NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Action / Wanita perkasa / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Komedi
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
​Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
​Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
​"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Cermin Kebenaran Dan Teriakan Dari Depok

​Suasana di halaman Kuil Agung Orizon begitu mencekam. Ribuan kelopak bunga putih disebarkan di atas lantai batu, sementara asap kemenyan yang harum namun pekat membubung ke langit malam yang diterangi bulan purnama sempurna.

​Ibu Suri Beatrice berdiri di barisan depan dengan jubah emas yang megah, wajahnya memancarkan kemenangan yang tertahan. Di tengah altar, sebuah benda raksasa yang ditutupi kain beludru hitam berdiri tegak. Itulah Cermin Kebenaran, pusaka suci yang konon mampu membedah lapisan sukma hingga ke akar paling dasar.

​"Yang Mulia Raja," panggil Pendeta Agung yang mengenakan jubah putih panjang. Rambut dan janggutnya yang seputih salju menyapu lantai. "Upacara penyucian harus segera dimulai. Jika jiwa yang mendiami raga Permaisuri adalah murni, maka cermin ini akan memancarkan cahaya surgawi. Namun, jika itu adalah entitas kegelapan atau roh asing... maka cermin ini akan menunjukkan rupa aslinya."

​Magnus berdiri kaku di samping Alesia. Tangannya menggenggam jemari istrinya begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Alesia akan ditarik ke dimensi lain.

​"Bang, tangan lu keringetan bener," bisik Alesia pelan, mencoba memecah ketegangan. "Sante aja napa. Paling banter kalau muka asli gue muncul, orang-orang sini cuma bakal mikir gue habis operasi plastik tapi gagal."

​"Ini bukan waktunya bercanda, Alessia," desis Magnus dengan nada cemas yang tidak bisa disembunyikan. "Jika cermin itu bereaksi negatif, para penjaga kuil punya hak untuk langsung mengeksekusi... siapa pun yang dianggap sebagai roh jahat."

​Alesia menelan ludah. Buset, eksekusi? Gak lucu banget mati di tangan cermin antik.

​"Permaisuri Alessia, silakan melangkah maju," perintah Pendeta Agung dengan suara yang berat dan berwibawa.

​Alesia menarik napas panjang. Ia melepaskan genggaman tangan Magnus, lalu melangkah perlahan menuju tengah altar. Setiap langkahnya terasa sangat berat karena beban gaun sutra dan—tentu saja—beban mental karena takut jati dirinya sebagai Siti terbongkar.

​Begitu Alesia berdiri tepat di depan benda besar itu, Pendeta Agung menarik kain penutupnya dengan satu sentakan cepat.

​SRET!

​Cermin itu terbuat dari perak murni yang sangat jernih, namun permukaannya seolah-olah beriak seperti air. Awalnya, cermin itu hanya memantulkan bayangan Alesia yang cantik dengan gaun permaisurinya. Namun perlahan, riakan di permukaan cermin semakin cepat. Cahaya ungu mulai berpendar dari bingkainya.

​"Lihat! Cermin itu bereaksi!" pekik Ibu Suri dengan mata berbinar. "Tunjukkan pada kami, rupa asli dari penyihir yang ada di depanmu!"

​Alesia menatap cermin itu tanpa berkedip. Tiba-tiba, pandangannya mengabur. Bayangan Permaisuri Alessia di dalam cermin mulai memudar, dan perlahan-lahan... muncul bayangan seorang gadis mengenakan kaus oblong bergambar kucing dengan tulisan 'Depok Pride', rambut diikat asal-asalan, dan sedang memegang sebuah... kantong plastik berisi bakwan?

​Mampus gue! Itu kan muka gue pas lagi nongkrong di depan gang! batin Alesia panik setengah mati.

​"Apa itu? Pakaian macam apa yang dia kenakan?" gumam para bangsawan yang mulai berbisik-bisik ngeri.

​"Itu adalah pakaian dari neraka!" teriak Ibu Suri. "Eksekusi dia sekarang!"

​Para pengawal kuil mulai mencabut pedang mereka. Magnus langsung melompat ke depan Alesia, menghunus pedang emasnya dengan mata yang menyala merah karena marah. "Siapa pun yang berani menyentuhnya, akan berhadapan dengan pedangku!"

​"Magnus! Kau membela siluman?!" teriak Ibu Suri histeris.

​Namun, sebelum keributan semakin parah, Alesia justru melangkah mendekat ke arah cermin. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Bayangan 'Siti' di dalam cermin itu tidak terlihat jahat, melainkan terlihat... bingung.

​"Heh, Cermin!" bentak Alesia kencang, suaranya menggema di seluruh area kuil. "Lu jangan asal ya! Muka gue emang begini kalau lagi santai di rumah! Ini bukan sihir hitam, ini namanya originalitas!"

​Alesia mengepalkan tangannya. Ia teringat teknik Silat Seliwa yang diajarkan Abahnya. Ia menyalurkan seluruh tenaga dalamnya—bukan ke pedang, tapi ke emosinya yang memuncak karena kesal dituduh siluman.

​"Nih, rasain tenaga anak Rawa Belong!"

​DAR!

​Bukannya menyerang dengan sihir, Alesia justru menghantamkan telapak tangannya tepat ke permukaan cermin yang beriak itu dengan teknik 'Pukulan Betawi'. Energi benturan itu begitu besar hingga menciptakan gelombang kejut yang membuat asap kemenyan buyar seketika.

​PRANK!

​Cermin Kebenaran itu retak seribu. Cahaya ungu yang tadinya memancar tiba-tiba berubah menjadi cahaya putih yang sangat menyilaukan, membutakan mata semua orang yang hadir. Di tengah cahaya itu, terdengar suara guntur yang aneh, seolah-olah ada dua dunia yang sedang bertabrakan.

​Saat cahaya itu meredup, cermin tersebut telah hancur berkeping-keping di lantai. Alesia masih berdiri tegak, napasnya tersengal, sementara tangannya sedikit berdarah karena terkena pecahan perak.

​"Cerminnya... hancur?" bisik Pendeta Agung dengan tubuh gemetar. Ia jatuh berlutut, menatap pecahan cermin itu dengan ngeri. "Ini... ini belum pernah terjadi selama ratusan tahun."

​"Kenapa hancur?" tanya Magnus, segera mendekati Alesia dan memeriksa tangannya dengan cemas.

​Pendeta Agung menatap Alesia dengan pandangan yang kini penuh dengan rasa takut sekaligus hormat. "Cermin ini hancur karena ia tidak sanggup menampung kebenaran yang ada. Jiwa Permaisuri... jiwa ini bukan berasal dari kegelapan. Jiwa ini terlalu 'nyata' dan terlalu kuat untuk dimensi kita. Ia bukan merasuki, tapi ia dipilih oleh takdir untuk mengisi raga yang kosong."

​Ibu Suri Beatrice terduduk lemas di kursinya, wajahnya pucat pasi. "Tidak mungkin... dia harusnya adalah penyihir..."

​Alesia menarik tangannya dari Magnus, lalu menoleh ke arah Ibu Suri. "Denger ya, Bu. Cermin aja pecah liat kejujuran gue. Apa Ibu mau saya pecahin juga kesabarannya?"

​Ibu Suri tidak bisa menjawab, ia hanya bisa diam membisu seribu bahasa.

​Magnus berdiri, memeluk pinggang Alesia di depan semua orang—para menteri, pendeta, dan rakyat yang mengintip dari balik gerbang. "Dengar semuanya! Mulai hari ini, siapa pun yang meragukan kemurnian jiwa Permaisuriku, akan dianggap sebagai musuh negara! Dewata telah menunjukkan pilihannya melalui hancurnya pusaka ini!"

​"Hidup Yang Mulia Permaisuri!" teriak salah satu prajurit, yang kemudian diikuti oleh teriakan ribuan orang lainnya.

​Alesia hanya bisa nyengir kaku sambil membisiki Magnus. "Bang, makasih ya pembelaannya. Tapi jujur, tangan gue perih bener kena beling cermin tadi. Bisa kita balik sekarang? Gue butuh betadine sama nasi uduk nih kalau ada."

​Magnus tertawa pelan, mencium kening Alesia dengan penuh kasih di bawah sinar rembulan. "Apapun untukmu, Permaisuriku yang luar biasa."

​Sesampainya di Paviliun Mawar, Lily langsung menyambut mereka dengan isak tangis lega.

​"Gusti Permaisuri! Hamba sungguh ketakutan semalam! Hamba terus berdoa agar keajaiban datang!" ucap Lily sambil bersujud dan mencium ujung gaun Alesia.

​"Udah, Ly. Berdiri napa, gue kaga mati ini," Alesia membantu Lily berdiri. "Cuma ya itu, cermin antik istana jadi rongsokan gara-gara tangan gue. Ntar jangan-jangan gue disuruh ganti rugi lagi sama bendahara kerajaan."

​"Hamba rasa, tidak akan ada yang berani menagih ganti rugi kepada seseorang yang baru saja membuat Pendeta Agung bersujud, Yang Mulia," jawab Lily dengan nada formal yang kini tercampur dengan rasa bangga.

​Magnus duduk di sofa, memperhatikan Lily yang sedang membersihkan luka di tangan Alesia dengan air bunga. "Lily, bawakan makanan yang paling mengenyangkan untuk Permaisuri. Dan pastikan tidak ada seorang pun yang mengganggu kami malam ini."

​"Baik, Yang Mulia Raja," Lily membungkuk sopan, lalu berjalan mundur keluar ruangan dengan langkah yang sangat terjaga.

​Setelah Lily pergi, Alesia menatap Magnus yang sedang memperhatikannya tanpa henti. "Kenapa lu liatin gue terus, Bang? Masih kaget liat muka gue yang pake kaus oblong tadi di cermin?"

​Magnus tersenyum tipis, ia menarik Alesia agar duduk di pangkuannya. "Kaus oblong? Apakah itu nama pakaian ksatria di negerimu?"

​"Bukan ksatria, Bang. Itu baju buat rebahan sambil makan kuaci," tawa Alesia renyah.

​"Apapun itu, rupa yang ditunjukkan cermin tadi... dia terlihat sangat berani dan jujur. Sama sepertimu sekarang," Magnus membelai rambut Alesia. "Aku senang cermin itu hancur. Dengan begitu, tidak akan ada lagi yang bisa mempertanyakan keberadaanmu di sisiku."

​Alesia menyandarkan kepalanya di bahu Magnus yang kokoh. "Gue juga seneng, Bang. Seenggaknya sekarang gue kaga perlu akting jadi permaisuri yang lemah lagi. Capek tahu, harus kalem-kalem mulu."

​"Maka jangan pernah kalem," bisik Magnus sebelum mengecup bibir Alesia dengan lembut, mengakhiri malam yang penuh ketegangan itu dengan kedamaian yang baru saja mereka menangkan.

1
Ika Fitri Ana
lanjut....👍👍👍
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Pawon Ana
si Siti ini devinisi genius jalanan...,🥰
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Muft Smoker
aduuuuh koq ibu suriii begini amat sifat ny jelek ,, kaya sofa lama Blum di ganti kulit ny ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: /Grin//Proud//Proud/
total 2 replies
Muft Smoker
awaas ekoor ny terbang alessia🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
enk banget kasih nama orang ,, kasihan si naga takut gx terima jenggot ny di samain ma si kael ikan ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx bnr ad aja ide nama yg selalu muncul di luar kepala ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Muft Smoker
astgaaa permaisuri senjata ny goloook ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,, siap2 jdi kurus anda gustaf🤭🤭🤭🤭🤭🤭 ,, permaisuri gx bisa d tindas lgiiii😏😏😏😏
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
ni nama ny permaisuri jaman emansipasi🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
Muft Smoker
lanjuut kak
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Muft Smoker
raja di panggil abank🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣 ,, catatan baru dlm sejarah ini ,,
Muft Smoker: bnr kak ,, anak abaaah di lawan 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 4 replies
Muft Smoker
kak baru bab awal loo tp udh seruuu liat tingkat alessi yg apa adany ,,
semangat trus ya kak nulis ny
Muft Smoker: sama2 kak
total 2 replies
Muft Smoker
💯 buat lily🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
duuh korban tabrak lari gerobak gorengan🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣


hai kak ,,
aq mampir ksniii
Muft Smoker: sama2 kak
total 2 replies
Hasnawiyah Ansar
iya bener sekali tebakan anda
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
lucuk, keren, gerrrrr banget /Joyful/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
baru bab satu aja udah kocaggh banget🤣
Ariska Kamisa: Terimakasih,
stay read kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Pawon Ana
ini krakter anak Betawinya positif thinking ya tipenya....jadi asyik orangnya...🤭✌️
Ariska Kamisa: dia anak bae bae kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ika Fitri Ana
semua ceritanya bagus..simpel tidak berbelit...jadi tidak membosankan cerita2nya....rekomend banget.
Ika Fitri Ana
semangat ..bagus ceritanya..semoga tetap menarik seperti cerita lainnya thor...👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!