''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Aku berdiri cukup lama di depan pagar rumah, membiarkan angin malam menyapu sisa-isanya suhu panas di pipiku akibat tangis tadi. Aku mengeluarkan cermin kecil dari tas, memeriksa mataku. Masih sedikit kemerahan, tapi setidaknya bengkaknya sudah berkurang.
Aku menarik napas sedalam yang kubisa, memenuhi paru-paruku dengan udara malam yang dingin, lalu mengembuskannya perlahan. Sekali, dua kali, tiga kali. Aku mencoba membuang rasa sesak yang masih mengganjal di ulu hati, mengunci rapat-rapat memori tentang Ayah dan laki-laki muda di persimpangan itu.
"Kamu kuat, Rana. Jangan biarkan Ibu melihatmu hancur," bisikku pada diri sendiri sebelum memutar kunci pintu.
Klik.
"Rana? Baru pulang, Sayang?" Suara Ibu terdengar dari arah meja makan. Beliau sedang menyesap teh hangat sambil melihat-lihat katalog kain.
"Iya, Bu. Tadi ada sedikit urusan tambahan di kantor," jawabku berusaha setenang mungkin sambil meletakkan tas di sofa. Aku sengaja langsung berjalan menuju dapur, menghindari kontak mata langsung dengan Ibu.
"Kamu sudah mampir ke showroom tadi?" tanya Ibu lagi.
Aku tertegun di depan dispenser. Showroom. Aku benar-benar melupakan niat itu setelah melihat pemandangan di persimpangan jalan tadi.
"Oh... itu, Bu. Tadi agak ramai, jadi Rana cuma lihat-lihat sebentar dari luar. Mungkin besok atau lusa saja Rana ke sana lagi," aku beralasan, sambil membasuh muka di wastafel dengan air dingin yang banyak.
Ibu menghampiriku, memberikan handuk kecil. "Wajahmu pucat sekali. Kamu yakin cuma capek kerja?"
Aku memaksakan senyum, meskipun rasanya bibirku kaku. "Iya, Bu. Biasa, klien baru banyak permintaan. Rana mau langsung mandi saja ya, Bu."
Aku hampir berlari menuju kamar sebelum Ibu bertanya lebih jauh. Di dalam kamar, aku menyandarkan tubuh di balik pintu yang tertutup. Dadaku masih berdenyut nyeri. Aku teringat bagaimana Ayah tertawa lebar merangkul anak itu—sesuatu yang sudah tidak pernah aku lihat lagi selama lima tahun terakhir.
Di sisi lain, bayangan Farez yang duduk diam di sampingku di taman tadi juga terus berputar. Dia tidak bertanya, tidak menghakimi, dia hanya memberiku ruang untuk hancur. Kenapa dia harus ada di sana? Kenapa dia seolah tahu kapan duniaku sedang runtuh?
Malam itu, aku berbaring menatap langit-langit kamar. Aku merasa sangat lelah. Lelah berpura-pura kuat di depan Ibu, lelah membenci Ayah, dan lelah menolak kehadiran Farez yang perlahan mulai terasa seperti satu-satunya tempat yang "aman" saat aku tidak tahu harus lari ke mana.
Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menyimpan semua ini sendirian. Aku hanya ingin tidur, berharap besok saat terbangun, bayangan Ayah di persimpangan jalan itu hanyalah sebuah mimpi buruk yang tidak nyata.
Sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela kantor tidak lantas menghangatkan hatiku yang masih terasa membeku. Aku melangkah masuk ke lobi dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung, sekadar untuk menyembunyikan sisa sembab yang tidak bisa ditutupi oleh concealer.
"Pagi, Mbak Rana!" sapa Maya, sekretarisku, yang sudah berdiri di depan meja kerjaku dengan wajah penuh semangat.
"Pagi, May," jawabku singkat sembari meletakkan tas.
"Mbak, Pak Hanan baru saja pesan, ada jadwal meeting mendadak satu jam lagi. Ini klien besar, Mbak. Katanya, kalau proyek ini tembus, perusahaan kita bakal jadi konsultan utama untuk ekspansi nasional mereka."
Aku mengerutkan kening, mencoba mengesampingkan rasa penat di kepala. "Klien baru? Dari perusahaan mana?"
"Grup tekstil raksasa, Mbak. Namanya Wira Pratama Holdings. Mereka butuh strategi rebranding untuk lini butik premium mereka. Dan sebagai asisten manajer, Pak Hanan mau Mbak Rana yang pegang kendali presentasi teknisnya."
Aku mengangguk profesional. Pekerjaan selalu menjadi pelarianku yang paling ampuh. "Oke. Siapkan berkas profil perusahaan mereka. Aku mau pelajari dulu sebelum masuk ruangan."
Satu jam kemudian, aku sudah berdiri di depan pintu ruang rapat utama. Aku menarik napas panjang, menata kembali topeng ketangguhanku. Tidak peduli seberapa hancur perasaanku semalam karena melihat Ayah, atau seberapa bingungnya aku karena sikap Farez di taman, saat ini aku adalah seorang profesional.
Pintu terbuka. Pak Hanan tampak sedang berbincang akrab dengan dua orang laki-laki yang duduk membelakangiku.
"Ah, ini dia asisten manajer terbaik kami, Rana Anindita Putri," suara Pak Hanan menggema bangga.
Laki-laki yang duduk paling dekat dengan Pak Hanan berdiri dan berbalik. Aku terpaku. Detak jantungku yang tadi sudah stabil, kembali berantakan.
Laki-laki muda itu. Laki-laki yang kemarin sore kulihat berangkulan mesra dengan Ayah di persimpangan jalan.
"Selamat pagi, Ibu Rana. Saya Bagaskara, manajer operasional dari Wira Pratama," ucapnya sambil mengulurkan tangan. Senyumnya begitu ramah, tipe senyum tulus yang sangat mirip dengan milik Ayah.
Di belakangnya, seorang pria paruh baya juga ikut berdiri. Bukan Ayah, tapi asistennya. Namun, nama perusahaan itu—Wira Pratama—seketika membuat otakku bekerja cepat. Wira adalah nama tengah Ayah.
Tanganku yang berada di samping tubuh mengepal kuat hingga kuku-kukuku memutih. Dunia seolah sedang mempermainkanku. Belum sempat aku memproses kembalinya Farez, kini takdir justru menyeretku ke dalam pusaran keluarga baru Ayah melalui jalur pekerjaan.
"Ibu Rana?" panggil Bagaskara lagi, masih dengan tangan terulur dan tatapan bingung karena aku hanya mematung.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Dingin menjalar dari telapak kakiku hingga ke dada. Di hadapanku sekarang berdiri anak laki-laki yang menjadi alasan hancurnya duniaku lima tahun lalu, dan ironisnya, dialah klien besar yang harus kuservis dengan baik demi keberlangsungan karierku.
"Senang bertemu Anda, Pak Bagaskara," jawabku dengan suara yang kupaksakan agar tidak bergetar, meski hatiku rasanya ingin berteriak saat itu juga.