NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 15

***

Paris di siang hari memancarkan kemegahan yang berbeda. Jika semalam kota ini adalah saksi bisu penyatuan mereka yang penuh emosi, siang ini Paris menjadi panggung di mana Karina harus membuktikan kelasnya. Di depan Hotel Plaza Athénée, tiga mobil Mercedes-Maybach hitam dengan plat diplomatik sudah berjajar rapi. Pengawalan dari kepolisian Prancis dengan motor besar mereka memberikan sinyal bahwa tamu yang akan keluar bukanlah orang sembarangan.

Darma keluar lebih dulu, mengenakan setelan jas charcoal bespoke dari penjahit terbaik di Savile Row. Ia tampak begitu tajam, dingin, dan otoriter—sebuah definisi hidup dari kekuasaan Old Money. Ia berhenti di pintu mobil, mengulurkan tangannya dengan sabar menunggu sang istri.

Karina muncul dengan keanggunan yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya. Ia mengenakan dress batik sutra tulis motif Parang Rusak yang dimodifikasi secara modern, memeluk tubuhnya dengan sempurna. Sepatu Stiletto dari Christian Louboutin dan tas Hermès Kelly langka yang baru saja diberikan Darma tadi pagi melengkapi penampilannya. Meski tubuhnya masih terasa pegal dan langkahnya sedikit lebih hati-hati, Karina tetap memancarkan aura Global IT-Girl yang kini bertransformasi menjadi bangsawan.

"Ingat, Karina," bisik Darma saat mereka mulai berjalan memasuki gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia yang megah di Paris. "Di ruangan ini, kamu bukan lagi seorang idola yang butuh validasi fans. Kamu adalah Nyonya Darma Mangkuluhur Hutomo. Cukup berdiri tegak, dan biarkan dunia yang menyesuaikan diri dengamu."

Karina mengeratkan genggamannya pada lengan suaminya. "Saya tahu, Mas. Darah militer Papa tidak akan membiarkan saya mempermalukan keluarga di sini."

**

Begitu pintu aula besar Kedutaan dibuka, suasana yang tadinya riuh dengan obrolan para pejabat tinggi dan atase pertahanan mendadak sunyi. Ratusan pasang mata tertuju pada pasangan yang baru saja masuk.

Karina tertegun. Ia melihat para Duta Besar dari negara-negara tetangga, petinggi korporasi energi Prancis, hingga jenderal-jenderal senior yang sedang bertugas di Eropa, semuanya menunduk hormat saat Darma melintas. Ini bukan sekadar rasa hormat kepada pengusaha kaya; ini adalah penghormatan kepada pria yang memegang kunci strategis ekonomi antara dua benua.

"Selamat siang, Pak Darma. Sebuah kehormatan besar Anda bisa hadir di tengah kesibukan bulan madu Anda," ucap Duta Besar Indonesia untuk Prancis, seorang pria senior dengan wibawa tinggi, sambil menjabat tangan Darma dengan sangat erat.

"Sama-sama, Pak Dubes. Saya rasa tidak ada salahnya membawa istri saya melihat sedikit bagian dari pekerjaan saya," jawab Darma dengan nada datar namun berisi.

Dubes tersebut kemudian beralih ke Karina, membungkuk sedikit sebagai bentuk penghormatan yang sangat formal. "Nyonya Darma, kami sangat terhormat. Kehadiran Anda di sini melengkapi martabat suami Anda. Perlu Anda ketahui, Bapak Darma adalah alasan mengapa beberapa proyek strategis infrastruktur dan energi di Paris ini tetap berjalan stabil meskipun geopolitik sedang goyah."

Karina tersenyum dengan sangat anggun, sebuah senyuman yang ia latih selama bertahun-tahun namun kini terasa lebih berbobot. "Terima kasih, Pak Dubes. Saya bangga bisa mendampingi pria sehebat Mas Darma. Saya masih dalam tahap belajar untuk memahami betapa luasnya kontribusi keluarga Hutomo di sini."

Darma melingkarkan tangannya di pinggang Karina, menariknya sedikit lebih dekat. "Istri saya adalah pusat dari semua strategi saya sekarang, Pak Dubes. Tanpa dia, mungkin saya hanya akan terus bekerja tanpa tahu kapan harus beristirahat."

Mendengar kalimat itu, Karina melirik Darma dari sudut matanya. Pusat strategi? Sepertinya suaminya ini benar-benar mahir dalam memberikan pernyataan publik yang manis namun tetap terasa kaku.

Acara berlanjut ke sesi ramah tamah. Di sinilah kecerdasan Karina benar-benar bersinar. Ia berbincang dengan fasih menggunakan bahasa Inggris yang sempurna dengan beberapa delegasi Eropa, bahkan sesekali menyelipkan frasa bahasa Prancis yang ia pelajari secara singkat saat tur dahulu.

"Ah, Nyonya Darma, saya adalah penggemar karya-karya Anda dulu di Seoul," ucap seorang atase muda dari negara tetangga, matanya tampak berbinar menatap Karina. "Sangat disayangkan Anda harus pensiun dini. Dunia musik kehilangan salah satu permata terbesarnya."

Karina tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu namun tetap berjarak. "Terima kasih banyak. Tapi saya rasa, setiap musim dalam hidup punya panggungnya sendiri. Sekarang, prioritas saya adalah mendukung suami saya dan menjalankan tanggung jawab baru saya sebagai bagian dari keluarga Hutomo. Panggung saya sekarang ada di samping Mas Darma."

Beberapa diplomat muda lainnya mulai mendekat, mencoba mencuri perhatian Karina dengan pertanyaan-pertanyaan tentang seni dan budaya. Karina menanggapi semuanya dengan sangat humble, namun tetap menunjukkan kecerdasan seorang putri Jenderal yang terdidik.

Darma, yang sedari tadi sedang berbincang dengan atase pertahanan mengenai pengadaan alutsista, mulai tidak fokus. Matanya terus melirik ke arah Karina yang sedang dikelilingi oleh pria-pria muda berbaju necis tersebut. Ia merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya—sesuatu yang lebih tajam daripada sekadar urusan bisnis.

Tanpa menyelesaikan kalimatnya secara tuntas dengan lawan bicaranya, Darma melangkah mendekat. Ia langsung berdiri tepat di samping Karina, melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dengan begitu posesif, seolah sedang memasang barikade yang tak terlihat.

"Permisi, Gentlemen," ucap Darma dengan suara berat yang mengintimidasi. "Saya rasa istri saya butuh sedikit udara segar. Kami harus segera melanjutkan agenda internal kami."

Para diplomat muda itu langsung mundur secara teratur, nyali mereka menciut melihat tatapan tajam Darma yang seolah siap membekukan siapa saja.

Begitu mereka menjauh sedikit dari kerumunan, Karina berbisik pelan sambil menahan senyum di balik gelas champagne tanpa alkoholnya. "Mas cemburu ya?"

Darma tidak menoleh, matanya masih menatap ke arah kerumunan seolah sedang menandai musuh. "Saya tidak cemburu, Karina. Saya hanya tidak suka orang lain mencoba menyentuh atau menatap terlalu lama investasi paling berharga yang baru saja saya segel semalam. Itu melanggar etika kepemilikan saya."

Karina tertawa gemas, menyentuh lengan jas suaminya. "Mas, mereka hanya mengagumi. Mas harus bangga punya istri yang banyak penggemarnya."

Darma akhirnya menoleh, menatap Karina dengan intensitas yang sama seperti saat mereka berada di kamar semalam. "Saya lebih suka kamu hanya dikagumi oleh saya di balik pintu kamar, daripada dipuji oleh ribuan pria di luar sana. Ingat, kamu sudah menjadi Nyonya Hutomo secara utuh. Jangan biarkan mereka berpikir ada celah untuk mendekat."

"Otoriter sekali suamiku ini," gumam Karina sambil tersenyum manis. "Tapi tenang saja, Mas. Fokus saya cuma satu sekarang. Dan dia sedang berdiri di sebelah saya, memegang pinggang saya terlalu erat sampai saya susah napas."

Darma sedikit melonggarkan pegangannya, namun tidak melepaskannya. "Bagus. Karena setelah acara ini selesai, saya tidak akan memberikanmu kesempatan untuk berbicara dengan pria mana pun sampai kita tiba di bandara besok."

Karina hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Alpha suaminya. Di tengah kemewahan dan formalitas Kedutaan Paris, ia menyadari bahwa meski Darma kaku dan dingin, cara pria itu menunjukkan kepemilikan adalah hal paling manis sekaligus mendebarkan yang pernah ia alami. Mereka terlihat begitu serasi—seorang pria penguasa dan wanita yang tak kalah berwibawa, pasangan Old Money yang kini menjadi buah bibir di dua benua.

***

1
Tika maya Sari
min tolong update yg banyak 🤣🤣
Heresnanaa_: huhuhu, stay tune ya kak🙏😍
total 1 replies
Tika maya Sari
lanjut dong kak
Heresnanaa_: stay tune ya ka🙏😍
total 1 replies
Tika maya Sari
up lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!