Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.
Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.
Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Jalan Pulang
Hari Rabu di SMA 1 Nusa Bangsa ditutup dengan awan tipis yang menggantung di langit, memberikan nuansa teduh setelah teriknya matahari siang. Kuis Sejarah Ibu Ratna baru saja berakhir beberapa jam yang lalu, dan seperti dugaannya, Cinta berhasil menyelesaikannya dengan baik. Namun, kejutan sebenarnya adalah Rian. Cowok itu tidak lagi menatap jendela dengan kosong; ia benar-benar membuka buku pemberian Cinta dan menggoreskan pulpennya di atas kertas ujian dengan tenang.
Saat bel pulang berbunyi, Cinta merapikan tumpukan bukunya ke dalam tas. Sarah, yang biasanya selalu punya seribu pertanyaan, sudah melesat pergi lebih dulu karena ada urusan keluarga mendadak.
Cinta baru saja akan melangkah keluar kelas ketika sebuah suara berat menghentikannya.
"Mau pulang sekarang?"
Cinta menoleh. Rian berdiri di samping mejanya, menyampirkan tas hitamnya di bahu kiri. Kemejanya tetap tidak dimasukkan ke dalam celana, namun kali ini dasinya, meski tetap melingkar longgar setidaknya terpasang.
"Iya. Ojek langgananku sepertinya sedang ada pesanan lain, jadi aku harus menunggu sebentar di lobi," jawab Cinta sambil menyampirkan tasnya sendiri.
Rian diam sejenak, menatap ke luar jendela koridor, lalu kembali menatap Cinta. "Lupakan ojeknya. Aku antar kamu pulang."
Cinta tertegun. Jantungnya memberikan reaksi refleks yang kini mulai ia kenali yaitu sebuah debaran halus yang menjalar hingga ke ujung jari.
"Eh? Tidak perlu, Rian. Rumahku cukup jauh dari sini, arahnya masuk ke area pemukiman yang jalannya agak menanjak."
Rian tidak menerima penolakan itu. Ia justru mulai berjalan mendahului Cinta menuju tangga. "Aku punya motor, Cinta. Bukan sepeda ontel. Jauh atau menanjak bukan masalah. Ayo."
Cinta sempat bimbang selama beberapa detik, namun dorongan di dalam dirinya yaitu sisi yang ingin mengenal Rian lebih jauh akhirnya menang. Ia mempercepat langkahnya untuk menyusul punggung lebar di depannya itu.
Di parkiran sekolah yang mulai sepi, Rian mengeluarkan motor besar hitamnya. Ia memakai jaket denim yang sudah menjadi ciri khasnya, lalu mengambil sebuah helm cadangan dari bagasi motor. Helm itu berwarna hitam polos, tampak masih sangat baru.
"Pakai ini," kata Rian sambil menyerahkan helm tersebut.
Cinta menerimanya, lalu memakainya dengan sedikit canggung. Rian memperhatikannya, dan saat Cinta kesulitan mengunci tali helmnya karena tangan yang sedikit gemetar, Rian tiba-tiba maju satu langkah.
Tanpa berkata apa-apa, tangan Rian meraih tali helm di bawah dagu Cinta. Jarak mereka begitu dekat hingga Cinta bisa mencium kembali aroma parfum kayu yang maskulin itu, kali ini bercampur dengan aroma segar sisa sabun mandi dari ruang ganti olahraga tadi. Jari-jari Rian yang panjang dan kuat bergerak dengan cekatan mengunci pengait helm tersebut.
Cinta menahan napas. Matanya terkunci pada wajah Rian yang tampak sangat fokus. Ada kedekatan yang tidak biasa, sebuah momen yang terasa melambat di tengah bisingnya mesin motor lain di kejauhan.
"Sudah," ucap Rian pelan, matanya sempat bertemu dengan mata Cinta selama satu detik sebelum ia kembali mundur dan naik ke atas motornya.
"Naiklah," ajaknya.
Cinta naik ke kursi penumpang yang cukup tinggi itu. Ia meletakkan tasnya di antara dirinya dan Rian, berusaha menjaga jarak yang aman. Rian menyalakan mesin, suara deru motornya terdengar dominan memenuhi area parkir.
"Pegangan yang kuat. Jalur ke arah rumahmu banyak tikungan, kan?" teriak Rian dari balik helm.
Cinta ragu sejenak, lalu ia memberanikan diri mencengkeram sisi jaket denim Rian. Motor itu perlahan bergerak meninggalkan gerbang SMA 1 Nusa Bangsa, membelah jalanan sore yang mulai dipadati kendaraan.
Perjalanan itu terasa berbeda bagi Cinta. Biasanya, ia hanya duduk diam di belakang motor ojek sambil memikirkan tugas atau alur ceritanya. Namun kali ini, ia merasa sangat waspada terhadap setiap pergerakan. Angin sore meniup jilbabnya, dan aroma dari jaket Rian terus menerus tercium, menciptakan rasa nyaman yang anehnya membuat ia merasa terlindungi.
Mereka melewati jalanan pesisir. Di sebelah kiri, laut biru membentang luas dengan ombak yang mulai menderu. Rian tidak memacu motornya dengan kecepatan tinggi yang gila, ia membawa motor itu dengan stabil, seolah sedang menikmati perjalanan yang sama.
"Rian!" teriak Cinta agar suaranya terdengar menembus angin.
"Ya?"
"Terima kasih untuk kuis Sejarah tadi. Kamu sepertinya mengerjakan semuanya dengan serius!"
Rian tertawa kecil, suara tawa yang jarang didengar Cinta. "Aku tidak mau membuat buku pemberianmu sia-sia, Cinta. Lagipula, kisah Perang Diponegoro ternyata tidak seburuk itu. Setidaknya beliau tahu kapan harus melawan."
Cinta tersenyum di balik helmnya. "Memang. Dan beliau juga punya strategi yang teratur."
"Tetap saja ujungnya tentang keberanian," balas Rian.
Saat motor mulai memasuki area tanjakan menuju pemukiman tempat tinggal Cinta, jalanan menjadi lebih sempit dan dikelilingi pepohonan hijau yang rimbun. Udara di sini terasa lebih sejuk. Rian mengarahkan motornya sesuai dengan petunjuk arah dari Cinta hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah pagar rumah yang didominasi warna krem dan tanaman hias yang rapi.
Rian mematikan mesin motornya. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara kicauan burung sore hari.
Cinta turun dari motor dan melepas helmnya. Rambutnya sedikit berantakan, tapi wajahnya tampak cerah.
"Ini rumahku. Terima kasih banyak ya, Rian. Kamu tidak perlu repot-repot begini sebenarnya."
Rian ikut membuka kaca helmnya. Ia menatap rumah Cinta, lalu beralih ke wajah gadis di depannya. "Rumah yang tenang. Cocok untuk orang yang suka keteraturan seperti kamu."
Cinta tertawa kecil. "Atau mungkin untuk orang yang butuh ketenangan setelah berurusan dengan masalah di sekolah setiap hari."
Rian menaikkan satu alisnya. "Masih menganggapku masalah?"
Cinta menggeleng pelan, matanya menatap Rian dengan tulus. "Tidak lagi. Masalah biasanya merusak hal-hal baik, tapi kamu... kamu justru membuat hal-hal menjadi lebih menarik."
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini tidak terasa canggung. Ada semacam pengakuan yang tak terucapkan di antara mereka. Rian mengambil helm dari tangan Cinta dan menyimpannya kembali.
"Cinta," panggil Rian sebelum ia menyalakan motornya kembali.
"Iya?"
"Besok jam pertama pelajaran apa?"
"Matematika. Pak Gunawan. Kenapa?"
"Beri tahu aku bab mana yang harus aku baca malam ini. Aku tidak ingin kalah darimu," ucap Rian dengan seringai tipis yang menantang.
Cinta tersenyum lebar. Tantangan itu terasa seperti musik di telinganya. "Bab Logika Matematika. Aku yakin kamu akan menyukainya karena itu tentang hubungan sebab akibat yang pasti."
"Logika, ya?" Rian menyalakan mesin motornya.
"Kita lihat saja nanti seberapa logis perasaan manusia menurut bab itu. Sampai bertemu besok, Bu Sekretaris."
Rian memutar motornya dan melesat pergi, meninggalkan deru mesin yang perlahan menghilang di kejauhan. Cinta masih berdiri di depan pagarnya, memandangi jalanan kosong itu selama beberapa saat.
Ia masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang ringan. Aroma kayu dari jaket Rian seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Di ruang tamu, ia melihat tumpukan buku di atas meja, namun kali ini ia tidak langsung menyentuhnya. Cinta menuju kamarnya, membuka laptop, dan menuliskan sesuatu di draf novelnya yang kini terasa semakin hidup.