NovelToon NovelToon
Beyond The Castle Walls

Beyond The Castle Walls

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Kerajaan
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengejaran Takdir di Dasar Jurang

Malam itu, Istana Aethelgard diselimuti kesunyian yang mencekam, seolah-olah tembok-tembok batu itu tahu bahwa sebuah titik balik besar sedang terjadi. Putri Aurelia berdiri di depan jendela menaranya. Tak ada lagi keraguan di matanya yang dulu sering tampak murung.

Ia menanggalkan gaun sutra mewahnya, membiarkan kain mahal itu jatuh ke lantai tanpa suara, dan menggantinya dengan pakaian pengelana sederhana—pakaian yang ia beli secara sembunyi-sembunyi saat petualangan terakhirnya di pasar rakyat bersama Lucas beberapa waktu lalu.

Tanpa bantuan siapa pun, Aurelia memanjat keluar melalui jendela dan menuruni jalur rahasia di dinding istana. Ia melangkah menembus kegelapan hutan yang dingin, membawa beban rindu dan tekad untuk lepas dari belenggu takdir yang selama ini mengikatnya.

Keesokan paginya, matahari mulai merangkak naik, menyinari lorong-logong istana yang mulai sibuk. Lady Elara melangkah anggun menuju kamar adik sepupunya, berniat mengajak Aurelia untuk sarapan bersama.

*Tok! Tok! Tok!*

"Aurelia? Apakah kau sudah bangun? Matahari sudah tinggi," panggil Elara lembut. Namun, tak ada sahutan dari dalam. Elara mencoba mengetuk kembali dengan lebih keras, tetapi keheningan yang ia dapatkan justru membuat perasaannya menjadi tidak enak.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Elara mendorong pintu kamar itu.

Kamar itu kosong. Ranjangnya masih tampak rapi, namun jendela menara terbuka lebar, membiarkan angin pagi masuk dan menerbangkan tirai-tirai tipis.

Elara segera mencari ke seluruh penjuru yang mungkin didatangi Aurelia—perpustakaan, taman rahasia, hingga sudut-sudut istana lainnya—namun sosok Aurelia tetap tidak ditemukan.

Dengan napas tersengal, ia memerintahkan para pelayan untuk menyisir seluruh area, tetapi hasilnya tetap nihil. Akhirnya, dengan wajah pucat karena takut, Elara memberanikan diri menghadap sang Raja.

"Paduka Raja... mohon maaf," ucap Elara sambil membungkuk dalam di hadapan tahta yang megah. "Aurelia tidak ada di kamarnya. Sepertinya... ia telah pergi meninggalkan istana secara diam-diam."

Mendengar laporan itu, kemarahan Raja Aethelgard meledak seketika. Ia menghantam lengan tahtanya dengan keras hingga suaranya menggema di aula. "Cari dia! Kerahkan seluruh prajurit! Jangan ada yang kembali sebelum putriku ditemukan!" Perintah itu segera diikuti dengan suara derap kaki ribuan prajurit yang berangkat menyisir setiap sudut kerajaan.

Di tengah kekacauan yang terjadi, Elara teringat akan satu orang yang selalu dekat dengan Aurelia. Ia berlari menuju gudang logistik di bagian belakang istana, tempat di mana Lucas biasanya berada. Di sana, ia mendapati Lucas sedang sibuk memeriksa tumpukan karung logistik.

"Lukas!" seru Elara dengan nada menuduh yang tajam. Lucas tersentak dan segera membungkuk hormat. "Katakan padaku, apakah kau tahu ke mana adikku berada? Bukankah kau yang selalu bersama dia selama ini? Apakah kau membantunya dalam misi pelariannya?!"

Lukas tertegun, matanya membelalak kaget. "Apa maksud Anda, Lady? Tuan Putri hilang?" Lukas menggeleng cepat, wajahnya yang tadinya tenang mendadak pias dan pucat pasi. "Maaf Lady, saya benar-benar tidak tahu apa-apa. Saya juga sangat kaget dan panik mendengar kabar ini. Aurelia tidak memberitahu saya sama sekali."

Elara menyipitkan matanya, menatap tajam ke dalam mata pemuda itu. "Apakah kau yakin tidak mengetahui sama sekali? Jangan coba-coba berbohong padaku, Lukas."

"Saya yakin, Lady. Saya rela dihukum seberat-beratnya jika saya berbohong," tegas Lukas dengan suara bergetar karena rasa khawatir yang tiba-tiba menyerangnya.

Elara menghela napas panjang. "Baiklah, saya akan percaya padamu. Tapi jika kau berbohong, siap-siap saja kau untuk dihukum."

Setelah Elara pergi, kepanikan yang luar biasa menghantam dada Lukas.

Ia segera meninggalkan pekerjaannya dan berpamitan kepada ayahnya.

Dengan perasaan hancur, ia mencari Aurelia ke mana pun; ke pasar rakyat, toko kue goreng lo yang pernah mereka kunjungi, hingga menyusuri sungai di tepian kota. Namun, jejak wanita itu tetap tidak ditemukan.

Satu hari penuh telah berlalu, dan para prajurit istana kembali dengan tangan hampa. Raja berdiri di aula utama dengan wajah memerah karena murka. "Kenapa kalian tidak bisa menemukan Aurelia?! Begitu saja pekerjaan kalian, tidak becus!" teriaknya pada para jenderal.

Karena tidak sabar, Raja sendiri yang turun tangan. Ia memacu kudanya dengan kecepatan penuh, menerjang hutan lebat selama berjam-jam. Ia mencari di tempat-tempat yang paling sulit dijangkau, hingga akhirnya, ia tiba di sebuah jurang terjal yang dalam. Di dasar jurang itu, ia melihat sosok yang terkulai lemas di sela-sela semak tajam.

Raja segera menuruni lereng berbatu itu dan mengangkat tubuh Aurelia yang sudah tidak sadarkan diri. Wajah putrinya pucat pasi, tubuhnya dingin, dan pakaiannya robek. Dengan prajurit yang mengikutinya dari belakang, Raja membawa Aurelia kembali ke istana.

Di sepanjang perjalanan, sembari memeluk erat putrinya, Raja berbisik dengan suara parau yang penuh kepedihan, "Bertahanlah anakku... sebentar lagi kita akan sampai. Kau akan pulih."

Sesampainya di istana, Raja segera memerintahkan para pengawal untuk mengerahkan seluruh tabib istana. "Pastikan dia bisa menyembuhkan Putri Aurelia!" perintahnya tegas. Namun, suasana menjadi semakin mencekam ketika tiga hari berlalu dan Aurelia tetap tidak sadarkan diri.

Sang Putri tetap terkapar lemas di ranjangnya, tertidur dalam koma yang seolah tak berujung.

Di kamar menara yang hening, Raja berdiri diam di samping ranjang putrinya. Wajahnya tetap tampak dingin dan kaku di hadapan para menteri dan pengawal yang berjaga, namun di dalam hatinya, timbul kepanikan dan penyesalan yang tak terbendung. Ia menatap wajah pucat Aurelia dengan tatapan penuh permohonan yang tak terucap.

*"Bertahanlah, anakku,"* bisiknya dalam hati. *"Cepatlah sembuh... cepatlah sadar. Aku tidak mau kehilangan kamu seperti aku kehilangan ibumu lagi. Ayo, kamu pasti bisa sembuh, Aurelia."*

Raja terus berdiri di sana, menatap jari-jari putrinya yang kaku, berharap ada sedikit gerakan yang menandakan bahwa putri tunggalnya itu akan kembali padanya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!