Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Udara di Area Inti Reruntuhan Kuno terasa berbeda. Tidak ada lagi bau anyir siluman tingkat rendah atau lolongan binatang buas yang bergema dari segala arah. Yang ada hanyalah keheningan mati yang mencekik.
Jiang Xuan dan Lin Ruoxue berdiri di tepi sebuah hutan batu bawah tanah yang masif. Pilar-pilar batu sebesar menara menjulang menembus langit-langit gua, dihiasi oleh reruntuhan bangunan kuno yang telah hancur separuh. Cahaya di area ini sedikit lebih terang, berasal dari hamparan lumut merah dan biru yang menempel tebal di dinding tebing.
Namun, keheningan ini bukanlah tanda keamanan. Ini adalah keheningan dari sebuah ladang perburuan.
Bagi siluman, Reruntuhan Kuno adalah sarang. Namun bagi murid-murid luar Sekte Awan Azure yang berhasil bertahan hidup hingga ke Area Inti, tempat ini telah mengubah mereka menjadi sesuatu yang jauh lebih buas daripada monster. Hukum sekte telah lama menguap. Moralisme fana telah dibuang ke tong sampah. Di antara pilar-pilar batu ini, puluhan murid yang paranoid sedang bersembunyi dalam bayangan, siap menusuk punggung saudara seperguruan mereka sendiri demi merampas sebutir pil atau sepotong batu roh.
Jiang Xuan menghentikan langkahnya di balik sebuah pilar batu besar. Matanya yang segelap jurang menyapu lingkungan sekitar. Roda Langit di mata kirinya berputar pelan, menangkap belasan benang takdir pucat yang bersembunyi di balik puing-puing, saling tumpang tindih dalam ketakutan dan keserakahan.
"Mencari mereka satu per satu di dalam labirin batu ini hanya akan membuang Qi dan waktuku," otak rasional Jiang Xuan berhitung dengan dingin. "Mereka seperti tikus tanah. Semakin dikejar, semakin dalam mereka menggali lubang. Jika aku ingin menyembelih babi-babi gemuk ini sekaligus, aku harus membiarkan mereka keluar sendiri dari kandangnya."
Tatapan Jiang Xuan beralih ke samping, menatap Lin Ruoxue yang sedang bersandar di dinding batu sambil mengatur napasnya yang putus-putus. Gadis itu sudah mencapai batas fisiknya, tubuhnya penuh luka, namun matanya masih menolak untuk padam.
Sebuah taktik kotor, sadis, dan sangat efisien terbentuk di kepala sang Cendekiawan Tinta Hantu.
"Pelayan," panggil Jiang Xuan datar.
Lin Ruoxue menoleh, menatap Jiang Xuan dengan kewaspadaan penuh kebencian.
"Di depan kita ada area terbuka seluas seratus langkah yang diterangi oleh lumut tebing," Jiang Xuan menunjuk menggunakan ujung Pena Kuas Tulangnya ke arah tanah lapang di tengah hutan batu. "Kau akan berjalan ke sana sendirian. Berjalanlah dengan pincang. Tunjukkan bahwa kau sedang kehabisan Qi. Dan yang paling penting, pegang pedang baja di tanganmu agar terlihat jelas."
Mata Lin Ruoxue melebar. Penghinaan luar biasa langsung membakar dadanya. Ia tidak bodoh. Ia tahu persis apa maksud dari perintah tersebut.
"Kau... kau menjadikanku umpan?" suara Lin Ruoxue bergetar oleh amarah yang tertahan. "Kau ingin aku memancing perampok keluar dengan mengorbankan martabatku?!"
"Martabat tidak akan menyembuhkan meridianmu yang robek, dan harga diri tidak akan membelah leher musuhmu," potong Jiang Xuan tanpa belas kasihan. "Di mata anjing-anjing kelaparan yang bersembunyi di sana, seorang gadis yang terluka parah memegang senjata mahal adalah daging segar yang paling menggiurkan. Mereka tidak akan melewatkannya."
"Bajingan keparat! Aku lebih baik mati bertarung di garis depan daripada melacurkan harga diriku sebagai jebakan lemah!" Lin Ruoxue menggeram, tangannya mencengkeram pedang bajanya erat-erat, bersiap menolak perintah tersebut dengan sisa nyawanya.
Jiang Xuan tidak merespons dengan kata-kata. Ia hanya menatap gadis itu dengan kekosongan absolut, lalu memicu sedikit Niat Formasinya ke arah Segel Teratai Hitam.
BZZZT!
"Ukh!" Lin Ruoxue langsung terhuyung ke depan, mencengkeram kepalanya saat rasa sakit yang merobek jiwa menghantam otaknya. Kakinya bergerak sendiri tanpa bisa ia kendalikan. Tubuhnya mengkhianatinya, dipaksa tunduk oleh Kontrak Jiwa absolut.
Dengan napas tersengal dan kutukan yang terus bergema di dalam hatinya, Lin Ruoxue melangkah keluar dari bayangan pilar. Ia berjalan tertatih-tatih memasuki area terbuka yang disinari lumut merah terang, sepenuhnya mengekspos dirinya kepada siapa pun yang mengintai dari kegelapan.
Aktingnya nyaris sempurna, murni karena penderitaannya memang nyata. Darah segar menetes dari luka di kakinya, meninggalkan jejak merah di atas lantai berdebu. Napasnya berat. Pedang baja berkualitas tinggi di tangannya terseret di lantai, menghasilkan suara gesekan logam yang menggema memecah keheningan Area Inti.
Ia benar-benar terlihat seperti domba sekarat yang tersesat di sarang serigala.
Jiang Xuan berdiri bersandar di balik bayangan pilar, melipat tangan di dada. Matanya mengawasi pertunjukan itu layaknya seorang penonton di barisan terdepan teater kematian.
Satu... dua... tiga.
Jiang Xuan menghitung dalam hati. Hanya butuh tiga tarikan napas hingga keserakahan manusia mengalahkan kewaspadaan mereka.
SREK! TAP!
Empat bayangan melesat turun dari atas reruntuhan bangunan kuno di sisi kanan area terbuka. Mereka mendarat dengan gerakan lincah, langsung menyebar dan membentuk formasi setengah lingkaran, mengepung Lin Ruoxue yang langsung menghentikan langkahnya.
Keempat sosok itu adalah murid sekte luar. Namun, jubah mereka kotor oleh lumpur dan darah kering. Wajah mereka tirus, mata mereka cekung, namun memancarkan kegilaan dan nafsu yang sangat liar. Tiga di antaranya berada di tahap lima Kondensasi Qi, sementara pemimpin mereka—seorang pemuda jangkung dengan luka codet melintang di mata kanannya—memancarkan fluktuasi stabil di tahap enam Kondensasi Qi. Mereka adalah kelompok elit yang telah membuang seluruh moralitas mereka demi bertahan hidup.
"Oh, lihat apa yang baru saja jatuh ke pangkuan kita," ucap si pemimpin bercodet, suaranya parau dan dipenuhi ejekan. Ia mengusap bilah golok besarnya yang berkarat. "Jika ini bukan Adik Seperguruan Lin Ruoxue, si bunga es Sekte Awan Azure yang angkuh. Kenapa kau terlihat sangat menyedihkan?"
Murid lainnya, seorang pria kurus dengan gigi kuning, tertawa menjijikkan. Matanya menelanjangi tubuh Lin Ruoxue yang jubahnya telah robek di banyak bagian, mengekspos kulit pucat yang tertutup darah dan keringat.
"Kudengar dia sangat sombong di sekte luar. Tidak pernah membiarkan laki-laki menatap matanya," cibir pria kurus itu, menjilat bibirnya yang kering. "Tapi di Reruntuhan Kuno, kesombongan tidak laku. Apalagi pedang baja kelas menengah di tangannya itu... sayang sekali digunakan oleh tangan yang gemetar."
Lin Ruoxue mengangkat pedangnya, menopang tubuhnya yang nyaris ambruk. "Mundur," desis gadis itu, matanya berkilat memancarkan hawa dingin sisa-sisa Iblis Es Hitam. "Satu langkah lagi, aku akan membekukan darah di jantung kalian."
"Hahaha! Membekukan kami? Dengan meridian yang sudah nyaris putus itu?" Pemimpin bercodet itu meludah ke lantai. "Aturan sekte tidak berlaku di sini, Pelacur Kecil. Kami telah membunuh belasan saudara seperguruan kita sendiri selama tiga minggu ini. Menambahkanmu ke dalam daftar bukanlah masalah."
Keempat pria itu mulai menyempitkan kepungan. Niat buruk menguar jelas dari senyum mereka.
"Jatuhkan pedang bajamu, serahkan kantong penyimpananmu, dan lucuti pakaianmu," perintah si pemimpin bercodet dengan nada menjijikkan yang tak terbantahkan. "Layani kami berempat malam ini. Jika kau patuh dan membuat kami puas, kami mungkin akan membiarkanmu hidup sebagai budak pemuas kami sampai pintu keluar dibuka."
Harga diri Lin Ruoxue sebagai seorang kultivator diinjak-injak hingga menjadi debu. Namun, sebelum ia sempat meledakkan sisa Qi es di dantiannya dalam keputusasaan, sesuatu terjadi.
Tekanan udara di area terbuka itu tiba-tiba anjlok drastis. Hawa dingin yang memancar dari Lin Ruoxue seketika tertutupi oleh aura mematikan yang jauh lebih purba, gelap, dan absolut.
Sebuah langkah kaki yang sangat stabil terdengar dari balik bayangan pilar batu besar di belakang Lin Ruoxue.
Tap. Tap.
Langkah itu tidak terburu-buru, namun setiap ketukannya seolah beresonansi langsung dengan detak jantung keempat murid perampok tersebut, memicu insting hewan mereka untuk merinding ketakutan.
"Menyerahkan kantong penyimpanan memang ide yang bagus," sebuah suara datar, serak, dan memancarkan arogansi kelam bergema membelah area tersebut. "Tetapi bagian setelahnya terdengar sangat membuang waktu."
Empat murid itu tersentak. Mereka menoleh tajam ke arah sumber suara.
Dari balik tirai kegelapan, Jiang Xuan melangkah keluar. Jubah sekte luar yang ia kenakan berkibar pelan. Wajah remajanya sepucat mayat, sepasang matanya gelap gulita layaknya jurang tanpa dasar. Di tangan kanannya, ia memutar sebuah Pena Kuas Tulang hitam secara santai dengan jari-jarinya.
"Siapa kau?!" bentak pemimpin bercodet, mengacungkan goloknya, namun insting bertahannya memperingatkan bahwa pemuda kurus di depannya adalah eksistensi yang sangat salah.
Jiang Xuan tidak menjawab. Ia berjalan santai melewati Lin Ruoxue, memosisikan dirinya tepat di depan gadis yang dijadikan umpan tersebut. Ia menatap keempat elit murid luar itu bukan sebagai ancaman, melainkan menatap seonggok daging babi yang sudah tergeletak di atas talenan jagal.
Sebuah senyum miring perlahan terbentuk di bibir Jiang Xuan. Senyum yang murni efisien, tanpa belas kasihan, dan menjanjikan pembantaian yang mutlak.
Tangan kanannya yang memegang Kuas Tulang berhenti berputar. Ujung bulu hitam legam itu perlahan terangkat, menunjuk tepat ke arah leher sang pemimpin bercodet.
"Sumbangkan darah kalian untuk tintaku," bisik Jiang Xuan.
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏