NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan Dibabak Eliminasi

Keheningan yang menyelimuti alun-alun Desa Oakhaven setelah kemenangan satu pukulan Arlan perlahan mulai pecah oleh suara dengungan bisikan yang tidak kunjung berhenti. Para warga desa yang tadinya sangat berisik kini menatap Arlan dengan perasaan yang campur aduk antara takut dan tidak percaya. Di panggung utama, suasana jauh lebih tegang. Penyihir Agung dan ksatria zirah emas sedang terlibat dalam perdebatan serius. Mereka memeriksa kembali catatan pendaftaran Arlan, mencoba mencari celah atau penjelasan logis mengapa seorang anak dengan potensi mana nol bisa menjatuhkan pengguna berkah fisik dengan satu sentuhan ringan.

Gort, yang duduk di pojok panggung, merasa keringat dingin terus mengucur di punggungnya. Dia melihat Arlan yang sedang duduk dengan tenang di bawah pohon besar, jauh dari peserta lainnya. Gort tahu betul bahwa jika Arlan terus menang, maka posisinya sebagai kepala desa akan terancam, dan dendam Arlan akan menghancurkannya. Dia kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah ksatria penguji kedua dan membisikkan sesuatu yang terlihat sangat provokatif.

"Tuan Penguji, saya sangat curiga anak itu menggunakan alat sihir terlarang yang disembunyikan di balik pakaiannya," bisik Gort dengan nada penuh tipu daya. "Keluarga Vandermir mungkin memiliki sisa-sisa artefak kuno dari masa kejayaan mereka. Tidak mungkin ada manusia biasa yang bisa memukul dengan getaran seperti itu tanpa bantuan mana. Ini adalah kecurangan yang menghina martabat akademi kerajaan."

Ksatria zirah emas itu menoleh ke arah Gort, matanya menyipit penuh kecurigaan. Sebagai seorang ksatria yang menjunjung tinggi kehormatan, ide tentang penggunaan alat sihir dalam ujian masuk adalah hal yang sangat memuakkan baginya. Dia menatap Arlan kembali, kali ini dengan pandangan yang lebih menghakimi. Namun, Penyihir Agung di sampingnya tetap diam, mencoba meraba aura di sekitar Arlan menggunakan indra sihirnya yang sangat tajam. Pria tua berbaju biru itu merasa ada sesuatu yang tidak beres, seolah olah Arlan adalah sebuah lubang hitam yang menyerap semua deteksi sihir yang dia kirimkan.

Di sisi lain, Arlan sedang melakukan meditasi untuk mengatur kembali aliran energi di dalam tubuhnya. Meskipun pertarungan melawan Kael terlihat sangat mudah, memusatkan energi Gerbang Keempat ke satu titik jari membutuhkan kontrol saraf yang luar biasa besar. Dia bisa merasakan otot-otot di lengan kanannya sedikit berdenyut karena tekanan getaran tadi. Arlan mengambil botol air dari tasnya dan meminumnya perlahan, matanya tidak pernah berhenti mengamati panggung penguji.

"Mereka sedang merencanakan sesuatu," gumam Arlan dalam hati. Di kehidupan lamanya sebagai Adit, dia sudah sangat terbiasa membaca situasi saat para pemegang saham mulai berbisik bisik di tengah rapat. Ketika aturan yang sudah disepakati mulai dipertanyakan, itu berarti ada pihak yang merasa terancam dan ingin mengubah permainan demi kepentingan mereka sendiri. Arlan sudah siap menghadapi segala jenis sabotase.

Tiba-tiba, suara terompet kembali berbunyi, namun nadanya terdengar lebih berat dan mendesak. Wasit arena maju ke tengah lingkaran dengan selembar perkamen baru di tangannya. Pengumuman yang akan dia sampaikan akan mengubah seluruh jalannya ujian hari ini.

"Perhatian seluruh peserta! Berdasarkan keputusan dewan penguji, terdapat perubahan format untuk babak eliminasi kedua ini," teriak wasit tersebut. Suaranya bergema ke seluruh penjuru alun-alun. "Untuk menguji ketahanan dan kemampuan adaptasi kalian di medan perang yang sesungguhnya, babak eliminasi ini tidak akan dilakukan dalam format satu lawan satu. Melainkan format Pertarungan Bertahan Hidup Kelompok."

Kerumunan warga dan para peserta seketika menjadi gempar. Format ini sangat jarang dilakukan dalam ujian masuk daerah, biasanya hanya dilakukan di tahap akhir di ibu kota.

"Aturannya sederhana," lanjut wasit itu. "Sepuluh peserta akan dimasukkan ke dalam arena secara bersamaan. Hanya dua orang yang masih berdiri di dalam lingkaran yang dinyatakan lulus ke babak final. Penggunaan senjata kayu tetap diperbolehkan, dan kerja sama antar peserta tidak dilarang selama berada di dalam arena."

Arlan tersenyum dingin saat mendengar aturan baru tersebut. "Kerja sama tidak dilarang," gumamnya. Ini adalah kalimat kunci yang menunjukkan bahwa jebakan ini memang dibuat khusus untuknya. Dengan aturan ini, Julian bisa dengan mudah memerintahkan anak-anak bangsawan lainnya untuk mengeroyok Arlan terlebih dahulu sebelum mereka bertarung satu sama lain. Arlan menyadari bahwa penguji secara halus telah memberikan izin bagi para bangsawan untuk melenyapkannya secara legal di depan mata publik.

Elena, yang mendengar aturan baru itu, wajahnya menjadi sangat pucat. Dia hampir pingsan karena menyadari betapa tidak adilnya situasi ini bagi anaknya. Bagaimana mungkin satu anak tanpa berkah bisa bertahan melawan sembilan anak lainnya yang memiliki kekuatan dewa? Elena mencoba mendekati arena untuk menghentikan Arlan, namun penjaga desa segera menghalanginya dengan tombak.

Arlan berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ibunya. Dia memegang tangan Elena yang gemetar melalui pembatas kayu. "Ibu, tetaplah di sana dan jangan khawatir. Aturan ini justru menguntung kan aku. Aku tidak perlu membuang waktu bertarung sepuluh kali jika aku bisa menyelesaikan semuanya dalam satu waktu."

Elena menatap mata anaknya, mencari setitik ketakutan di sana, namun yang dia temukan hanyalah keyakinan yang sedalam samudra. "Tapi Arlan, mereka semua akan menyerang mu bersama-sama."

"Biarkan mereka menyerang," jawab Arlan tenang. "Singa tidak akan takut hanya karena sekumpulan domba mencoba berkumpul. Ibu hanya perlu menutup mata jika tidak tahan melihat apa yang akan terjadi nanti."

Arlan kembali ke barisan peserta. Dia melihat sembilan anak lainnya yang akan masuk ke arena bersamanya sedang berkumpul di sudut lain. Mereka semua adalah pengikut Julian. Salah satu dari mereka, seorang pemuda bernama Rico yang memiliki Berkah Elemen Angin, menatap Arlan dengan pandangan penuh kemenangan. Mereka sudah mendapatkan instruksi jelas dari Julian: buat Arlan cacat atau lumpuhkan dia selamanya sebelum dia bisa menyerah.

Kakek tua itu tiba-tiba muncul di belakang Arlan, bersandar di sebuah tiang kayu sambil mengunyah daging kering. "Yah, sepertinya mereka benar-benar ingin melihatmu mati, bocah. Sepuluh lawan satu di ruang sempit. Ini adalah ujian yang bagus untuk Teknik Tanpa Bayanganmu. Ingat, saat dikeroyok, jangan pernah berada di tengah. Jadikan lawanmu sebagai tameng untuk lawanmu yang lain."

Arlan mengangguk pelan. Dia sudah memikirkan strategi itu. Di dunia bisnis, saat dikeroyok oleh beberapa perusahaan besar yang mencoba melakukan akuisisi paksa, Adit selalu menggunakan strategi "adu domba". Dia akan membuat musuh musuhnya saling mencurigai satu sama lain hingga mereka menghancurkan diri mereka sendiri. Prinsip yang sama akan dia gunakan di arena ini.

"Peserta kelompok pertama, silakan masuk ke arena!" teriak wasit.

Arlan melangkah masuk ke dalam lingkaran pasir putih. Di hadapannya, sembilan anak lainnya sudah membentuk formasi setengah lingkaran, mengurung Arlan di arah belakang yang dekat dengan tali pembatas. Mereka semua memegang senjata kayu mereka dengan erat, mana mereka mulai bergejolak, menciptakan aura berwarna warni yang menyelimuti arena. Suasana menjadi sangat panas, udara di dalam lingkaran terasa sangat berat karena tekanan mana dari sembilan orang sekaligus.

Para penonton berdiri dari tempat duduk mereka, tidak ingin melewatkan momen di mana si anak pengkhianat akan dihancurkan. Julian duduk di kursinya dengan senyum lebar, tangannya memegang segelas anggur dingin. Dia sudah sangat tidak sabar untuk melihat Arlan bersimbah darah di atas pasir putih itu.

Arlan menutup matanya sejenak. Dia mengaktifkan Gerbang Keempat secara penuh. Kali ini, dia tidak lagi menyembunyikan auranya. Tekanan energi kehidupan yang sangat padat mulai terpancar dari tubuh kecil Arlan, meskipun tidak terlihat secara visual seperti mana, namun suhu di sekitar Arlan mulai meningkat secara drastis. Pasir di bawah kakinya mulai bergetar pelan.

"Mulai!" teriak wasit sambil membunyikan lonceng perunggu.

Seketika, sembilan orang itu melesat maju ke arah Arlan secara bersamaan. Rico memimpin di depan dengan kecepatan elemen anginnya, pedang kayunya bersinar hijau terang. Dari sisi kiri, dua orang anak dengan berkah kekuatan fisik mencoba melakukan serangan tabrakan, dan dari sisi kanan, serangan bola-bola api kecil mulai diluncurkan.

Arlan tidak bergerak dari tempatnya sampai serangan pertama hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Di mata para penonton, Arlan seolah olah sudah menyerah dan pasrah pada nasibnya. Namun bagi Arlan, dunia seolah olah berhenti berputar. Dia bisa melihat setiap celah di antara serangan mereka. Dia melihat bagaimana Rico terlalu condong ke depan, meninggalkan keseimbangan di kaki belakangnya. Dia melihat bagaimana serangan api itu justru akan mengenai teman mereka sendiri jika Arlan menghindar ke arah yang tepat.

"Waktunya membersihkan sampah," bisik Arlan.

Dalam satu gerakan yang sangat cepat hingga meninggalkan bayangan kabur di udara, Arlan menghilang dari posisi aslinya. Suara ledakan kecil terdengar saat serangan api dan tabrakan fisik dari sembilan orang itu justru saling bertabrakan di titik di mana Arlan berdiri sebelumnya. Mereka semua terkejut karena target mereka tiba-tiba menghilang.

"Di mana dia?!" teriak Rico panik.

"Aku di sini," suara dingin Arlan terdengar tepat di belakang telinga Rico.

Sebelum Rico bisa berbalik, Arlan sudah mendaratkan tendangan rendah ke arah sendi lututnya, diikuti dengan pukulan telapak tangan ke arah punggung. Arlan menggunakan tubuh Rico sebagai tumpuan untuk melompat ke arah peserta berikutnya. Kekacauan besar baru saja dimulai di dalam arena, dan para penguji di atas panggung hanya bisa terbelalak melihat bagaimana satu anak tanpa mana mulai mendikte jalannya pertempuran melawan sembilan pengguna sihir sekaligus.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!