"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Gema sirine polisi yang menjauh dari gang sempit itu menyisakan keheningan yang mencekam. Namun, penahanan Dewa ternyata hanya berlangsung beberapa jam.
Berkat celah hukum yang disiapkan Bara secara diam-diam sebelum aksesnya diputus total, laporan Nyonya Widya dinyatakan kurang bukti. Dewa pulang dengan langkah gontai, namun disambut pelukan tangis syukur dari Aira yang masih lemas pasca demam.
Meski kembali bersama, kondisi mereka berada di titik nadir. Rekening Dewa beku, uang tunai di saku menipis, dan Aira masih terlalu lemah untuk kembali bekerja di katering. Di dalam kontrakan yang pengap itu, mereka hanya memiliki harapan yang mulai terkikis oleh kenyataan pahit.
Siang itu, saat Dewa sedang mencoba membetulkan kaki kursi yang patah untuk mengalihkan pikirannya, sebuah mobil boks berwarna putih berhenti di mulut gang. Dua petugas berseragam oranye turun menggotong beberapa kardus besar dan sebuah peti kayu.
"Permisi, benar ini kediaman Ibu Aira Pradipta?" tanya salah satu petugas.
Aira, yang sedang duduk di teras sambil mencoba menikmati udara segar, mengernyit bingung. "Iya, benar. Tapi saya tidak memesan apa pun."
"Selamat, Ibu! Anda terpilih sebagai pemenang 'Undian Berkah Belanja' dari minimarket pusat kota. Ini adalah paket hadiah utama berupa peralatan rumah tangga dan tunjangan kebutuhan pokok," ucap petugas itu sambil menyodorkan kertas serah terima.
Aira menutup mulutnya dengan tangan. "Undian? Tapi saya hanya pernah sekali belanja di sana bulan lalu..."
Dewa muncul dari dalam, matanya menyipit penuh selidik. Ia melihat petugas itu menurunkan sebuah mesin cuci modern, kulkas dua pintu yang ramping, penanak nasi digital, hingga satu set kompor tanam yang sangat elegan.
Tidak hanya itu, sebuah amplop cokelat tebal diserahkan kepada Aira.
"Dan ini tunjangan tunainya, Bu. Silakan diterima," petugas itu membungkuk sopan, lalu segera pergi sebelum Dewa sempat bertanya lebih lanjut.
Aira membuka amplop itu di depan Dewa. Isinya adalah tumpukan uang seratus ribuan yang baru dan kaku. Jumlahnya cukup banyak, mungkin sekitar lima puluh juta rupiah.
"Mas! Lihat!" mata Aira berbinar, air mata haru mengalir di pipinya. "Tuhan benar-benar mendengar doa kita. Di saat kita tidak punya apa-apa, hadiah ini datang. Kita bisa bayar kontrakan setahun ke depan, Mas bisa beli motor baru yang lebih layak, dan aku bisa mulai jualan kue di depan rumah!"
Aira memeluk amplop itu erat di dadanya, seolah takut keajaiban itu akan menghilang. Ia bersujud syukur di lantai teras yang semennya sudah retak.
Melihat kegembiraan tulus istrinya, Dewa terdiam. Hatinya teriris. Di satu sisi, ia lega melihat beban Aira terangkat, namun di sisi lain, naluri bisnisnya berteriak bahwa ini bukan kebetulan.
Dewa mendekati kardus-kardus itu. Ia memeriksa label pengirimannya. Tidak ada nama perusahaan undian yang jelas, namun di pojok bawah salah satu kardus, ia melihat sebuah kode kecil yang ditulis tangan dengan tinta biru - B-01.
Rahang Dewa mengeras. Itu adalah kode internal yang biasa digunakan Bara untuk menandai logistik pribadi Tuan Mudanya.
~~
Malam harinya, setelah Aira tertidur lelap dengan senyum yang belum hilang dari wajahnya, Dewa menyelinap keluar. Ia berjalan cukup jauh dari kontrakan, menuju area pemakaman umum yang sunyi untuk menghindari penyadapan sinyal dari orang-orang ibunya.
Ia mengeluarkan ponsel rahasianya, memasang baterai, dan menekan satu tombol cepat.
"Halo, Tuan Muda ?" suara Bara terdengar bergetar, antara lega dan takut.
"Siapa yang memberimu izin, Bara?!" suara Dewa rendah namun tajam seperti sembilu. "Siapa yang memberimu izin untuk mengirimkan hadiah undian itu ke rumahku?"
"Tuan Muda... saya mohon maaf. Tapi saya tidak bisa diam saja," suara Bara mulai terdengar emosional. "Saya melihat melalui kamera pengawas jalanan saat Anda ditangkap polisi kemarin. Saya melihat Nyonya Aira jatuh sakit. Anda adalah pewaris Pradipta Group! Anda tidak seharusnya hidup seperti tikus di lubang gelap !"
"Aku sedang menjalani hidupku, Bara! Dan Aira... dia mencintaiku apa adanya! Kamu hampir merusak semuanya!"
"Merusak apa, Tuan ?" potong Bara berani. "Merusak sandiwara Anda? Nyonya Aira menderita karena kebohongan ini! Dia bekerja sampai pingsan karena mengira suaminya miskin. Apa Anda tega membiarkan wanita sebaik itu terus tersiksa hanya demi ego Anda yang ingin membuktikan sebuah teori cinta ?"
Dewa terdiam. Kata-kata Bara menghantam tepat di pusat rasa bersalahnya.
"Uang itu... mesin cuci itu... itu hanya sebagian kecil dari aset Anda yang saya pindahkan secara ilegal sebelum Nyonya Besar memblokir semuanya," lanjut Bara. "Gunakanlah, Tuan. Demi Nyonya Aira."
Dewa memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya. "Dengar, Bara. Kamu sudah melakukan kesalahan besar. Ibuku tidak bodoh. Dia pasti akan melacak aliran dana dari barang-barang itu. Kamu dalam bahaya."
"Saya tidak peduli, Tuan. Saya lebih baik dipecat atau dipenjara daripada melihat Anda menghancurkan diri sendiri. Tapi... ada satu hal lagi yang harus Anda ketahui."
"Apa?"
"Nyonya Besar sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar penggusuran."
Dewa mengepalkan tinjunya hingga terdengar bunyi gemertak tulang. "Dia tidak akan pernah bisa menyentuh Aira."
"Lalu apa rencana Anda, Tuan? Anda tidak bisa terus-menerus menjadi kuli jika ingin melawan seorang ratu bisnis."
Dewa menatap langit malam yang kelam. Di kejauhan, ia bisa melihat gedung pencakar langit perusahaannya berdiri angkuh, memancarkan cahaya yang mendominasi kota.
"Siapkan semuanya, Bara. Lakukan secara gerilya. Jika Mama ingin menggunakan kekuatan untuk menyiksa aku dan Aira, maka aku akan menggunakan kekuasaanku untuk meruntuhkan kerajaannya dari dalam."
...----------------...
To Be Continue ....