Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Udara siang di area parkir khusus dosen dan staf senior Fakultas Hukum terasa gerah, namun bagi Kensington Valerio, itu adalah tempat pelarian terbaik setelah satu jam yang menyiksa di dalam kelas Profesor Miller.
Ia menyandarkan punggungnya pada pintu mobil sport hitamnya, membiarkan jaket kulitnya tersampir sembarangan di atas kap mesin.
Di sampingnya, Marco berdiri dengan gaya yang tak jauh berbeda. Keduanya tampak seperti anomali di tengah lingkungan akademis yang kaku—dua pria dengan aura pemberontak yang seolah-olah sengaja menantang setiap peraturan tak tertulis di sana.
Kensington menyesap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya ke udara, matanya menyipit menatap gedung fakultas yang menjulang. "Miller masih sama. Masih suka bicara seolah dia adalah Tuhan di pengadilan," gerutu Kensington dengan suara serak.
Marco terkekeh, memantik korek apinya. "Dan kau masih sama, Ken. Masih menjadi mahasiswa paling dibenci sekaligus paling ditakuti. Aku heran bagaimana Lexington bisa tahan bekerja di gedung yang sama dengan Mahasiswa seperti mu."
Kensington tidak menjawab. Pikirannya masih tertuju pada pertemuannya di ruangan Lexington tadi pagi. Bayangan wajah kaku Catalonia Vera West—atau si "Late Vera" yang sok suci itu—masih membekas seperti noda yang sulit dibersihkan.
Tepat saat itu, suara langkah kaki yang ritmis dan tegas terdengar di atas aspal.
Tap, tap, tap.
Dari arah pintu samping gedung, Vera muncul. Ia berjalan dengan punggung tegak lurus, memeluk beberapa map tebal di dadanya. Rambutnya masih dalam sanggul sempurna yang tidak bergeser satu milimeter pun. Ia berjalan lurus, menatap ke depan seolah-olah area parkir itu kosong melompati keberadaan dua pria yang sedang merokok di sana.
Kensington hanya meliriknya dari sudut mata, tidak berniat menyapa. Ia lebih memilih menikmati sisa rokoknya.
Namun, kejutan terjadi. Vera, yang sudah melewati mereka sekitar dua meter, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sepatu hak tingginya berderit di atas aspal saat ia memutar tubuh. Ia mundur beberapa langkah, kembali ke posisi di mana ia bisa berhadapan langsung dengan Kensington dan Marco.
Vera menatap kepulan asap rokok yang melayang di dekatnya dengan ekspresi jijik yang tidak ditutup-tupi. Matanya memindai Kensington yang tampak urakan, lalu ia berdesis dengan nada yang sangat rendah namun tajam.
"Dasar berandal."
Dua kata itu jatuh seperti batu di tengah kolam yang tenang.
"What?!" teriak Marco spontan, hampir tersedak asap rokoknya sendiri. Ia menoleh ke arah Vera dengan mata membelalak. "Gadis itu? Dia baru saja mengumpat pada kita?"
Vera tidak gentar. Ia memperbaiki letak kacamata tipisnya, menatap Marco sejenak sebelum kembali menghujamkan pandangannya pada Kensington. "Gedung ini adalah institusi pendidikan, bukan tempat pembuangan limbah moral. Merokok di area ini dilarang, dan bertingkah seolah kalian pemilik tempat ini sangatlah memuakkan."
Marco mendengus tidak percaya, tawanya meledak sinis. "Sombong sekali. Kau dengar itu, Ken? Staf kakakmu ini sepertinya lupa siapa yang menyumbangkan dana untuk perpustakaan baru di belakang sana."
Kensington, berbeda dengan Marco yang emosional, justru menunjukkan reaksi yang jauh lebih dingin. Ia sama sekali tidak menatap Vera. Ia justru mengangkat tangannya, menyesap rokoknya sekali lagi dengan gerakan yang sangat lambat, lalu mengembuskan asapnya tepat ke arah samping—menghindari wajah Vera, namun tetap menunjukkan sikap tidak peduli yang ekstrem.
Kensington memutar tubuhnya sedikit, memunggungi Vera, dan mulai berbicara pada Marco seolah-olah wanita itu hanyalah udara kosong.
"Marco, kau dengar suara nyamuk?" tanya Kensington datar, suaranya dingin tanpa emosi. "Sangat berisik. Padahal ini belum musim panas."
Marco segera menangkap maksud sahabatnya. Ia menyeringai lebar, ikut memunggungi Vera. "Ah, kau benar. Mungkin nyamuk jenis baru. Yang suka memakai blazer kaku dan menyanggul rambutnya terlalu kencang hingga otaknya kekurangan oksigen."
Wajah Vera memerah padam. Ia tidak pernah diabaikan seperti ini sepanjang hidupnya yang penuh prestasi. "Aku sedang bicara pada kalian! Tuan Valerio, kau adalah polusi bagi reputasi saudaramu!"
Kensington masih tidak menoleh. Ia membuang puntung rokoknya ke aspal, lalu menginjaknya dengan ujung sepatu boots-nya hingga hancur. Ia meraih jaket kulitnya, menyampirkannya kembali ke bahu, dan menepuk pundak Marco.
"Ayo pergi. Udara di sini tiba-tiba terasa... basi," ucap Kensington.
"Setuju. Terlalu banyak formalitas yang menyesakkan," sahut Marco.
Keduanya berjalan menuju pintu mobil, benar-benar mengabaikan keberadaan Vera yang berdiri mematung dengan napas yang mulai memburu karena marah.
Bagi Kensington, memberikan reaksi pada wanita seperti Vera adalah sebuah kekalahan. Ia membenci aura penjaga moral yang dibawa wanita itu. Baginya, Vera adalah representasi dari segala hal yang ia benci: aturan, kekakuan, dan kepura-puraan.
Kensington membuka pintu mobilnya, namun sebelum masuk, ia berhenti sejenak. Tanpa menoleh, ia berkata dengan suara yang cukup keras untuk didengar Vera.
"Nasihat gratis, Vera. Jika kau ingin menjaga moral dunia, jangan mulai di tempat parkir. Mulailah dengan melonggarkan sanggulmu. Mungkin itu akan membantumu melihat bahwa dunia tidak berputar di ujung hidungmu yang mancung itu."
Vroom!
Mesin mobil sport itu meraung keras, meninggalkan kepulan asap knalpot yang menyapu udara di depan Vera.
Vera berdiri di sana, mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Kita lihat saja, Kensington Valerio," bisiknya penuh dendam. "Jika kau pikir kau bisa lulus dengan sikap seperti itu di bawah pengawasanku, kau salah besar."
Di dalam mobil, Kensington mencengkeram kemudi dengan erat. Ia tidak tahu mengapa, tapi pertemuan singkat itu meninggalkan rasa tidak nyaman yang aneh. Ia benci wanita itu, sangat benci.
Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, ada sesuatu yang berhasil memicu emosinya selain rasa sakit di masa lalu. Dan itu adalah sebuah sinyal bahaya yang nyata.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭