Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dana Hibah
"Dokter Elvano, ada undangan makan malam dari keluarga pengusaha tekstil besok malam. Mama Anda sangat berharap Anda hadir," ucap Yudha, asisten pribadinya yang kini sudah lebih mirip sebagai orang kepercayaan sekaligus detektif pribadi.
Elvano tidak mengalihkan pandangan dari monitor yang menampilkan hasil CT-Scan pasiennya.
"Katakan pada Mama, aku punya jadwal riset di laboratorium. Aku tidak punya waktu untuk kencan buta yang dikemas dalam makan malam." ucap Elvano dengan tegas.
Yudha menghela napas panjang. Ia tahu alasan sebenarnya. "Dokter, ini sudah tiga tahun lebih. Anda masih mencari wanita itu?"
Gerakan tangan Elvano terhenti. Ia meletakkan stylus yang ia pegang dengan perlahan.
"Aku tidak mencari wanita itu, Yudha. tapi aku mencari kebenaran tentang apa yang terjadi malam itu. Dan aku berhutang penjelasan padanya."
"Tapi kita sudah mencoba segalanya," Yudha mencoba mengingatkan dengan nada hati-hati.
"Seluruh agen tenaga kerja sudah disisir. Rekaman CCTV jalanan dalam radius tiga kilometer dari hotel sudah dipindai ulang setiap tahun. Bahkan detektif swasta yang kita sewa mengatakan bahwa kemungkinan besar wanita itu sudah keluar dari pulau Jawa atau bahkan menggunakan identitas palsu." lanjutnya.
Elvano bangkit dari kursinya, berjalan menuju rak buku medisnya. Di sana, tersembunyi di balik buku anatomi yang tebal, ada sebuah kotak kecil berbahan beludru. Ia membukanya, menatap satu-satunya barang bukti yang ia miliki yaitu sebutir kancing kemeja putih kecil yang murah.
"Dia tidak menggunakan identitas palsu, Yudha. Dia hanya orang biasa yang terjebak dalam kekacauan yang kubuat," gumam Elvano. "Dan fakta bahwa aku dengan segala kekuasaan dan uangku tidak bisa menemukannya, adalah penghinaan bagi diriku sendiri."
Kesibukan Elvano di rumah sakit semakin menggila. Ia seolah-olah berusaha menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas dan ruang operasi agar pikirannya tidak memiliki ruang untuk melamun. Ia seringkali mengambil shift malam tanpa alasan, hanya agar ia tidak perlu pulang ke apartemennya yang luas namun terasa mati.
Di ruang operasi, Elvano adalah penguasa absolut. Ia tidak menoleransi kesalahan sekecil apa pun.
"Pinset. Gunting jaringan. Cepat!" perintahnya saat membedah dada seorang pasien.
Keringat mengucur di dahi dokter residen yang membantunya, namun Elvano tetap tenang. Monitor detak jantung berbunyi secara teratur.
tit... tit... tit...
Di saat-saat kritis seperti ini, Elvano merasa paling hidup. Di sini, ia bisa mengontrol hidup dan mati seseorang. Namun ironisnya, ia tidak bisa mengontrol satu kenangan yang terus menghantuinya.
Setiap kali ia melihat bekas luka di tangan pasien, ia teringat pada kemerahan di leher wanita itu.
Setiap kali ia mendengar suara tangis keluarga pasien, ia teringat pada isakan lirih yang ia dengar di tengah gairahnya yang gelap. Wanita itu telah menjadi hantu yang menempati setiap sudut rumah sakit ini.
Seringkali, setelah operasi selesai pukul tiga pagi, Elvano akan duduk di kafetaria rumah sakit yang sepi, menatap cangkir kopinya yang mendingin. Ia akan melihat para perawat yang kelelahan atau staf kebersihan yang mulai bekerja. Ia akan memperhatikan setiap wanita yang memiliki perawakan mungil, berharap secara tidak masuk akal bahwa wanita itu tiba-tiba muncul di hadapannya sebagai salah satu pekerja di sini.
"Di mana pun kau berada... setidaknya aku ingin tahu kau baik-baik saja." bisiknya pada keheningan.
Pengaruh Elvano di dunia medis semakin tak tertandingi. Ia baru saja menerbitkan jurnal tentang teknik baru dalam bedah mikro-kardiovaskular yang membuat namanya semakin harum di kancah internasional.
Namun, kesuksesan itu tidak memberinya kebahagiaan. Baginya, semua pencapaian itu terasa hampa tanpa kehadiran seseorang yang bisa ia bagi.
Suatu hari, Mama Zoya datang ke ruangannya dengan wajah yang tampak lelah namun tetap memaksa untuk bicara.
"Elvano, cukup. Mama tidak bisa melihatmu seperti ini terus. Kau seperti mayat hidup yang hanya bisa membedah orang." ujar Mama Zoya sambil duduk di sofa ruang kerja Elvano.
"Aku sedang bekerja, Ma." sahut Elvano tanpa menoleh.
"Kau berumur tiga puluh tiga tahun sekarang. Rumah sakit ini butuh penerus. Papa mulai sering sakit-sakitan. Jika kau tidak segera menikah dan memberikan kami cucu, apa gunanya semua kekayaan ini?" seru mama Zoya frustasi melihat keadaan sang anak selama tiga tahun ini.
Elvano memutar kursinya, menatap ibunya dengan tatapan yang sangat datar.
"Penerus tidak harus datang dari rahim wanita yang tidak kucintai, Ma. Dan soal cucu... mungkin takdir memang tidak ingin aku memilikinya." ucap Elvano dengan dingin.
"Hanya karena satu malam yang salah itu? Kau masih memikirkan pelayan itu?" Mama Zoya mendengus. "Dia mungkin sudah menikah dengan pria lain di kampungnya, atau mungkin dia sengaja menghilang karena dia tidak mau ada urusan dengan kita."
"Atau mungkin dia ketakutan, Ma." sela Elvano dengan suara yang tajam. "Dia ketakutan karena seorang pria berkuasa menghancurkan kesuciannya tanpa persetujuannya. Dan aku... aku tidak bisa membiarkan itu berlalu begitu saja."
Mama Zoya terdiam melihat keteguhan di mata putranya. Ia tidak tahu bahwa rasa bersalah Elvano telah bermutasi menjadi sebuah harapan yang obsesif.
Sore itu, sebelum meninggalkan rumah sakit, Elvano menyempatkan diri mengunjungi bangsal anak. Ia jarang ke sana karena ia merasa tidak cukup sabar menghadapi anak-anak, namun entah mengapa hari ini langkah kakinya membawanya ke sana.
Ia melihat seorang bocah lelaki sedang duduk di kursi roda, didorong oleh ibunya. Bocah itu tampak lemas namun tetap mencoba tersenyum. Untuk sesaat, Elvano terpaku. Ia membayangkan, seandainya malam itu membuahkan hasil... mungkin ia akan memiliki seorang anak yang seusia dengan bocah itu.
Pikiran itu membuatnya merinding. Sebuah kemungkinan yang selama ini ia tepis karena ketakutan. Jika wanita itu hamil, dan ia menghilang sendirian... bagaimana ia membesarkan anak itu? Bagaimana ia membayar biaya hidupnya?
Elvano segera membuang pikiran itu. Tidak, dia tidak boleh terlalu berharap pada hal yang tidak pasti. Ia harus tetap rasional.
Ia kembali ke ruangannya, mengambil tasnya, dan bersiap untuk pulang. Namun, saat ia melewati meja resepsionis di lobi utama, ia melihat selembar brosur tentang yayasan jantung anak yang sedang membutuhkan dana untuk operasi pasien tidak mampu.
^^^Elvano: [Yudha] panggil Elvano melalui ponselnya saat ia sudah berada di dalam mobil.^^^
Yudha: [Ya, Dokter?]
^^^Elvano: [Siapkan dana hibah pribadi atas namaku. Berikan pada yayasan jantung anak. Dan katakan pada mereka, jika ada kasus kelainan jantung bawaan yang paling rumit dan tidak bisa ditangani di daerah, bawa mereka ke Narendra Hospital. Aku sendiri yang akan menangani operasinya secara gratis.]^^^
Yudha: [Baik, Dokter. Itu langkah yang sangat mulia.]
.
.
Cerita Belum Selesai.....
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
next...
semangat othor💪💪💪💪
di double up