NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Loker 404 dan Kebohongan Sistem

 Cahaya senter ungu di tangan Arga bergetar hebat. Ia mencengkeram kunci peraknya dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Di depannya, sosok Dokter bedah gila itu mulai melayang rendah di udara. Jas putihnya berkibar kencang meski tidak ada angin yang bertiup di ruangan tertutup itu. Pisau bedah perak di tangannya memancarkan aura sedingin es yang terasa tajam, seolah mampu memotong jiwa bukan hanya sekadar daging dan tulang.

"Lintang, ambil jantungnya! Cepat!" teriak Arga.

Tanpa menunggu jawaban, Arga menghantamkan tinjunya sekuat tenaga ke lantai keramik laboratorium. Energi Indigo yang meluap karena amarahnya menciptakan gelombang kejut tak kasat mata yang menyebar ke segala arah.

BRUK!

Satu per satu toples-toples besar berisi organ pengawet di sekeliling ruangan meledak dan pecah berkeping-keping. Cairan formaldehida tumpah ruah membasahi lantai, menciptakan aroma menyengat yang membuat mata perih dan sesak napas.

Dokter itu mendesis marah. Gerakannya sangat cepat bagaikan kilat. Ia menerjang langsung ke arah Arga dengan pisau tajamnya.

SRAK!

Bilah besi itu hanya tertahan beberapa milimeter saja dari leher Arga. Beruntung saat itu Lintang bertindak cepat. Ia melemparkan sebuah botol kimia berisi cairan reaktif tepat ke arah wajah sang dokter.

DOR!

Ledakan kecil terjadi dan asap hijau pekat mengepul, menyelimuti pandangan makhluk itu.

"Dapat!" seru Lintang. Ia dengan sigap menyambar wadah kaca besar berisi jantung Raka yang masih berdenyut kencang itu.

"Lari ke koridor sayap timur! Sekarang!" perintah Arga sambil menarik tangan Lintang untuk segera kabur keluar dari pintu belakang.

Mereka membanting pintu baja itu hingga tertutup rapat. Namun dari balik dinding besi itu, terdengar suara tawa menyeramkan yang bergema di seluruh saluran pipa gedung. Sang dokter tidak mengejar mereka. Justru ketidakhadiran kejaran itulah yang membuat hati Arga merasa sangat tidak tenang. Seolah-olah mereka baru saja dilepaskan secara sengaja untuk masuk ke dalam jebakan yang jauh lebih besar.

Mereka berlari menembus koridor yang semakin gelap dan dingin. Suara langkah kaki mereka bergema keras, namun ada suara lain yang mulai menyusup masuk ke telinga mereka di antara deru napas yang memburu. Sebuah suara halus, menyayat hati, dan penuh keputusasaan.

Huuuu... huuuu... tolong... panas... panas sekali...

Suara itu berasal dari deretan loker siswa yang sudah tua dan berkarat yang berjajar rapi di sepanjang dinding koridor sayap timur. Cat biru pada pintu-pintu loker itu sudah banyak yang mengelupas, terlihat seperti kulit manusia yang melepuh terbakar. Saat mereka berdua melintas, pintu-pintu besi itu mulai bergetar hebat seolah ada yang ingin mendobrak keluar dari dalam.

BRAK! BRAK! BRAK!

"Jangan berhenti, Arga!" Lintang memperingatkan dengan wajah pucat pasi. "Ini adalah Koridor Penyesalan. Murid-murid yang gagal dalam eksperimen Sang Arsitek dibuang dan dikurung hidup hidup di dalam loker-loker ini."

Namun langkah kaki Arga tiba-tiba melambat dan akhirnya berhenti total. Matanya tertuju pada satu loker yang berbeda dari yang lain. Loker nomor 404.

Loker itu tidak bergetar sama sekali. Tidak ada suara hantaman dari dalam. Hanya terdengar isakan tangis pelan yang sangat akrab dan familier di telinganya.

"Arga... itu kau, ya?" bisik sebuah suara lembut keluar dari celah pintu besi itu.

Tubuh Arga membeku. Suara itu adalah suara Raka. Kakaknya sendiri. Tapi bagaimana mungkin? Bukankah jantung Raka ada di tangan Lintang saat ini, dan tubuh fisiknya ada di meja operasi milik dokter gila tadi?

"Arga, jangan dengarkan! Itu cuma The Mimic! Penipu!" Lintang mencoba menarik lengan Arga agar segera pergi, namun tubuh Arga seolah terpaku dan tidak bisa digerakkan.

"Raka? Kakak? Kau di dalam sana?" tanya Arga dengan suara yang bergetar hebat.

"Sakit sekali, Arga... mereka mengunci ingatanku di sini... tolong bukakan pintunya... aku ingin keluar..." bisik suara itu lagi dengan nada memohon yang sangat menyedihkan.

Mata Arga tertuju pada kunci perak di tangannya. Kunci itu tiba-tiba bersinar dengan cahaya merah redup, seolah-olah ditarik secara magnetis menuju lubang kunci loker 404. Tanpa sadar dan tanpa berpikir panjang, Arga memasukkan kunci itu dan memutarnya.

KLIK.

Pintu besi itu terbuka perlahan dengan bunyi berdecit panjang.

Isinya bukan buku pelajaran atau tas sekolah. Bagian dalam loker itu ternyata adalah sebuah lorong dimensi yang gelap dan tak berujung. Di tengah kegelapan itu, terlihat seorang anak laki-laki kecil. Itu adalah Raka saat masih berusia sepuluh tahun. Ia duduk meringkuk sambil memeluk lututnya erat-erat. Wajahnya basah oleh air mata. Di sekelilingnya terdapat ribuan foto kenangan yang melayang-layang, semuanya memperlihatkan momen-momen indah masa kecil Arga dan Raka.

"Ini bukan Raka yang sekarang," batin Arga tersadar. "Ini adalah jiwanya yang murni... ingatan aslinya yang dipisahkan."

Tiba-tiba, dari kegelapan pekat di belakang punggung sosok Raka kecil, muncul puluhan tangan-tangan hitam panjang yang menyerupai asap tebal. Tangan-tangan itu merayap cepat dan mulai menarik tubuh Raka kecil masuk lebih dalam ke jurang kegelapan.

"JANGAN!" teriak Arga histeris.

Tanpa ragu sedikitpun, Arga melompat dan menerobos masuk ke dalam pintu loker itu.

"ARGA! JANGAN!" teriak Lintang panik, namun terlambat. Arga sudah lenyap tertelan oleh ruang dimensi aneh di dalam loker 404.

Arga merasa seperti sedang jatuh bebas ke dalam sumur tanpa dasar yang dipenuhi oleh suara tangisan dan erangan kesakitan ribuan arwah. Ia meraih tangan Raka kecil, namun tangannya menembus begitu saja sosok itu seolah-olah Raka hanyalah asap tipis.

Arga kini mengerti. Loker 404 bukan sekadar penjara. Itu adalah tempat penyimpanan memori yang sengaja dipisahkan dari tubuh asli agar tubuh Raka bisa diisi dan dikuasai oleh entitas lain yang jauh lebih jahat.

"Arga... kau tidak seharusnya ada di sini..." Raka kecil menoleh ke arahnya. Matanya tidak memiliki pupil hitam, melainkan hanya berisi cahaya putih terang yang menyilaukan. "Jika kau masuk terlalu dalam ke sini, tidak ada satu pun yang bisa membuka pintu ini dari luar dan kau akan terjebak selamanya."

"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian di sini, Kak!" jawab Arga tegas.

Arga lalu memusatkan seluruh konsentrasinya. Ia menggunakan kemampuan Indigo-nya untuk menciptakan cahaya terang di sekeliling tubuhnya. Di bawah cahaya itu, ia melihat dengan jelas bahwa tangan-tangan hitam penarik itu berasal dari sebuah mesin raksasa di dasar dimensi tersebut. Sebuah mesin tik besar yang terus menerus mengetikkan nasib dan takdir para murid di SMA Nusantara.

Setiap kali tombol mesin itu mengetuk, muncul suara tangisan baru dari dalam loker-loker lain di koridor luar.

Arga menyadari satu hal penting. Loker 404 adalah sebuah kesalahan atau error dalam sistem sekolah ini. Ini adalah bagian yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh Sang Arsitek karena di dalamnya terkandung ikatan kasih sayang saudara yang murni dan tulus.

Arga berjalan mendekat dan mendekap sosok bayangan Raka kecil itu dengan sangat erat.

"Aku bukan datang untuk membukamu keluar, Kak," bisik Arga. "Aku datang untuk membawamu pulang bersamaku."

Ia lalu memutar kunci peraknya di udara kosong di dalam dimensi itu seolah-olah sedang memutar sebuah kunci maya. Seketika itu juga seluruh ruang dimensi bergetar hebat. Foto-foto kenangan yang melayang di sekitar mereka mulai terbakar api biru, melepaskan energi murni yang menghancurkan dan membakar habis tangan-tangan bayangan penghisap itu.

Di luar sana, di koridor nyata, Lintang berjuang mati-matian menahan pintu loker agar tidak tertutup rapat dan mengunci Arga di dalam selamanya. Makhluk-makhluk menyeramkan dari loker-loker lain mulai merangkak keluar, sosok-sosok tanpa wajah yang ingin merebut jantung Raka yang dibawanya.

BOOOOM!

Sebuah ledakan besar cahaya putih menyembur keluar dari mulut loker 404. Arga terlempar keluar dan jatuh terbanting ke lantai koridor. Di telapak tangannya kini terdapat sebuah bola cahaya kecil yang hangat dan bersinar terang. Sosok Raka kecil telah menghilang, berubah menjadi inti memori murni yang kini terbang dan menyatu dengan jantung yang dipegang Lintang.

"Kau benar-benar gila..." napas Lintang tersengal-sengal. Wajahnya penuh luka goresan dan keringat dingin. "Kau hampir saja hilang selamanya dan tidak bisa kembali."

"Tapi aku berhasil mendapatkan kembali ingatannya," jawab Arga pelan. Ia berdiri dengan tubuh yang terasa sangat lemas dan hampa.

Tiba-tiba suara tangisan dan erangan di seluruh koridor itu berhenti total. Keheningan yang mencekam menyelimuti suasana. Pintu-pintu loker yang tadi bergetar hebat kini terbuka lebar secara serentak. Namun tidak ada satu pun murid atau hantu di dalamnya. Hanya ada kekosongan yang gelap dan dingin.

Dari ujung lorong yang gelap, terdengar suara langkah sepatu pantofel yang berat dan berirama.

Tap... tap... tap...

Reno, sang Ketua Osis Malam, muncul perlahan dari balik kabut tebal. Namun kali ini ia tidak datang sendirian. Di belakangnya berdiri barisan sosok-sosok tinggi besar berjubah hitam yang masing-masing memegang sabit panjang mengerikan. Mereka adalah Para Penjaga Ketertiban.

"Arga, Lintang," ucap Reno dengan nada suara yang sangat tenang namun terasa mematikan. "Kalian telah merusak arsip memori sekolah. Tindakan pelanggaran seberat ini tidak bisa dimaafkan. Serahkan jantung itu sekarang juga, atau kalian akan menjadi penghuni tetap permanen di loker 405 dan 406."

Arga mengepalkan tangannya erat-erat. "Reno... jadi kau memang bagian dari mereka selama ini?"

Reno hanya tersenyum tipis dan menyesuaikan letak kacamata berbingkai peraknya. Lencana di dadanya kini telah berubah warna menjadi hitam pekat pekat tanpa cahaya sedikitpun.

"Aku adalah bagian dari sistem yang menjaga tempat ini agar tetap berdiri tegak," jawab Reno dingin. "Dan sebuah sistem... tidak boleh ada yang merusaknya."

1
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
Cleo
gantung banget tor/Frown/
papi junkyung
mana lagi ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!