Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Eksekusi Sempurna
Di ruang Kepala Sekolah yang berbau kayu jati dan kertas lama, suasana terasa berat. Pak Wiguna, sang Kepala Sekolah, berkali-kali membetulkan letak kacamatanya sambil menatap tumpukan berkas di atas meja. Itu adalah surat pernyataan yang ditandatangani oleh puluhan siswa, sebuah "senjata" yang disusun rapi oleh Vyan.
"Apa kamu benar-benar yakin dengan semua ini, Vyan?" tanya Pak Wiguna, suaranya berat penuh keraguan.
Vyan duduk dengan punggung tegak, ekspresinya tenang—terlalu tenang untuk remaja berusia tujuh belas tahun.
"Kalau Bapak meragukan validitas tanda tangan itu, saya siap memfasilitasi pertemuan terbuka. Tapi saya rasa, menjaga nama baik sekolah jauh lebih efisien daripada membuat kegaduhan publik, bukan?"
Pak Wiguna terdiam. Kata-kata Vyan halus, tapi menusuk tepat di titik lemah manajemen sekolah: reputasi.
"Tapi Vyan, saya tidak pernah mendengar keluhan langsung dari siswa lain mengenai Pak Andi," gumam Pak Wiguna lagi.
"Itu karena mereka merasa lebih aman mengadu pada saya, Pak. Mereka takut nilai mereka terancam jika bicara langsung pada guru," jawab Vyan mantap. "Mulanya saya mencoba abai, tapi saat keluhan ini menjadi gunung, saya tidak bisa membiarkan integritas sekolah ini runtuh hanya karena satu oknum."
Pak Wiguna menoleh pada Pak Yanto, pembina OSIS yang sedari tadi hanya menyimak. "Bagaimana menurutmu, Yanto?"
"Vyan bisa dipercaya, Pak," jawab Pak Yanto singkat. Ia menatap Vyan dengan tatapan penuh arti.
Percayalah, Pak, batin Pak Yanto, anak ini punya bakat ajaib: dia bisa membuat kasus kecil menghilang seperti sulap, atau meledakkan kasus besar hingga tak tersisa. Dan kali ini, dia sedang ingin 'meledakkan' sesuatu.
Dan Pak Yanto yakin sejak awal Vyan sudah mengincar guru ini. Entah apa yang menjadi pemicunya, mungkin laporan siswa lain, atau bisa jadi hal lainnya, dia pernah mendapati Vyan memutar rekaman CCTV sekolah di ruang OSIS.
Siapa yang dia amati, jelas, Pak Andi. Walau dia beralasan lain saat itu.
"Masalahnya, Vyan," lanjut Pak Wiguna, "Pak Andi itu guru Fisika. Mencari pengganti yang kompeten dan bisa langsung mengajar dalam waktu singkat itu sangat sulit."
Vyan menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan.
"Justru itu, Pak. Saya mendengar kabar bahwa ada pengajar berprestasi dari luar kota yang sedang mencari posisi di sekolah elit seperti ini. Beliau sangat kompeten. Bapak tinggal menilainya sendiri nanti."
Pak Wiguna dan Pak Yanto saling pandang. Mereka merasa sedang tidak berhadapan dengan murid, melainkan seorang direktur yang sedang melakukan restrukturisasi perusahaan.
"Baiklah, Vyan. Bapak akan pertimbangkan. Kami butuh waktu untuk diskusi internal."
"Tentu, Pak. Saya mengerti. Terima kasih atas waktunya."
Vyan bangkit, menjabat tangan keduanya dengan sopan, lalu keluar.
Begitu pintu tertutup, Vyan mengembuskan napas panjang. Sudah berhasil enam puluh persen. Sisanya gampang.
***
Bu Dinda baru saja memasuki mobilnya saat ponselnya bergetar. Dia melihat nama yang tertera di layar ponsel adalah 'My beloved son'.
"Ya, Vyan?"
"Ajukan pengunduran diri sekarang, Bun. Sudah waktunya, Bunda pindah sekolah."
"Apa? Pindah sekolah?" tanyanya tak percaya.
"Iya, Bun," suara Vyan terdengar renyah di seberang telepon. "Ada lowongan mendadak di sekolah Vyan. Guru Fisika. Bunda harus secepatnya kirim berkas ke sini."
"Tapi Vyan, aku tuh baru saja mau diangkat jadi guru tetap di sini. Lagipula..."
Bu Dinda ragu.
"Bun, sekolah Vyan jauh lebih elit. Fasilitasnya lebih baik, dan yang terpenting... kita bisa bertemu setiap hari, bukan cuma akhir pekan," potong Vyan dengan nada membujuk yang sulit ditolak.
Bu Dinda terdiam cukup lama. "Apa mereka akan menerimaku? Bunda tidak punya koneksi di sana."
"Tenang saja. Vyan sudah atur semuanya. Bunda hanya perlu datang dan jadi guru terbaik seperti biasanya."
"Baiklah... terserah kamu saja, Yan."
Bu Dinda menutup telepon, menatap pantulan dirinya di cermin. Ia tahu sudah saatnya ia menghadapi apa yang selama ini ia hindari. Apalagi melihat semangat Vyan, ia sadar bahwa putranya itu sangat membutuhkannya.
***
Vyan menyimpan ponselnya, mengamati pintu ruang kepala sekolah. Membayangkan adegan di dalamnya. Wajah pucat Pak Andi yang membaca surat petisi yang ditandatangani banyak siswa dan siswi sekolah itu.
Dia tidak akan bisa mengelak, apalagi disodorkan beberapa narasi kesaksian siswi. Bibir Vyan tersenyum seolah melihat Pak Andi yang tangannya gemetar memegang berkas tersebut.
Memang di dalam sana Pak Andi berkeringat dingin. Laporan sepanjang itu menghancurkan kredibilitasnya sebagai seorang pendidik.
"Ini fitnah!" ucapnya gemetar. "I-ini berlebihan. Itu hanya perhatian saya sebagai pendidik. Kenapa bisa diplintir begini?"
Pak Wiguna melirik Pak Yanto. Pak Yanto menarik napas lalu berkata, "Jadi, ini benar? Semua pernyataan di sini?"
Pak Yanto mengambil salah satu kertas, lalu membacanya.
"Terdapat pola perilaku repetitif (terlampir dalam log tanggal dan saksi) di mana subjek secara konsisten menciptakan situasi kontak fisik non-konsensual dalam kedok 'interaksi edukatif'. Subjek secara sadar mengeksploitasi relasi kuasa antara guru dan murid untuk menormalkan pelanggaran ruang personal."
Pak Yanto membuka lembar berikutnya. Dia membaca suatu kejadian yang tertera keterangan titimangsa dan lokasinya. "Subjek dengan dalih mengajari memegang tangan Siswi AN lebih lama, bahkan mengelus dengan jari... lalu berikutnya ini, subjek merangkul pundak FN ketika mengeluh pusing... lalu mengusap kepala JS dengan dalih menyemangati... mencubit hidung YM dengan alasan lucu... serta berikutnya pelecehan verbal... "
"Pak Andi!" potong Pak Wiguna. Mereka jelas telah membaca semua berkas itu, karenanya dia sudah mengambil keputusan. "Apa Anda menyangkal semua itu?"
"I-itu fitnah, Pak. Tidak ada buktinya. Apa sekolah ingin menyingkirkan saya tanpa bukti? Ini jelas tak adil."
"Dalam dunia pendidikan, bahkan kalaupun itu hanya pengakuan korban, semuanya akan sah. Apalagi jumlahnya banyak. Apa bapak ingin kepastian hukum atau opini publik?"
Pak Andi tersentak. Apalagi Pak Wiguna menyerahkan sepucuk surat. Jelas itu surat pemecatan.
"Ambil ini dan pergilah. Kecuali Bapak ini laporan resmi kepolisian."
Pak Andi tampak ragu. "Saya tak habis fikir. Fitnah bisa sekeji ini...," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel. Pak Andi mengambil ponselnya. Dia hendak mematikannya tapi panggilan itu mati. Dia melihat ada video yang dikirim padanya. Karena penasaran, dia membukanya dan terhenyak. Itu rekaman CCTV di koridor ketika dia menarik tangan Yasmin dan anak itu berontak lalu kabur.
Sebuah pesan masuk.
"Video ini aman kalau Bapak pergi sekarang juga tanpa banyak alasan."
Pak Andi segera menyambar surat di atas meja, lalu pamitan dan keluar dengan langkah tergesa. Sesaat dia melihat Vyan yang berdiri di sana, tersenyum lalu berbalik dan pergi. Hawa dingin seolah menyergap punggung Pak Andi. Dia berjalan setengah berlari menuju kantornya.
***
Jam pelajaran di kelas 1-7 berlangsung lambat sampai sosok Vyan muncul di ambang pintu. Kehadiran sang Ketua OSIS yang kharismatik itu seketika menghentikan semua bisik-bisik.
"Kak Vyan? Ada perlu apa ke kelas kami?" tanya Dhini, mencoba bersikap profesional meski jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Dia kenal Vyan karena menjadi anggota OSIS.
"Hai, Dhin. Aku mau jemput Yasmin."
Seluruh kelas mendadak sunyi. Puluhan pasang mata beralih pada Yasmin yang sedang sibuk menulis di kursinya. Yasmin mendongak, wajahnya yang polos tampak sangat terkejut melihat Vyan sudah berjalan mendekat ke mejanya.
"Hai, Cantik!" seru Vyan tanpa peduli pada tatapan sinis yang mulai dilemparkan Atikah dan gerombolannya.
"Kak Vyan...?" Yasmin mengerjap, bingung melihat senyum lebar di wajah seniornya itu.
"Aku berhasil. Keinginan kita tercapai!" ucap Vyan mantap.
Di barisan tengah, Atikah berbisik pedas pada Reka, "Masa sih Kak Vyan mendekati cewek bodoh itu?"
"Nggak mungkin! Pasti ada yang salah," timpal Cecil dengan wajah cemas. Reputasi mereka untuk mengucilkan Yasmin terancam runtuh dalam sekejap karena kehadiran Vyan.
"Kenapa bengong?" Vyan menepuk meja Yasmin pelan. "Sekarang kita laksanakan rencana berikutnya."
"Rencana apa?" tanya Yasmin polos.
"Jangan bilang kamu lupa. Pokoknya pulang sekolah aku tunggu di depan gerbang, ya!"
Vyan melirik buku tulis Yasmin yang terbuka. Ia mengambilnya sebelum Yasmin sempat melarang. Di sana, tertulis kalimat jujur yang sangat tidak "akademis":
Bosan. Kenapa orang harus sekolah sih? Pusing... Aku mau pulang...
Vyan tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu di telinga siapa pun yang mendengar. Ia mengembalikan buku itu sambil mengerling nakal.
"Sampai ketemu nanti. Yo, Dhin! Duluan ya!" Vyan melambaikan tangan lalu melenggang pergi meninggalkan kelas yang kini mendidih oleh rasa penasaran.
"Jadi sekarang kamu menggoda Kak Vyan juga?" Atikah langsung menghampiri meja Yasmin dengan nada menuduh.
"Tidak...," jawab Yasmin pelan, ia mengerutkan badan.
"Lalu apa? Jelas-jelas dia menyebutmu 'Cantik' di depan semua orang!"
"Aku juga tidak tahu. Kak Vyan tiba-tiba saja ingin membantuku belajar."
"Belajar?" Reka tertawa mengejek. "Jangan-jangan kamu sengaja pura-pura bodoh supaya bisa menarik perhatian cowok-cowok jenius seperti dia?"
Yasmin tersentak. Tudingan itu terasa sangat tidak masuk akal baginya.
"Sudahlah," Dhini menengahi, meski hatinya sendiri panas. "Aku nggak yakin Kak Vyan serius. Paling dia cuma kasihan."
"Benar juga," sahut Atikah, mencoba menghibur dirinya sendiri. "Nggak mungkin orang sepintar Kak Vyan jatuh ke perangkap cewek nggak berguna kayak Yasmin."
"Iya, benar. Aku juga sependapat," gumam Yasmin pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Namun, jawaban polos itu justru membuat Atikah dan yang lainnya semakin kesal karena merasa Yasmin sedang mengejek mereka dengan kepolosan palsunya.
Di dekat pintu, Tegar berbisik pada Dhini, "Dhin, kalau Vyan yang mendekati Yasmin... apa ancaman kalian tentang 'memusuhi cowok yang membela Yasmin' itu masih berlaku?"
Dhini terdiam, matanya menatap pintu kelas yang kosong. "Sepertinya tidak... siapa yang berani melawan Vyan?"