Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Harsa berdiri di dekat jendela, menatap gedung-gedung tinggi di luar sana tanpa benar-benar melihat apa pun. Ponselnya masih berada dalam genggaman, sementara pikirannya terus berputar. Pembatalan kerja sama itu terlalu tiba-tiba.
Harsa menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.
“Tidak … ini hanya kebetulan,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri sendiri. Ia tidak ingin mempercayai hal-hal seperti itu. Terlalu tidak masuk akal. Namun, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal.
Tok … tok…
Ketukan pintu kembali terdengar.
“Masuk,” ucap Harsa, kali ini lebih pelan.
Pintu terbuka, dan Rina kembali masuk ke dalam ruangan. Kali ini tanpa berkas, hanya dengan ekspresi serius yang seolah sudah mengetahui sesuatu.
“Pak Harsa,” panggilnya hati-hati.
Harsa menoleh. “Ada apa?”
Rina melangkah mendekat. “Saya baru dengar … tentang pembatalan kerja sama itu.”
Harsa menatapnya sejenak. “Dari siapa?”
“Bagian keuangan tadi membicarakannya,” jawab Rina. “Saya cukup terkejut.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Padahal selama ini … mitra itu termasuk yang paling stabil. Tidak pernah tiba-tiba seperti ini.”
Harsa mengangguk pelan. “Saya juga tidak mendapatkan penjelasan yang jelas.”
Rina terlihat berpikir.
“Ini aneh, Pak,” katanya kemudian. “Sangat tidak biasa.”
Harsa menyandarkan tubuhnya ke meja. “Saya tahu.”
Keheningan singkat terjadi.
Rina menatap Harsa dengan ekspresi serius, lalu berkata pelan, “Maaf kalau saya mengulang … tapi tadi yang saya katakan—”
Harsa langsung memotong, “Jangan mulai lagi, Rina.”
Rina mengangkat kedua tangannya sedikit, seolah menyerah. “Baik, saya tidak akan membahas itu.”
Rina kemudian mengalihkan topik dengan cepat. “Kalau begitu, kita fokus ke solusinya.”
Harsa menatapnya. “Maksudmu?”
“Saya punya kenalan di perusahaan mitra itu,” ujar Rina. “Manager operasionalnya. Kami pernah bekerja sama dulu.”
Harsa sedikit tertarik. “Kamu bisa menghubunginya?”
Rina mengangguk mantap. “Saya akan coba.”
Ia mengeluarkan ponselnya, lalu berkata, “Kalau kita bisa bertemu langsung, mungkin kita bisa tahu alasan sebenarnya di balik pembatalan ini.”
Harsa terdiam sejenak, mempertimbangkan.
“Itu lebih baik daripada hanya menunggu,” lanjut Rina.
Beberapa detik kemudian, Harsa mengangguk. “Baik, coba hubungi dia.”
Rina tersenyum tipis, ada kepuasan yang samar di wajahnya. “Saya akan usahakan secepat mungkin.”
Ia mulai mengetik sesuatu di ponselnya, lalu berkata, “Kalau memungkinkan, saya akan atur pertemuan hari ini atau besok.”
“Secepatnya,” balas Harsa tegas.
“Baik, Pak.”
Rina menurunkan ponselnya, lalu menatap Harsa sejenak sebelum berkata dengan nada lebih lembut,
“Tenang saja, Pak. Kita pasti bisa menemukan jalan keluarnya.”
Kalimat itu terdengar profesional. Namun, entah kenapa terasa lebih personal. Harsa hanya mengangguk.
“Terima kasih,” ucapnya singkat.
Rina tersenyum kecil. “Itu sudah tugas saya.”
Namun, sebelum berbalik pergi, ia menambahkan pelan,
“Dan … saya tidak ingin melihat Bapak menghadapi ini sendirian.” Lalu ia keluar dari ruangan.
Pintu tertutup.
“Fokus, Harsa,” gumamnya.
Harsa mencoba kembali fokus pada pekerjaannya, namun pikirannya masih terusik oleh pembatalan kerja sama yang datang tiba-tiba. Setiap lembar dokumen yang ia buka terasa sulit untuk dicerna.
Tok … tok…
Ketukan pintu kembali terdengar.
“Masuk,” ucap Harsa singkat.
Pintu terbuka, dan Rina masuk dengan langkah cepat. Kali ini, ekspresinya terlihat lebih serius namun juga menyimpan sesuatu seperti kabar yang telah ia tunggu.
“Pak Harsa,” ujarnya.
Harsa langsung mengangkat pandangan. “Bagaimana?”
Rina mendekat beberapa langkah. “Saya sudah menghubungi manager dari pihak mereka.”
Harsa menegakkan duduknya. “Dan?”
“Mereka bersedia bertemu,” jawab Rina tegas.
Harsa langsung fokus penuh. “Kapan?”
Rina menarik napas pelan sebelum menjawab, “Malam ini.”
Hening sejenak.
“Malam ini?” ulang Harsa.
Rina mengangguk. “Iya, mereka bilang ingin membahas langsung alasan pembatalan kerja sama ini. Sepertinya … memang ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan secara pribadi.”
Harsa terdiam sejenak, lalu tanpa ragu berkata, “Saya akan datang.”
Rina menatapnya, memastikan. “Jadwal Bapak tidak masalah?”
“Tidak,” jawab Harsa tegas. “Ini lebih penting.”
Rina mengangguk kecil. “Baik, saya akan atur semuanya.”
Ia kemudian melanjutkan, “Lokasinya di sebuah restoran hotel. Mereka memilih tempat yang cukup privat.”
Harsa berdiri dari kursinya. “Kirimkan detailnya ke saya.”
“Sudah saya kirim ke ponsel Bapak,” jawab Rina.
Harsa mengambil ponselnya, melihat pesan yang baru masuk. Ia membaca sekilas, lalu mengangguk.
“Jam berapa?” tanyanya.
“Pukul delapan malam,” jawab Rina. “Saya akan ikut mendampingi.”
Harsa menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Baik.”
Rina tersenyum tipis. “Kita akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Nada suaranya terdengar yakin.
Namun, di balik itu, ada sesuatu yang lebih halus dan seolah ia memang ingin berada di situasi itu bersama Harsa.
“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak,” ucap Rina.
Harsa hanya mengangguk. “Terima kasih, Rina.”
Rina berbalik dan berjalan keluar dari ruangan.
Pintu tertutup.
Harsa menghela napas panjang. “Ini hanya bisnis,” gumamnya.
Sementara itu, di luar ruangan Rina berjalan menyusuri koridor dengan langkah tenang. Ponselnya kembali ia lihat, memastikan pesan yang ia kirim telah diterima.
Senyum tipis kembali terukir di wajahnya.
“Malam ini…” bisiknya pelan. Langkahnya berhenti sejenak.
“Semuanya akan dimulai,”
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂