Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
“A… apa? Mas juga?”
“Iya.” Elvano mengangguk pelan dan mantap, lalu ia tersenyum sangat manis, sangat tulus, dan sangat tampan hingga membuat jantung Aira rasanya mau copot saat itu juga. “Aku juga ngerasain hal yang sama persis Ra. Jantung aku juga berpacu kencang kayak mau lomba lari setiap kali liat kamu, setiap kali kamu senyum, dan setiap kali kita bersentuhan kayak tadi.”
Aira tertegun hening. Rasanya bahagia sekali, sangat bahagia sampai rasanya ingin menangis haru saat itu juga. Mendengar pengakuan jujur dari mulut suaminya sendiri itu membuat seluruh rasa cemas, rasa takut, dan rasa ragu yang selama ini menghantuinya lenyap begitu saja seketika itu juga.
Ternyata ia tidak sendirian yang merasakan getaran-getaran aneh dan manis ini. Ternyata suaminya juga merasakan hal yang sama persis. Ternyata mereka saling menyayangi dan saling memiliki hati yang sama.
“Jadi… itu wajar ya mas?” tanya Aira polos dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Wajar banget sayang…” panggilan sayang itu keluar begitu saja dari mulut Elvano dengan sangat alami dan sangat indah. “Itu namanya cinta Ra. Itu namanya rasa sayang yang tulus. Itu tandanya allah sudah menanamkan rasa kasih sayang di hati kita berdua.”
Aira tersenyum lebar sekali, senyum termanis dan terindah yang pernah ada di dunia ini. Air mata bahagia akhirnya menetes pelan membasahi pipinya yang merah itu.
“Makasih ya mas…” bisiknya lirih. “Makasih udah mau terima Aira apa adanya, makasih udah sayang sama Aira.”
Elvano pun akhirnya duduk di samping Aira di sofa itu. Jarak mereka sekarang sangat dekat, bahu mereka bersentuhan.
“Nggak usah makasih sayang. Itu kewajiban aku sebagai suami kamu. Dan itu juga keinginan hati aku sendiri.”
Elvano pun kembali mengulurkan tangannya, dan kali ini dengan sangat perlahan, sangat lembut, dan sangat berhati-hati, ia menggenggam tangan halus Aira dengan erat.
Kali ini bukan tidak sengaja.
Kali ini SENGAJA.
Aira tidak kaget lagi, ia tidak menarik tangannya lagi. Ia justru membalas genggaman itu dengan lembut, menyatukan jari-jari mereka menjadi satu.
Rasanya hangat. Rasanya tenang. Rasanya aman. Dan rasanya sangat, sangat cinta.
Mereka berdua pun duduk berdampingan di sana cukup lama, di bawah cahaya matahari sore yang indah, tangan saling menggenggam, hati saling terhubung, menikmati kebersamaan yang begitu indah dan damai ini tanpa perlu banyak bicara.
Malam pun akhirnya tiba dengan cepat. Bulan purnama bersinar terang benderang di langit hitam yang dihiasi oleh jutaan bintang yang berkelap-kelip indah bagaikan taburan berlian.
Suasana di dalam kamar tidur utama kediaman Praditya terasa sangat romantis, sangat tenang, dan sangat intim. Lampu kamar hanya dinyalakan redup saja, menciptakan suasana yang remang-remang namun hangat dan menyenangkan.
Aira sudah siap di kamar dengan baju tidur yang sopan, rapi, dan nyaman. Ia sedang duduk di tepi ranjang merapikan selimut dan bantal ketika pintu kamar terbuka pelan dan Elvano masuk ke dalam.
Pria itu sudah berganti pakaian menjadi kaos oblong putih polos dan celana panjang santai berwarna gelap. Penampilannya sangat santai, sangat dekat, dan sangat memikat hati.
“Udah mau tidur, Ra?” tanya Elvano pelan sambil berjalan mendekat, matanya menatap lekat-lekat ke arah istrinya yang terlihat sangat cantik dan anggun di bawah cahaya lampu yang redup itu.
“Iya mas. Mas juga mau siap?” jawab Aira lembut, suaranya halus dan menenangkan.
“Iya.”
Elvano berjalan mendekati ranjang besar itu, lalu ia duduk di sisi sebelah Aira dengan gerakan yang pelan. Jarak tubuh mereka sekarang sangat dekat sekali, bahu mereka hampir bersentuhan, dan Aira bisa merasakan jelas hangatnya tubuh suaminya di sebelahnya.
Suasana kamar menjadi hening sejenak, namun hening yang penuh dengan makna, penuh dengan getaran cinta yang membuat udara di sekitar mereka terasa hangat dan kental.
Tiba-tiba…
Elvano mengulurkan tangannya yang besar dan hangat itu ke arah Aira. Dengan sangat perlahan, sangat lembut, dan penuh kehati-hatian, ia kembali menggenggam tangan halus milik istrinya yang terletak di atas selimut.
Kali ini bukan tidak sengaja.
Kali ini sengaja.
“Mas?” Aira menoleh kaget namun matanya berbinar-binar.
“Biarin aku pegang sebentar aja…” bisik Elvano pelan sekali, suaranya terdengar berat, serak, dan sangat membuai di telinga Aira. Matanya menatap dalam tajam ke dalam manik mata hitam aira, menyiratkan rasa sayang yang begitu dalam.
“Aku suka rasanya sayang… rasanya tenang banget, rasanya hangat banget, dan rasanya… aku punya kamu seutuhnya sekarang. Rasanya dunia ini milik berdua doang.”
Aira tersenyum manis sekali, air mata bahagia hampir menetes lagi dari sudut matanya. Ia pun membalas genggaman tangan itu dengan lembut namun erat, menyatukan jari-jari mereka menjadi satu.
“Iya mas… Aira juga suka. Aira juga ngerasa aman, ngerasa tenang, dan ngerasa dicintai banget kalau tangan Aira digenggam sama mas Elvano gini.” Aira menghela napas panjang penuh rasa syukur. “Aira milik mas Elvano selamanya… sampai mati pun Aira tetap milik mas.”
Elvano tersenyum lebar, senyum yang sangat tulus dan sangat bahagia. Ia pun perlahan merebahkan tubuhnya ke atas bantal yang empuk, menarik Aira agar ikut berbaring di sebelahnya.
Mereka pun berbaring bersebelahan dengan posisi menghadap ke arah satu sama lain, wajah mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Tangan mereka masih saling menggenggam erat di tengah-tengah, tidak mau dilepaskan sedikitpun.
Wajah mereka berdua terlihat memerah karena rasa malu yang bercampur dengan rasa bahagia yang meluap-luap. Detak jantung mereka berdua berpacu kencang bersahutan, menciptakan irama cinta yang indah dan harmonis di dalam keheningan malam itu.
“Selamat malam sayang…” bisik Elvano lembut, ia mengusap pelan puncak kepala Aira dengan tangannya yang.
“Selamat malam juga mas Elvano…” jawab Aira lirih, wajahnya semakin mendekat dan akhirnya bersandar nyaman di dada bidang suaminya.
Malam itu, mereka tidur dengan perasaan yang sangat tenang, sangat damai, dan sangat bahagia. Ini baru permulaan. Permulaan dari sebuah kisah cinta yang indah yang ditandai dengan sentuhan-sentuhan manis, wajah-wajah yang memerah karena malu, dan detak jantung yang berpacu kencang dalam diam namun penuh dengan cinta.
*****
Keesokan harinya
Hari itu cuaca sangat cerah. Matahari bersinar terang menyelimuti seluruh sudut kediaman keluarga Praditya. Angin sore bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma bunga kamboja yang harum dari taman depan rumah yang tertata sangat indah dan rapi. Cahaya matahari yang mulai keemasan menyelinap masuk melalui celah-celah daun, menciptakan pola bayangan yang bergerak-gerak lembut di lantai teras rumah yang luas itu.
Suasana di dalam rumah terasa sangat hening dan tenang, namun ada getaran aneh yang tak terlihat menyelimuti udara di sekitarnya. Hubungan antara Elvano dan Aira saat ini memang sedang berada di fase transisi yang cukup rumit dan manis. Setelah kejadian tidak sengaja bersentuhan sebelumnya, rasa canggung yang dulu tebal seperti tembok bata itu memang belum sepenuhnya hilang. Masih ada tembok tipis pemisah di antara mereka yang belum bisa runtuh sepenuhnya.
Mereka sudah mulai lebih sering bicara, tatapan mata sudah mulai lebih lembut dan tidak sedingin dulu, tapi mereka masih sangat menjaga batasan dan jarak aman. Panggilan pun kadang masih formal, masih menggunakan sebutan 'mas' dan 'Aira', belum ada panggilan sayang manja yang keluar dari mulut mereka, apalagi Aira. semuanya masih tertahan di hati, masih tersimpan dalam diam, dan masih terbungkus rapi oleh rasa malu yang besar namun penuh rasa sayang.
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
Aira baru saja selesai membantu bibi Asih membereskan peralatan makan di dapur. Aa mengenakan baju sederhana berwarna soft blue yang membuatnya terlihat sangat anggun dan lembut. Rambut panjangnya dikuncir kuda dengan rapi, wajahnya bersih tanpa make-up berlebih, memancarkan kecantikan alami yang sangat menenangkan mata dan hati siapa saja yang memandangnya.
"Non Aira, istirahat dulu yuk di ruang tamu. Nanti kan tuan muda sebentar lagi pulang dari kantor," ucap bibi Asih ramah sambil menyeka keringat di dahinya yang mulai menetes karena kelelahan membersihkan piring.
"Iya bi, sebentar lagi Aira mau duduk-duduk di teras depan sebentar ah. anungguin... nungguin mas Elvano pulang sambil nikmatin angin sore," jawab Aira lembut. Saat menyebut nama suaminya, pipinya sedikit merona merah muda cantik, tanda rasa malu dan sayang yang masih melekat kuat di dalam dadanya.
"Wah baiklah non. Silakan ya, jangan kepanasan ya di sana. Nanti kalau udah agak sorean baru duduknya."
Aira pun tersenyum tipis, senyum yang sangat tulus dan manis, lalu berjalan perlahan menuju teras depan rumah yang luas dan megah itu. Ia membawa sebuah buku catatan kecil di tangannya, lalu duduk dengan sopan di kursi tamu luar ruangan yang empuk dan nyaman.
Ia memandang ke jalanan di depan rumah yang mulai sepi karena orang-orang sudah mulai pulang ke rumah masing-masing. Hatinya terasa tenang, namun ada sedikit rasa deg-degan yang aneh. Entah kenapa hari ini ia merasa tidak bisa fokus membaca buku yang ada di tangannya, pikirannya melayang entah ke mana, seringkali terhenti pada bayangan wajah suaminya yang tampan dan teduh.
"Semoga mas Elvano pulang dengan selamat ya..." gumam Aira pelan pada dirinya sendiri, suaranya halus terdengar diiringi desiran angin. "Semoga hari ini dia tidak terlalu capek dan tidak banyak masalah di kantor. Semoga dia senang pas pulang nanti."
Baru saja Aira menikmati ketenangan selama beberapa menit, baru saja ia mencoba membuka halaman buku yang ada di tangannya, tiba-tiba...
Breeett!!! Screeech!!!
Terdengar suara rem mobil yang digasak keras sekali di depan gerbang rumah. Suaranya sangat keras, sangat tidak sopan, dan sangat mengagetkan hingga membuat burung-burung yang bertengger di pohon besar di halaman langsung terbang kaget. asuara gesekan ban dengan aspal jalanan itu terdengar sangat tajam dan menusuk telinga.
"Astaga! Kaget aku!" seru Aira sambil memegang dadanya yang berdegup kencang karena kaget. Jantungnya seakan loncat ke tenggorokan. "Siapa sih yang datang sore-sore gaya ugal-ugalan gitu? Kok bunyinya serem banget ya? Apa ada bahaya atau apa?"
Aira segera berdiri dari tempat duduknya dengan cepat, meletakkan bukunya di meja, lalu berjalan mendekati pagar besi yang tinggi dan kokoh itu untuk melihat siapa yang datang dengan gaya sembarangan dan menakutkan seperti itu.
Di sana, tepat di depan gerbang utama, terparkir sebuah mobil sport berwarna merah menyala yang sangat mencolok mata. Mobil yang sangat mewah, dan sangat terkenal di kalangan atas kota ini. Cat mobilnya mengkilap sempurna memantulkan cahaya matahari sore.
Kaca mobil itu turun perlahan, memperlihatkan sosok wanita di balik kemudi. Dan saat pintu mobil terbuka lebar...
Aira menahan napasnya seketika. wajahnya sedikit berubah pucat, kakinya terasa sedikit lemas.
Ia mengenal betul wanita itu. Mereka memang sudah pernah bertemu sebelumnya, tepatnya saat makan malam, dan Aira tahu betul siapa identitas asli wanita ini.
Natasha Kirana.
Mantan kekasih Elvano Praditya. Wanita yang dulu pernah sangat dekat dengan keluarga ini, wanita yang dulu pernah menjadi pusat perhatian semua orang karena kecantikan dan kekayaannya yang melimpah.
Natasha turun dari mobil dengan gaya yang sangat angkuh, sangat percaya diri, dan memancarkan aura kekayaan serta kesombongan yang luar biasa. Ia mengenakan dress ketat berwarna hitam yang memamerkan lekuk tubuhnya yang sempurna dan tinggi besar, rambutnya bergoyang indah tertiup angin sore, dan wajahnya yang cantik itu dipenuhi oleh ekspresi sombong, marah, dan juga rasa tidak suka yang terlihat sangat jelas sekali dari sorot matanya yang tajam.
Natasha berjalan mendekat ke arah gerbang di mana Aira berdiri mematung kaku. Langkah kakinya yang mengenakan high heels tinggi itu menghentak lantai dengan suara tak... tak... tak... yang terdengar sangat menekan dan mengintimidasi.
Natasha berhenti tepat di depan jeruji besi pagar itu. Jarak mereka sekarang hanya terpisah oleh besi pagar saja, sangat dekat sekali. Natasha menatap Aira dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan tatapan yang sangat merendahkan, sangat sinis, dan sangat menyakitkan. Matanya melihat seluruh penampilan Aira dengan pandangan yang seolah-olah ia sedang melihat sesuatu yang sangat tidak pantas, sangat murah, dan sangat tidak berkelas berada di tempat semegah ini.
"Halo Natasha..." sapa Aira memberanikan diri, suaranya sedikit gemetar namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat sopan dan tegar. Ia tidak mau terlihat lemah dan ketakutan di depan wanita ini, meski di dalam hatinya gemetar hebat. "Kamu... cari siapa? Atau mau ketemu mas Elvano?"
Natasha mendengus kasar sekali, bunyinya terdengar sangat meremehkan dan jijik. Lalu ia tertawa sinis. Hahaha. Tawanya terdengar sangat menusuk hati, sangat tajam, dan sangat tidak enak didengar. Tawanya penuh dengan ejekan.
"Cari siapa? Lo pikir gue kesini cari siapa hah?!" ceplos Natasha dengan suara yang tinggi dan ketus, tidak mau kalah sedikitpun. Suaranya melengking keras.