NovelToon NovelToon
Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
​Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrak Mati atau Kontrak Makan?

Sinar matahari pagi menerobos celah-celah jendela menara barat dengan sangat tidak sopan, mengenai tepat di wajah Ailen yang sedang tidur mendengkur dengan posisi tubuh melintang. Kepalanya berada di lantai, sementara kakinya menggantung di atas tempat tidur mewah berukuran king size. Air liur tipis menghiasi sudut bibirnya, sebuah pemandangan yang akan membuat desainer interior kamar ini pingsan seketika.

​"WOY! BANGUN! MAKANAN DATANG!"

​Suara teriakan itu bukan berasal dari pelayan, melainkan dari Ailen sendiri yang tiba-tiba terbangun karena insting perutnya mencium bau mentega dan cokelat. Ia langsung melompat berdiri, melakukan gerakan peregangan yang lebih mirip pemanasan atlet silat daripada orang baru bangun tidur.

​Di depan pintu kamar yang terbuat dari baja itu, dua penjaga berwajah sangar tampak kelelahan. Mereka tidak tidur semalaman karena harus mendengarkan Ailen curhat melalui lubang kecil di pintu tentang betapa sulitnya mencari ukuran kutang yang pas kalau sedang diskon besar-besaran.

​"Mana martabaknya? Mas Van Houten nggak bohong kan?" tanya Ailen sambil menggedor pintu baja itu seperti penagih hutang.

​Pintu terbuka otomatis. Bukannya pelayan, yang muncul adalah Leon Vancort. Pria itu tampak sangat rapi dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan urat-urat tangan dan jam tangan seharga satu pulau pribadi. Namun, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Jelas, konser "Kucing Garong" Ailen semalam telah merusak jam tidur sang Kaisar Mafia.

​"Mas Leon! Pagi-pagi udah ganteng aja. Udah mandi pake air kembang ya?" sapa Ailen dengan cengiran tanpa dosa.

​Leon masuk ke dalam kamar, diikuti oleh seorang asisten yang membawa nampan perak. Di atas nampan itu bukan hanya ada martabak manis yang sudah dingin, tapi juga tumpukan dokumen tebal.

​"Duduk," perintah Leon pendek. Suaranya serak, menambah kesan maskulin yang mematikan.

​Ailen langsung duduk di lantai, bukan di kursi. Ia menyambar martabak itu dan menggigitnya dengan penuh gairah. "Hmm... ini baru hidup! Walaupun agak alot dikit karena kelamaan di luar, tapi rasa cokelatnya... beuh, nendang banget kayak tendangan Tsubasa!"

​Leon menarik sebuah kursi kayu dan duduk di hadapan Ailen. Ia memperhatikan gadis itu makan dengan perasaan campur aduk antara jijik dan kagum. "Setelah aku menyelidiki latar belakangmu semalam, Ailen Gavril... kau benar-benar bersih. Tidak ada catatan kriminal, kecuali laporan dari Pak RT setempat karena kau sering memanjat pohon mangga warga untuk menyelamatkan layangan."

​Ailen berhenti mengunyah, pipinya menggembung. "Heh, itu namanya misi kemanusiaan, Mas. Layangan itu punya perasaan, kalau nyangkut di pohon dia kesepian."

​Leon mengabaikan komentar itu. Ia meletakkan dokumen di atas meja kecil di sampingnya. "Kemampuan bertarungmu terlalu bagus untuk disia-siakan menjadi kuli panggul atau pencari sandal jepit. Aku butuh orang seperti kau."

​Ailen menelan martabaknya dengan susah payah. "Orang kayak saya? Maksudnya orang yang cantik, baik hati, dan tidak sombong?"

​"Orang yang tidak terduga," ralat Leon. "Musuh-musuhku mengharapkan pembunuh bayaran dengan setelan jas dan wajah dingin. Mereka tidak akan pernah menyangka bahwa ancaman terbesar mereka adalah seorang gadis semprul yang bau debu atap. Aku menawarkanmu sebuah kontrak."

​Ailen memiringkan kepalanya. "Kontrak? Kontrak mati? Mas mau numbalin saya ke penguasa laut selatan?"

​"Bukan. Ini kontrak kerja," Leon menyodorkan dokumen itu. "Jadilah pengawal pribadiku—atau lebih tepatnya, senjataku yang paling tidak terlihat. Kau akan tinggal di sini, makan sepuasnya, mendapatkan fasilitas terbaik, dan sebagai imbalannya, kau harus melindungiku dari serangan yang tidak bisa diprediksi oleh sistem keamananku."

​Ailen mengambil dokumen itu dengan tangan yang masih berminyak karena martabak, membuat bercak noda cokelat di kertas putih bersih tersebut. Leon meringis melihat dokumen berharga itu dinodai, tapi ia mencoba bersabar.

​"Waduh, banyak banget syaratnya. Poin nomor empat: 'Dilarang menyanyi di atas jam sepuluh malam'. Pelit amat! Terus poin nomor tujuh: 'Dilarang menyentuh Bos tanpa izin'. Wah, ini mah diskriminasi! Padahal kan tangan saya gatel kalau nggak megang yang bening-bening," keluh Ailen.

​Ia membaca lebih lanjut sampai ke bagian paling bawah. Matanya tiba-tiba membelalak. "Eh, bentar... ini beneran gajinya segini? Nolnya banyak banget, Mas! Ini kalau saya beli cendol, bisa buat nenggelemin satu kecamatan!"

​"Itu gaji pokokmu. Belum termasuk bonus jika kau berhasil melindungiku dari upaya pembunuhan," kata Leon dingin.

​Ailen terdiam sejenak. Ekspresinya yang biasanya jenaka mendadak berubah menjadi serius. Emosi yang dalam terpancar dari matanya. Ia teringat pada panti asuhan tempatnya biasa membantu. Mereka butuh atap baru, buku-buku sekolah, dan makanan yang layak. Selama ini ia hanya bisa membantu sedikit-sedikit dengan kerja serabutan.

​"Mas Leon," suara Ailen merendah, membuat Leon sedikit terkejut dengan perubahan nada itu. "Mas tahu kan kalau dunia Mas itu bahaya? Kalau saya ikut Mas, artinya saya bakal sering liat darah. Saya emang jago berantem, tapi saya nggak suka liat orang mati."

​Leon menatap mata Ailen. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi manusiawi dari gadis ini. "Aku tidak memintamu menjadi pembunuh, Ailen. Aku memintamu menjadi perisai. Kadang, untuk menyelamatkan nyawa yang baik, kita harus berdiri di depan mereka yang jahat."

​Ailen menghela napas panjang. Ia mengambil pulpen dari saku kemeja Leon (lagi-lagi tanpa izin) dan menandatangani dokumen itu dengan tulisan tangan yang ceker ayam.

​"Oke, saya setuju. Tapi ada syarat tambahan!" seru Ailen kembali ke mode berisiknya.

​"Apa lagi?" Leon mulai merasa migrainnya kembali.

​"Satu, setiap hari harus ada stok kerupuk kaleng di kamar saya. Dua, Mas harus bantu saya cari si Oyen dan sandal jepit ijo saya sampai ketemu. Dan tiga... Mas jangan sering-sering pasang muka tembok begitu. Nanti kalau ada gempa, muka Mas bisa retak."

​Leon hanya bisa menarik napas dalam-dalam. "Kesepakatan tercapai. Sekarang, mandi. Kau bau seperti gudang tua yang terbakar."

​"Siap, Bos Van Houten! Eh, Mas, sabun di sini wangi stroberi nggak? Saya pengen wangi kayak buah-buahan supaya kalau ada musuh mau nembak, mereka malah pengen makan saya karena dikira selai," celoteh Ailen sambil berlari menuju kamar mandi mewah di sudut ruangan.

​Leon berdiri, menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Ia melihat noda cokelat di kontrak kerja yang paling penting dalam sejarah organisasinya. Ia seharusnya merasa marah, tapi entah kenapa, ada senyum tipis yang hampir tidak terlihat di bibirnya.

​"Tuan," Marco masuk ke dalam ruangan. "Apakah Anda yakin? Gadis itu... dia tidak stabil."

​"Dia bukan tidak stabil, Marco," sahut Leon sambil berjalan keluar. "Dia hanya memiliki frekuensi yang berbeda dengan dunia kita. Dan mungkin, itulah yang kita butuhkan untuk tetap hidup."

​Baru saja Leon melangkah keluar kamar, terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi, disusul dengan teriakan nyaring Ailen yang menyanyikan lagu dangdut koplo. Para penjaga di koridor hanya bisa menunduk, mencoba menahan tawa yang hampir meledak.

​"Ailen," gumam Leon. "Kau akan menjadi akhir dari kewarasanku."

​Satu jam kemudian, Ailen keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah jauh lebih bersih. Ia mengenakan setelan jas hitam wanita yang disediakan Leon. Jas itu pas di tubuhnya yang ramping namun berotot, memberikan kesan elegan namun tetap berbahaya. Rambutnya yang biasanya berantakan kini dikuncir kuda dengan rapi.

​Ia berjalan di koridor markas Vancort dengan gaya yang sangat... unik. Ia mencoba berjalan anggun seperti model, tapi setiap tiga langkah, ia melakukan gerakan tendangan bayangan ke udara.

​"Wush! Wush! Wah, jas ini enak juga buat gerak. Bahannya elastis ya, Mas?" tanya Ailen saat bertemu Leon di ruang tengah.

​Leon terpaku sejenak. Tanpa debu dan noda, Ailen benar-benar terlihat seperti wanita dari kalangan atas. Kecantikannya yang alami dan liar memberikan daya tarik yang tidak bisa diabaikan. Namun, saat Ailen mulai bicara, imej anggun itu langsung hancur berkeping-keping.

​"Mas Leon, kok liatin saya terus? Awas lho, nanti naksir. Kalau Mas naksir saya, nanti maharnya harus pake pabrik kerupuk ya!" goda Ailen sambil mencolek dagu Leon.

​Leon menepis tangan Ailen dengan cepat, meski wajahnya sedikit memerah. "Ayo berangkat. Ada pertemuan penting dengan keluarga Moretti di sebuah restoran. Kau akan menjadi pengawal bayanganku. Tetaplah di belakangku, dan jangan bicara sepatah kata pun kecuali ada bahaya."

​"Siap, Bos! Mulut saya akan dikunci pake gembok baja!" Ailen membuat gerakan mengunci mulut dan membuang kuncinya secara imajiner.

​Mereka berangkat menuju sebuah restoran kelas atas di pusat kota. Di dalam mobil, Ailen benar-benar diam seperti janjinya. Namun, diamnya Ailen justru membuat Leon tidak tenang. Ia melihat ke samping dan mendapati Ailen sedang sibuk membuat boneka dari sapu tangan dan memainkannya sendiri.

​"Ailen," panggil Leon.

​Ailen hanya menunjuk mulutnya yang "dikunci" dan menggelengkan kepala.

​"Bicara saja. Diammu lebih menakutkan daripada ocehanmu," perintah Leon frustrasi.

​"Hah! Akhirnya! Mas tahu nggak, diem itu susah banget! Rasanya kayak ada ribuan semut lagi senam aerobik di lidah saya!" Ailen langsung nyerocos tanpa henti. "Eh, nanti di restoran itu makanannya enak nggak? Ada nasi padang nggak? Saya lagi pengen rendang yang bumbunya medok banget sampai ke pori-pori."

​"Ini pertemuan mafia, bukan wisata kuliner," tegas Leon.

​Sesampainya di restoran, suasana sangat sunyi. Restoran itu telah disewa seluruhnya. Di tengah ruangan, duduk seorang pria tua dengan cerutu di mulutnya—Don Moretti. Di sekelilingnya, belasan penjaga bersenjata lengkap bersiaga.

​Leon masuk dengan langkah mantap, Ailen mengikuti tepat dua langkah di belakangnya. Ailen mencoba memasang wajah sangar, tapi matanya terus melirik ke arah nampan makanan yang dibawa pelayan.

​"Leon Vancort. Akhirnya kau datang," suara Don Moretti serak dan berat. "Dan siapa wanita cantik ini? Simpanan barumu?"

​Leon duduk di hadapan Don Moretti. "Dia adalah rekan baruku. Dan kita di sini bukan untuk membahas wanita, tapi tentang wilayah pelabuhan yang kau sabotase."

​Pertemuan mulai memanas. Perdebatan tentang jalur distribusi dan persentase keuntungan membuat suasana semakin tegang. Tangan para penjaga sudah mulai berada di gagang senjata masing-masing.

​Ailen, yang berdiri di belakang Leon, mulai merasa bosan. Ia melihat seekor lalat yang terbang berputar-putar di atas meja Don Moretti. Lalat itu mendarat tepat di atas hidung besar sang Don.

​Don Moretti sedang berbicara dengan nada tinggi, "Aku tidak akan memberikan satu persen pun—"

​Tiba-tiba, PLAK!

​Ailen melesat maju dan menampar hidung Don Moretti dengan kecepatan cahaya. Lalat itu mati seketika, tapi wajah Don Moretti terdorong ke belakang hingga cerutunya jatuh ke dalam kopi panasnya.

​Seluruh ruangan mendadak hening total. Leon membeku. Para penjaga Moretti langsung menodongkan senjata ke arah Ailen.

​"Ada lalat, Om. Nanti kalau masuk ke hidung, Om bisa bersin dan kena serangan jantung. Saya cuma menyelamatkan nyawa Om," ucap Ailen dengan wajah polos tanpa dosa, sambil menunjukkan bangkai lalat di telapak tangannya.

​Don Moretti terengah-engah, wajahnya merah padam antara marah dan kaget. "KAU... KAU BERANINYA—"

​"Tunggu!" teriak Leon sambil berdiri di depan Ailen. "Don Moretti, lihatlah tangannya."

​Don Moretti melihat telapak tangan Ailen. Di sana, bukan hanya ada lalat, tapi juga sebuah jarum kecil yang sangat tipis yang hampir tidak terlihat. Jarum itu ternyata menempel di punggung lalat tersebut.

​"Jarum beracun," bisik Leon. Ia menatap ke arah salah satu pelayan Moretti yang mulai pucat pasi. "Ada pembunuh di ruangan ini yang menggunakan lalat sebagai media untuk mengirimkan racun saraf."

​Ailen sebenarnya tidak tahu ada jarum. Ia benar-benar cuma mau pukul lalat. Tapi melihat situasi itu, ia langsung berakting. "Tuh kan! Saya bilang juga apa! Untung saya gesit, kalau nggak, Om Moretti sudah jadi pajangan di sini!"

​Leon menatap Ailen dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara ingin berterima kasih atau ingin menjatuhkan kepalanya ke meja.

​Kekacauan pecah saat pelayan pengkhianat itu mencoba kabur. Ailen dengan sigap melempar salah satu sepatu hak tingginya—yang sejak tadi ia keluhkan karena tidak nyaman—tepat mengenai tengkuk pelayan itu hingga jatuh tersungkur.

​"Satu sama, Mas Leon! Jangan lupa bonus martabak telor ya nanti malem!" teriak Ailen sambil berdiri dengan satu kaki, memberikan jempol pada Leon yang hanya bisa mengurut dadanya, mencoba bertahan dari serangan jantung akibat kelakuan asisten barunya.

​Pertemuan itu berakhir dengan aliansi yang tak terduga, dan Leon Vancort sadar bahwa ia baru saja mempekerjakan seorang malaikat maut yang sangat, sangat konyol.

1
Riska Baelah
ap pun msalh ny slalu berakhir dng manis🤣😄🤣😄🤭👍
kya martabak komplit👍👍👍
Riska Baelah
suka bnget sama leon mna bos kaya, sabar lg ngadepin si aelin kekasih semprul ny😄🤣😄🤭👍👍👍👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄😄😄🤣🤭
Riska Baelah
ya gak d kenyataan gak d dunia novel yg nma ny perempuan, klu liat diskon gak akan thannnn🤣😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
swettt😍😍😍😍
Riska Baelah
sempat2 ny leon ailen ciuman d tengah perang yaaa🤣😄🤣😄🤭
Riska Baelah
😍😍😍😍😍
Riska Baelah
lnjut👍👍👍👍
Riska Baelah
😍😍😍😍😍😍
Riska Baelah
kk ini ya bisa bnget buat kata2"
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍
Riska Baelah
gimana cara ny mati sambil ketawa😄🤣😄🤣🤭 ad2 aj kk ini👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄🤣🤭👍
Riska Baelah
kk, ap ini kisah ank ny karin sama vittorio,,yg d sebelah
Riska Baelah: kirain, soal ny blum rela jg klu vittorio d tamatin🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!