Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.
Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.
Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.
"Aku adalah ... Qin Xiang."
Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20: Kembali Ke Sekte
Beberapa hari telah berlalu, dan berkat kerja keras penduduk yang tak kenal lelah, dibantu oleh kekuatan fisik Qin Xiang yang di luar nalar serta semangat Qu Long yang membara, hampir semua tempat di dalam desa sudah dipulihkan. Rumah-rumah yang tadinya hanya berupa tumpukan kayu arang dan puing berserakan kini telah berdiri kembali.
Namun, Qin Xiang dan Qu Long tidak terburu-buru untuk kembali ke sekte. Selama hari-hari terakhir, Qu Long menghabiskan seluruh waktunya berpatroli mengelilingi perbatasan desa bersama sekelompok pemuda desa sembari memberikan beberapa arahan bertarung melalui beberapa lembar gulungan teknik "sederhana" yang ditulis langsung oleh tangan Qin Xiang.
Qu Long sendiri awalnya tidak terlalu penasaran, tetapi setelah mengetahui isi di atas gulungan lusuh itu, ia yakin teknik ini setidaknya berada di kelas Tinggi atau bahkan melampauinya. Yang lebih mengejutkan lagi terletak pada setiap kalimat penjelasannya yang sangat mudah dipahami—seperti belajar membaca dan menghitung.
"Kakak Qin...!" Qu Long berlari kecil menuju sudut terjauh desa. Langkahnya mendadak terhenti, napasnya seolah tersangkut di tenggorokan saat melihat pemandangan di depannya.
Di bawah bayang-bayang pohon tua, ia melihat pemandangan yang menghancurkan logika. Jemari Qin Xiang bergerak dengan keanggunan bak seorang pelukis, menari-nari di udara hampa tanpa memegang kuas sedikit pun. Setiap gerakannya meninggalkan jejak cahaya keemasan yang membentuk rune-rune misterius yang berdenyut pelan. Rune-rune itu tidak diam tetapi mereka berputar dan bergetar seirama dengan alam di sekitarnya.
Qu Long mematung di tempatnya berdiri, nyaris tak berani berkedip atau bernapas karena takut sedikit saja getaran suaranya akan mengusik jalinan energi halus yang sedang dibuat oleh pemuda di hadapannya itu.
"Masuk!"
Perintah itu terdengar lirih, namun membawa otoritas yang tak terbantahkan. Seketika, puluhan rune emas yang melayang itu melesat serentak dengan suara mendesis halus, menembus sebuah batu besar yang terlihat biasa-biasa saja. Batu itu bersinar terang benderang sejenak, memancarkan gelombang energi transparan yang menyapu area sekitarnya, sebelum akhirnya kembali tenang dan tampak biasa saja.
"Huft..." Qin Xiang menarik napas panjang, melepaskan ketegangan dari tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, seolah ia baru saja memikul beban berat di atas pundaknya selama berjam-jam. Kucuran keringat membasahi jubahnya, mengalir turun melewati dagunya hingga jatuh ke tanah. Sebuah senyum puas yang tipis tersungging di wajahnya yang lesuh.
"Berhasil..." gumamnya lirih, hampir tenggelam oleh suara angin.
"Kakak Qin, apakah itu... sebuah Formasi Array Pelindung?" tanya Qu Long dengan mata melotot dan wajah yang dipenuhi kekaguman yang tak terbendung. "Jangan-jangan, selain ahli pedang, kau juga seorang Master Array?"
Qin Xiang menyeka keringat di keningnya, auranya yang tadi meluap kini kembali menyusut menjadi setenang telaga sunyi. "Aku hanya mempelajari sedikit dasar-dasarnya saat merasa bosan di masa lalu," jawabnya datar.
Sedikit dasar?Qu Long hanya bisa membatin pahit sembari menatap batu granit itu dengan pandangan ngeri. Ia mulai mengerti bahwa kata "sedikit" dari mulut Qin Xiang bisa berarti sebuah penghinaan bagi standar normal di dunia ini.
"Setidaknya array ini akan menjadi perisai yang tangguh selama tiga hari penuh jika gerombolan binatang buas kembali menyerang seperti sebelumnya," jelas Qin Xiang, memaparkan kelebihan dari array formasi yang baru saja ia selesaikan. "Array ini hanya bersifat sementara karena kita tidak memiliki Kristal Qi sebagai pasokan energi. Tetapi selama yang datang bukanlah Binatang Buas tingkat empat atau yang setara seharusnya aman."
"Itu sudah sangat luar biasa, Kakak Qin!!" Qu Long berseru dengan kegirangan yang meluap. Menahan serangan tingkat tiga—yang setara dengan ranah Inti Formasi—adalah sebuah ‘jimat pelindung’ bagi warga desa yang tak berdaya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia segera berbalik dan berlari terbirit-birit menuju rumah Kepala Desa, ingin membagikan kabar gembira ini seperti anak kecil yang baru saja melihat sesuatu terbang di langit.
Qin Xiang hanya menatap punggung bulat itu sembari menggelengkan kepala pelan. Ia memang melakukan ini karena perasaan tulus dan tidak merugikannya. Terlebih ada pemilik Tubuh Suci Alkimia di tempat ini yang mungkin akan sedikit membantunya di masa depan.
...
Keesokan paginya, saat kabut fajar yang dingin masih menyelimuti jalanan berbatu Desa Quang, suasana di gerbang utama terasa sangat mengharukan. Hampir seluruh penduduk desa, mulai dari yang tua hingga anak-anak, berkumpul di sana untuk melepas kepergian dua penyelamat mereka. Mata mereka berkaca-kaca, memancarkan rasa terima kasih yang teramat dalam.
"Kakak Qin! Tunggu sebentar!"
Suara mungil Qu Xiao Lian membelah kerumunan penduduk. Gadis kecil itu berlari mendekat dengan wajah yang jernih dan berseri. Dari balik punggungnya, ia mengeluarkan sebuah buah bulat berwarna merah padam yang memancarkan aroma wangi yang sangat pekat, aroma yang seolah mampu menjernihkan pikiran siapa pun yang menghirupnya.
"Ini... Buah Huolu?" Qin Xiang tertegun sesaat saat menerima buah tersebut ke telapak tangannya. Matanya sedikit melebar; ia mengenali benda ini bukan sebagai buah biasa, melainkan buah spiritual tingkat tinggi yang akan sangat berguna untuk memperkuat fondasi tubuhnya.
"Enn!" Xiao Lian mengangguk dengan semangat. "Kuda itu yang menyuruhku memberikannya. Dia berkata padaku bahwa ini adalah hadiah khusus untuk Kakak karena sudah menjaga desa kami dengan sangat baik."
"Eh, Xiao Lian, lalu bagaimana denganku? Bukankah aku juga berjuang setengah mati membangun kembali rumah-rumah ini?" Qu Long datang mendekat dengan wajah penuh protes yang dibuat-buat, mencoba mencuri perhatian adiknya sembari memasang tampang memelas.
Xiao Lian memiringkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat kembali pesan dari Kuda Roh Herbal yang misterius itu. "Umm... kuda itu bilang, Kakak Qu Long adalah 'kakak yang buruk' karena sempat meninggalkan adiknya sendirian di tengah bahaya, jadi tidak ada hadiah untuk orang yang ceroboh sepertimu."
"Ugh...!" Dada Qu Long seolah tertusuk ribuan anak panah tak kasat mata. Ia tak menyangka ada hari ketika ia harus dihina oleh seekor binatang.
"Sudahlah, Qu Long. Simpan keluhanmu untuk nanti. Kita akan menerima hadiah yang mungkin berguna saat kita menyerahkan bukti misi di hadapan Tetua Aula nanti," hibur Qin Xiang sembari menyimpan buah berharga itu ke dalam tas kulitnya.
"Kau benar, Kakak Qin..." Qu Long menghela napas panjang, mencoba memulihkan harga dirinya yang baru saja hancur berantakan.
"Hihihi... Semangat, Kakak! Hati-hati di jalan!" Qu Xiao Lian melambaikan tangan kecilnya sembari tertawa manis. Di matanya, kakaknya memang tidak pernah berubah, selalu berisik namun memiliki hati yang sangat hangat.
“Selamat tinggal, hati-hati di jalan!” seru semua penduduk desa menatap punggung keduanya yang mulai menghilang ke kedalaman hutan yang rimbun di kejauhan.
Bersambung!