NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran Singkat dan Juragan yang Tak Sabar

Pagi ini, udara di desa masih diselimuti kabut tipis, namun kediaman Pak Wisnu sudah tampak rapi meski bersahaja. Hari yang ditunggu-tunggu oleh Aditya Wijaya akhirnya tiba. Setelah melewati badai penolakan, rintangan kasta, hingga drama yang menguras air mata, pria itu akhirnya melangkah dengan keyakinan penuh. Ia datang bukan sebagai Juragan yang angkuh, melainkan sebagai pria yang ingin mengabdikan hidupnya pada Kinanti, putri semata wayang Pak Wisnu.

Iring-iringan mobil mewah keluarga Wijaya membelah jalanan desa yang sempit. Aditya duduk tegap di kursi belakang, tangannya sesekali merapikan kemeja batik sutra motif parang yang ia kenakan. Di sampingnya, Pak Wijaya dan Bu Sarasvati menatap putra sulung mereka dengan senyum penuh arti. Mereka membawa rombongan kerabat dekat, serta barisan pembawa hantaran yang dihias cantik dengan kain tile dan pita keemasan.

"Selamat datang, Juragan, Bu Juragan, dan Bapak Ibu sekalian. Silakan masuk, maaf gubuk saya sempit," sambut Pak Wisnu dengan nada rendah hati di ambang pintu.

Pak Wisnu nampak sedikit kebingungan saat melihat banyaknya barang bawaan yang dibawa keluarga Wijaya. "Saya kira acaranya masih beberapa minggu lagi, Juragan. Persiapan kami masih sangat sederhana," bisik Pak Wisnu saat mempersilakan tamu duduk di karpet yang sudah digelar rapi diruang tamunya.

Pak Wijaya tertawa kecil mendengar keheranan Pak Wisnu. Ia tahu, semua ini karena putra sulungnya, Aditya, tak ingin menunggu terlalu lama untuk acara lamaran karena takut Kinanti akan berubah pikiran. Bu Sarasvati tentu dibuat kesal oleh desakan putranya itu. Meskipun begitu, Pak Wijaya dan Bu Sarasvati senang melihat putra mereka akhirnya akan segera menikah.

"Ini semua gara-gara Aditya, Wisnu. Dia tidak memberikan kesempatan kami untuk napas sedikitpun. Katanya, kalau tidak dilamar hari ini, dia takut Kinanti berubah pikiran lagi."

Bu Sarasvati mendengus gemas. "Benar itu, Pak Wisnu. Anak ini benar-benar tidak sabar. Sepertinya putra sulungku ini sudah sangat ingin sekali dengan putrimu, Pak Wisnu,"

Aditya hanya diam, matanya terus melirik ke arah tirai kamar yang masih tertutup rapat. Di balik balutan batik birunya, jantung sang Juragan berdegup kencang melebihi detak jam dinding di rumah itu.

Tak lama, suasana berubah menjadi sunyi saat tirai kamar terbuka. Kinanti muncul dengan langkah yang anggun, didampingi oleh seorang bibinya. Mata Aditya seolah terkunci. Kinanti tampak luar biasa cantik. Riasan wajahnya tipis namun cerah, memancarkan aura keayuan gadis desa yang murni. Rambut hitamnya disanggul rapi dengan hiasan bunga melati yang harumnya samar-samar tercium hingga ke tengah ruangan. Kebaya biru sederhana yang ia kenakan tampak begitu mewah karena pembawaannya yang santun.

Prosesi Tembung: Lamaran yang Sakral

Acara dimulai dengan prosesi tembung perwakilan keluarga Aditya berbicara secara resmi menggunakan bahasa Jawa halus yang sangat kental. Pak Surya, kerabat Pak Wijaya selaku juru bicara, memulai kalimatnya dengan penuh wibawa.

"Tujuan keluarga Bapak Wijaya datang ke sini adalah untuk nembung, meminang Nak Kinanti untuk putra sulung kami, Aditya. Sebagai tanda pengikat atau peningset, kami membawa beberapa barang sebagai simbol bahwa Nak Kinanti sudah 'dikunci' oleh putra kami."

Barisan hantaran pun diletakkan di tengah ruangan. Ada kain jarik, perhiasan emas, hingga makanan tradisional seperti jadah dan wajik yang melambangkan harapan agar hubungan mereka lengket selamanya.

"Bagaimana, Wisnu? Apakah lamaran ini diterima?" tanya Pak Wijaya dengan nada serius namun hangat.

Pak Wisnu menoleh ke arah putrinya yang tertunduk. "Saya ndak masalah, Juragan. Semua saya pasrahkan sama Kinanti. Gimana Nak? Kamu mau menerima Juragan Aditya menjadi imammu?"

Suasana mendadak menjadi tegang. Aditya menahan napas, dadanya bergemuruh. Ia masih ingat betul betapa kerasnya Kinanti menolaknya tempo hari. Namun, perlahan Kinanti mendongak, matanya bertemu dengan manik hitam Aditya yang penuh harap.

"Iya Bapak... Kinanti bersedia," ucapnya lirih namun jelas.

"Alhamdulillah!" seru semua orang bersorak senang setelah mendengar suara lembut Kinanti tadi Pak Wijaya dan pak Wisnu saling melempar senyum senang.

Mereka semua tak menyadari aksi tatap-tatapan sepasang sejoli muda itu Aditya menatap penuh cinta dan bahagia ke Kinanti yang juga tersenyum lembut padanya.

🔥 Juragan yang Tak Sabar

Setelah lamaran diterima secara resmi, kedua keluarga mulai membahas tanggal pernikahan. Pak Wijaya mengeluarkan catatan kecil.

"Mengingat persiapan pernikahan itu panjang, ada siraman, midodareni, dan resepsi, sepertinya akad nikah baru bisa dilakukan dua bulan lagi."

"Kelamaan, Ayah!" sela Aditya tiba-tiba, membuat Pak Wijaya tersedak kopinya.

Seluruh ruangan mendadak hening, menatap Aditya yang duduk gagah namun nampak sangat tidak sabar. "Besok saja akad nikahnya. Besok."

PLAK!

Bu Sarasvati reflek menepuk paha putranya. "Bisa-bisanya! Kamu pikir menikah itu cuma tinggal panggil penghulu? Ada undangan yang harus disebar, katering yang harus dipesan! Dua bulan saja sudah sangat mepet, Nak!" omel Bu Sarasvati, wajahnya memerah karena malu pada keluarga Pak Wisnu.

"Besok! Adi sudah tegaskan, akad nikahnya besok," ulang Aditya dengan wajah datar namun keras kepala.

"Tidak bisa! Sebulan lagi paling cepat!" tegas Bu Sarasvati.

"Tapi Adi—"

"Sebulan atau setahun? Pilih mana? Sekalian Ibu lamakan kalau kamu membantah terus," ancam Bu Sarasvati yang membuat Aditya langsung bungkam dan lemas di kursinya.

"Baiklah, sebulan lagi," ucap Aditya yang kini lemas, pasrah pada keputusan sang Ibu.

Abyan, sang adik, tampak menahan tawa melihat Abangnya yang perkasa itu kini tak berdaya. Dengan jahil, Abyan bangkit dan menghampiri Kinanti.

Hap! Tanpa diduga, Abyan langsung memeluk Kinanti dari samping.

"Mbak Kinan! Byan senang banget akhirnya Mbak jadi kakak ipar Byan! Meskipun Mbak ndak jadi pacar Byan, tapi Mbak tetap jadi milik keluarga kita," seru Abyan manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kinanti.

Seketika, suhu di ruangan itu terasa naik bagi Aditya. Matanya menyipit tajam melihat tangan adiknya melingkar di bahu calon istrinya.

"Byan! Lepaskan! Menjauh dari calon istri Abang!" ujar Aditya dengan suara rendah yang penuh ancaman.

Abyan justru makin mengejek sang Abang dengan menjulurkan lidahnya. "Nyenye, wlek! Kan belum sah, jadi Mbak Kinan masih bebas dipeluk siapa saja!"

"BYAN!!!" geram Aditya yang mulai tampak ingin mengamuk, membuat Abyan langsung kabur mencari perlindungan di belakang punggung Ibunya.

Tawa pecah seketika. Mereka tak menyangka Aditya yang biasanya dikenal dingin dan irit bicara, bisa menjadi begitu cemburuan bahkan kepada adiknya sendiri. Kinanti hanya bisa mengulum senyum, ia menggelengkan kepala pelan ke arah Aditya sebuah kode agar pria itu berhenti marah-marah.

Melihat itu, Aditya pun melunak. Tatapannya yang tadi tajam kini berganti melembut penuh kasih. Dalam hatinya, ia sudah membayangkan masa depan. Kelak, ia ingin memiliki seorang putri kecil yang parasnya secantik Kinanti, yang akan meramaikan rumahnya dengan tawa yang sama manisnya.

Acara ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Sebelum pulang, Aditya sempat membisikkan sesuatu di telinga Kinanti saat mereka bersalaman. "Satu bulan. Tunggu aku menjemputmu sepenuhnya."

Bersambung__

____

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!