NovelToon NovelToon
Bayu Dan Aplikasi Toko Ajaib

Bayu Dan Aplikasi Toko Ajaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.

Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.

Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Setengah miliar.

Angka nol di belakang angka enam itu seolah menari-nari di depan mata Bayu. Kepalanya mendadak pening. Lututnya terasa lemas. Enam ratus juta rupiah tergeletak begitu saja di atas terpal rongsokan, digunakan sebagai tempat membuang abu rokok.

Bayu memalingkan wajahnya dengan cepat. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan.

"Tenang, Bayu. Tenang. Jangan bertingkah aneh. Pedagang loak sangat peka terhadap bahasa tubuh pembeli. Kalau aku langsung menunjuk mangkuk itu dengan mata berbinar, kakek ini pasti akan curiga dan menaikkan harganya secara gila-gilaan, atau malah tidak jadi menjualnya," batin Bayu, otaknya bekerja pada kecepatan maksimal.

Ia harus menggunakan taktik pengalihan.

Bayu melangkah maju mendekati lapak itu dengan gaya santai, berjongkok, dan mulai memilah-milah majalah bekas.

"Cari apa, Dek? Silakan dilihat-lihat, barang tua semua ini," sapa si kakek, suaranya serak. Ia mematikan rokoknya, menekan puntungnya tepat ke dasar mangkuk setengah miliar itu.

Bayu meringis dalam hati melihat porselen kekaisaran itu diperlakukan seperti tempat sampah, namun wajahnya tetap datar.

"Nyari majalah otomotif lama, Kek. Buat kliping tugas kampus adik saya. Ada nggak ya?" tanya Bayu santai.

Kakek itu mengaduk-aduk tumpukan kertasnya. "Wah, kalau otomotif kurang tahu ya. Kebanyakan ini majalah politik sama resep masakan. Coba aja dicari."

Bayu berpura-pura mencari selama beberapa menit. Lalu tangannya beralih mengambil radio transistor yang pecah.

"Ini radionya masih nyala, Kek?" tanyanya.

"Mati total itu, Dek. Dalemannya udah karatan. Cuma laku buat rongsok atau yang suka iseng benerin barang."

Bayu meletakkan radio itu, lalu mengambil sebuah jam saku tembaga yang rantainya sudah putus. Jendela informasi menunjukkan nilai jam itu sekitar lima puluh ribu.

"Nah, kalau jam ini gimana, Kek? Mati juga ya?" Bayu memutar-mutar jam itu di tangannya.

Kakek itu menyipitkan mata. "Itu jam lama, Dek. Mati sih, pernya kayaknya lepas. Tapi antik itu. Kalau buat pajangan di kamar mah bagus. Kakek lepas lima puluh ribu deh buat kamu."

"Waduh, lima puluh ribu mahal amat, Kek. Udah mati, kaca depannya juga baret-baret begini," keluh Bayu, mulai memainkan perannya. Ia tahu sisa uangnya hanya tiga puluh dua ribu. Ia harus mendapatkan jam ini beserta mangkuk itu dengan uang yang ia miliki.

"Namanya juga barang antik. Ya udah, empat puluh ribu aja. Udah mentok itu, Dek. Kakek belum pelaris dari pagi," si kakek mencoba membujuk.

Bayu terdiam sejenak, berpura-pura berpikir keras. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan semua uang yang ia miliki, dan menunjukkannya kepada si kakek.

"Duit saya sisa tiga puluh dua ribu, Kek. Nih, dua ribu buat ongkos angkot pulang. Jadi yang bisa saya pakai cuma tiga puluh ribu pas. Kalau boleh tiga puluh ribu, saya ambil jamnya sekarang."

Kakek itu menatap lembaran uang di tangan Bayu, lalu menghela napas panjang. "Ya sudahlah. Daripada Kakek pulang tangan kosong. Sini tiga puluh ribu."

Bayu tersenyum lebar. Ia menyerahkan uang itu. "Makasih, Kek."

Saat si kakek menerima uang itu, Bayu tiba-tiba menunjuk ke arah mangkuk kotor yang penuh puntung rokok.

"Eh, Kek. Saya boleh minta mangkuk buluk itu sekalian nggak? Buat wadah baut-baut jam ini nanti kalau saya bongkar di rumah. Sayang kalau bautnya berceceran," pinta Bayu dengan nada memelas yang sangat natural.

Kakek itu melirik mangkuk asbaknya. "Oh, mangkuk tanah itu? Itu mah Kakek nemu di pinggir selokan deket stasiun minggu lalu. Buat asbak doang. Ya udahlah, ambil aja. Tapi bersihin sendiri ya, bau rokok itu."

"Siap, Kek! Makasih banyak ya. Semoga laris manis hari ini," ucap Bayu dengan nada riang.

Ia mengambil jam saku itu, lalu meraih mangkuk kotor tersebut dengan tangan telanjang. Tangannya sedikit gemetar saat merasakan tekstur keramik di balik lumpur dan debu itu, namun ia segera menyembunyikannya dengan berdiri cepat.

Bayu membalikkan badan dan berjalan menjauh dari lapak. Langkahnya biasa saja di awal, namun semakin jauh ia berjalan, langkahnya semakin cepat. Saat ia akhirnya keluar dari area Pasar Poncol dan berdiri di trotoar jalan raya, ia nyaris tidak bisa bernapas.

Ia memegang mangkuk kotor itu erat-erat di dadanya, tidak peduli kemejanya menjadi hitam terkena jelaga.

"Berhasil. Ya Tuhan, aku berhasil," batin Bayu. Kepalanya terasa ringan. Ia baru saja membeli barang seharga setengah miliar rupiah hanya sebagai hadiah tambahan gratis dari jam rongsokan seharga tiga puluh ribu.

Ia tidak peduli dengan rasa lapar. Ia tidak peduli dengan sisa uangnya yang tinggal dua ribu rupiah. Ia bahkan rela berjalan kaki sejauh lima kilometer kembali ke kosannya di Palmerah, menyusuri pinggiran jalan di bawah terik matahari Jakarta.

Satu jam kemudian, Bayu mengunci pintu kamar kosannya rapat-rapat.

Ia langsung bergegas ke kamar mandi kecil di ujung lorong kosan. Untung sedang sepi. Bayu menyalakan keran air di wastafel. Ia mengeluarkan mangkuk kotor itu dan mulai membersihkannya dengan sangat hati-hati.

Ia tidak menggunakan sikat yang kasar. Ia hanya menggunakan jari-jarinya, menggosok perlahan lumpur dan tanah liat yang menempel kuat di permukaan mangkuk. Ia menggunakan sedikit sabun cuci piring cair untuk meluruhkan noda minyak dan getah.

Seiring dengan lumpur yang larut ke saluran pembuangan, keindahan asli dari benda bersejarah itu mulai terungkap.

Tangan Bayu gemetar semakin hebat.

Warna dasar mangkuk itu putih susu, sangat halus dan tembus cahaya jika diarahkan ke lampu. Di atas warna putih itu, tergambar motif bunga lotus dan naga melingkar dengan warna biru kobalt yang sangat tajam dan elegan. Permukaan glasirnya terasa sangat dingin dan sempurna, tanpa ada cacat atau retakan sehelai rambut pun.

Bayu membalik bagian bawah mangkuk. Di sana, tertulis enam karakter huruf Tiongkok kuno dengan tinta biru yang sama.

"Da Ming Xuan De Nian Zhi," bisik Bayu, membaca pelan terjemahan yang diberikan oleh kacamata sistemnya. Dibuat pada masa pemerintahan Kaisar Xuande dari Dinasti Ming Agung.

Bayu membungkus mangkuk itu dengan handuk bersihnya yang paling lembut, membawanya kembali ke kamar, dan meletakkannya di atas kasur dengan sangat pelan seolah benda itu adalah bayi yang baru lahir.

Ia duduk bersila di lantai, menatap mangkuk itu dalam diam.

Dua hari yang lalu, ia diinjak-injak oleh manajernya. Ia diancam potong gaji. Ia dipaksa memikirkan cara bertahan hidup dengan lima puluh ribu rupiah.

Tapi besok, ia akan berjalan ke balai lelang terbesar di Jakarta Pusat.

Bayu mengambil ponselnya yang layarnya retak, membuka aplikasi Toko Ajaib, dan menatap saldo Koin Sistemnya yang masih nol.

"Ini baru permulaan," gumam Bayu, matanya memancarkan ketajaman yang tak pernah ada sebelumnya. "Dengan modal dari mangkuk ini, aku akan membongkar seluruh katalog rahasia di toko ini. Reza, Handoko, bersiaplah mencari pekerjaan baru. Karena hidup kalian di perusahaan itu tidak akan lama lagi."

1
ラマSkuy
/Proud/
ラマSkuy
nah MC begini yang gua demen 👍
ラマSkuy
wah apakah bukan hanya Bayu yang punya sistem jadi selain MC ada lagi yang punya sistem. tapi unik juga ya biasanya sistemnya itu menyatu dengan jiwa MC tapi ini dihpnya MC
ラマSkuy
nice 👍
Ironside
Bagus Kak /Smile/, btw mana Insectnya /Curse//Curse//Curse/
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
👻🤣👻
Mamat Stone
🤣👻🤣
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
ラマSkuy
waw/Sly/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
terserah anda Thor /Ok//Good/
Mamat Stone
pasti salah kaprah 🤣👻
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!