Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galau.
Helaan nafas panjang dan berat terdengar saat Steve menyandarkan tubuhnya di belakang sandaran kursi, dia menatap langit langit dapur yang berwarna putih. Bayangan ingatan Steve melayang kembali ke beberapa bulan yang lalu saat Steve bertemu dengan Leon untuk pertama kalinya.
“Hei… namaku Leon, senang bertemu dengan mu Steve.”
Uluran tangan sebagai salam sambutan dari Leon membuat Steve merasakan kehangatan sesaat, sepertinya Leon tidak keberatan jika Steve akan tinggal bersamanya selama beberapa tahun kedepan selama dia menyelesaikan kuliahnya di negara ini.
“Oh, hei… aku Steve, senang bertemu dengan mu kak Leon.”
Rasa hangat dapat Steve rasakan, saat telapak tangannya bersentuhan dengan telapak tangan milik Leon. Senyuman dari Alexander membuat suasana menjadi semakin bertambah hangat, tepukan pelan dan terasa kuat terasa di punggung kanan Steve.
“Om akan titipkan Steve di sini selama dia menyelesaikan kuliahnya di negara ini Leon, dan om harap kamu dapat menjaganya seperti adik kamu sendiri.”
Leon tersenyum manis menjawab ucapan alex, dia menatap Steve dan selanjutnya tatapan Leon beralih menatap alex.
“Dia anak om alex, dan dia juga adalah adik ku. Kenapa om alex terlihat sungkan menitipkan dia di sini…?”
Alex tertawa terbahak mendengar ucapan Leon, rasanya jawaban Leon terdengar melegakan hati alex yang sempat kawatir jika Leon menolak keberadaan Stevanus.
“Om titip putra semata wayang om, Leon. Jika dia bandel kamu jewer aja telinganya seperti ini.”
Alex menarik telinga Steve dengan sangat keras, dan dapat Leon lihat jika daun telinga Steve tampak memerah.
“Om alex, sudah sudah. Aku akan menegur Steve jika dia berbuat salah, tanpa harus menyentuh fisiknya.”
Leon merasa tidak tega melihat Steve yang terlihat kesakitan, dengan pelan alex melepaskan jeweran nya di telinga Steve.
“Om lega mendengar jawaban kamu, dan kamu Steve…!! Jangan membuat kesal kakak kamu, ingat setelah kuliah kamu selesai. Kamu harus membantu papa mengurus perusahaan papa yang ada di paris, dan papa tidak menerima bantahan dari kamu.”
Alex memberikan ultimatum untuk Steve, agar Steve dapat fokus ke kuliah dan kelasi meneruskan usaha alex di negara lain.
“Siap komandan, Steve akan selalu ingat pesan yang komandan ucapkan.”
Alex segera memberikan pelukan terhangat ya ke Steve, dia bangga dengan Steve yang selalu menuruti kemauannya tanpa membantah sedikitpun.
“Papa akan pulang hari ini, karena ada masalah di perusahaan di Singapura yang harus papa tangani.” Bisik alex yang membuat wajah Steve tampak sedih.
Alex melepaskan pelukannya, dia beralih menatap Leon yang berdiri sambil menumpukan kedua lengannya di atas dada.
“Leon, om pulang sekarang, titip Steve, jaga dia baik baik. Dan jika ada apa apa, kamu segera kabari om. Maaf om enggak bisa lama lama, karena sepuluh menut lagi om harus sampai di bandara dan segera terbang ke Singapura.”
Leon menautkan kedua alisnya setelah mendengar penuturan alex, dia heran karena baru saja alex datang dan menitipkan Steve. Dan Leon juga belum mempersilahkan alex masuk kedalam rumahnya, kini alex harus berpamitan pergi meninggalkan Steve.
“Om, kenapa enggak menginap semalam aja di sini…?” Ucap Leon masih dengan rasa penasarannya.
“Lain kali om akan menginap di sini.” Alex segera memeluk tubuh kekar Leon, tepukan di punggung Leon mengisyaratkan jika dia menitipkan Steve untuk Leon jaga.
“Sekali lagi om titip Steve, jaga dia.” Bisik alex sekali lagi.
“Baik om.” Jawab Leon.
Tatapan mata Steve masih setia menatap langit langit di atas dapur, ingatan kepergian alex masih terbayang di pikirannya.
“Steve… Steve…” panggil Leon melihat Steve yang melamun sambil menatap langit plafon dapur.
Leon mendekat ke belakang Steve, dia melihat jika pandagan mata Steve tampak kosong. Leon mencondongkan wajahnya tepat di atas wajah Steve, kini mereka saling bertatapan satu sama lain.
“Gluk…”
terdengar Steve menelan ludahnya melihat wajah Leon yang tampak dekat dengan wajahnya, Steve juga dapat merasakan hembusan nafas hangat Leon yang berhembus kedahinya.
“Steve… aru you oke…?” Tanya Leon penasaran.
Steve segera berdiri, beruntung saat Steve berdiri dahi Leon dan Steve tidak berbenturan. Sednagkan Leon yang masih penasaran dengan keadaan Steve yang tampak tidak baik baik saja, segera mendekatinya.
“Kamu baik baik saja Steve….?” Tanya Leon mendekat ke depan Steve.
Steve yang merasa aneh segera menjauhkan dirinya, dia segera melepaskan tangan Leon yang tadi sempat berada di leher Steve.
“Aku… aku baik baik saja, kamu tidak usah kawatir.”
Steve merasa gugup, dia sesegera mungkin menjauhi Leon yang masih berdiri dengan rasa bingung yang masih dia rasakan. Bunyi handphone Leon membuatnya segera terbangun dari lamunannya, nama dias membuat seulas senyuman di kedua bibir Leon.
“Oke sayang, aku OTW sekarang.” Ucap Leon setelah mengangkat telpon dari dias.
Sebelum pergi Leon menatap pintu kamar Steve yang tertutup rapat, Leon tidak ingin menggangu Steve, pikir Leon. Mungkin Steve ingin sendiri tanpa ada yang menggangu, dengan segera Leon mengambil kunci mobilnya dan segera pergi meninggalkan apartemen tanpa harus berpamitan ke Steve.
Sedangkan Steve yang berada di dalam kamar, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup sangat kencang.
“Kenapa jantung gue detaknya cepet gini, sial….!! Apa jantung gue bermasalah sih…?”
Batin Steve masih mengelus dada nya, berharap detak jantungnya kembali normal.
Melihat jam dinding yang tertempel di atas dinding membuat Steve segera berlari menuju ke kamar mandi, dia teringat jika hari ini dia sudah berjanji akan bertemu dengan teman temannya di sebuah kafe.
“Sial, gue harus cepat sebelum semuanya terlambat.” Gerutu Steve.
Leon yang baru saja sampai di depan kediaman dias menghentikan mesin mobilnya, dia dapat jelas dias sudah menunggunya sambil bermain gadget.
“Tin….” Bunyi klakson membuyarkan konsentrasi dias dari layar pipih di tangannya.
“Hei sayang…” seru dias sambil melambaikan tangan kanannya.
“Tunggu, aku akan kesana….!!” Dias segera berlari menghampiri mobil Leon yang terparkir di depan rumah dias.
Pintu mobil yang otomatis terbuka dari dalam memudahkan dias segera masuk kedalam mobil Leon, dias yang sudah masuk kedalam menatap Leon yang tampak tersenyum menatapnya.
“Maaf aku telat.” ucap Leon merasa menyesal.
“Enggak apa apa, kita kemana sekarang…?” Tanya dias sambil memasangkan sabuk pengamannya.
“Nonton, makan atau jalan. Terserah kamu, malam ini aku pengen kita menghabiskan malam bersama, sampai nanti jam dua belas malam.” Seru Leon terlihat antusias.
“Ish… itu mau mu Leon, tapi sayang aku hanya bisa sampai jam sebelas malam. Karena besok aku harus ke Jogja selama beberapa hari, apa kamu sudah lupa jika saudara ku besok akan menikah dan aku harus ke sana selama beberapa hari…?”
Leo memutar ingatannya, dimana dias pernah bercerita jika dias akan ke Jogja untuk menghadiri pernikahan saudaranya.
“Astaga sayang, aku lupa. Maaf…” sesal Leon menatap dias penuh penyesalan.
“Kebiasaan, apa apa selalu lupa. Trus yang enggak kamu lupa apa coba…?” Gerutu dias sambil mengerucutkan bibirnya.
Leon mendekati dias, dia yang paham cara menangkan kemarahan dias segera menangkupkan kedua tangannya ke wajah cantik dias. Tanpa basa basi Leon segera menautkan kedua bibirnya ke bibir dias, sedangkan dias yang tahu akan gerakkan Leon segera membalas lumatan bibir Leon.
Decaoan demi sepadan terdengar di dalam mobil, Leon yang merasakan dias juga membalas lumatannya semakin memperdalam ciumannya. Sebelum dias kehabisan nafas karena ciuman Leon, dias perlahan melepaskan bibirnya.
Dapat dias lihat dengan jelas, wajah Leon yang sayu karena nafsu yang dia tahan. Tangan dias terulur menyentuh pipi Leon yang tampak memerah, sentuhan lembut tangan dias mampu mengubah ekspresi wajah Leon berubah cerah seketika.
“Kita jalan sekarang, keburu malam dan kita tidak jadi jalan malam ini.”
Leon yang mendengar ucapan dias segera membenarkan posisi duduknya, segera Leon menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas untuk segera menuju ke tempat dimana tempat tujuan mereka.
Sebuah kafe bernuansa redup dan tampak banyak anak muda larut di setiap obrolannya, bunyi suara alunan lagu menambah suasana kafe terlihat semakin nyaman dan terasa santai.
Leon yang baru saja datang bersama dias, segera menuju ke tempat duduk yang terlihat masih kosong. Pandangan Leon mengedar ke segala arah, mencari pelayan kafe.
“Lebih baik kita duduk, sepertinya malam ini kafe terlihat semakin rame. Sampai tidak ada pelayan yang terlihat menganggur.” Ucap dias sambil menyeret Leon menuju dimana kursi kosong tayang tersedia.
Tak lama mereka menggobrol, dias dan leon di hampir seorang pelayan dengan seragam hitamnya.
“Selamat malam kak, mau pesan apa….?” Tanya pelayan tersebut sambil menyerahkan menu ke Leon dan dias.
Dias yang tahu akan makanan dan minuman favorit Leon segera memesan tanpa bertanya ke Leon terlebih dahulu, Leon menatap dias, satu senyuman terulas dari bibir Leon melihat dias dengan sigap memesan makanan dan minuman untuk mereka.
“Baik pesanan kakak akan kami antar setelah lima belas menit.”
Melihat pelayan kafe yang sudah pergi, pandangan mata Leon terarah dimana tampak segerombolan mahasiswa tengah mengobrol seru. Leon tersenyum melihat salah satu orang yang dia kenal, Leon dapat melihat jika orang yang tadi dia tatap tengah melambaikan tangan kanan nya ke arah Leon.
“Kak Leon…!!?” Sapa Niko ke arah Leon.
“Siapa nik…?” Tanya salah seorang teman Niko melihat ke arah Leon.
“Kakak nya Steve.” Jawab masih menatap Leon dengan senyuman yang tampak ramah dan bersahabat.
“Oh iya, Steve jadi datang kan malam ini…?” Tanya salah satu teman Niko yang bernama neo.
“Oh iya juga tuh anak, sampai sekarang belum datang. Apa jangan jangan dia lupa kali, kalau kita akan ngerjain tugas malam ini.” Seru Niko teringat jika dia belum sempat menghubungi Steve.
Tak lama berselang, Steve datang dengan langkah tergesa dari arah pintu masuk kafe. Keringat terlihat bercucuran dari keningnya, nafas yang terlihat memburu membuat tatapan mata teman teman Steve memandang wajah Steve yang terlihat semakin tampan dan terlihat seksi.
“Wow… Steve, lo semakin terlihat seksi kalau berkeringat seperti itu.” Ucap Andre yang melihat Steve dengan tatapan laparnya.
“Sialan lo…” ucap Steve sambil melemparkan tasnya ke wajah Andre.
“Bener apa yang Andre bilang, kalau aja lo bukan cowok udah gue pepet trus lo Steve.” Celetuk neo menggoda Steve yang terlihat menyegarkan rambutnya yang terlihat basah.
“Udah udah, jangan godain pacar gue. Biarkan dia istirahat dengan tenang.” Imbuh Niko sambil merangkul Steve dengan mesra.
Tawa pecah terdengar dari meja Steve, Leon yang mendengar nama Steve di sebut segera menoleh cepat. Dia melihat Niko yang sedang merangkul Steve layaknya seorang kekasih, entah mengapa melihat interaksi Steve dan Niko membuat dada Leon terasa sangat sesak.
Tanpa Leon sadari dia mengepalkan satu tangannya dengan erat, sampai urat uratnya terlihat jelas. Dias yang melihat raut muka Leon yang tak biasa segera menegurnya.
“Sayang, aru you oke….?” Tanya dias lembut sambil menyentuh kepalan tangan Leon.
Leo yang terkejut karena sentuhan tangan dias sontak menoleh menatap dias.
“Oh sayang, iya aku.. aku… aku tidak apa apa, oh itu sepertinya pesanan kita datang.” Leo berusaha mengalihkan perhatian dias, beruntung Pelayang kafe membawakan pesanan Leon dan dias ke meja nya.