Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mereka Mencuri Namaku
📖 BAB 21: Mereka Mencuri Namaku
Ruang konferensi privat itu hening selama beberapa detik setelah Han selesai membaca berita.
Tak seorang pun bergerak.
Tak seorang pun bernapas normal.
Kalimat Qin Taishan masih menggantung di udara seperti racun:
Qin Yue mengalami gangguan mental akibat trauma masa kecil... dan akan digantikan sementara oleh perwakilan keluarga yang lebih stabil.
Qingyan berdiri di depan layar hitam dengan wajah tanpa ekspresi.
Justru itu yang membuat semua orang waspada.
Han menelan ludah.
Ia sudah cukup lama bekerja dengan Gu Beichen untuk tahu satu hal:
Orang marah itu biasa.
Orang tenang itu berbahaya.
Dan Lin Qingyan sekarang terlalu tenang.
---
“Ulangi bagian terakhir,” katanya pelan.
Han menatap layar ponsel.
“Perwakilan keluarga yang lebih stabil akan diperkenalkan malam ini dalam konferensi pers terbatas.”
“Nama.”
Han membaca cepat.
“...Nona Qin Xue.”
Qingyan tertawa.
Sekali.
Pendek.
Tidak ada humor di dalamnya.
Xue menyandarkan tubuh ke kursi sambil mengangkat alis.
“Jujur saja, aku juga baru dengar.”
“Kalau kau bohong—”
“Aku akan bilang dengan gaya lebih keren.”
Qingyan berjalan mendekat hingga hanya berjarak satu langkah.
Wajah mereka seperti cermin yang sedang bertengkar.
“Selama hidupku, orang-orang mengambil nama, masa lalu, pilihan, dan kebenaranku.”
Suara Qingyan rendah.
“Kalau sekarang kau ambil wajahku juga... aku akan hancurkanmu.”
Xue tak mundur sedikit pun.
Tatapannya justru berbinar.
“Akhirnya kau bicara seperti orang yang pantas selamat.”
---
“Cukup.”
Suara Beichen memotong ruangan.
Ia berdiri di sisi meja, jas hitamnya masih rapi meski baru saja lolos baku tembak. Kaset mini diletakkan di samping tangannya.
Tatapannya jatuh ke Qingyan.
“Marah nanti. Bergerak sekarang.”
Qingyan menoleh tajam.
“Mereka baru saja menyatakan aku gila.”
“Aku tahu.”
“Mereka mencuri identitasku.”
“Aku tahu.”
“Mereka memakai wanita yang mirip wajahku!”
“Aku juga melihat.”
“Lalu kenapa kau terdengar tenang?”
Beichen menatapnya beberapa detik.
“Karena kalau aku marah sekarang, gedung keluarga Qin sudah terbakar.”
Ruangan sunyi.
Han berbisik pelan,
“Masuk akal.”
---
Qingyan memalingkan wajah.
Ia benci bahwa pria itu selalu terdengar logis di saat paling menjengkelkan.
Beichen menoleh pada Han.
“Batalkan semua rapat besok.”
“Sudah.”
“Tekan saham Qin pagi ini.”
“Berapa keras?”
“Buat mereka merasa jantungnya berhenti.”
Han mencatat cepat.
“Siap.”
Armand—yang entah sejak kapan muncul di layar panggilan video dari mansion Qin—tertawa pelan.
“Kau bahkan menyerang sebelum sarapan.”
Beichen tak berkedip.
“Dan kau bahkan menguping tanpa diundang.”
“Teknologi membuat segalanya mudah.”
Qingyan maju ke layar.
“Kau tahu soal konferensi ini?”
Armand menatapnya.
“Aku tahu Paman Tua akan bermain kasar. Aku tak tahu dia akan bermain bodoh.”
“Artinya?”
“Mengangkat Xue sebagai pengganti justru membuatmu relevan.”
Xue bersiul kecil.
“Aku suka pria berbahaya yang pintar.”
“Jangan,” kata Qingyan dan Beichen bersamaan.
---
Mira dibawa masuk oleh staf medis dengan bahu terbalut.
Wajahnya pucat, tapi matanya tajam.
“Qin Taishan panik.”
“Kenapa?” tanya Qingyan.
“Karena rekaman itu ada di tangan kalian.”
Ia menunjuk kaset mini.
“Selama dua puluh lima tahun dia menjaga citra keluarga Qin sebagai korban. Kalau publik tahu ia menonton eksperimen anak-anak dan membiarkan kebakaran terjadi... semuanya runtuh.”
Beichen menatap kaset itu.
“Belum cukup.”
“Cukup kalau dipadukan dengan bukti keuangan, saksi hidup, dan darah.”
Qingyan menyipitkan mata.
“Darah?”
Mira menatap Qingyan dan Xue bergantian.
“Kalian.”
---
Qingyan lelah mendengar dirinya disebut bukti biologis.
“Aku bukan dokumen berjalan.”
“Benar,” kata Xue. “Kau lebih berisik.”
Qingyan hendak membalas, namun Beichen bicara dulu.
“Kita punya dua masalah. Pertama, konferensi pers malam ini. Kedua, siapa yang menyerang gereja.”
Han mengangkat tangan.
“Saya tambahkan ketiga: saya belum tidur.”
“Diabaikan,” kata Beichen.
Han menghela napas.
---
Qingyan berjalan mondar-mandir.
Ia tahu semua orang sedang memikirkan strategi.
Namun yang ia rasakan hanya penghinaan.
Seumur hidup ia berjuang membangun dirinya sendiri.
Sekarang satu pria tua menyebutnya gila di televisi, lalu mengganti dirinya seperti mengganti lukisan.
Ia berhenti mendadak.
“Tidak.”
Semua menoleh.
“Apa?” tanya Han.
Qingyan mengangkat dagu.
“Aku tidak akan bersembunyi di sini sementara mereka memakai namaku.”
Beichen langsung menjawab.
“Kau tidak pergi ke sana.”
“Aku akan datang.”
“Tidak.”
“Berhenti mengatur hidupku.”
“Berhenti mencoba mati.”
“Aku hanya mau bicara di depan kamera.”
“Dan mereka mungkin menembakmu di depan kamera.”
“Drama sekali.”
“Realistis.”
Ia melangkah mendekat sampai nyaris menempel dada pria itu.
“Kalau kau larang aku lagi, aku pergi sendiri.”
Beichen menunduk menatapnya.
“Kalau kau pergi sendiri, aku borgol.”
Han menutup wajah.
“Mereka flirting lagi saat perang.”
---
Qingyan mundur setengah langkah.
“Ini bukan flirting.”
“Ini sangat flirting,” gumam Xue.
Mira mengangguk lemah.
“Bahkan saya yang ditembak bisa lihat.”
Qingyan memerah.
“Diam semuanya.”
Beichen menatapnya lama.
Lalu berkata tenang,
“Kau mau datang ke konferensi?”
“Ya.”
“Baik.”
Semua membeku.
Han hampir menjatuhkan tablet.
“Tuan?”
Beichen masih menatap Qingyan.
“Kau datang bersamaku.”
---
🔥 Malam Hari – Gedung Utama Qin Group
Karpet merah digelar.
Puluhan wartawan berjejer.
Kamera menyala.
Judul berita sudah siap:
PEWARIS ASLI KELUARGA QIN MUNCUL MALAM INI
Di belakang panggung, Qin Taishan berdiri dengan tongkat hitam. Madam Qin di sampingnya, wajah dingin. Serin tampak bosan. Armand tersenyum seperti biasa.
Xue berdiri di depan cermin mengenakan gaun putih elegan.
Ia tampak seperti Qingyan versi bangsawan berbahaya.
“Cantik,” kata Serin.
“Aku tahu,” jawab Xue.
“Menyesal?”
“Tidak pernah.”
Taishan menoleh.
“Ingat tugasmu. Tersenyum, bicara sedikit, tanda tangan nanti.”
Xue menatap pantulan dirinya.
“Dan kalau aku menolak?”
Tongkat pria tua itu mengetuk lantai.
“Mira mati malam ini.”
Mata Xue membeku.
“Ancaman murahan.”
“Efektif.”
---
Di luar gedung, sebuah mobil hitam berhenti.
Pintu terbuka.
Gu Beichen keluar lebih dulu.
Setelan hitam, wajah dingin, langkah tenang.
Kamera langsung beralih liar.
Lalu Qingyan turun dari sisi lain.
Gaun merah gelap sederhana, rambut tergerai, mata tajam.
Wartawan langsung gempar.
“Bukankah dia yang disebut sakit mental?”
“Kenapa datang bersama Gu Beichen?”
“Siapa wanita asli?”
Lampu kilat menyambar seperti badai.
Beichen menatap kerumunan.
“Buka jalan.”
Tak ada yang berani menahan.
Ia menggenggam tangan Qingyan dan berjalan lurus ke pintu utama.
Qingyan melirik tangannya.
“Aku bisa jalan sendiri.”
“Aku tahu.”
“Lalu lepas.”
“Tidak.”
Menyebalkan.
Namun jantungnya berdebar aneh.
---
Di atas panggung, pembawa acara mulai bicara.
“Selamat malam, hari ini keluarga Qin akan memperkenalkan pewaris—”
Pintu aula terbuka keras.
Semua kepala menoleh.
Gu Beichen masuk sambil menggandeng Qingyan.
Ruangan meledak.
Madam Qin berdiri.
Taishan menyipitkan mata.
Xue di belakang panggung tersenyum lebar.
“Pertunjukan dimulai.”
Beichen berjalan ke tengah aula tanpa izin.
Mengambil mikrofon dari tangan pembawa acara.
Lalu berkata datar:
“Maaf mengganggu kebohongan kalian.”
Seluruh ruangan sunyi.
Ia menarik Qingyan ke sampingnya.
“Wanita ini sehat, sadar, dan jauh lebih pintar dari sebagian besar keluarga di ruangan ini.”
Beberapa wartawan menahan tawa gugup.
Taishan memukul tongkat ke lantai.
“Keluar dari panggungku.”
Beichen menatap pria tua itu.
“Kalau saya jadi Anda, saya akan lebih takut pada video yang saya miliki.”
Wajah Taishan berubah untuk pertama kali.
Qingyan mengambil mikrofon dari tangan Beichen.
Ia menatap ratusan kamera.
Suara pertamanya tenang.
“Nama saya Lin Qingyan.”
Ruangan hening.
“Dan malam ini... saya datang mengambil kembali nama yang kalian curi.”
Dari belakang panggung, Xue melangkah keluar perlahan.
Mengenakan gaun putih.
Wajah sama.
Mata tajam.
Ia berdiri di sisi lain panggung dan mengambil mikrofon kedua.
Lalu berkata sambil tersenyum:
“Bagus. Karena aku juga datang untuk hal yang sama.”
BERSAMBUNG