Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Indigo dan Mi Instan yang Tumpah
Limo Cadillac Escalade antipeluru itu meluncur mulus membelah jalanan Palermo yang berbatu. Di dalamnya, suasana terasa lebih tegang daripada ruang interogasi polisi militer. Kaivan Vittorio duduk bersandar dengan kaki menyilang, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk lutut dengan irama yang menakutkan. Di sampingnya, seorang gadis dengan kaos "I Love Bali" sedang sibuk mengelap sisa kuah mi instan yang menetes di tas ranselnya yang kumal.
Kaivan mencoba mengabaikan suara srak-sruk kain yang bergesekan, namun aroma bumbu mi instan rasa soto ayam—lengkap dengan bau koya dan jeruk nipis buatan—kini memenuhi kabin mobil yang biasanya beraroma kulit mahal dan parfum woodsy seharga ribuan Euro.
"Bisa kau berhenti melakukan itu?" suara Kaivan memecah keheningan, dingin dan tajam seperti pisau bedah.
Gendis menoleh, matanya yang bulat menatap Kaivan dengan tatapan menghakimi. "Gimana mau berhenti, Om? Ini kuahnya mengandung kenangan. Saya bawa mi ini jauh-jauh dari Jakarta, lewat imigrasi, eh malah tumpah gara-gara tembak-tembakan tadi. Om tahu nggak betapa susahnya nyari mi rasa soto di Italia? Di sini mah isinya pasta mulu, bosen!"
"Aku sudah bilang akan menggantinya," sahut Kaivan pendek.
"Diganti piza? Diganti pasta? Nggak level, Om! Lidah saya ini lidah lokal. Lagian..." Gendis tiba-tiba berhenti bicara. Matanya beralih ke kursi kosong di depan mereka, tepat di samping Marco yang sedang menyetir dengan keringat dingin. "Duh, Mas Supir, itu tolong bilangin temannya yang mukanya rata jangan duduk di dashboard. Menghalangi pandangan, nanti kita nabrak pohon."
CIIIIIIIIEEEEETTT!
Marco menginjak rem secara mendadak. Mobil itu terhuyung ke depan. Wajah Marco pucat pasi, ia menoleh ke arah dashboard yang kosong melongpong. "Tuan... dia... dia bicara apa?"
Kaivan menggeram, tangannya menahan tubuh Gendis agar tidak terbentur kursi depan. "Jalan terus, Marco. Jangan dengarkan omong kosongnya."
"Bukan omong kosong, Om Kaivan yang ganteng tapi hatinya kayak batu es," potong Gendis sambil membenahi posisi duduknya. "Itu hantu 'Muka Rata' namanya Si Udin—eh, maksud saya versi Italianya mungkin 'Udin-o'. Dia itu korban salah sasaran anak buah Om tahun lalu. Dia cuma mau bilang kalau kunci gudang yang Om cari itu ada di bawah pot bunga depan gerbang samping. Dia nggak tenang karena dituduh nyuri kunci itu."
Kaivan tertegun. Jantungnya berdegup satu kali lebih kencang. Kasus kunci gudang persenjataan yang hilang setahun lalu berujung pada eksekusi salah satu penjaga karena tuduhan pengkhianatan. Tidak ada yang tahu soal detail pot bunga itu.
"Bagaimana kau bisa tahu soal kunci itu?" Kaivan mencengkeram lengan Gendis, matanya berkilat penuh selidik. "Siapa yang mengirimmu? CIA? Mossad? Atau pengkhianat di dalam organisasiku?"
Gendis meringis kesakitan. "Aduh, aduh! Lepasin, Om! Sakit tahu! Kan udah dibilang, saya ini INDIGO. I-N-D-I-G-O. Saya bisa lihat yang nggak Om lihat. Itu Si Muka Rata lagi nangis tuh di pojokan mobil karena Om galak banget. Dan satu lagi..." Gendis menunjuk ke arah pundak kiri Kaivan lagi. "Kakek baju zirah ini mulai narik-narik dasi Om. Katanya Om terlalu sombong, perlu diajarin tata krama."
Secara otomatis, Kaivan merapikan dasinya yang memang terasa sedikit mencekik. Ia melepaskan cengkeramannya pada lengan Gendis. Pria itu mulai merasa dunianya yang logis dan penuh strategi militer sedang diruntuhkan oleh seorang gadis yang bahkan tidak bisa menjaga mi instannya agar tidak tumpah.
"Kita sampai, Tuan," suara Marco terdengar gemetar.
Limo itu berhenti di depan sebuah mansion raksasa yang dikelilingi oleh pagar besi tinggi dan penjaga bersenjata lengkap. Mansion Vittorio. Sebuah kastil modern yang megah namun menyimpan ribuan rahasia berdarah.
Gendis turun dari mobil, mulutnya menganga lebar. "Wih... gila. Ini rumah apa kecamatan? Gede bener. Tapi..." ia menutup hidungnya, "Aromanya kok bau anyir ya? Terus itu... di atas gerbang, kok ada nini-nini gelantungan kayak jemuran?"
Kaivan keluar dari mobil, berdiri di samping Gendis. "Itu hanya patung gargoyle, Nona Semprul."
"Bukan yang patung, Om! Yang di sebelahnya, yang lidahnya menjulur sampai tanah itu lho! Dia lagi dadah-dadah ke Om. Kayaknya dia naksir sama Om deh," Gendis terkekeh, membuat para penjaga yang tadinya pasang muka sangar jadi bingung harus bereaksi bagaimana.
"Masuk," perintah Kaivan pendek.
Mereka melintasi aula utama yang berlantaikan marmer Carrara. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya yang mewah. Namun bagi Gendis, tempat ini seperti terminal bus di malam Jumat Kliwon. Ramai sekali.
"Permisi... misi... numpang lewat ya Mas Hantu, Mbak Kunti..." Gendis berjalan sambil berjingkat-jingkat, sesekali menyenggol angin kosong seolah-olah sedang melewati kerumunan orang.
Kaivan memperhatikan tingkah laku Gendis dengan kening berkerut. Ia membawa Gendis ke ruang pribadinya—sebuah ruangan luas yang dipenuhi buku-buku tua, monitor komputer canggih, dan sebuah meja mahoni besar.
"Duduk," kata Kaivan sambil menuangkan wiski ke dalam gelas kristal.
Gendis duduk di kursi kulit yang sangat empuk, lalu matanya tertuju pada meja Kaivan. "Wah, ada piza dingin! Boleh minta nggak? Laper banget, mi saya kan tadi tumpah."
Kaivan mendorong piring piza itu ke arah Gendis tanpa berkata apa-apa. Ia menyesap wiskinya, matanya tidak lepas dari sosok gadis di depannya. Gendis makan piza itu dengan lahap, mengabaikan fakta bahwa ia sedang berada di ruang kerja pria paling berbahaya di Eropa.
"Gendis," panggil Kaivan.
"Nyam? Apa Om?" jawabnya dengan mulut penuh keju.
"Kau bilang kau bisa melihat masa lalu dan... mereka yang sudah mati. Katakan padaku, siapa yang membunuh ibuku?" Suara Kaivan berubah menjadi sangat emosional, ada luka lama yang terbuka di sana. Dendam yang selama ini ia pendam sendirian.
Gendis berhenti mengunyah. Ia menatap Kaivan dengan tatapan yang tiba-tiba berubah menjadi serius dan lembut. Aura semprulnya menghilang sejenak. Ia meletakkan potongan pizanya, lalu mengulurkan tangan seolah ingin menyentuh udara di depan Kaivan.
"Om... Ibu Om itu cantik ya? Pakai gaun putih, rambutnya disanggul rapi. Dia ada di sini, di belakang Om sekarang. Dia lagi meluk pundak Om."
Kaivan terdiam. Bulu kuduknya berdiri, tapi bukan karena takut. Ia merasakan kehangatan yang aneh menjalar di punggungnya.
"Dia bilang..." Gendis memejamkan mata, "Jangan cari pembunuhnya di luar klan. Cari di dalam laci meja kerja kakekmu yang terkunci. Ada sebuah foto lama dengan sobekan di pojok kiri. Di sana ada jawaban yang Om cari. Dan dia bilang... berhentilah memakai parfum ini, dia lebih suka Om bau sabun mandi biasa kayak waktu kecil."
Gelas wiski di tangan Kaivan nyaris jatuh. Kalimat terakhir itu—soal bau sabun mandi—adalah sesuatu yang hanya dikatakan ibunya setiap pagi sebelum ia berangkat sekolah.
"Kau..." Kaivan berdiri, suaranya tercekat. "Bagaimana mungkin kau tahu itu?"
Gendis membuka matanya, lalu mendesah. "Ya kan saya sudah bilang, saya indigo! Tapi aduh, Om, jangan sedih-sedihan dulu dong. Itu di pojok ruangan ada hantu anak kecil lagi mainin kabel komputer Om. Kayaknya dia mau narik kabelnya deh, nanti komputernya konslet lho!"
BZZZZT!
Benar saja, monitor di meja Kaivan tiba-tiba berkedip dan mengeluarkan asap kecil sebelum mati total.
"GENDIS!" teriak Kaivan frustrasi.
"Bukan saya! Itu si bocah botak itu! Dia nakal!" Gendis menunjuk-nunjuk pojok ruangan yang kosong.
Kaivan mengacak rambutnya yang tadinya rapi. Hidupnya yang teratur kini berantakan dalam hitungan jam. "Cukup. Aku tidak tahu apakah kau ini berkah atau kutukan. Tapi untuk saat ini, kau tidak boleh meninggalkan mansion ini. Kau akan menjadi 'konsultan' pribadiku."
Gendis melotot. "Hah? Konsultan? Gajinya berapa? Dapat makan tiga kali sehari nggak? Ada nasi putihnya nggak? Kalau cuma piza sama pasta, saya bisa berubah jadi hantu beneran karena kurang gizi!"
Kaivan melangkah mendekati Gendis, menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Aroma maskulin Kaivan yang kuat membuat Gendis sedikit gugup. "Kau akan mendapatkan apapun yang kau mau. Kamar termewah, pakaian terbaik, dan makanan apapun yang kau inginkan. Tapi syaratnya satu: kau harus membantuku menemukan musuh-musuhku sebelum mereka menemukanku. Dan..." Kaivan menatap mata Gendis dalam-dalam, "...berhentilah memanggilku 'Om'. Namaku Kaivan."
Gendis menelan ludah. Jantungnya tiba-tiba melakukan tarian dangdut di dalam dadanya. "I-iya, Om Kaivan... eh, maksudnya Kak Kaivan. Tapi boleh nanya satu hal lagi?"
"Apa?"
"Itu... kakek baju zirah di pundak Kakak, dia nanya... kapan Kakak mau nikah? Katanya dia bosen liat Kakak jomblo terus, nggak ada hiburan di rumah ini selain liatin orang disiksa."
Kaivan terdiam sejenak, lalu ia berbalik menuju jendela, menatap pemandangan kota Palermo yang gemerlap di kejauhan. Sebuah senyum kecil, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya.
"Katakan padanya, aku akan menikah kalau aku sudah menemukan gadis yang lebih aneh daripada dia."
Gendis mengerucutkan bibirnya. "Dih, nyindir saya ya?"
"Pikirkan saja sendiri," sahut Kaivan tanpa menoleh. "Sekarang, pergilah dengan Marco. Dia akan menunjukkan kamarmu. Dan Gendis..."
"Ya?"
"Jangan coba-coba bicara dengan hantu di lorong malam-malam. Beberapa dari mereka tidak seramah 'Si Muka Rata'."
Gendis mengangkat bahunya cuek. "Tenang aja, Kak. Kalau mereka macem-macem, saya kasih sapu lidi atau saya bacain doa makan. Biasanya mereka langsung insyaf."
Gendis keluar dari ruangan dengan gaya santainya, meninggalkan Kaivan yang masih berdiri di depan jendela. Pria itu menyentuh bahu kirinya—tempat di mana Gendis bilang kakeknya sedang "gelantungan". Entah kenapa, beban dendam yang selama ini terasa sangat berat, malam itu terasa sedikit lebih ringan.
Mungkin, kehadiran gadis semprul dengan mi instan yang tumpah itu adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan Kaivan dari kegelapan yang ia ciptakan sendiri. Atau mungkin, ini adalah awal dari bencana yang jauh lebih besar: bencana cinta yang dibumbui dengan urusan dunia lain.
"Menarik," gumam Kaivan pelan. "Sangat menarik."
Sementara itu, di lorong mansion, terdengar suara Gendis yang sedang memarahi sebuah lukisan tua. "Heh, Bang! Jangan ngelirik-ngelirik mulu! Mata situ juling tahu kalau dari dekat! Sini saya benerin auranya biar nggak serem-serem amat!"
Marco yang mengawal di belakangnya hanya bisa berdoa dalam hati, semoga ia tidak ikut tertular kegilaan gadis ini.
aku like banget
seribu jempol
aku like...