NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Tinta Berdarah Dan Dosa Keabadian

Surat berlambang bulu burung hantu itu terasa sedingin es di tanganku.

​Ramalan. Kata itu terngiang di kepalaku berulang kali. Di Orario, para Dewa memiliki pantangan besar untuk meramalkan masa depan secara spesifik. Jika tulisan fiksiku ini mulai dianggap sebagai sebuah nubuat tentang ancaman baru dari dalam Dungeon, maka aku tidak lagi hanya berurusan dengan penggemar yang antusias. Aku berurusan dengan otoritas tertinggi di kota ini: Guild, dan para Dewa itu sendiri.

​Bulu burung hantu... Athena? Tidak, seingatku Athena tidak ada di Orario. Tapi Hermes, Sang Dewa Pembawa Pesan yang selalu haus akan informasi dan misteri, sering menggunakan berbagai cara untuk mengumpulkan data. Jika Asfi Al Andromeda, kapten Familia Hermes yang dijuluki Perseus, sampai melacakku, nyawaku sebagai manusia biasa tanpa Falna tidak akan ada artinya.

​Aku membakar surat itu di atas lilin hingga menjadi abu. Tanganku sedikit gemetar. Pilihan paling logis adalah berhenti menulis, mengemasi barang-barangku, dan lari dari Orario. Tapi ke mana? Di luar tembok kota ini, monster berkeliaran bebas. Setidaknya di sini, aku punya uang dan perlindungan tak langsung dari ramainya kota.

​"Aku tidak boleh berhenti," gumamku, menatap perkamen yang sempat ternoda tinta. "Jika aku tiba-tiba menghilang, kecurigaan mereka akan berubah menjadi keyakinan. Aku harus membuktikan bahwa ini murni sebuah kisah fiksi. Aku harus membuat ceritanya begitu tragis dan tidak masuk akal, hingga mereka sadar ini hanyalah dongeng."

​Maka, malam itu, aku memaksakan diri kembali memegang pena. Aku mulai menulis klimaks dari jilid kedua, mengadaptasi tragedi terbesar High Cloud Quintet—Pemberontakan Imbibitor Lunae dan pengorbanan Baiheng—ke dalam logika dunia DanMachi.

​"Pertempuran melawan Shuhu, sang monster Abundance, berlangsung selama tujuh hari tujuh malam di lantai yang belum pernah diinjak manusia. Racun regenerasi dari Pohon Keabadian membuat udara di sana menjadi racun bagi siapa pun yang tidak memiliki ketahanan sihir tingkat tinggi. >

"Dalam momen keputusasaan, ketika pilar Dungeon runtuh dan bersiap mengubur mereka semua, Baiheng membuat keputusan. Ia menggunakan panah sihir terakhirnya, mengorbankan inti jiwanya sendiri untuk menciptakan ledakan cahaya yang menghancurkan wujud fisik Shuhu, menyelamatkan rekan-rekannya... namun tubuhnya hancur menjadi debu bercahaya."

​"Kehilangan itu menghancurkan akal sehat Dan Feng. Sang penyihir naga, yang tidak bisa menerima kematian rekan terdekatnya, melakukan hal yang paling tabu bagi para Dewa: mencoba membangkitkan orang mati. Ia mencuri sisa kristal darah Shuhu dan mencoba menggabungkannya dengan sihir penciptaan, mengubah esensi kehidupan Baiheng. Namun, yang bangkit bukanlah Baiheng yang ceria, melainkan monster naga buas—sebuah chimera yang kehilangan ingatan dan mengamuk, memaksa Jingliu, kapten yang sangat menyayangi mereka berdua, untuk menebas monster itu dengan air mata darah."

​Aku meletakkan pena saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Mataku perih. Kisah itu terasa begitu gelap dan menyayat hati, bahkan ketika aku hanya menulis ulangnya dari ingatan masa laluku. Di Orario, kebangkitan dari kematian adalah hal yang mustahil. Dengan memasukkan unsur yang melanggar hukum alam itu sendiri, aku berharap para sarjana Guild akan menepis ceritaku sebagai karya fiksi yang terlalu melebih-lebihkan fantasi.

​Tiga hari kemudian, dengan naskah yang sudah dibundel rapi, aku mengenakan jubah lusuh, menutupi sebagian wajahku dengan syal tebal, dan berjalan menyusuri gang-gang sempit menuju percetakan Tuan Danton.

​Namun, saat aku baru saja berbelok di ujung jalan yang mengarah ke pintu belakang percetakannya, langkahku terhenti.

​Ada dua sosok berjubah putih berdiri di depan pintu toko. Meski jubah mereka menutupi perlengkapan tempur, aku bisa melihat kilau logam dari kacamata aneh yang dikenakan oleh salah satu dari mereka. Jantungku berpacu. Kacamata sihir rahasia... itu adalah ciri khas Item Maker terhebat di Orario. Asfi dari Familia Hermes.

​Mereka sedang menginterogasi Tuan Danton. Pria paruh baya itu tampak berkeringat dingin, menggelengkan kepalanya dengan kuat sambil memegang buku catatannya.

​"...aku bersumpah, Tuan! Anonym hanya datang malam hari, menyelinap dari pintu belakang. Aku tidak pernah melihat wajahnya dengan jelas. Dia hanya meninggalkan naskah dan mengambil bagiannya!" Suara Danton terdengar bergetar, mencoba melindungi dirinya sendiri, dan beruntungnya, juga melindungiku.

​"Begitu ya..." Suara Asfi terdengar tenang namun menyelidik. "Guild sangat tertarik dengan deskripsinya mengenai 'Pohon Keabadian' di lantai bawah. Detailnya terlalu presisi untuk sebuah karangan bebas. Jika dia kembali, berikan kepingan logam ini padanya. Katakan bahwa Dewa kami ingin mengundangnya minum teh."

​Asfi meletakkan sebuah koin perak berlambang tongkat bersayap di atas meja kasir Danton, lalu berbalik pergi bersama rekannya.

​Aku menahan napas, menempelkan punggungku ke dinding batu di gang gelap, berdoa agar mereka tidak memilih rute ini untuk pergi. Setelah memastikan mereka benar-benar menghilang di keramaian jalan utama, aku baru berani menghela napas panjang.

​Naskah jilid kedua di pelukanku kini terasa seperti bom waktu. Para Dewa tidak menganggap ini fiksi; mereka justru mengira aku mengetahui rahasia terdalam Dungeon yang belum terjamah. Permainanku baru saja menjadi jauh lebih mematikan.

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!