Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. Gala Night
H-14. Jika pernikahan ini adalah sebuah gedung, maka hari ini adalah saat di mana pondasinya seharusnya sudah mengeras. Namun bagi Saga dan Nala, mereka justru sedang sibuk memasang dinamit di setiap sudut pilar.
Malam ini, Saga mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, membuat tubuh tegapnya terlihat seperti manekin hidup yang baru keluar dari sampul majalah arsitektur ternama.
Sementara Nala, ia berdiri di depan cermin apartemen dengan gaun merah menyala yang ia pilih sendiri—gaun yang warnanya begitu mencolok hingga Saga harus menyipitkan mata saat melihatnya keluar dari kamar.
"Mas, yakin aku pakai ini? Aku kelihatan kayak botol saus sambal di tengah pameran beton," tanya Nala sambil mencoba berjalan dengan high heels yang membuatnya tampak seperti bayi jerapah baru lahir yang sedang belajar berdiri.
Saga melirik Nala datar, memperbaiki letak dasi kupu-kupunya yang sudah simetris sempurna
. "Saya sudah bilang, tujuannya adalah menjadi anomali. Semakin kamu terlihat tidak berkelas dan mencolok dengan cara yang salah, semakin besar alasan Mama dan Eyang untuk berpikir bahwa kamu tidak pantas mendampingi saya di acara-acara penting seperti ini."
"Oke. Misi aku malam ini: jadi cewek norak, berisik, dan bikin kolega Mas ilfeel sampai mereka narik semua investasi proyek Mas. Copy that, Kapten!" Nala menyeringai, mulai memulas bibirnya dengan lipstik merah yang sengaja ia buat sedikit melewati garis bibir agar terlihat berantakan.
Acara Architects' Gala Night diadakan di ballroom sebuah hotel bintang lima yang mewah di kawasan SCBD. Begitu Saga masuk dengan Nala yang menggandeng lengannya terlalu erat hingga kemeja mahal Saga sedikit tertarik, semua mata langsung tertuju pada mereka. Suasana di sana sangat tenang, dipenuhi musik klasik sayup-sayup dan aroma parfum mahal.
Nala memulai aksinya begitu mereka menginjakkan kaki di meja prasmanan. Saat semua orang mengambil canapé kecil atau potongan salmon dengan gerakan anggun dan sedikit malu-malu, Nala justru mengambil piring besar dan menumpuk lima potong paha ayam goreng, dua porsi nasi goreng, dan
sejumput besar kerupuk udang.
"Ya ampun, Mas! Ini porsinya kok kecil-kecil banget ya? Berasa kayak lagi makan makanan mainan Barbie. Porsi seuprit begini mana kenyang buat aku!" seru Nala dengan volume suara yang sengaja dikeraskan, membuat beberapa sosialita di dekat mereka menoleh dengan tatapan ngeri.
Saga hanya diam, memasang wajah kaku seperti biasanya, menunggu reaksi jijik dari rekan-rekannya. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Pak Baskoro—arsitek senior paling galak dan ditakuti se-Jakarta—justru berjalan mendekat sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Akhirnya! Ada juga yang berani jujur di acara munafik ini!" Pak Baskoro menatap piring Nala dengan binar kagum.
"Saya juga benci porsi seuprit ini, Mbak. Siapa namanya? Nala? Wah, Saga, calon istrimu ini punya selera yang sangat... manusiawi! Biasanya saya harus mampir ke warteg dulu setelah pulang dari acara begini, tapi melihat Mbak Nala, saya jadi semangat mau nambah nasi juga!"
Nala melongo. Bukannya dihina, ia justru diajak high-five oleh Pak Baskoro.
Rencananya mulai melenceng. Tidak berhenti di situ, saat sesi ramah tamah, Nala mencoba jurus baru. Ia mengeluarkan kipas bambu bergambar bunga dari tasnya dan mulai mengibas-ngibas dengan heboh, menciptakan angin kencang yang mengacaukan tatanan rambut seorang istri pejabat properti.
"Gerah ya, Pak? Padahal gedungnya bagus, tapi AC-nya kayak cuma pajangan. Mending pakai kipas bambu begini, lebih ramah lingkungan dan hemat listrik!" ujar Nala pada seorang investor besar.
Si investor bukannya tersinggung, malah manggut-manggut dengan wajah serius.
"Betul sekali! Sebuah kritik tajam terhadap efisiensi energi bangunan ini. Saga, istrimu ini punya insting alami terhadap arsitektur berkelanjutan ya? Sangat jujur dan tidak terikat aturan kaku!"
Nala melirik Saga dengan tatapan 'Mas, ini kenapa jadi begini?'. Saga hanya bisa memijat pelipisnya, berusaha keras tidak menunjukkan rasa bangga atau tawa. Nala yang berniat jadi "hama" malah dianggap sebagai "fenomena menyegarkan".
Namun, suasana cair itu mendadak membeku saat seorang wanita anggun mendekat dengan langkah yang sangat anggun. Penampilannya sempurna, memancarkan aura kelas atas yang membuat Nala merasa seperti itik buruk rupa dalam sekejap.
"Saga," sapa wanita itu. Suaranya halus, namun matanya menatap Nala dengan cara yang membuat Nala merasa seolah dia adalah kotoran di sepatu mahalnya.
"Aku kaget kamu benar-benar membawa... temanmu ini ke acara Gala? Aku kira kamu sedang sibuk mencari asisten rumah tangga baru."
Nala tersentak. Siapa perempuan ini? Kenapa dia bicara seolah-olah dia memiliki Saga?
Wanita itu kembali menatap Nala dengan senyum palsu.
"Saga itu sangat perfeksionis, Nala. Dia suka simetri, kelas, dan keanggunan. Kamu... yah, kamu bahkan punya sedikit noda saus di sudut bibirmu. Kamu tidak merasa kasihan merusak reputasi hebat yang sudah Saga bangun bertahun-tahun?"
Beberapa orang di sekitar mereka mulai berbisik. Nala merasa harga dirinya menciut.
Dia ingin membalas dengan kalimat menyebalkan, tapi ada sesuatu di mata wanita itu—sebuah rasa percaya diri yang berakar dari kedekatan yang sudah berlangsung lama—yang membuat Nala mendadak bungkam.
Saga yang sejak tadi hanya diam, tiba-tiba mengulurkan tangan. Menggunakan ibu jarinya, ia mengusap sudut bibir Nala dengan gerakan yang sangat lembut, hampir terasa seperti sebuah kasih sayang nyata. Ia kemudian menarik Nala lebih dekat ke pelukannya.
"Sarah," suara Saga terdengar berat dan dingin, menggunakan kata ganti 'aku' yang sangat jarang ia gunakan di depan umum.
"Aku rasa selera estetikamu sedang menurun drastis malam ini. Nala bukan asisten, dia adalah calon istriku."
"Tapi Saga, lihat penampilannya! Dia mempermalukan kamu!" Sarah protes, wajah cantiknya memucat.
"Mempermalukan?" Saga menatap sekeliling ruangan, lalu kembali menatap Sarah.
"Aku belum pernah melihat kolega-kolega ku sebahagia ini di pesta mana pun. Nala membawa kejujuran yang tidak dimiliki oleh gaun mahalmu itu. Jadi, jangan pernah lagi kamu merendahkan dia."
Saga kemudian menarik Nala menjauh, menuju balkon luar yang sepi.
Udara malam Jakarta yang berangin menerpa wajah mereka. Begitu sampai di balkon, Nala melepaskan tangannya dari pinggang Saga dengan canggung. Kepalanya masih dipenuhi tanda tanya tentang wanita tadi.
"Mas... makasih ya udah belain aku," gumam Nala pelan.
"Tapi... perempuan tadi siapa, Mas? Kok dia kayaknya kenal banget sama Mas? Mantan ya?"
Saga bersandar pada pagar kaca balkon, menatap lampu-lampu kota. Wajahnya kembali kaku, lebih tertutup dari biasanya.
"Bukan siapa-siapa, Nala. Hanya orang dari masa lalu," jawab Saga singkat, suaranya kembali ke nada 'saya' yang dingin.
"Masa lalu yang kayak gimana? Dia kayaknya benci banget sama aku," pancing Nala.
Saga menoleh, menatap Nala dengan tatapan yang seolah memperingatkan agar tidak menggali lebih dalam. "Saya tidak punya kewajiban menjelaskan detail hubungan saya dengan setiap orang yang kita temui. Fokus saja pada misi kita."
Nala terdiam. Jawaban Saga yang menutup diri itu entah kenapa terasa lebih menyakitkan daripada hinaan Sarah tadi. Ada sebuah rahasia besar di balik punggung tegap Saga, dan Nala sadar, dia hanyalah orang asing yang sedang berpura-pura menjadi bagian dari hidup pria itu.
"Oke, kalau Mas nggak mau kasih tahu," bisik Nala pelan.
Saga menghela napas, menatap Nala yang wajahnya sedikit redup. "Saya hanya ingin melindungi kamu dari hal-hal yang tidak perlu kamu ketahui. Besok kita ke rumah Eyang. Persiapkan diri kamu."
Nala hanya mengangguk, namun di dalam hatinya, rasa penasaran itu mulai tumbuh menjadi perasaan lain yang ia sendiri belum bisa definisikan.