NovelToon NovelToon
The End Of Before

The End Of Before

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.

Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.

Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.

Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.

Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?

🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#27

Matahari pagi merayap masuk melalui celah gorden apartemen Logan, namun pria itu sama sekali tidak berniat untuk beranjak. Biasanya, hal pertama yang ia lakukan saat membuka mata adalah menyambar ponsel, mengirimkan rentetan pesan "Selamat pagi" yang manis, dan menunggu balasan Vivian dengan debar jantung yang tak beraturan.

Tapi pagi ini, ponsel itu tergeletak bisu di atas nakas.

Logan menatap langit-langit kamarnya yang tinggi. Bayangan wajah Vivian yang tampak dingin dan kata-katanya yang tajam sore kemarin terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

'Intensitas mu melelahkan, Berhenti mengirim pesan setiap lima menit'.

Ia meraih ponselnya sejenak, melihat notifikasi pesan yang masuk semalam dari Vivian. Ia bisa melihat cuplikan pesannya tanpa harus membukanya—permintaan maaf singkat karena stres pekerjaan.

Logan menghela napas panjang, lalu meletakkan kembali benda itu dengan layar menghadap ke bawah.

"Aku akan memberinya ruang," gumam Logan pada kesunyian kamar. "Mungkin dia benar. Aku terlalu berlebihan."

Logan mengakuinya, ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dengan Elena dulu, ia adalah pihak yang dikejar. Ia adalah pria yang memberikan perhatian secukupnya. Namun dengan Vivian, ada ketakutan bawah sadar yang membuatnya ingin terus memastikan bahwa wanita itu masih di sana, masih miliknya, dan tidak akan menghilang seperti kabut.

Hari itu, untuk pertama kalinya sejak semester dimulai, sang kapten basket tidak muncul di kampus. Ia mengabaikan panggilan telepon dari teman-teman timnya, mengabaikan jadwal latihan, dan hanya berbaring di apartemennya. Ia merasa seolah energinya terkuras habis bukan karena latihan fisik, melainkan karena menahan diri untuk tidak menghubungi Vivian.

Di sisi lain kota, di gedung perkantoran mewah miliknya, Vivian Wheeler sama sekali tidak bisa bekerja. Dokumen-dokumen penting di depannya seolah berubah menjadi tumpukan kertas tanpa makna. Matanya terus melirik ke arah ponsel yang tetap hening. Tidak ada pesan konyol, tidak ada foto makanan yang dikirim Logan, tidak ada suara bariton yang manja.

Keheningan ini, yang awalnya sangat ia dambakan, kini justru terasa seperti siksaan.

"Apa dia benar-benar marah?" bisik Vivian pada dirinya sendiri. "Dasar bocah. Hanya karena dibilang lelah saja sudah menghilang seperti ini."

Namun, di dalam hatinya, Vivian mulai panik. Ia menyadari bahwa ia telah melukai kebanggaan pria yang telah menyerahkan seluruh perhatiannya tanpa syarat.

Jam menunjukkan pukul tiga sore, dan kegelisahan Vivian sudah mencapai puncaknya. Ia tidak bisa menunggu hingga jam pulang kantor tiba.

"Sarah," panggil Vivian melalui interkom. "Aku akan pulang cepat hari ini. Batalkan semua janji setelah ini."

Vivian segera menyambar tasnya dan berlari menuju parkiran. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tidak biasa menuju apartemen Logan.

Sepanjang jalan, pikirannya berkecamuk. Bagaimana jika Logan mengusirnya? Bagaimana jika pria itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka?

Sampainya di depan pintu apartemen Logan, Vivian berhenti sejenak. Ia tidak mengetuk. Ia merasa terlalu bersalah untuk sekadar membuat suara. Menggunakan kode akses yang pernah diberikan Logan padanya, ia masuk dengan sangat hati-hati.

Apartemen itu sunyi, aroma maskulin yang akrab menyambutnya, namun terasa dingin karena kurangnya kehidupan. Vivian melangkah menuju kamar utama. Pintu kamar itu sedikit terbuka.

Ceklek.

Vivian mendorong pintu itu perlahan. Di sana, di atas ranjang yang berantakan, Logan masih berbaring. Ia bertelanjang dada, memperlihatkan punggungnya yang bidang dan kokoh, wajahnya terbenam sebagian di balik bantal. Tampaknya ia tertidur setelah seharian bergelut dengan pikirannya sendiri.

"Logan..." panggil Vivian lembut.

Tidak ada jawaban. Dada Logan naik turun dengan teratur, menandakan ia masih terlelap.

Vivian mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia menatap wajah kekasihnya yang tampak lebih tenang saat tidur—bebas dari senyum nakal atau tatapan tajam.

"Logan, kau harus bangun. Ini sudah sore."

Logan menggeliat sedikit, suaranya keluar dalam gumaman serak yang tidak jelas. "Sebentar, Mommy... aku masih mengantuk..."

Vivian tertegun sejenak, lalu sebuah senyum tipis yang tulus merekah di bibirnya. Rasanya lucu sekaligus menghangatkan hati mendengar Logan dalam kondisi setengah sadar memanggilnya 'Mommy'—mungkin karena otaknya masih terhubung dengan drama kehamilan palsu mereka.

"Ow, jadi sekarang aku jadi mommy-mu? Bukan lagi ibu dari anakmu?" goda Vivian, suaranya sengaja diletakkan tepat di dekat telinga Logan.

Deg.

Mendengar suara yang sangat ia rindukan itu, kesadaran Logan kembali dalam sekejap. Ia mematung, lalu dengan gerakan cepat langsung terduduk tegak di atas ranjang. Matanya yang sayu karena baru bangun tidur membelalak menatap Vivian.

"Sayang? Kau... kau di sini?" tanya Logan terbata-bata.

Namun, hanya dalam hitungan detik, ingatan tentang kejadian sore kemarin kembali menghampirinya. Ingatan tentang bagaimana ia ditolak, bagaimana perhatiannya disebut "melelahkan".

Logan segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin dan kaku. Ia membuang muka, mencoba mencari kemejanya yang tergeletak di lantai untuk menutupi dadanya yang terekspos.

"Untuk apa kemari? Bukankah keberadaanku membuatmu lelah?" tanya Logan dengan suara yang dipaksakan sedatar mungkin.

Vivian ingin tertawa melihat wajah itu. Logan yang biasanya dominan kini tampak seperti remaja yang sedang merajuk, namun tetap terlihat sangat menggoda. Alih-alih merasa kesal dengan sikap dingin Logan, Vivian justru memutuskan untuk menggunakan cara Logan sendiri.

Jika Logan bisa menjadi kekanakan karena marah, maka ia akan menjadi kekanakan untuk merayunya.

Tiba-tiba, Vivian menjatuhkan dirinya ke pelukan Logan, melingkarkan lengannya di leher pria itu dengan sangat erat, mengabaikan fakta bahwa ia masih mengenakan pakaian kantor yang rapi.

"Aku merindukanmu, Logan. Sangat merindukanmu," bisik Vivian manja, menyandarkan wajahnya di bahu Logan yang hangat.

Logan tertegun. Ia mematung dalam pelukan Vivian, tangan yang tadinya hendak mendorong pelan justru membeku di udara. Ia tidak menyangka wanita sehebat Vivian Wheeler bisa bersikap semanja ini.

"Kau... kau sakit?" tanya Logan dengan nada curiga, meski ia tidak bisa menyembunyikan getaran di suaranya.

Vivian menggelengkan kepalanya di bahu Logan, justru semakin mempererat pelukannya. "Aku hanya sadar kalau apartemenku terasa seperti gua yang dingin tanpa pesan-pesan konyol darimu. Aku sadar kalau aku tidak suka ruang napas yang terlalu luas."

Logan menghela napas panjang, pertahanan dinginnya runtuh seketika. Ia tidak bisa menahan diri lagi. Ia membalas pelukan Vivian, membenamkan wajahnya di rambut Vivian yang harum.

"Kau jahat, Vivian," bisik Logan parau. "Kau membuatku merasa seperti pria paling menyedihkan di dunia kemarin."

Vivian melepaskan pelukannya sedikit, menatap mata Logan dengan tatapan yang penuh dengan penyesalan sekaligus cinta. "Maafkan aku, Bocah. Aku hanya... aku belum terbiasa dicintai dengan cara sehebat itu."

Melihat wajah Vivian yang begitu dekat, dengan bibir yang sedikit mengerucut dan mata yang tulus, Logan merasa gemas yang luar biasa. Gengsinya menguap sepenuhnya, digantikan oleh gairah yang kembali tersulut.

"Kau harus membayar semua waktu yang hilang hari ini, Sayang," ucap Logan dengan suara bariton yang seksi.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Vivian untuk menjawab, Logan menarik tengkuk Vivian dan mencium bibirnya dengan penuh perasaan.

Ciuman itu tidak lagi menuntut seperti di ruang loker, melainkan sebuah ciuman yang dalam, lambat, dan penuh dengan kerinduan yang akhirnya menemukan pelabuhannya.

Logan menggigit bibir bawah Vivian dengan lembut, membuat wanita itu mengeluarkan desahan pelan yang memicu adrenalinnya.

Di tengah sore yang hangat di apartemen itu, konflik dan ego mereka meleleh menjadi satu dalam sebuah ciuman yang menjadi janji baru: bahwa kedewasaan bukan tentang menjaga jarak, tapi tentang bagaimana dua hati yang berbeda usia bisa saling melengkapi dalam satu ritme yang sama.

1
Ita Putri
kalo gk salah setting ceritanya di los angeles ya Thor
gimana bisa ada gunung Argopuro ya
Ros 🍂: ma'aciww sudah ingat kan kak🙏 Bisa-bisanya jadi ke Jawa Timur 🤣😭🙏🙏🙏
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Keputusan Logan yg terbaik utk kluarga 👍👍👍
ren_iren
pokoknya dar der dorrr🤭😂
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Aduh, Daddy udh tau ini 🙈🙈🙈
Ros 🍂: apa GBU kak🥹🙏
total 9 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Biar cinta segi4 mreka mnemukan jalan keluar terbaik wlau hrs mlewati neraka 🙈🙈🙈
Ros 🍂: ngakak ya tuhan 🤣🤣
total 5 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Dad, Mom, itu Kedua Putra Putri kalian udh mlakuan ksalahn & mnyebabkn Flo hancur 🤦🤦🤦
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④: Ok, Ade ❤️🤗😘
total 9 replies
Nasya Sifa Aura
sdh lu tebak apa elowen tau y klau itu bkn kk kandung ny
Ros 🍂: ayo main tebak-tebakan kak😭🤣🤣🙏
total 1 replies
Ros 🍂
Nah Benar.🥰🤣
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Tnyata oh tnyata, Elowen ...
Ros 🍂: Huhuhu terharu 🥹😭🤣
total 5 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Jd inget Kartun, Flo & Al sperti Tom & Jerry 🤦🤦🤦
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④: Bener, Ade 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Moveee, Felix, klo gk mau, cwe yg kau cintai direbut Ade mu 🤦🤦🤦
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Blummm... msh otw jd kekasih 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④: Hi hi 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Wkwkwkw siapa yg pernah ke neraka 🤭🤭🤭
ren_iren
nah loh bau bau huru hara akan terjadi.... 🤭
Ros 🍂: Wkwkw siapkan diri kak 🤣🙏🥰
total 1 replies
Dev..
Vivian keterlaluan banget, dia dominan di hubungkan pernikahan, padahal harusnya ada proses diskusi utk ambil keputusan..😌
Ros 🍂: Nah benar kak🥰
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Logan gk mau Putra ny mngalami hal yg sama sperti diri ny dulu 👍👍👍
Ros 🍂: Benar kak🥰
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Aduh, Logan, ini Putra mu, bikin 'mual' 🤣🤣🤣
Ros 🍂: besar dimulut kak😭🥰
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Auuu auuu suka hewan purba ternyata 🤭🤭🤭
Ros 🍂: cap Dino nggak tuh 🫶🤣
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
thor aku blm, ngantuk msh di tggu up selanjut ny
Ros 🍂: kak🫶🥰
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Jd kacian liat nasib Flo 😔😔😔
Ros 🍂: huhu 🥹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!