuti kain tebal. Alya duduk di sampingnya, menggenggam tangan ibunya erat-erat.

Kael berdiri tepat di belakang kursi Alya, seperti bayangan setia yang tak mau pergi jauh.

Serena masuk dengan santai sambil berjalan menuruni tangga utama.

“Aku harap dapat pujian karena sudah menyelamatkan nyawa kalian semua malam ini.”

Ayah Kael menatapnya sinis.

“Kau masih ada di sini?”

“Sayangnya sekali, masih.”

Alya menghela napas panjang lelah.

“Kenapa sih semua orang di hidupku ini suka muncul tanpa diundang dan seenaknya?”

Kael menjawab tenang dari belakangnya,

“Aku masuk karena aku memang diinginkan di sini.”

Alya menoleh tajam.

“Oleh siapa?”

“Kau akan sadar sendiri nanti.”

Serena di sudut ruangan pura-pura muntah melihat tingkah mereka.

 

Kael akhirnya melangkah maju menghampiri Darius yang sudah terikat.

“Kita mulai pembicaraan serius.”

Darius menyeringai dengan bibir yang pecah dan berdarah.

“Mau pakai musik pengiring atau langsung?”

BRUK!

Kael memukul sandaran kursi hingga nyaris terbalik karena emosi.

“SIAPA YANG MEMBELI ALYA?!”

Darius meludah darah ke lantai.

“Aku lupa nama orangnya.”

Tanpa ragu, Kael mengeluarkan pistolnya dan menempelkan laras panas itu tepat ke lutut Darius.

“Aku bisa bantu mengingatkan ingatanmu dengan paksa.”

Tiba-tiba Mira berdiri dari duduknya.

“CUKUP!”

Seluruh ruangan menjadi hening seketika.

Wanita itu gemetar hebat, namun sorot matanya terlihat sangat kuat dan tegas.

“Aku yang akan bicara. Aku yang akan jelaskan semuanya.”

Alya menoleh cepat kaget.

“Ibu?”

Mira menatap putrinya dengan mata yang penuh air mata dan rasa bersalah yang mendalam.

“Maafkan Ibu ya Nak… selama ini Ibu sudah membohongimu.”

Alya menggenggam tangan ibunya semakin erat.

“Bohong soal apa, Bu?”

Air mata jatuh membasahi pipi Mira.

“Malam itu… benar ayah Kael memang berniat mengambilmu dariku.”

Ayah Kael yang berdiri di sana menegang kaku.

“Aku tidak menjual—”

“KAU MENYERAHKAN BAYI KAMI PADA DARIUS UNTUK DISEMBUNYIKAN!” potong Mira keras. “Karena kau takut skandal akan merusak nama baik keluarga!”

Ruangan kembali membeku.

Wajah Alya pucat pasi.

Kael perlahan menolehkan kepalanya menatap ayahnya sendiri.

Pria tua itu diam.

Dan diamnya itu jauh lebih menyakitkan dan buruk daripada sebuah pengakuan.

“Aku mendengar semuanya!” lanjut Mira terbata-bata. “Kau bilang kalau anak haram seperti Alya hanya akan melemahkan hak waris Kael!”

Tangan Kael mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Aku melakukan itu semua untuk melindungi nama baik keluarga!” bantah ayahnya rendah.

“KAU JUSTRU MENGHANCURKAN KELUARGA INI SENDIRI!” bentak Kael tak mampu menahan amarahnya lagi.

Mira melanjutkan ceritanya dengan suara yang patah-patah.

“Ibu mencuri kembali Alya malam itu juga… tepat sebelum Darius menyerahkan kau ke tangan orang yang memintanya.”

Semua mata serentak beralih menatap Darius.

Pria itu tertawa sinis.

“Sayang sekali. Aku kehilangan bayaran yang sangat besar malam itu.”

Alya merasa dadanya sesak sekali, hampir tak bisa bernapas.

“Jadi… aku tidak benar-benar dijual?” tanyanya pelan berharap.

Mira memegang kedua pipi putrinya lembut.

“Kau hampir dijual, Nak. Tapi Ibu mengambilmu kembali dan kita kabur sejauh mungkin.”

Alya langsung memeluk ibunya erat-erat sambil menangis lega.

Kael memejamkan matanya sejenak, seolah ada beban berat yang baru saja terangkat dari pundaknya.

Serena berbisik pelan dari kejauhan,

“Drama keluarga level dewa memang begini adanya.”

Tatapan Alya perlahan beralih menatap pria tua yang mengaku sebagai ayahnya itu. Pandangannya penuh luka dan kekecewaan mendalam.

“Jadi… kau memang ayah kandungku.”

Pria tua itu menatapnya lama.

“Ya.”

“Dan kau mencoba menyingkirkanku demi ambisi dan gengsimu.”

“Aku melakukan apa yang kupikir terbaik dan paling perlu saat itu.”

Alya tertawa pahit mendengarnya.

“Kamu bahkan saat meminta maaf pun terdengar seperti sedang memimpin rapat bisnis yang membosankan.”

Kael berjalan maju berdiri di samping Alya, menghadap ayahnya.

“Mulai malam ini, kau tidak akan pernah mendekatinya lagi. Jangan pernah menyentuhnya.”

Pria tua itu menyipitkan matanya.

“Kau mengancamku, Kael?”

“Aku hanya menetapkan aturan baru.”

“Aku masih kepala keluarga di sini!”

Kael menatap lurus tanpa rasa takut.

“Tidak akan lama lagi.”

Suasana di ruangan itu langsung menjadi sangat tegang dan mencekam.

Para penjaga saling pandang cemas.

Ayah Kael melangkah maju mendekati putranya.

“Kau berani menantangku hanya demi seorang gadis?”

Kael menjawab tanpa ragu sedikit pun,

“Demi wanita yang kau hancurkan masa lalunya… dan wanita yang kau sakiti hatinya.”

Tatapannya beralih singkat menatap Alya.

“Demi mereka berdua.”

Jantung Alya berdebar kencang mendengarnya.

Ayah Kael tertawa dingin.

“Kalau begitu mari kita selesaikan ini dengan cara lama.”

Ia menoleh ke seluruh orang yang ada di ruangan itu.

“Tiga hari dari sekarang. Sidang keluarga besar. Siapa yang keluar sebagai pemenang… dialah yang akan memimpin kekaisaran Lorenzo.”

Serena langsung bertepuk tangan antusias.

“AKHIRNYA! Aku suka sekali turnamen begini!”

Kael mengangguk tegas.

“Aku terima tantanganmu.”

“Dan kalau aku yang menang…” ayah Kael menatap Alya tajam, “…putriku akan tetap tinggal di mansion ini di bawah pengawasanku.”

Kael langsung memotong cepat,

“Kalau AKU yang menang… kau akan pergi dari sini selamanya dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depan kami!”

Darius yang terikat di kursi tertawa terbahak-bahak.

“Wah, aku suka sekali keluarga yang penuh drama begini!”

DORRR!!!

Kael menembak tepat di samping telinga Darius hingga pria itu terlonjak kaget.

“Giliranmu tertawa sudah selesai!” bentaknya keras.

Setelah itu, Kael berbalik badan, berjalan mendekati Alya, lalu berlutut di hadapannya agar posisi mereka sejajar.

Seluruh ruangan menjadi hening total.

“Alya.”

“Apa?”

“Tiga hari ke depan akan sangat berat dan buruk.”

“Itu bukan hal baru bagiku.”

Kael hampir tersenyum tipis melihat ketegaran gadis itu.

“Tetaplah di sisiku.”

Alya menatap dalam ke mata gelap itu.

Di sana ada ancaman, ada luka, ada ketulusan yang aneh, dan ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari semuanya itu.

Cinta.

Ia berbisik pelan,

“Aku belum memaafkanmu sepenuhnya.”

“Aku tahu.”

“Aku masih sangat marah.”

“Aku tahu.”

“Aku bahkan bisa kabur lagi kapan saja.”

Kael mendekatkan wajahnya sedikit.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kau tetap memintaku tinggal?”

Kael menjawab dengan suara rendah dan tegas, penuh keyakinan,

“Karena kali ini… aku tidak akan pernah kehilanganmu lagi.”

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!