Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vania Muncul dengan Senyum Paling Manis
Tiga hari kemudian, Vania datang
Seperti yang kuingat: rambut sebahu, poni samping, seragam baru yang masih licin khas belum dicuci berkali-kali. Dia masuk ke kelas 1C dengan ditemani oleh Bu Dewi, wali kelasku.
"Anak-anak, ini teman baru kalian. Namanya Vania Maharani. Pindahan dari Bandung." Bu Dewi tersenyum ramah. "Vania, silakan perkenalkan diri."
Vania melangkah maju. Matanya menyapu ruangan—tidak sombong, tapi penuh rasa ingin tahu. Ketika mataku bertemu matanya, aku melihat sesuatu yang familiar.
Senyum.
Senyum manis yang sama persis dengan yang dia berikan padaku di kehidupan sebelumnya.
"Halo, semuanya. Aku Vania." Suaranya lembut, seperti bulu ayam. "Aku suka membaca, memasak, dan... cari teman baru. Tolong bimbing aku, ya."
Beberapa cowok di belakang bersiul kecil. Anak-anak cewek berbisik-bisik, "Lucu amat sih..."
Dan Bu Dewi menunjuk ke bangku kosong di sebelahku. "Vania, kamu duduk di samping Nayla. Nayla anaknya baik, pasti bisa bantu kamu beradaptasi."
Oh, betapa ironisnya.
Vania berjalan ke arahku, menenteng tas punggungnya yang berwarna pastel pink. Dia tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dengan semanis mungkin.
"Hai, Nayla," sapanya saat duduk. "Kita sekelas. Semoga bisa akrab ya."
Sasha, yang duduk di sebelah kananku, menyikut pelan. "Eh, teman barunya cantik, ya."
"Cantik banget," sahutku.
Dan di dalam hati, aku berbisik, "Sayangnya cantik berbisa."
---
Satu Minggu Kemudian
Vania dengan cepat menjadi pusat perhatian. Semua orang menyukainya—guru-guru karena dia rajin, anak-anak karena dia ramah, bahkan satpam sekolah karena dia selalu pamit pulang dengan senyum lebar.
Aku membiarkannya. Aku bermain long game.
Karena di kehidupan sebelumnya, Vania tidak segera menunjukkan taringnya. Butuh waktu. Butuh kepercayaan. Dan ketika saatnya tiba, dia akan menusuk dari balik punggung dengan senyum masih merekah di bibirnya.
Tapi kali ini, aku sudah tahu caranya bermain.
"Sasha." Aku menyibak rambut dari wajahku, usai jam pelajaran olahraga. "Kamu lihat Ra—maksudnya, cowok kelas 1A yang suka bawa buku biru itu?"
Sasha mengerutkan dahi. "Yang tinggi, jutek, suka sendirian?"
"Iya."
"Oh. Kenapa emang? Kamu suka dia?" Sasha menyeringai.
"Bukan!" jawabku sedikit terlalu cepat. "Cuma penasaran. Dia kelihatan... aneh."
"Semua cowok emang aneh," ujar Sasha santai. "Tapi yang kamu tanyain itu namanya Rasya, kan? Katanya dia pindahan dari Surabaya. Orangnya super pendiam. Satu kelas sama dia aja pada takut."
"Kenapa takut?"
"Karena dia tuh kalau lihat orang kayak... gimana ya, kayak lagi baca-baca gitu. Seperti dia tahu rahasia kamu."
Aku tersenyum miris. Kalau saja Sasha tahu seberapa benarnya itu.
Tepat saat aku hendak menjawab, seseorang mendekat dari belakang. Wangi parfum vanilla yang manis menyengat hidungku.
"Nayla! Kamu keringetan banget, nih. Minum dulu, ah." Vania muncul dengan dua botol air mineral dingin. Dia memberikan satu padaku. "Kasian, habis lari keliling lapangan, kan?"
"Makasih, Van." Aku menerima botol itu. Tapi tidak membukanya.
Vania duduk di sampingku. Dia memeluk lututnya, wajahnya cerah. "Seru ya, olahraga bareng-bareng. Di sekolah lamaku, lapangannya kecil banget. Di sini lega."
"Seneng kamu bisa nyaman," kataku.
"Iya, soalnya orang-orang di sini baik. Kayak kamu, misalnya. Kamu tuh orang pertama yang ngomong sama aku." Vania mengerling. "Makasih, ya."
"Sama-sama."
"Eh, tapi kok kamu jarang ngajak aku jalan bareng sih? Atau makan bareng? Aku kan anak baru, jadi agak canggung kalau harus mulai duluan." Vania tersenyum memelas.
Aku tersenyum balik. "Maaf, ya. Aku sibuk banget akhir-akhir ini. Tapi minggu depan insyaallah aku free. Kita bisa ke mal, atau ke rumahku."
Ke rumahku, tempat di kehidupan sebelumnya keluarga Vania sering kukunjungi. Tempat di mana Vania menyimpan buku harian yang berisi semua rencana jahatnya.
"Yay! Makasih, Nayla!" Vania memelukku erat.
Sasha melihat kami dengan ekspresi aneh. Tidak cemburu—tapi lebih seperti curiga.
Dan Sasha, seperti biasa, lebih pintar dari yang orang kira.
---
Malam Harinya
Jam menunjukkan pukul sembilan. Aku berbaring di tempat tidur, memandangi lampu tidur berbentuk bintang di meja samping tempat tidur. Handphone-ku—pemberian Ayah untuk ulang tahun ke-14—berbunyi.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
"Hati-hati sama Vania."
Aku terduduk.
"Aku sudah tahu," balasku cepat.
"Kamu pikir kamu tahu, tapi kamu tidak tahu semuanya."
"Siapa ini?"
"Rasya."
Jantungku berdegup kencang.
"Kenapa kamu repot-repot peduli? Di kehidupan sebelumnya kita bahkan tidak saling kenal."
Tiga titik. Mengetik. Lalu berhenti. Lalu mengetik lagi.
"Karena di kehidupan sebelumnya, aku terlambat. Sekarang tidak."
Aku menatap layar handphoneku. Keringat dingin membasahi telapak tanganku.
"Maksudnya?"
"Nanti kamu tahu. Yang penting sekarang jangan makan atau minum apapun yang diberikan Vania. Awas."
Pesan itu berhenti. Aku menekan tombol panggil, tapi nomornya tidak aktif.
Sial. Sial. SIAL.
Aku melempar handphone ke kasur. Kepalaku pusing.
Dia tahu. Rasya tahu tentang racun? Di kehidupan sebelumnya, Vania tidak pernah meracuniku—dia hanya memfitnahku, menghancurkan reputasiku, lalu menikah dengan Andre.
Tapi racun?
Apakah ada yang luput dari ingatanku?
Aku meremas seprai. Apakah di kehidupan sebelumnya, aku mati bukan hanya karena kecelakaan mobil? Apakah itu sudah diatur? Apakah mobilku sengaja dirusak?
Dan Rasya—kenapa dia tahu semua ini?
Aku menatap langit-langit kamar, berusaha mengingat-ingat wajahnya di kehidupan sebelumnya. Bayangan di pinggir jalan, basah kuyup oleh hujan. Amplop cokelat di tangannya.
Lalu dia berteriak, "NAYLA! JANGAN PERCAYA SAMA ANDRE!"
Dan sekarang dia mengirimiku pesan tentang racun.
"Rasya," bisikku dalam gelap. "Kamu siapa sebenarnya?"