NovelToon NovelToon
Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Jumling

Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.

Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jaminan

"Carla itu sudah menjadikan mu jaminan. Dia mengambil banyak uang dariku," jelas pria yang hampir botak itu.

"Apa?!" 

Rayya terkejut mendengar kenyataan tersebut. Dalam keadaan nya yang terborgol, kedua tangan Rayya mengepal kuat.

'Apa dia pikir aku ini bahan mainan!' batin Rayya mengingat lagi bagaimana Carla sudah pernah melakukan hal yang sama pada Rayya.

Pertama Marsel, sekarang pria botak gendut yang Rayya tidak tahu siapa.

'Riko, kenapa Mamamu terus memperlakukan ku begini'

Rayya mengingat masa-masa indah nya bersama Riko saat masih pacaran. Seandainya dia tidak menjalin hubungan dengan pria itu, mungkin hal yang menimpanya kini tidak akan pernah terjadi.

"Bawa dia ke lokasi," perintah pria botak itu pada para bawahannya. Kali ini Rayya memberontak tapi karena Ia di seret oleh dua orang pria sekaligus membuat Rayya tidak bisa melawan, kekuatan yang dirinya miliki tidak sebanding.

___________________

"Lepaskan. Apa yang mau kalian lakukan padaku!"

Saat ini, Rayya didudukkan  terikat di atas kursi dan juga tengah menghadap cermin dengan berbagai alat make up di atas meja di depannya.

'Apa sebenarnya yang mereka mau dariku' batin Rayya. Mungkin kah dirinya akan di dandani? Tapi untuk apa?

Melihat situasi, Rayya tersadar. Matanya membulat besar saat prediksi itu muncul di benaknya.

Carla sudah mengambil banyak uang pada pria botak tadi, pasti Rayya harus membayar apa yang sudah Carla ambil.

Saat gelisah tengah melandanya, pria botak yang selalu di panggil Bos itu muncul di sana diikuti salah satu anak buahnya di belakang.

"Jangan coba-coba mencari masalah. Atau mereka akan di habisi," peringat nya pada Rayya yang sepertinya masih tetap ingin memberontak.

Carla sudah memberitahu jika Rayya pasti akan menurut jika mengancamnya begini.

"Kau, jangan berbuat apa-apa pada keluarga ku," kata Rayya panik.

Bagaimana bisa ia membiarkan keluarga nya berada dalam bahaya karena dirinya. Padahal seharusnya Carla yang berurusan dengan orang-orang itu, tapi kenapa harus membawa-bawa Rayya lagi. Apa wanita itu belum puas setelah kejadian di hari pernikahan yang menjual Rayya pada Marsel?

"Semua ada di tangan mu. Kalau ingin mereka tidak terusik, maka jangan mencari masalah."

Rayya akhirnya tidak bisa berbuat banyak untuk dirinya. Bahkan sampai riasan wajah nya selesai di poles wanita itu tidak punya cara untuk bebas dari sana. Semua miliknya di sita, tidak ada cara untuk menghubungi keluarganya.

"Kamu sangat cantik, Nona. Sayangnya hanya akan dijajakan, cih," kata wanita yang kini telah selesai dengan tugasnya merias Rayya menjadi semakin cantik.

"Bisakah borgol pada tangan ku ini di lepas? Aku ingin buang air," kata Rayya sambil melirik sebuah ponsel yang sedang di charger di atas meja. Sepertinya Ia punya sedikit harapan untuk menghubungi seseorang.

"Tugas ku cuma merias mu, tunggu di sini. Akan ku beritahu yang lain."

Wanita itu pergi dari ruangan tersebut meninggalkan Rayya sendiri.

Setelah kepergian nya, Rayya berdiri dan mendekati ponsel tersebut dan dengan susah payah menyelipkan nya di balik lingkar pinggang celana yang Ia kenakan lalu buru-buru kembali duduk di kursinya seperti semula, untungnya kaki Rayya tidak terikat.

"Cepat, tamu yang harus kau layani sudah menunggu."

Rayya hanya mengangguk lalu masuk di dalam toilet. Sepertinya orang itu menunggu di balik pintu, takut Rayya melarikan diri.

"Sial, kenapa terkunci," gumam Rayya gelisah saat menghidupkan ponsel tersebut yang terlalu lama. Saat ini setiap detik nya seperti bom waktu baginya. Jika perbuatannya ini di ketahui pasti untuk selanjutnya akan semakin susah.

"Malah pake sandi juga," kesalnya dan terpaksa melalui panggilan darurat.

Rayya menghubungi Rio, hanya papa nya itu yang ia hafal nomornya selain Sella. Rayya tidak mau membuat Sella cemas.

Tok.

Tok.

"Hei, cepat!"

Orang yang menunggui Rayya mengetuk pintu karena Rayya terlalu lama.

"Sebentar," sahut Rayya cemas.

"Pah, cepat angkat panggilan nya," gumam Rayya sambil terus menatap ke arah pintu.

Sampai panggilan ke tiga kalinya pun tidak ada jawaban. Rayya kembali mencoba menghubungi Sella karena tidak ada pilihan lain. Tapi ternyata nomornya tidak aktif.

Wanita itu semakin gelisah, kini ia melihat sekeliling, mencoba keberuntungan mencari jalan keluar melalui toilet itu. Belum lagi di luar terus saja mendesak Rayya untuk cepat-cepat keluar.

Karena takut mereka curiga, terpaksa Rayya keluar dengan perasaan tak rela. Ia takut membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya setelah ini.

"Kenapa lama sekali? Jangan coba-coba lari dari sini."

Rupanya di sana sudah ada Bos mereka yang gendut dan botak itu. Mungkin karena Rayya terlalu lama berada di dalam toilet.

"Saya masih di sini, mana mungkin saya lari," jawab Rayya.

"Baguslah, sebaiknya kau menjadi penurut agar tidak rugi sendiri," kata pria botak itu.

Rayya tidak menyahut dan borgolnya juga tidak di pasang lagi. Wanita itu diam-diam mengembalikan ponsel di tempatnya semula saat yang lain tidak memperhatikan nya. Dalam hati Ia kesal karena upayanya tadi sangat sia-sia.

'Apa yang harus ku lakukan selanjutnya' batin Rayya menghela nafas panjang dalam diam. Ia tidak mau menyerahkan diri begitu saja. Tapi Rayya tidak punya cara untuk terbebas dari orang-orang itu. Semakin memikirkan nya Rayya semakin gelisah.

'Ya Tuhan, harapan ku tinggal Marsel. Semoga orang gila itu mau menolong ku' batin Rayya tidak terlalu berharap, tapi harapan nya tinggal itu saja, semoga Marsel mau menolong nya.

sepanjang perjalanan Rayya tidak hentinya membatin dan berdoa agar ada yang menolong nya.

"Bos, ada yang datang mencari masalah."

Tiba-tiba salah seorang bawahan berlari mendekat memberikan info jika ada masalah. 

"Siapa?" tanya Bos botak mereka.

"Seorang pria dan beberapa orang yang ia bawa."

"Lalu kenapa malah ke sini, cepat habisi mereka!" 

Bos botak itu marah karena anak buahnya yang tidak kompeten dalam menangani masalah kecil begitu.

"Tapi mereka terlihat kuat-kuat, Bos," katanya lagi.

"Ya kalau begitu tambah anggota kita, bodoh sekali kalian!"

Botak itu makin marah saat mendengar alasan remeh anak buahnya, Ia berjalan ingin melihat siapa yang main-main dengan dirinya. Rayya juga diikut sertakan namun tangan nya kembali diborgol atas perintah Si Botak.

"Riko?"

Rayya terkejut melihat keberadaan Riko di sana. Tapi Ia juga cemas karena pasti Riko akan berada dalam bahaya juga. Karena Riko tidak terlalu ahli dalam bela diri.

"Rayya, tunggu di situ. Aku akan membawamu pergi dari sini," kata Riko sedikit tenang melihat kemunculan Rayya. Tapi emosinya masih belum hilang saat berhadapan dengan Si botak yang kini membawa banyak pasukan.

Tangan Riko mengepal kuat dengan rahang mengeras, Ia dan orang-orangnya siap untuk bertarung walau mereka kalah jumlah.

1
Ruth Berliana
bagus ceritanya tp msh sepi yg baca nya
Jumli: Terimakasih sudah mampir, kak. Saya sangat senang jika cerita nya kakak suka🥰

mungkin sepi karena tidak ada yang tahu kalau ceritanya bagus😁😁😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!