Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.
Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.
Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.
Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Di kelas. Setelah kepergian Natalie dan teman-temannya, Fabian dan Nathan masih makan bekal yang di bawa sahabatnya.
"Lo … curiga nggak sih, sama sifat Natalie akhir-akhir ini?" tanya Fabian di sela-sela membersihkan meja.
"Nggak, tuh. Kenapa emang?"
"Ya … aneh aja gitu. Kayak ada sesuatu yang dia sembunyiin dari kita, tapi entah apa. Gue ngerasa kalau dia mulai menjauh dari kita, bahkan raut wajahnya nggak seceria seperti biasanya," jelas Fabian.
"Perasaan Lo aja kali," ujar Nathan.
"Nggak! Ini sesuatu yang lain," bantahnya.
Karena jujur saja, Fabian merasa ada sesuatu yang salah dengan sahabatnya itu. Semenjak beberapa hari lalu, Natalie terlihat lebih murung dari pada biasanya. Seperti … sedang menyimpan sesuatu? Entahlah, ia pun tak tahu apa itu.
"Udahlah, mungkin perasaan Lo aja."
Fabian hanya bisa pasrah dengan jawaban Nathan. Ngomong-ngomong tentang Natalie, ia baru sadar kalau sahabatnya itu belum balik ke kelas dari tadi. Ia mengeluarkan handphonenya mencari kontak Natalie.
Tutt… Tutt… Tutt…
"Lo di mana sih, Nat …" ucap Fabian gusar.
Fabian beralih menelpon Caca, siapa tau akan di angkat. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya di angkat juga oleh Caca.
"Nata mana?"
"Iya Ian. Ada apa?"
"Lo ada di mana? Kenaa telpon gue nggak Lo angkat?"
"Eh, maaf ya Ian. Hp gue lowbat, jadi nggak tau kalau Lo nelpon."
"Ohhh gitu. Buruan ke kelas, bentar lagi bel."
"Iya … ini juga udah jalan ke kelas kok."
"Hati-hati—"
Belum juga selesai ucapannya, panggilannya udah terputus. Fabian menggelengkan kepalanya melihat tingkah Natalie.
"Kebiasaan," ucapnya.
Kring … Kring …
Bel masuk berbunyi, siswa-siswi masuk ke dalam kelas masing-masing. Pelajaran di mulai seperti biasanya, tanpa kendala apa pun. Setelah cukup lama, matahari berjalan ke arah barat. Bel pulang pun berbunyi.
Natalie berjalan duluan meninggalkan kedua sahabatnya, ia berjalan beriringan dengan Caca dan kedua temannya yang lain. Sengaja, agar Nathan dan Fabian tak curiga padanya. Padahal setelah kedua sahabatnya benar-benar pergi, Natalie akan berpisah dengan ketiga temannya itu.
Karena hari ini dirinya mau mengunjungi suatu tempat bersama kedua orang tuanya. Berhubung ini adalah suatu hal yang rahasia, ia terpaksa berbohong pada kedua sahabatnya itu. Sebenarnya ia merasa bersalah dan nggak tega, tapi mau gimana lagi.
Seperti saat ini, Natalie duduk sendirian di bangku halte—menunggu orang tuanya menjemputnya. Mungkin sebentar lagi mereka datang. Ia asyik melamun sambil melihat jalanan yang lenggang, samai tak menyadari keberadaan Arya di sebelahnya.
"Belum di jemput?"
"Eh, belum."
"Em …, aku temani boleh?" tanya Arya ragu.
"Boleh. Ini tempat umum, siapa saja boleh di sini."
Keduanya kembali terdiam. Semuanya menjadi canggung setelah pertemuan mereka di perpustakaan. Rasanya, begitu aneh berdua-duaan seperti ini.
Setelah cukup lama, sebuah mobil berhenti di depan keduanya. Natalie yang sadar itu adalah kedua orang tuanya, ia pamit pada Arya.
Di dalam mobil, ia lihat kedua orang tuanya sudah menyiapkan beberapa keperluan yang mungkin mereka butuhkan nanti sewaktu di sana. Natalie tak memprotes apapun, ia hanya diam menyandarkan punggungnya sambil memejamkan matanya. Ia mendengarkan musik melalui earphone, sesekali ikut menyanyi dengan lirih.
Mobil yang mereka tumpangi kini memasuki area rumah sakit. Iya benar, rumah sakit. Tujuan mereka sedari awal memang ke sini. Setelah memarkirkan mobil, mereka masuk ke dalam. Hingga sampailah di depan ruangan dokter Rani, dokter yang akan mereka temui.
"Kamu sudah siap untuk operasi hari ini, Natalie?" tanya dokter Rani dengan lembut.
Natalie menganggukkan kepalanya dengan sedikit ragu. Ia tersenyum tipis melihat kedua orang tuanya yang tersenyum ke padanya, seolah meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia memejamkan matanya mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa.
"Mari ikuti saya," ucap dokter Rani.
Natalie mengikuti langkah dokter Rani menuju ruang operasi. Sepanjang jalan, ia memikirkan banyak hal yang kemungkinan akan terjadi. Ia takut, kalau operasinya tak sesuai dengan harapan. Apalagi, seseorang di dalam sana sudah menunggunya begitu lama dan sekaranglah waktu yang pas untuk orang itu kembali pulih. Meskipun ia harus berkorban demi kembarannya itu. Tapi tak apa, ia rela demi kembarannya bahagia.
Selama ini, nggak ada orang yang tahu bahwa ia terlahir kembar—bahkan kedua sahabatnya sekalipun. Karena kembarannya sudah berada di rumah sakit sedari kecil tanpa mengetahui dunia luar sama sekali. Dan hari ini, adalah hari di mana dia akan segera merasakan dunia luar bagaiman.
Tepat di depan ruang operasi, Natalie memilin ujung bajunya dengan erat. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahi. Ia mengatur napasnya dalam-dalam agar merasa rileks. Tapi nggak bisa, rasa cemas sekaligus takut selalu menghampiri.
Dengan langkah ragu, ia memasuki ruang operasi. Di dalam, ia bisa melihat kembarannya yang terbaring lemah di atas ranjang pesakitan. Kulitnya yang putih. Wajahnya yang cantik. Persis seperti melihat dirinya sendiri. Yang membedakan di antara keduanya hanyalah rambut. Rambutnya yang bergelombang, sedangkan rambut kembarannya yang lurus.
"Natalie, silahkan berbaring di sini," ucap dokter Rani.
......................
Di taman kota, Nathan dan fabian duduk di bangku taman. Keduanya mampir sebelum pulang sekolah. Bahkan seragamnya pun masih belum ganti, hanya terbalut jaket yang menutupi seragam keduanya.
Mereka berdua sekedar melihat anak-anak kecil yang berlarian di area taman. Mengingatkan mereka pada saat mereka masih kecil. Dulu mereka bertiga sering bermain di taman ini, hanya sekadar main biasa. Dan sekarang mereka kembali ke sini hanya untuk bernostalgia.
"Andai Nata ada di sini, pasti seru," ucap Fabian yang tak melepaskan pandangannya pada anak kecil di depan mereka.
"Bener. Kita bisa makan es krim bareng, cerita-cerita bareng, main kejar-kejaran, pasti seru," sahut Nathan sambil membayangkan itu semua.
"Gimana kalau kita telpon aja?" usul Nathan dengan semangat.
Fabian mengangguk setuju. Nathan mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Natalie.
Tutt… Tutt… Tutt…
"Nggak di angkat."
"Coba sekali lagi," ujar Fabian.
Nathan mencoba menghubungi Natalie lagi, dan kali ini berhasil.
"Nata, Lo di mana?"
"Halo Nathan. Ini Tante, ada apa ya?"
" Tante Sarah?" batin Nathan, mengecek kembali nomor yang ia telpon.
"Bener, kok nomer Nata," ucap Nathan heran.
" Halo, Nathan?"
" Eh, iya Tan. Nata—nya di mana ya Tan?"
" Nata lagi nggak bisa di ganggu. Ada apa ya?"
"Oohh gitu ya, Tan. Sebenarnya nggak ada apa-apa sih, cuman mau ajak ke taman sama Ian. Tapi kalau emang nggak bisa, nggak apa-apa kok Tan."
"Ohh gitu. Iya, Nata—nya masih sibuk. Maaf ya."
"Iya, Tan. Yaudah, kalau gitu titip salam aja buat Nata, Tan."
"Iya. Maaf ya, sekali lagi."
"Iya, Tan."
Tutt …
"Gimana?" tanya Fabian.
"Mission fail," ucap Nathan sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Yahh, kenapa?"
"Kata tante Sarah sih, lagi sibuk. Nggak tau sibuk apa."
Fabian hanya menunduk lesu. Gagal sudah rencananya untuk quality time bareng Natalie. Padahal, ia sudah membayangkan betapa serunya hari ini kalau ada Natalie. Tapi ya, gimana lagi.
" Udah nggak usah galau gitu. Kan masih ada gue,"ucap Nathan sambil mengapit leher Fabian.
" Gimana kalau kita beli es krim aja, yuk!"
Fabian dan Nathan akhirnya memutuskan untuk membeli es krim di taman itu, sekalian memperbaiki moodnya yang sedikit rusak. Meskipun ia antara ikhlas nggak ikhlas di buatnya. Gimana nggak gitu, orang mah di mana-mana kali ngajak beli sesuatu pasti punya uang. Lah, ini? Dirinya lah yang harus membayar es krim itu karena Nathan lupa bawa uang lebih.
Hah … Nathan itu memang selalu di luar nalar kelakuannya. Untung saja dia udah kebal dengan segala tingkah sahabatnya itu, meskipun terkadang ia juga suka terbawa arus. Tapi kan itu semua karena sahabatnya itu. Untung saja ia masih mempunyai Natalie yang sedikit waras.
.
.
.
Hai semua … Kembali lagi dengan aku. Maaf ya kalau ceritanya kurang memuaskan dan agak membingungkan, karena aku pun bingung ini arahnya ke mana😌.
Tapi … aku akan mencoba untuk nyambungin kok, meskipun sedikit membingungkan. Apalagi ini juga kali pertama aku nulis di sini, hanya berbekal imajinasi yang seadanya …
Bye-bye semua, sampai jumpa di chapter berikutnya 👋👋