“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Kematian di Gudang Tua
Pukul 01:15 Dini Hari – Jalur Menuju Gudang Tua Valenor.
Konvoi kendaraan hitam melaju membelah kesunyian pinggiran Jakarta yang berkabut. Di dalam mobil SUV antipeluru yang memimpin jalan, suasana begitu pekat oleh aroma kulit dan ketegangan yang nyaris meledak. Kaelthas duduk dengan tubuh tegap, tangannya tidak sedetik pun melepaskan genggaman pada jemari Ceisya. Genggamannya begitu kuat, seolah ia sedang mencoba menyalurkan seluruh kekuatannya ke dalam tubuh istrinya.
"Kau bergetar, Sayang," bisik Kaelthas rendah. Suaranya terdengar seperti gesekan logam, dingin namun penuh perhatian yang menyesakkan.
Ceisya menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang liar. "Bukan karena takut, Kael. Tapi karena marah. Ayahku... bagaimana bisa dia lebih memilih pria asing itu daripada keluarganya sendiri?"
Kaelthas menarik tubuh Ceisya ke dalam dekapannya yang dominan, memaksa kepala gadis itu bersandar di dada bidangnya. Ia mencium puncak kepala Ceisya dengan posesif, lalu turun mengecup keningnya dengan lama. "Jangan mencari logika pada pengkhianat. Fokuslah pada instruksiku. Tetap di belakangku, atau aku akan mengikatmu di dalam mobil ini sekarang juga."
"Mas Sultan, jangan mulai lagi posesifnya di saat genting gini," protes Ceisya dengan nada tengil yang dipaksakan, meski ia tetap mengeratkan pelukannya pada pinggang Kaelthas.
Kaelthas tidak menyahut. Ia justru memutar wajah Ceisya, menatap bibir merah istrinya yang tampak sangat menggoda di bawah cahaya lampu dasbor yang remang. Tanpa aba-aba, ia melumat bibir itu dalam ciuman yang singkat namun penuh dengan gairah pelindung yang haus darah. Sebuah ciuman yang seolah berkata: Kau hanya boleh mati di pelukanku, bukan di tangan mereka.
Pukul 01:45 Dini Hari – Lokasi Gudang Tua.
Gudang tua itu berdiri kokoh seperti raksasa yang tertidur, dikelilingi oleh kontainer-kontainer karatan dan ilalang tinggi. Guntur memberikan isyarat melalui lampu flash. Area luar tampak sepi, namun Ceisya tahu itu hanyalah ilusi.
"Kael, tunggu," Ceisya membuka laptop tipisnya. Jemarinya menari dengan kecepatan cahaya. "Aku sedang melakukan scanning gelombang termal.
Sial... gudang ini dikelilingi oleh sensor tekanan dan kamera infra merah di setiap sudut tersembunyi."
"Bisa kau butakan mereka?" tanya Kaelthas sambil memeriksa magasin pistol peraknya.
"Bukan cuma aku butakan, aku akan buat sistem mereka mengalami looping rekaman sepuluh menit yang lalu. Mereka akan melihat area ini kosong, padahal kita sudah masuk ke jantung pertahanan mereka." Ceisya mengeksekusi perintah override_security_v3.sh. "Selesai. Kita punya waktu dua puluh menit sebelum mereka sadar ada anomali."
Mereka bergerak masuk dengan taktik militer yang sangat rapi. Kaelthas memimpin di depan, gerakannya sunyi namun mematikan. Saat mereka mencapai ruang utama yang luas dan lembap, lampu-lampu sorot besar tiba-tiba menyala, membutakan pandangan sesaat.
"Selamat datang, Kaelthas. Tepat waktu seperti biasanya," suara bariton yang berat menggema melalui pengeras suara.
Di ujung ruangan, di atas sebuah panggung besi, duduklah Arkan Virelion dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi. Di sampingnya berdiri Sebastian Valenor yang tampak pucat namun memiliki tatapan dingin, dan Clarisse yang menatap Ceisya dengan kebencian murni.
"Paman Arkan," desis Kaelthas. Ia melangkah maju, memosisikan dirinya tepat di depan Ceisya, menutupi seluruh tubuh istrinya dari jangkauan pandangan Arkan. "Permainan ini membosankan. Lepaskan Sebastian, dan mungkin aku akan membiarkanmu pergi dengan satu atau dua luka tembak saja."
Arkan tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat gila. "Kau sangat mirip dengan ayahmu, Kael. Posesif terhadap apa yang kau anggap milikmu. Tapi kau lupa, mawar hitam tidak pernah mekar di tangan orang yang lemah."
Tiba-tiba, Clarisse maju ke depan. "Kak Ceisyra! Kenapa kau selalu mendapatkan yang terbaik?!
Kaelthas seharusnya milikku! Ayah seharusnya menyayangiku! Tapi kau... kau merusak semuanya dengan otak peretasmu itu!"
Ceisya keluar dari balik punggung Kaelthas, menatap Clarisse dengan berani. "Aku tidak merusak apa pun, Clarisse. Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri dengan menjadi boneka pria gila ini."
"Habisi mereka!" teriak Arkan.
Puluhan tentara bayaran muncul dari balik bayang-bayang kontainer. Kaelthas langsung melepaskan tembakan beruntun. Setiap pelurunya menemukan sasaran dengan akurasi yang mengerikan. Guntur dan timnya menyerbu dari arah samping, menciptakan baku hantam yang brutal.
Ceisya tidak hanya diam. Saat seorang pria besar mencoba menyergapnya dari atas tumpukan peti, Ceisya melakukan gerakan Sampingan yang lincah, lalu menyambar tangan musuh tersebut dan melakukan Kuncian Leher hingga pria itu pingsan.
Dua orang lagi mendekat. Ceisya melakukan jurus Guntingan Atas yang sangat artistik, menjatuhkan keduanya dalam satu gerakan sebelum memberikan tendangan Tusuk di bagian saraf mereka.
"Mas Kael, awas di arah jam dua!" teriak Ceisya.
Kaelthas merunduk tepat saat sebutir peluru melintas di atas kepalanya. Ia berbalik dan menembak penembak jitu itu tepat di kening. Di tengah kekacauan itu, Kaelthas sempat melihat Ceisya yang sedang bertarung dengan dua orang sekaligus. Amarahnya memuncak melihat istrinya dalam bahaya.
Kaelthas menerjang seperti singa lapar, memukul mundur siapa pun yang mencoba mendekati Ceisya. Ia menghantam rahang musuh terakhir dengan begitu keras hingga terdengar suara tulang retak.
Begitu area di sekitar mereka bersih sejenak, Kaelthas langsung menarik Ceisya ke dalam pelukannya yang protektif.
"Sudah kubilang tetap di belakangku!" bentak Kaelthas dengan napas memburu, namun matanya memancarkan ketakutan akan kehilangan yang luar biasa.
"Aku menjagamu, Kael!" balas Ceisya, ia mencengkeram jas taktis Kaelthas.
Arkan yang melihat adegan itu tersenyum miring. Ia mengeluarkan sebuah pemicu ledakan dari sakunya. "Indah sekali. Tapi mari kita lihat seberapa cepat kau bisa lari dari ledakan mawar hitamku."
Sebastian Valenor tiba-tiba tersentak. "Arkan! Kau bilang Ceisyra tidak akan disakiti!"
"Kau terlalu naif, Sebastian," ucap Arkan dingin. Ia menekan tombol itu.
BEEP! BEEP! BEEP!
Suara bom waktu bergema dari seluruh penjuru gudang. Ceisya segera melihat ke arah layar laptopnya yang terpasang di pergelangan tangannya. "Kael! Bomnya dipasang di pilar utama! Gudang ini akan runtuh dalam enam puluh detik!"
Kaelthas menatap Arkan yang mulai melarikan diri melalui jalur rahasia bersama Clarisse, sementara Sebastian ditinggalkan begitu saja di atas panggung.
"Guntur! Bawa Nona keluar! Sekarang!" perintah Kaelthas.
"Kael, tidak! Bagaimana denganmu?!" teriak Ceisya.
"Aku akan membawa ayahmu! Pergi, Ceisyra! Itu perintah!" Kaelthas mencium bibir Ceisya untuk terakhir kalinya—sebuah ciuman yang terasa seperti perpisahan sekaligus janji untuk kembali—lalu ia berlari ke arah panggung besi.
Ceisya ditarik paksa oleh Guntur menuju pintu keluar. Air mata mengalir di pipinya saat ia melihat Kaelthas mencoba melepaskan ikatan Sebastian di tengah kepulan asap dan suara detak bom yang semakin cepat.
10... 9... 8...
Tepat saat Ceisya mencapai luar gedung, sebuah ledakan dahsyat mengguncang bumi. Gudang tua itu runtuh seketika, tertutup oleh api yang membumbung tinggi ke langit malam.
"KAELTHAS!!!" jerit Ceisya histeris.
Di tengah puing-puing yang terbakar, sebuah tangan muncul dari balik reruntuhan, namun tangan itu memegang sebuah Mawar Hitam yang terbakar, dan bukan siluet tubuh Kaelthas yang terlihat, melainkan sosok Arkan yang berdiri tegak sambil menggendong seseorang yang pingsan.
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca