NovelToon NovelToon
Menikah Karena Tekanan Keluarga

Menikah Karena Tekanan Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 15 : PENYAMARAN KONYOL DAN JEBAKAN MAUT

Kantor studio Green Soul yang biasanya tenang dengan aroma kopi dan tanah basah, kini berubah menjadi markas komando darurat. Devan Arkatama duduk di kursi kebesaran Anya dengan laptop khusus miliknya yang terhubung ke server keamanan global. Di hadapannya, Anya berjalan mondar-mandir, menggigit kuku jarinya—sebuah kebiasaan lama yang muncul kembali saat ia merasa terpojok.

"Aset digital kita tidak dicuri lewat hacking jarak jauh, Anya," Devan memecah keheningan dengan suara baritonnya yang mantap. "Data itu dipindahkan secara fisik menggunakan flash drive terenkripsi dari komputer utamamu. Artinya, pelakunya adalah seseorang yang punya akses masuk ke ruangan ini setelah jam kerja."

Anya berhenti melangkah. "Tapi hanya ada tiga orang yang punya kunci ruangan ini: aku, Laras, dan Pak Jono si mandor. Tidak mungkin Laras berkhianat, dia sudah bersamaku sejak aku masih berkantor di garasi rumah!"

"Dalam bisnis, kepercayaan adalah kemewahan yang mahal, Anya," balas Devan sambil berdiri. "Tapi aku punya rencana. Kita tahu desain itu akan dipresentasikan oleh Lush Terra dalam acara gala tahunan pengembang properti besok malam. Kita harus masuk ke sana, mengambil bukti komunikasi mereka dengan si pengkhianat, dan membersihkan namamu."

"Tapi kita tidak diundang, Devan! Lush Terra tahu siapa kita. Kalau kita muncul sebagai diri sendiri, mereka akan segera menyembunyikan bukti itu," protes Anya.

Devan tersenyum miring—senyuman yang biasanya berarti badai bagi musuh-musuhnya. "Siapa bilang kita akan datang sebagai Devan dan Anya Arkatama?"

...****************...

Dua jam kemudian, di sebuah pusat perbelanjaan kelas menengah—bukan butik langganan mereka—Anya menatap pantulan dirinya di cermin dengan ekspresi ngeri.

"Devan, ini benar-benar buruk," keluh Anya.

Ia mengenakan wig pendek berwarna hitam legam dengan poni rata yang menutupi alisnya. Kacamata dengan bingkai hitam tebal bertengger di hidungnya, dan ia mengenakan setelan blazer kedodoran berwarna cokelat tua yang membuatnya tampak seperti pustakawan dari tahun 80-an.

"Kamu terlihat... sangat terpelajar," goda Devan.

Anya berbalik dan hampir meledak tawanya. Devan Arkatama, pria yang biasanya hanya memakai pakaian custom-made seharga ratusan juta, kini mengenakan kemeja flanel kebesaran, celana jins gombrang, dan kumis palsu yang sedikit miring. Rambut klimisnya dikacak-acak hingga terlihat berantakan.

"Jangan tertawa," desis Devan sambil mencoba membetulkan kumis palsunya yang terasa gatal. "Aku adalah 'Budi', asisten teknisi audio. Dan kamu adalah 'Sari', jurnalis lepas dari majalah arsitektur lokal yang tidak laku."

"Budi? Sari?" Anya tertawa sampai mengeluarkan air mata. "Tuan CEO, namamu sangat... merakyat. Dan kumis itu membuatmu terlihat seperti aktor film jadul yang sedang menyamar jadi detektif gagal."

"Ini demi desainmu, Anya! Kalau kumisku jatuh di depan CEO Lush Terra, kita tamat," ucap Devan sambil mencoba berjalan dengan gaya yang tidak terlalu berwibawa, meskipun postur tubuhnya yang tegap tetap sulit disembunyikan.

Kekonyolan berlanjut saat mereka mencoba masuk ke lokasi gala melalui pintu belakang. Devan membawa tas peralatan kabel yang beratnya luar biasa. Saat mereka melewati petugas keamanan, kumis palsu Devan mulai copot di satu sisi karena ia berkeringat.

"Eh, Mas... itu kumisnya kok goyang?" tanya petugas keamanan dengan curiga.

Anya segera bertindak. Ia merangkul leher Devan dengan agresif dan menempelkan wajahnya ke wajah Devan, berpura-pura sedang membetulkan sesuatu secara mesra. "Aduh Mas, ini lho... ada semut di kumis pacar saya. Gatal ya, Mas Budi?" bisik Anya sambil menekan kembali kumis itu dengan jari yang sudah dilumuri lem bulu mata.

Devan membeku, napasnya memburu karena kedekatan mendadak itu. Petugas keamanan itu tertawa kecil. "Oalah, romantis amat. Ya sudah, masuk-masuk!"

Begitu masuk ke area dapur, Devan segera melepaskan rangkulan Anya. "Kamu hampir mencabut kulit hidungku, Anya!"

"Lebih baik hidungmu lecet daripada kita dipenjara karena masuk tanpa izin!" balas Anya sambil menahan tawa.

...****************...

Suasana gala sangat mewah, kontras dengan penyamaran mereka yang kumal. Anya menyelinap menuju meja VIP tempat CEO Lush Terra, seorang pria licin bernama Gunawan, sedang duduk tertawa bersama beberapa pejabat. Sementara itu, Devan menggunakan keahlian teknisnya untuk menyusup ke ruang server sementara yang didirikan di balik panggung utama.

Anya melihat Gunawan sedang menunjukkan sesuatu di ponselnya kepada seorang pria yang memakai topi rendah di pojok ruangan. Anya mendekat, berpura-pura sedang mengambil foto untuk liputan jurnalistiknya. Saat pria bertopi itu menoleh, jantung Anya berhenti berdetak.

"Pak Jono?" bisik Anya lirih.

Ternyata pelakunya bukan Laras, melainkan Pak Jono—mandor yang sudah ia anggap seperti ayah sendiri. Pak Jono terlihat sedang menerima amplop tebal dari Gunawan.

Rasa sakit karena pengkhianatan itu membuat Anya lupa pada penyamarannya. Ia maju dan berteriak, "Pak Jono! Tega-teganya Bapak!"

Sontak, seluruh ruangan menoleh. Gunawan segera menyadari ada yang tidak beres. "Siapa wanita ini? Keamanan!"

Pak Jono yang panik segera berlari menuju pintu darurat. Anya mencoba mengejarnya, namun Gunawan memerintahkan dua pengawal pribadinya untuk mencegat Anya.

"Lepaskan dia!" Suara Devan menggelegar dari atas panggung.

Devan melompat turun dari panggung setinggi satu meter. Ia membuang tas kabelnya dan dengan gerakan yang sangat tangkas—ingatan tentang latihan karate-nya—ia memukul jatuh pengawal pertama yang mencoba memegang Anya. Pengawal kedua mencoba menyerang dengan pukulan lebar, namun Devan menunduk, menangkap lengan lawan, dan membantingnya ke atas meja prasmanan hingga piring-piring kristal hancur berantakan.

"Anya, kejar Pak Jono! Aku akan mengurus mereka!" teriak Devan.

Anya berlari menembus kerumunan tamu yang panik menuju lorong gelap di belakang gedung. Di sana, Pak Jono hampir mencapai mobil pelariannya.

"Pak Jono, berhenti!" Anya terengah-engah.

Pak Jono berbalik, wajahnya penuh penyesalan dan ketakutan. "Maafkan saya, Mbak Anya... istri saya sakit keras, saya butuh uang operasional. Hendra menawarkan bantuan asal saya menyerahkan desain itu."

"Tapi kenapa harus dengan cara menghancurkanku, Pak?" Anya menangis.

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam meluncur kencang ke arah mereka. Itu adalah Hendra. Pria itu keluar dengan membawa tongkat besi. "Serahkan ponselmu, Jono! Jangan sampai ada bukti komunikasi kita!"

Hendra hendak memukul Pak Jono, namun sebuah tendangan keras menghantam punggungnya. Devan sudah sampai di sana dengan napas yang memburu, kumis palsunya sudah hilang separuh, menampakkan wajah tampannya yang penuh amarah.

"Hendra... kita bertemu lagi," desis Devan.

Pertarungan singkat terjadi di parkiran yang gelap itu. Hendra mencoba mengayunkan besi, namun Devan jauh lebih cepat. Ia menghindar ke samping, memberikan pukulan telak ke rahang Hendra, lalu mengunci tangannya di belakang punggung.

"Anya, hubungi polisi. Sekarang," perintah Devan.

Beberapa menit kemudian, sirine polisi meraung-raung mendekati lokasi. Hendra ditangkap, dan Pak Jono menyerahkan dirinya dengan penuh penyesalan. Seluruh bukti transfer dan percakapan rahasia ada di ponsel Pak Jono, cukup untuk membersihkan nama Anya dan menjebloskan Gunawan serta Hendra ke penjara.

Malam itu, di depan gedung gala yang sudah kacau, Devan menarik Anya ke dalam pelukannya. Wig Anya sudah miring, kacamata hitamnya patah, dan jas Devan sobek di bagian bahu.

"Kita terlihat sangat buruk," ucap Anya di dada Devan.

"Iya, tapi setidaknya kita buruk bersama-sama," balas Devan sambil mencium kening Anya yang masih tertutup poni palsu.

Mereka tertawa di tengah kekacauan itu. Masalah hukum mungkin selesai, tapi ada satu hal yang baru saja mereka sadari: mereka adalah tim yang tak terkalahkan. Namun, saat mereka kembali ke mobil, ponsel Devan bergetar. Sebuah pesan dari Mama Arkatama muncul di layar:

"Devan, Anya... cepat pulang. Papa pingsan. Dia tahu soal kontrak itu dari seseorang di rumah sakit."

Dunia mereka yang baru saja tenang, seketika kembali diguncang badai yang lebih besar.

1
Emily
ada ada aja orang jahat
Emily
😂😂😂jus pare satu ember ...ada aja mama sarah
Emily
Valerie otak kriminal
Emily
memang kampret si valerie
Emily
Valerie Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!