NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Terenggutnya sang pewaris.

Di sebuah ruangan tersembunyi di salah satu properti milik Mahendra, Dirgantara tergeletak lemah di atas ranjang besar. Pengaruh obat yang disuntikkan ke tubuhnya masih bekerja kuat, membuat kesadarannya kabur dan tubuhnya terasa panas seolah terbakar dari dalam. Ia menggeliat tanpa kendali, berusaha meraih pegangan apa pun, tetapi otot-ototnya terlalu lemah.

"Aaah… kenapa efek obat ini tidak berhenti… tubuhku panas… tolong…" gumamnya dengan suara parau, tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang ia ucapkan.

Mahendra dan Dika berdiri di sisi ranjang dengan ekspresi puas seakan menikmati kekacauan yang terjadi pada Dirgantara.

“Baby… lihat kondisimu. Kamu benar‑benar manis,” ucap Mahendra sambil tersenyum miring.

Tubuh Dirgantara telah dipenuhi berbagai jenis obat: penenang, bius ringan, hingga obat yang melemahkan kontrol diri. Dengan dosis setinggi itu, hampir mustahil baginya untuk memulihkan kesadaran penuh.

Mahendra dan Dika terus mendekatinya, menyentuh wajah dan rambutnya seakan ia adalah kepemilikan pribadi mereka. Dirgantara hanya bisa mengeluarkan suara lirih, napasnya tersengal.

Dika mencengkeram tangannya. “Kau benar‑benar sempurna…”

Dirgantara yang setengah sadar tiba‑tiba bergumam lirih. “Ibu… aku takut… tolong…”

Mahendra langsung menegang. Tatapannya berubah dingin sebelum ia menampar wajah Dirgantara dengan kesal.

“Berhenti memanggil ibumu!” bentaknya. “Mulai sekarang, kau hanya milikku. Kau dengar? Milikku!”

Dika menatap Mahendra, namun tidak menghentikannya.

Mahendra meraih wajah Dirgantara dan memaksanya menatapnya.

“Kita akan pergi ke Thailand malam ini. Di sana, kita akan menikah. Aku sudah menyiapkan semuanya. Dan setelah itu… aku akan menghapus semua masa lalumu—termasuk keluargamu.”

Ia mengusap pipi Dirgantara dengan lembut namun penuh obsesi.

“Mulai sekarang, kau bukan Dirgantara. Kau akan menjadi Michelle.”

Beberapa jam kemudian, setelah memaksa Dirgantara mandi dan berganti pakaian, Mahendra dan Dika membawanya ke jet pribadi yang sudah menunggu. Di dalam pesawat, Dika kembali menyuntikkan obat—kali ini obat khusus untuk melemahkan ingatan jangka panjangnya.

“Setelah ini, dia hanya akan ingat kita,” ucap Dika pelan.

Sesampainya di Thailand, semuanya sudah diatur. Dokumen, gedung tempat upacara, hingga staf yang sudah dibayar untuk merahasiakan identitas mereka. Pernikahan berlangsung cepat, kaku, namun legal di mata hukum setempat.

Mansion tempat mereka tinggal adalah bangunan megah, dikelilingi pagar tinggi dan penjagaan ketat. Mahendra sengaja hanya mempekerjakan pelayan laki-laki karena obsesinya yang berlebihan terhadap Dirgantara atau Michelle, nama barunya.

Di kamar utama mansion itu, Mahendra memandang Dirgantara yang tampak kebingungan namun tenang, seperti anak kecil yang baru bangun dari mimpi panjang.

“Mahendra… Dika… kita ada di mana?” tanyanya polos, senyumnya lembut tapi kosong.

Mahendra meraih tangan Michelle dan mengecup punggungnya.

“Kita di rumah kita, Michelle. Dunia baru kita.”

Dika menyusul dan menepuk lembut kepala Dirgantara. “Kau aman bersama kami.”

Bagi Dirgantara yang kini tak memiliki memorinya, semua itu terdengar masuk akal. Ia hanya tersenyum dan mengikuti keduanya tanpa banyak tanya. Masa lalunya telah hilang terkubur oleh obat yang dipaksakan kepadanya.

Sementara itu, jauh di Italia…

Liora dan John tiba kembali di kediaman keluarga. Begitu semuanya diceritakan, suasana langsung berubah tegang. Heron, yang biasanya tenang, tampak murka dan langsung memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Dirgantara di seluruh dunia.

Liora tidak sanggup menahan emosinya. Ia menghancurkan vas, memukul meja, hingga merobek kertas apa pun yang berada dalam jangkauannya.

“Di mana kamu, Nak… di mana kamu…” tangisnya pecah sambil memegangi dadanya. Tangannya sampai berdarah akibat menghancurkan benda-benda di sekitarnya.

John memeluknya erat. “Liora… sayang… kita akan menemukannya. Aku janji.”

“Aku tidak bisa… Dirgantara hilang… putraku hilang…” Liora jatuh berlutut sambil menjerit.

Hari-hari di Italia semakin suram. Tujuh hari tanpa tidur, Liora hanya memikirkan putranya. Berat badannya turun, wajahnya pucat, dan matanya bengkak karena menangis tanpa henti.

Hingga suatu malam, ponsel Heron berdering.

“Leon… kau menemukan cucuku?” tanya Heron dengan suara tegang.

“Ya, Tuan… Dirgantara ditemukan di Thailand. Ia… ia sudah menikah dengan Mahendra dan Dika. Mereka tinggal di mansion milik Mahendra.”

Heron terdiam. Tangannya gemetar.

“Dan… satu lagi, Tuan. Ingatan Dirgantara telah hilang. Ia tak mengenali keluarganya. Namanya sekarang Michelle.”

Telepon terputus. Heron menutup wajahnya dengan tangan.

Willia mendekat. “Mas… kenapa kamu menangis?”

Heron memeluk istrinya erat. “Dirgantara… cucu kita… dia… sudah menikah… dan kehilangan ingatannya.”

Air mata pecah dari seluruh keluarga.

Liora yang mendengar itu langsung roboh dan pingsan.

“Liora! Sayang!” John berusaha menyadarkannya. Heron membantu mengangkat tubuh lemas itu ke sofa.

Setelah beberapa menit, Liora sadar. Matanya basah, suaranya serak.

“Dirgantara… di mana kamu… nak…” ia terisak hingga bahunya bergetar.

Lalu ia berkata dengan suara hampir tak terdengar, “Ayah… aku mau ke Thailand. Aku harus bertemu putraku… meski ia tak mengenali aku lagi.”

Heron mengangguk, meski wajahnya pucat. “Baik. Kita pergi malam ini.”

Dengan langkah gontai dan mata yang tak pernah berhenti menangis, Liora bersiap naik pesawat.

“Dirgantara… tunggu ibu, Nak… ibu akan menjemputmu kembali…”

Di luar jendela pesawat, udara malam terasa dingin.

Namun di hati seorang ibu, yang ada hanya satu hal:

Harapan terakhir untuk memeluk putranya lagi.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!